Let's be Friend

1177 Kata
Ishana yang mendengar pun dibuat bersemu. Sedangkan Tristan hanya diam. Dia tidak menanggapi apa yang Andre katakan dan memilih melangkah ke arah rumah yang terletak di belakang cafe miliknya, diikuti Ishana dan Andre secara bersamaan. Di rumah, Tristan langsung ke dapur dan membuat masakan. Ishana dan Andre yang melihat pun takjub di buatnya. Sedangkan Tristan tidak terlalu menanggapi apa yang keduanya celotehkan. Tristan memang tidak menyukai Ishana, tetapi kali ini dia pun tidak mengusir wanita tersebut. Dia merasa kalau Ishana tulus membantunya. Sampai masakannya jadi dan dihidangkan di meja makan. Ishana dan Andre pun mengambil makanan, sesuai instruksi Tristan yang menyuruh mereka menyantap. Ishana yang merasakan masakan pria itu pun dibuat takjub karena makanan yang dibuat sangat enak. Pantas dia mau buat cafe. Aku yakin, pasti cafenya ramai, batin Ishana. Sedangkan Tristan hanya diam. Dia memperhatikan Andre dan Ishana yang sejak tadi berbicara. Hingga sebuah senyum terlintas di bibir Ishana, membuat Tristan terdiam. Cantik, batinnya memuji. "Ishana, kamu mau ke mana?" tanya Andre saat melihat Ishana yang sudah menggunakan tas kecil miliknya. Ishana yang ditanya pun menatap ke arah Andre dan tersenyum manis. "Aku harus pulang, Andre. Ini sudah malam. Lagian aku juga sudah seharian di sini. Freya pasti mengkhawatirkanku," jawab Ishana dengan tenang. "Sendiri?" tanya Andre kembali. Sebelah alisnya terangkat, menatap ke arah Ishana heran. Ishana bergumam pelan dan menganggukkan kepala. Dia datang ke tempat ini sendiri. Jadi, dia pun harus pulang sendiri. Selain itu, Ishana juga membawa mobil, membuatnya tidak mungkin meminta untuk ditemani. Sedangkan Andre yang mendengar pun langsung mengalihkan pandangan. Dia menatap ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan kembali menatap ke arah Ishana. Dia berkata, "Ini terlalu beresiko untuk kamu pulang sendiri, Ishana." Ishana pun tersenyum manis dan menimpali, "Jangan khawatir, Andre. Aku mau bawa mobil sendiri. Jadi, tidak akan ada hal yang terjadi denganku." "Tapi tetap saja kamu tidak bisa pulang sendiri, Ishana," kekeh Andre dengan serius. Ishana yang mendengar hanya diam. Rasanya cukup bingung dengan kelakuan Andre kali ini. Kenapa tiba-tiba pria di depannya bertingkah begitu perhatian dengannya. Apakah ini karena pembatalan pemesanan resort waktu itu? Sedangkan yang dipikirkan malah melakukan hal lain. Dia terus celingak-celinguk, menatap seluruh kontrakan Tristan. Dia sedang mencari sesuatu. Sampai manik matanya melihat Tristan yang baru saja keluar dari kamar mandi, membuat senyum manis di bibirnya langsung terbit dengan manis. "Tristan," panggil Andre. Tristan yang dipanggil pun menoleh ke arah Andre berada. Dia bingung dengan raut wajah pria itu. Jujur, Tristan bahkan merasakan aura tidak baik dari pria tersebut. "Ishana mau pulang. Jadi, kamu bisa mengantarnya?" tanya Andre. Ishana langsung diam. Kenapa jadi Tristan yang harus mengantar? Dengan cepat, dia mengalihkan pandangan, menatap ke arah pria yang dimaksud. Dia tidak ingin pria itu salah paham lagi dengannya, tetapi niatnya terhenti ketika manik matanya menatap bola mata Tristan yang saat itu juga sedang menatapnya. Hening. Ishana hanya diam. Dia sendiri merasa sulit untuk mengalihkan pandangan. Rasanya enggan untuk melewatkan pemandangan indah kali ini. Sampai deheman kecil terdengar, membuat Ishana tersentak kaget. "Tristan, kamu mau, kan?" tanya Andre karena tidak juga mendapat persetujuan. Namun, Ishana yang mendengar langsung menolak dan berkata, "Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku membawa mobil." Dia tidak enak kalau harus merepotkan Tristan. "Gak apa, Ishana. Itu akan lebih aman," ucap Andre, masih kekeh dengan keinginannya. "Ak—" "Kalau dia bilang gak mau, jangan dipaksa, Andre." Kali ini, Tristan yang menyela. Andre yang mendengar hal itu pun langsung berdecak kecil dan memutar bola mata pelan. Dia menatap ke arah Tristan tidak suka dan bercelatuk, "Kamu benar-benar keterlaluan, Tristan. Padahal seharian Ishana sudah membantumu untuk menyiapkan pembukaan cafe. Tapi mengantarnya saja tidak mau. Dasar pria tidak tahu balas Budi." Tristan yang kembali mendapat kalimat menohok pun membuang napas kasar. Padahal dia hanya menuruti apa yang Ishana mau. Wanita itu tidak mau diantar. Jadi, untuk apa memaksanya? Hingga dia mendapat tatapan sinis dari arah Andre, membuatnya berdecak kecil. "Baiklah, aku akan mengantarnya pulang," putus Tristan dengan raut wajah kesal. Kalau saja bukan karena Andre, dia pasti enggan mengurusi Ishana. Apa dia tidak salah dengar? Ishana cukup terkejut dengan keputusan Tristan kali ini. Dia tidak menyangka pria itu akan menurut dan mengantarnya pulang. Sampai Tristan yang sudah melangkah pun berhenti di depan Ishana dan menatap tajam. "Mau pulang apa cuma mau diam?" tegur Tristan. Isahana pun dengan cepat berbalik dan mengikuti langsung Tristan. "Terus, nanti kamu pulangnya gimana?" tanya Ishana. "Di sini banyak taksi," jawab Tristan singkat dan hanya mendapat anggukan dari arah Ishana. *** Hening. Suasana di dalam mobil terasa begitu tenang. Tidak ada yang membuka percakapan sama sekali. Tristan sendiri hanya sibuk dengan kemudi, menatap ke arah jalanan. Sedangkan Ishana, dia hanya bungkam. Pikirannya masih berkelana, mencoba mencari topik untuk pembicaraannya kali ini. Sejujurnya, dia penasaran dengan acara pembukaan cafe pria tersebut, tetapi Ishana tidak memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu. "Saya harus mengantar ke mana?" tanya Tristan, memecah keheningan. Ishana yang sejak tadi melamun pun tersentak kaget dan menatap Tristan. Sejenak, otaknya terasa mati dan tidak bisa digunakan. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan singkat yang ditanyakan Tristan, tetapi hal itu hanya berlangsung sejenak. Saat dia tersadar dan dapat mengolah pertanyaan Tristan dengan baik, dia pun menjawab, "Resort. Soalnya aku juga tinggal di sana." Tristan yang mendengar hanya bergumam pelan dan melakukan kepala. Dia kembali fokus dengan jalanan di pulau Dewata yang cukup ramai, tetapi tidak menimbulkan macet sama sekali. Ishana melirik ke arah Tristan, mencoba membaca ekspresi wajah pria tersebut. Sampai dia yang merasa yakin pun dehem pelan dan menatap jalanan. "Tadi aku lihat kalau di rumahmu hanya ada sedikit barang. Apa kamu baru pindah ke sini, Tristan?" tanya Ishana. Dia bahkan tidak menatap ke arah Tristan, takut kalau pria itu menunjukkan ekspresi tidak suka. Tristan bergumam pelan dan menjawab, "Iya." "Kalau begitu, sebelumnya kamu dari kota mana?" tanya Ishana kembali. "Jakarta." "Benarkah? Aku juga dari Jakarta. Di sana ada temanku. Namanya Riv…." Ishana menghentikan ucapan ketika mengingat sesuatu. Dia benar-benar bungkam, enggan melanjutkan. Sedangkan Tristan yang melihat ekspresi wajah Ishana berubah pun melirik ke arah wanita tersebut. Jujur, dia penasaran, tetapi enggan bertanya. Tristan juga enggan mengurusi kehidupan orang lain. Hingga dia memilih fokus dengan kegiatannya dan berhenti di depan resort. Ishana yang sudah berada di depan lobi pun turun dan menatap ke arah Tristan. "Terima kasih sudah mengantarku." Ishana tidak juga mendengar jawaban dari arah Tristan. Dia berdehem kecil dan menatap penuh selidik. "Apa ini artinya kita sudah berbaikan?" tanya Ishana. "Memangnya kapan kita bermusuhan?" Tristan malah bertanya balik dan menatap heran. "Sebenarnya bukan bermusuhan, tapi waktu itu ada kesalahpahaman dengan kita, Tristan. Aku benar-benar berharap masalah itu sudah terselesaikan." "Aku tidak terlalu memikirkan mengenai hal itu," jawab Tristan tidak peduli. Jujur, mendengar jawaban itu, Ishana cukup kecewa. Tristan dengan entengnya mengatakan kalau tidak memikirkannya. Padahal Ishana dibuat tidak tenang karena masalah kali ini. Bukan mengenai pembatalan pemesanan resort, tetapi karena Ishana yang terkesan tidak tahu balas Budi. Ishana yang mengingat semua itu pun memilih mengabaikan. Dia mengulas senyum lebar dan mengulurkan tangan ke arah Tristan. Meski Tristan masih bersikap dingin dengannya, Ishana tidak akan menyerah. "Let's be friend, Tristan," ucapnya dengan senyum manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN