Tristan menggeliat secara perlahan, meregangkan otot tubuh yang terasa kaku. Manik matanya secara perlahan terbuka dan menatap sekitar.
Perlahan, dia mulai membenarkan duduknya, cukup terkejut karena dia yang malah ikut tertidur di tepi pantai. Padahal semalam dia hanya berniat menolong seorang wanita.
Menolong wanita? Tristan yang teringat pun mengalihkan pandangan, memastikan jika wanita yang ditolong baik-baik saja.
Beruntung, wanita itu masih dalam kondisi baik, membuat Tristan membuang napas lega. Malahan, dia melihat wanita itu masih terlelap.
Namun, dia kembali dilanda kebingungan. Dia tidak mungkin tinggal di sana terus-menerus, tetapi dia juga tidak tega meninggalkan wanita itu sendiri.
Apalagi saat ini wanita asing tersebut tidur di pinggir jalan. Hingga dia mengamati sekitar dan melihat seorang wanita paruh baya tengah menyapu jalanan. Dengan tenang, Tristan bangkit dan melangkah ke arah wanita tersebut.
“Maaf mengganggu,” ucap Tristan sebelum meminta pertolongan.
Petugas kebersihan itu pun menghentikan pergerakannya dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu, Nak?”
“Maaf, Bu. Saya harus pergi, tapi saya tidak tega meninggalkan wanita itu di sana,” ucap Tristan sembari menunjuk ke arah wanita tersebut, “jadi, apa bisa kalau untuk beberapa waktu Ibu yang menunggunya? Setidaknya sampai dia bangun.”
“Saya akan beri imbalan,” tawar Tristan kembali.
Sejenak, wanita itu menatap ke arah Ishana yang masih terbaring di kursi pantai, berpikir dengan tawaran Tristan kali ini.
Hingga dia menatap ke arah Tristan dan berkata, “Baik, saya akan menunggu kekasihmu sampai dia bangun.”
Kekasih? Sejujurnya Tristan ingin sekali mengatakan jika wanita itu bukanlah kekasihnya, tetapi dia enggan memperpanjang masalah.
Tristan memilih memberikan uang yang dijanjikan dan melangkah pergi. Setidaknya dia sudah melakukan tugasnya untuk menjaga seseorang yang membutuhkan bantuannya.
‘Semoga dia baik-baik saja,’ batin Tristan.
Ia beranjak dari duduknya, langkahnya berat seperti dipikul beban dosa yang tak kasat mata. Pandangannya jatuh ke cermin, tempat refleksi dirinya menatap kembali, seolah menjadi hakim yang tak kenal ampun. Ia menatap dalam-dalam, menembus kaca hingga menemukan sosok lain di baliknya—sosok yang dipenuhi penyesalan.
Bayangan suram dari masa lalu menyelusup masuk, menghantam pikirannya tanpa permisi.
"Pembunuh! Kamu tidak pantas hidup, Tristan. Kamu sudah menabrak saudaramu sendiri!"
Suaranya bergema, nyaring dan tajam, seperti ribuan pisau yang menghujam batinnya.
"Hidupmu akan terus dibayang-bayangi oleh kesalahan yang telah kamu lakukan. Nikmati saja, Tristan. Memang itulah hukum alam."
Tristan mengusap wajahnya dengan kasar, seolah berharap gesekan kulitnya dapat menghapus rasa bersalah yang melekat erat. Ia menarik napas panjang, tapi udara yang dihirup terasa berat, penuh dengan kenangan pahit tiga tahun silam. Kenangan yang seharusnya dikubur, tapi terus menggali dirinya kembali ke dalam lubang gelap penyesalan.
Kala itu, malam penuh badai. Ia, dalam amarah yang membara, dengan sengaja membanting kemudi menuju Rivano—sang kakak—dan Sarah, wanita yang nyaris menjadi bagian keluarganya. Sarah selamat, tapi hidupnya tak lagi utuh; kakinya lumpuh, masa depannya terkunci dalam kursi roda. Tristan, dalam ketidakwarasannya, telah menghancurkan dua jiwa sekaligus.
Penjara menjadi rumah sementaranya. Tapi dinding dingin itu tak mampu membendung suara hatinya yang terus meneriakkan dosa-dosanya. Dan kini, setelah bebas, ia memilih untuk melarikan diri sejauh mungkin dari mereka yang pernah mencintainya.
Ia mendesah panjang, mengguratkan senyum tipis yang lebih menyerupai ironi. "Lupakan semuanya, Tristan. Kamu berhak melanjutkan hidup," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun. Tapi, jauh di lubuk hatinya, ia tahu itu bohong.
Namun, pikirannya terseret kembali ke semalam. Kepada wanita yang ia temukan tergeletak di pinggir jalan, basah kuyup dan terluka. Wanita yang ceroboh, menurutnya, tapi entah bagaimana telah menarik seberkas rasa yang tak seharusnya ada di dadanya.
“Ck! Wanita ceroboh itu. Kenapa pula aku harus memikirkannya.” Tristan merengut, mencoba membuang bayangan wanita itu dari benaknya. Tapi rasanya sia-sia. Ada sesuatu tentang wanita itu yang terus menghantuinya, seperti bayang-bayang dosa yang tak pernah bisa ia lepas.
Di dalam hatinya, ada pergolakan. Antara rasa cemas yang tak masuk akal dan harapan yang ia tahu tak pantas ia miliki. Apakah ini awal dari penebusan? Ataukah justru lubang baru yang siap menelannya?