Kamu Harus Menemuinya

1554 Kata
Tristan yang mendengar ucapan Ishana pun terdiam. Dia menatap lekat ke arah gadis yang saat ini berdiri tepat di depannya. Ada perasaan tidak suka ketika melihat Ishana yang berani melawan tatapannya. "Aku mau berbicara dengan kamu. Aku mau menjelaskan mengenai apa yang terjadi sebenarnya," ucap Ishana kembali. Menjelaskan? Tristan berdecih kecil dan mengalihkan pandangan. Dia tidak membutuhkan penjelasan yang dimaksud Ishana. Dia sendiri sudah cukup tahu seperti apa sosok di depannya. Seorang wanita pecandu alkohol dan wanita tidak baik. Kalau baik, Ishana tidak akan tidur di jalan dengan pakaian seksi yang seakan sengaja mengundang pria. "Sekali ini saja, aku mohon dengarkan penjelasan ku," ucap Ishana kembali. Tatapannya penuh permohonan. Dia juga tampak gusar. "Tapi sayangnya, saya tidak ingin mendengar penjelasanmu," sahut Tristan dengan tenang. Dia pun mulai melangkahkan kaki, menuju ke arah pintu mobil. Namun, Ishana tidak gencar. Dia segera menahan lengan Tristan dan menggenggam erat. Usahanya untuk bisa sampai di tempat kali ini tidaklah mudah. Dia harus mencari dan bahkan memohon agar Andre memberitahu keberadaan keduanya. Belum lagi dia yang harus panas-panasan untuk menunggu pria itu keluar. Jadi, aku tidak boleh gagal, batin Ishana dengan serius. "Lepaskan," ucap Tristan singkat. "Aku akan lepaskan, tapi kamu harus mendengarkan penjelasanku kali ini," sahut Ishana, tetap teguh pendirian. Sorot matanya bahkan terlihat serius dan tegas. Tristan yang mendengar masih tetap diam. Manik matanya menatap lekat, mengoreksi setiap ekspresi yang diberi wanita tersebut. Dia melihat keberanian yang membuatnya membuang napas kasar dan menarik tangannya. "Kenapa saya harus mendengar penjelasan Anda, Nona?" tanya Tristan, menekankan pada sebutan 'Nona'. "Aku tidak ingin ada salah sangka dengan kita. Jadi, bisa kita bicara? Hanya sebentar saja," jawab Ishana. Dalam hati, dia berharap Tristan berbaik hati dan menuruti keinginannya. Andre yang sejak tadi ada di belakang Tristan pun mulai melangkah dan berdiri di sebelah putra bosnya. Dia menatap ragu ke arah pria yang selalu menunjukkan ekspresi datar. "Tristan, aku rasa kamu ikuti saja apa yang Ishana katakan. Lagi pula dia hanya ingin menjelaskan denganmu saja," ucap Andre. Jujur, dalam hati dia pun takut kalau nantinya akan mendapat amukan dari Tristan. Pasalnya Andre cukup tahu seperti apa sifat Tristan yang enggan di tentang, tetapi di lain sisi, Andre juga merasa kasihan dengan Ishana. Tristan yang mendengar pun menatap tidak suka. Dia tidak membutuhkan bantuan Andre untuk membuat keputusan. Dia bahkan sudah menetapkan untuk tidak menanggapi Ishana. Dia yakin dengan apa yang dilihatnya. "Tristan, hanya sebentar saja," pinta Ishana, masih dengan suara memelas. Tristan yang mulai bosan pun menatap ke arah Ishana dan membuang napas kasar. "Baiklah. Saya hanya memberimu waktu sepuluh menit untuk menjelaskan," putus Tristan, merasa bosan karena terus didesak. Bahkan Andre ikut mendesaknya juga, membuat Tristan mau tidak mau harus menurut. Bukan karena permintaan Andre, tetapi diserang dua orang, hati Tristan mulai meluluh. Ishana tersenyum dan menganggukkan kepala. Entah itu cukup atau tidak, Ishana hanya berpikir akan menjelaskannya. Setidaknya Tristan sudah memberinya kesempatan. Itulah yang ada di pikiran Ishana kali ini. "Ikut saya," ucap Tristan dan melangkah lebar. *** Hening. Sudah lima menit Ishana dan Tristan duduk di kursi cafe dan saling berhadapan. Tristan pun tidak membuka percakapan lebih dulu. Sedangkan Ishana sendiri bingung harus membukanya dari mana. Padahal dia yang menggebu menjelaskan, tetapi saat berdua saja, lidahnya terasa kelu. Bahkan Andre yang berada di depan kantor yayasan amal pun mulai geram dan ingin masuk. Ya, Tristan memang memilih untuk berbicara di cafe tidak jauh dari kantor yayasannya. "Mau sampai kapan kamu diam? Bukannya tadi kamu yang memaksaku berbicara berdua?" Tristan yang mulai tidak sabar pun membuka suara. Manik matanya menatap tajam. Ishana yang ditegur pun tersentak kaget. Sejak tadi dia melamun, mencoba menata kalimat untuk menjelaskan dengan Tristan. Setidaknya dia tidak ingin melakukan kesalahan yang berulang. "Saya tidak memiliki banyak waktu luang. Jadi, kalau kamu hanya diam, lebih baik saya pergi," tegas Tristan kembali. Dia pun bangkit dari kursi. Ishana yang melihat pun langsung mendongak dan berkata, "Terima kasih." Ucapan Ishana kali ini membuat niat Tristan berhenti. Dia mengerutkan kening dalam. Kenapa tiba-tiba Ishana mengucapkan terima kasih dengannya? "Terima kasih karena sudah menjaga dan menolongku malam itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai kamu tidak di sana," lanjut Ishana. "Oh, jadi kamu sudah ingat?" Tristan menaikkan sebelah bibir dan menatap remeh, seakan merendahkan Ishana. Ishana mengangguk. "Aku mengingatnya, tapi aku juga harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bukan wanita pecandu alkohol dan suka tidur di jalanan seperti yang kamu lihat waktu itu." Mulai membela diri, hah? Tristan yang mendengar pun hanya diam, tetapi tatapannya tidak beralih. Dia malah semakin menatap Ishana, seakan merendahkan wanita tersebut. Dia merasa kalau Ishana seperti wanita lainnya'. Sok suci, padahal waktu murahan. "Waktu malam itu, aku ikut pesta ulang tahun temanku dan mereka yang memaksaku untuk minum alkohol. Sebenarnya aku bukan wanita pecandu dan suka tidur di jalanan. Itu juga pertama kalinya," jelas Ishana. Dia berharap Tristan akan mengubah pandangan terhadapnya. "Saya rasa kamu tidak perlu menjelaskan mengenai masalah itu," ucap Tristan dengan tenang. "Tidak, aku harus menjelaskannya. Aku tidak mau kalau kesalahan pahaman ini mempengaruhi dunia kerjaku," sahur Ishana. "Selain itu, aku rasa kamu juga tidak profesional sama sekali," tambah Ishana. Kali ini malah memprotes tindakan Tristan. Tristan yang mendapat protes pun langsung menaikkan sebelah alis. Dia menatap heran ke arah Ishana yang begitu cepat berubah. Padahal beberapa menit yang lalu wanita itu mengucapkan terima kasih dengannya, tetapi kali ini Ishana malah mengatakan bahwa dirinya tidak profesional sama sekali. Hal yang membuat Tristan cukup tersinggung dan menatap tidak suka. "Kamu bilang kalau saya tidak profesional sama sekali. Jadi, akan jauh lebih baik kalau kita tidak bekerja sama, bukan?" Tristan mengatakan dengan nada suara angkuh. Dia pun segera bangkit dan melangkah lebar, meninggalkan Ishana seorang diri. Ishana yang mendengar hal itu pun langsung menutup mulut rapat. Dia menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Hingga dia yang melihat Tristan mulai menjauh pun hanya mampu membuang napas kasar dan menundukkan kepala, menyentuh pinggir meja dengan begitu lesu. "Dasar bodoh kamu Ishana. Kamu malah menyinggungnya," gumam Ishana. Dia memukul kecil kepalanya. Ya Tuhan, aku benar-benar salah bicara, batin Ishana. *** "Freya, kamu yakin membiarkan Mbak Ishana pergi sendiri?" tanya Viona, menatap ke arah Freya lekat. Freya yang sejak tadi tidak tenang pun menatap ke arah Viona. Dia sendiri tidak yakin membiarkan Ishana pergi sendiri, tetapi dia juga tidak bisa memaksa ikut. Pasalnya, Ishana mengatakan akan menyelesaikan sendiri masalahnya dengan Tristan. "Freya, bagaimana kalau sampai Mbak Ishana mengalami masalah? Kamu tahukan kalau Pak Tristan itu orangnya dingin. Bagaimana kalau Pak Tristan malah menyulitkan Mbak Ishana?" tanya Viona kembali. Benar juga. Freya cukup tahu dengan sikap Tristan yang begitu dingin. Tapi kali ini bukan mengenai Tristan yang menyulitkan Ishana yang dipikirkan Freya. Dia malah berpikir, bagaimana kalau Ishana membuat masalah lagi? Freya yang berpikir itu pun langsung bangkit. Dengan cepat dia keluar dari ruangan. Dia bahkan tidak meminta izin dulu dengan Viona. Langkahnya langsung menuju ke arah pintu dan keluar. Dia harus menyusul Ishana dan memastikan tidak ada yang salah. Sedangkan Ishana yang bingung pun tidak bersemangat. Dia masih merutuki diri sendiri yang selalu membuat kesalahanan. Seharusnya dia tidak membahas mengenai profesionalitas seorang Tristan. Hingga Ishana menghentikan mobil di lobi resort dan membuang napas kasar. Tanpa sepatah kata pun, Ishana membuka pintu mobil dan turun. Kakinya melangkahkan pelan, menuju ke arah ruangannya. Dia akan memikirkan mengenai rencananya nanti. Kali ini, Ishana ingin menyelesaikan masalah yang lain, sekaligus mencairkan pikirannya yang benar-benar buram. Sampai manik matanya melihat Freya yang melangkah lebar, membuat Ishana menghentikan langkah. "Ishana," panggil Freya. Wanita itu berlari kecil, menuju ke arah Ishana. Ishana sendiri hanya diam dan menunggu sepupunya. Dia tahu apa yang akan Freya tanyakan. Hingga wanita itu berdiri di depannya, membuat Ishana membuang napas lirih. "Ada apa, Freya?" tanya Ishana. "Kamu sudah bertemu dengan Tristan?" Freya balik bertanya dan menatap lekat. Dia yang menunggu kabar pun dibuat tidak sabar. Ishana hanya mengangguk pelan. "Bagaimana dengan pemesanan resortnya?" tanya Freya kembali. Kali ini, Ishana membuang napas kasar. "Aku bertemu dengannya, Freya. Tapi aku juga melakukan kesalahan," jawab Ishana tanpa semangat. "Melakukan kesalahan? Maksudnya apa?" Freya mengerutkan kening dalam, bingung dengan apa yang dimaksud saudaranya. Lagi-lagi Ishana mengangguk lirih dan berkata, "Aku salah bicara, Freya. Aku menyalahkan Tristan yang tidak profesional karena dia yang mencampurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan." "Maksudnya?" Freya semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Ishana. Ishana menghela napas lirih. Dia mulai menjelaskan dengan Freya mengenai semua yang terjadi. Dia menceritakan tentang kejadian malam itu, dimana Ishana mabuk dan berakhir tidur di jalanan. Dia juga bercerita kalau Tristan yang menolongnya dari gangguan pria c***l. Tristan juga yang sudah menjaganya sepanjang malam. Freya yang baru mendengar cerita itu pun langsung melebarkan kedua mata dengan mulut setengah terbuka. Dia tidak menyangka kalau saudaranya itu sudah bertemu dengan Tristan lebih dulu. Bahkan pria itu yang menjadi penyelamatnya. "Tapi aku malah memperkeruh suasana, Freya. Aku salah bicara dan menyalahkan dia yang tidak profesional," ucap Ishana lirih. "Tapi kamu harus menemuinya, Ishana. Kamu harus meluruskan semua yang terjadi. Tidak masalah kalau pemesanan resort dibatalkan, tetapi setidaknya kamu harus bersikap baik dengan penolongmu," sahut Freya serius. "Tapi bagaimana caranya? Apa dia masih mau bertemu denganku? Bagaimana kalau dia menolakku?" tanya Ishana, benar-benar buntu. Freya terdiam sejenak, mencoba mencari cara. Sampai dia teringat dengan cerita Ishana, membuatnya mengulas senyum lebar dan menatap atusias. "Kamu ingat jaket yang dia tinggalkan, kan? Kamu bisa gunakan itu untuk alasan menemuinya," usul Freya penuh semangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN