Mimpi yang Aneh

1337 Kata
Ishana menggeliat secara perlahan. Kepalanya terasa berat dan pusing. Dia bahkan merasa tubuhnya seperti remuk karena terlalu lelah. Perlahan, kelopak matanya terbuka, tetapi baru sebentar saja dia kembali menutup. Cahaya matahari yang langsung mengenai wajahnya membuat pandangan Ishana menjadi suram. Ishana kembali membuka mata, tetapi kali ini secara perlahan. Dia menatap sekitar, cukup bingung karena mendapati dirinya berada di tepi pantai. Dia bahkan mengingat jika ada seorang pangeran yang melindunginya semalam, membuat Ishana mendengus kecil. “Mimpi yang aneh,” gumam Ishana sembari bangkit. Dia ingin kembali ke resort tempatnya menginap. Bau alkohol membuat Ishana merasa tidak nyaman. Namun, belum juga Ishana melakukan keinginannya, dia kembali berhenti karena seorang wanita yang duduk di sebelahnya. Petugas kebersihan itu menatapnya lekat, membuat Ishana ikut menatapnya. Sebenarnya dia bingung, kenapa wanita itu memperhatikannya? Apakah ada yang salah dengan wajahnya? “Karena kamu sudah bangun, tugas saya sudah selesai,” ucap petugas tersebut. “Tugas? Tugas apa?” tanya Ishana dengan raut wajah bingung, benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud petugas kebersihan tersebut. “Kekasih kamu memberikan saya uang untuk menjagamu. Dia sedang ada urusan dan pergi. Jadinya saya menjaga sampai kamu bangun,” jelasnya. “Kekasih? Tap—” Ishana menghentikan ucapan ketika melihat jaket yang menutupi tubuhnya. Ishana mengerutkan kening dalam dan menatap jaket itu lama. Jaket ini bukanlah miliknya, membuat Ishana memegang dengan heran. Dia memeriksa jaket tersebut dan mendapati sebuah nama yang menjadikan keningnya berkerut dalam. “CTA?” gumam Ishana. Apa dia yang menolongku? Astaga, jadi semalam itu nyata dan bukan sebuah mimpi? “Siapa sebenarnya orang ini?” tanya Ishana dengan diri sendiri. Dia benar-benar penasaran dengan sang pemilik jaket yang saat ini ada di tangannya. Dia tidak mengenalnya, tetapi kenapa pria itu begitu baik dengannya. Ishana terdiam, menatap jaket yang sejak tadi menarik perhatiannya. Bahkan, jalanan Bali sudah tidak lagi menarik baginya. Dalam pikiran Ishana kali ini hanya dipenuhi dengan kejadian yang terlihat samar dalam ingatannya. Pengaruh alkohol benar-benar membuat Ishana tidak bisa mengingat dengan jelas. Hingga mobil yang ditumpangi pun berhenti, membuat Ishana mengalihkan pandangan. Ishana membayar taksi dan turun. Kakinya melangkah pelan, memasuki resort milik keluarganya. Wajah yang sebelumnya terlihat lemas pun berubah menjadi tegas. Beberapa bawahan juga menundukkan kepala saat melihatnya tiba. Sapaan juga tidak henti, tetapi Ishana selalu menjawab. Ishana yang sudah sampai di depan kamar pun berhenti. Dia baru saja membuka pintu ketika Freya sudah lebih dulu membukanya. Saudaranya itu langsung membuang napas ketika melihat Ishana di depannya. “Astaga, Ishana. Kamu dari mana saja? Kenapa semalam kamu pergi tanpa berpamitan?” tanya Freya dengan raut wajah cemas. “Kamu tahu? Aku mencemaskanmu.” Ishana yang ditanya pun membuang napas lirih dan menjawab, “Semalam aku pusing dan memutuskan pulang, Freya. Tapi karena kepalaku pusing, aku memilih tidur di tempat lain saja. Maaf juga karena aku lupa memberi kabar.” Ishana tidak menjelaskan mengenai dimana dia tinggal. Mau jadi apa kalau sampai sepupunya itu tahu. Yang ada Ishana akan mendapat ceramah yang tiada akhir. “Kamu yakin, tidak apa-apa?” tanya Freya, masih tetap cemas. Ishana hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. “Kalau begitu sekarang kamu bersihkan tubuh. Sebentar lagi kita harus kembali bekerja. Ada rapat pagi ini,” ucap Freya. Ishana kembali mengangguk dan masuk ke kamar. Sedangkan Freya yang masih merasa penasaran pun menatap ke arah Ishana lekat. Pandangannya benar-benar tidak beralih sama sekali. Dia merasakan ada yang mengganjal dengan penjelasan Ishana kali ini, tetapi Freya memilih mengabaikannya. Dia tidak ingin membuat saudaranya itu semakin lelah, membuatnya melangkah menjauh dari kamar saudaranya. *** Tristan menatap sekitar, memperhatikan dekorasi yang baru saja dibuatnya. Dia sudah membuat rancangan akan seperti apa cafenya nanti. Kali ini pun dia sudah mulai mendekornya. Setidaknya dia harus menyelesaikan garis besar untuk tatanan cafenya hari ini. Pasalnya, besok dia harus pergi untuk menyelesaikan urusan yang lain. “Apa kabar, Tristan?” Tristan yang mendengar sapaan itu pun menghentikan pekerjaan. Dia mengalihkan pandangan, menatap ke asal suara. Di sana terlihat Andre—pegawai sang papa yang tengah berdiri di ambang pintu. Tristan yang sudah sangat mengenalnya pun langsung tersenyum lebar. Dia mulai turun dari kursi dan melangkah ke arah Andre. “Baik, Andre. Bagaimana dengan kamu?” tanya Tristan. Meski pria di depannya lima tahun lebih tua darinya, tetapi Tristan tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel apa pun. “Seperti yang kamu lihat. Aku sangat baik. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya,” jawab Andre sembari menunjukkan tubuhnya yang bugar. Tristan hanya tertawa tanpa suara. Andre memang selalu begitu. Jadi, Tristan tidak lagi merasa aneh. Dia malah merasa bahagia karena bertemu dengan pria di depannya. “Apa yang membawamu ke sini, Andre?” tanya Tristan, kembali ke pokok permasalah. Tidak mungkin Andre datang tanpa alasan. Andre pun membuang napas kasar dan menjawab, “Aku ingin membicarakan mengenai acara pertemuan dengan investor untuk yayasan amal, Tristan.” Tristan pun cukup mengerti. Dia melangkahkan kaki ke salah satu meja, menarik dua kursi dan duduk. Tempatnya saat ini masih cukup berantakah karena Tristan yang baru saja mendekornya. Andre pun tidak mempermasalahkannya. Hingga dia mulai menjelaskan mengenai rencana yang dibuat. Di sana, Andre juga menunjukkan foto tempat yang akan mereka gunakan untuk pertemuan. “Bagaimana menurut kamu?” tanya Andre setelah selesai menjelaskan. Tristan yang sudah selesai memperhatikan gambaran resort itu pun mendongak, menatap ke arah Andre dan menjawab, “Aku setuju. Tempatnya juga terlihat nyaman.” Andre yang mendengar pun tersenyum, merasa puas dengan jawaban Tristan. Dia takut kalau Tristan tidak setuju dengan keinginannya. Hingga dia mengemasi berkas yang dibawa dan menatap ke arah Tristan. “Setelah ini bisa bantu aku mengerjakan dekorasi cafe? Aku membutuhkan bantuan,” ucap Tristan sembari tersenyum. “Tentu saja. Aku pasti membantumu,” jawab Andre tanpa ragu. Tristan menatap tampilan dirinya di depan cermin. Hari ini dia harus datang ke resort untuk survey, sebelum para investor datang ke tempat tersebut. Tristan tidak ingin jika tamunya nanti merasa tidak nyaman dengan tempat yang dipilihnya. Hingga dia yang merasa sudah pas pun melangkah pelan, keluar dari kamar. “Sudah siap?” tanya Andre ketika melihat putra atasannya. “Kita berangkat sekarang,” jawab Tristan dengan tenang. Andre dan Tristan pun melangkah kaki, keluar dari kontrakan yang disewa Tristan. Selama di sana pun, Andre tinggal bersama dengan Tristan, tentunya dengan kamar berbeda. Keduanya segera menaiki mobil dan menuju ke arah resort yang dimaksud. “Kamu sudah memberi kabar dengan mereka, Andre?” tanya Tristan. “Sudah,” jawab Andre singkat. Sepanjang perjalanan, Tristan memilih diam. Manik matanya menatap jalanan yang cukup tenang. Bali adalah pilihannya dan di tempat inilah dia mendapatkan ketenangan. Tristan benar-benar seperti mendapatkan kekuatan untuk mengatur ulang kehidupan yang sempat hancur. Tidak beberapa lama, mobil yang dinaiki Tristan pun berhenti. Keduanya segera turun dan menuju ke arah dau wanita yang sudah menunggunya. Keduanya berpakaian rapi dan tampak anggun. Sayangnya tidak ada yang memikat hati Tristan sama sekali. Raut wajahnya masih terlihat datar, tanpa ekspresi sama sekali. “Selamat datang Tuan Andre dan Tuan Tristan,” sapa Viona dengan ramah. “Senang bisa bertemu kamu kembali, Viona.” Kali ini Andre yang menimpali. Viona pun tersenyum manis dan menatap ke arah Tristan. “Selamat datang, Tuan Tristan,” sapa Viona kembali. Sayangnya, Tristan hanya menganggukkan kepala, tidak terlalu menanggapi. Viona jelas merasa canggung karena tingkah Tristan yang seperti tidak menyukainya. Sedangkan Freya yang mengerti dengan suasana kali ini pun berdehem kecil dan menatap Tristan lekat. “Tuan Tristan, bagaimana kalau kami ajak Anda berkeliling? Sebelumnya hanya Tuan Andre yang datang. Jadi, saya rasa Anda pasti penasaran dengan tempat ini,” ucap Freya yang langsung mendapat persetujuan dari Tristan. Freya pun mulai mengajak Tristan dan Andre berkeliling. Keduanya menjelaskan semua sudut di resort tersebut, tidak melewatkan apa pun. Tristan sendiri ikut menyimak dan menikmati sekeliling. Sampai Freya melihat Ishana, membuatnya menghentikan langkah. “Ishana,” panggil Freya. Ishana yang baru saja selesai mengecek kamar pun menghentikan langkah. Melihat sepupunya melambaikan tangan, Ishana pun melangkah ke arah mereka. Bibirnya tersenyum manis dan menunjukkan keramahan. “Sebelumnya saya ingin memperkenalkan. Ini adalah Ishana, anak pemilik resort. Beliau juga pimpinan di resort ini,” ucap Freya memperkenalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN