"Kamu mau ke mana, Ishana?" tanya Freya ketika melihat Ishana yang sudah rapi. Padahal hari masih terlalu pagi, tetapi Ishana sudah tampil rapi dengan celana jeans dan kemeja. Bahkan wanita itu berdandan cantik hari ini.
"Ishana, kamu ada janji dengan seseorang?" tanya Freya kembali. Kali ini menatap penuh selidik.
Ishana yang sudah selesai dengan dandanannya pun mengalihkan pandangan, menatap ke arah Freya lekat. "Seperti yang kamu katakan kemarin, aku akan menemui Tristan lagi. Aku harus meluruskan masalah kali ini dan meminta maaf dengannya. Hari ini aku juga akan berterima kasih dengan tulus," jawab Ishana.
"Memangnya kamu tahu di mana Tristan berada?" tanya Freya kembali.
Kali ini Ishana menggelengkan kepala. Jelas dia tidak tahu di mana pria itu berada, tetapi dia juga tidak ingin menyerah. Seperti yang dikatakan sepupunya waktu itu, Ishana harus berterima kasih dengan pangeran penolongnya dan menjalin hubungan baik.
"Terus, kamu mau mencari dia ke mana?” Freya benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Ishana kali ini. Dia memang menyuruh saudaranya itu untuk berterima kasih dan meluruskan kesalahpahaman yang ada, tetapi bukan berarti Ishana mencari tanpa persiapan.
Namun, Ishana dengan enteng mengangkat kedua pundak dan menurunkannya. Dia berkata, "Mengenai itu, aku akan pikirkan nanti saja. Sekarang aku mau pergi dulu. Jaga resort baik-baik."
Freya hendak melarang, tetapi terhenti karena Ishana yang sudah lebih dulu meninggalkannya, membuat Freya hanya mendesah kasar dan membiarkan Ishana pergi.
Sedangkan Ishana melangkah lebar, menuju ke arah mobil yang terparkir di lobi resort. Dengan tenang, dia mengemudi, menikmati suasana pulau Bali yang begitu menyenangkan. Di sana terasa tenang. Ishana sendiri mulai merasa betah tinggal di sana, meski dia harus jauh dari keluar.
Beberapa menit menempuh perjalanan, Ishana menghentikan laju kendaraan di depan sebuah bangunan. Perjalanannya kali ini pun bukan tanpa tujuan karena nyatanya Ishana berhenti di depan kantor yayasan amal milik Tristan. Dia yakin kalau pria itu pasti datang.
Namun, kantor terasa sepi. Tidak ada siapapun di gedung itu. Ishana bahkan sempat berpikir jika bangunan itu tidak berpenghuni lagi, tetapi mengingat Tristan yang akan melakukan pertemuan dengan investor, Ishana yakin gedung itu masih digunakan.
"Sebenernya jam berapa dia datang ke kantor," gumam Ishana sembari melirik jam yang terikat di tangan. Wajahnya mulai bosan karena menunggu Tristan terlalu lama.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Ishana yang menunggu pun membuang napas kasar. Sejak tadi dia berusaha menahan perasaan bosan dan terus menunggu Tristan. Dalam hati, dia yakin pria itu akan datang. Hingga sebuah mobil berhenti di depan mobil Ishana, membuat wanita itu melebarkan kedua mata. Sampai manik matanya menatap Andre, membuatnya membuka pintu dan keluar.
"Andre," panggil Ishana.
Andre yang melihat kehadiran Ishana pun langsung melebarkan kedua mata. Dia cukup terkejut karena melihat wanita itu di kantornya. Dia bahkan tidak menyangka sama sekali.
"Ishana, kenapa kamu di sini?" tanya Andre dengan raut wajah bingung.
"Aku ke sini untuk mencari Tristan," jawab Ishana dan berdiri di depan Andre.
"Tapi hari ini Tristan tidak berangkat. Dia sedang mengurus pembukaan cafe barunya," ucap Andre.
"Kalau begitu, bisa beri aku alamat cafenya? Aku ingin meluruskan masalahku dengannya," sahut Ishana.
"Aku mohon, Andre. Aku sudah tiga jam di sini dan hanya ingin menemuinya. Jadi, bisa bantu aku?" tambah Ishana dengan suara memohon.
***
Tristan merapikan cafe miliknya. Sejak pagi, dia bahkan hanya bergelut dengan alat pertukangan, menghias setiap sudut cafe baru yang akan segera di buka. Tristan ingin memberikan kesan baik untuk para pelanggan pertamanya nanti, supaya mereka datang kembali. Kali ini pun Tristan sedang berdiri di tangga dengan tangan memegang paku. Hingga dia yang tanpa sengaja menjatuhkan paku di tangan.
Tristan berdecak kecil dan mendesah kasar. Dia menunduk kepala, melihat anak tangga di bawah dan siapa turun, tetapi gerakannya terhebat ketika melihat seorang wanita berdiri di bawahnya.
Sejenak, Tristan yang melihat kehadiran Ishana kali ini pun terdiam. Dia cukup terkejut dengan kehadiran wanita itu. Bahkan, Tristan hanya menatap dengan raut wajah bingung. Darimana gadis ini tau tempatnya?
"Kamu membutuhkannya, kan?" tanya Ishana dengan suara lembut.
Tristan yang mendengar pun tersentak kaget, tetapi dapat dikendalikan dengan cepat. Dia segera meraih paku tersebut dan digunakan.
Sedangkan Ishana masih berdiri, memegang tangga yang terbuat dari alumunium tersebut. Dia menatap Tristan yang begitu cekatan. Jujur, dia cukup terpesona dengan gerakan pria itu. Tristan tampak seperti pria sempurna dengan seribu bakat. Sayangnya pikirannya yang berkelana harus terhenti Tristan yang mulai turun.
"Untuk apa kamu datang ke sini? Selain itu, siapa yang memberitahumu alat cafe milikku?" tanya Tristan ketika sudah turun. Manik matanya menatap dingin ke arah Ishana.
"Aku tahu tempat ini dari Andre. Selain itu, aku datang untuk meminta maaf. Maaf kalau kemarin aku salah bicara. Aku juga mau mengucapkan terima kasih karena sudah menolongku. Sekalian mengembalikan jaket milikmu," jawab Ishana dengan tenang.
Sayangnya, Tristan malah mengalihkan pandangan. Dia tidak menggubris ucapan Ishana. Tristan hanya mengambil jaket di tangan Ishana dan melangkah pergi.
Kali ini, Ishana juga tidak menyerah. Dia terus melangkah, mengikuti kemanapun Tristan pergi. Dia bahkan terus membantu apa yang Tristan butuhkan. Hingga tanpa sengaja, dia tersandung peralatan milik pria itu.
Namun, saat itu juga Tristan menangkap tubuhnya. Pria itu memegang pinggang Ishana, membuat keduanya tampak begitu dekat. Ishana yang baru pertama kali melihat Tristan dengan jarak yang sangat dekat pun dibuat membeku.
Andre yang ada di sana pun langsung berdehem kecil dan berkata, "Aku rasa kalian cocok. Kalian sama-sama berbakat. Ishana cantik dan kamu tampan, Tristan. Kalau kalian menikah, aku yakin kalian pasti akan menjadi pasangan yang sempurna," ucap Andre, menggoda Tristan.