Ishana masih mengembangkan senyum di bibir setelah mengatakan hal tersebut. Dia berharap, Tristan akan menerima uluran tangannya dan menerima niat baiknya.
Meski Tristan sering bersikap angkuh dan dingin, tetapi entah kenapa, Ishana mengharapkan hal tersebut.
Sedangkan Tristan yang mendengar hanya diam dan menatap aneh. Tapi hal tersebut hanya berlangsung sejenak dan mengatakan, "Saya tidak berteman dengan sembarang orang."
Apa? Tidak berteman dengan sembarang orang? Ishana yang mendengarnya pun dibuat terkejut.
Apa yang sebenarnya ada di pikiran pria itu? Hingga Ishana tertawa kecil, mencoba menghilangkan perasaan kesal dan dongkol yang sejak tadi berada di hatinya. Dia juga merasa sakit hati karena ucapan yang dilontarkan Tristan.
Dia kecewa. Padahal sebelumnya dia berharap Tristan akan menerima pertemanan yang dia tawarkan.
Namun, Ishana tidak menyerah. Dia menatap Tristan, masih mengembangkan senyum manis. "Aku bukan sembarang orang, Tristan. Aku anak pemilik resort ini. Aku juga yang memimpin resort ini."
Sayangnya, Tristan tidak menganggap penting apa yang Ishana katakan. Dia memilih membalik tubuh dan melangkahkan kaki. Tugasnya sudah selesai. Dia juga sudah mengantar Ishana sampai depan resort dengan selamat. Jadi, sekarang waktunya dia kembali.
Ishana yang tidak mendapat jawaban sama sekali semakin dibuat penasaran. Dia pun melangkahkan kaki, mengikuti Tristan yang sudah lebih dulu melangkah. Sayangnya, Tristan yang cukup tinggi membuat Ishana cukup kewalahan.
"Tristan, tunggu aku," panggil Ishana.
Tristan yang mendengar memilih mengabaikan hal tersebut. Dia terus melangkah, meninggalkan resort milik Ishana.
Dia juga tidak terlalu memikirkan apa yang Ishana katakan. Dia datang ke pulau Dewata untuk memulai bisnisnya. Dia tidak berniat sama sekali menjalin pertemanan apa pun.
"Tristan, tunggu. Aku … aww." Ishana yang mencoba mengejar tanpa sengaja menyandung batu dan terjatuh. Kakinya juga mengeluarkan sedikit darah dan lecet.
Tristan yang awalnya berjalan pun ikut berhenti. Dia membalik tubuh dan menatap ke arah Ishana. Dia ingin tahu, apa yang terjadi dengan wanita itu. Hingga dia melihat Ishana yang duduk di jalan dengan bibir meringis, menahan sakit.
Tristan membuang napas kasar dan kembali mendekat ke arah Ishana. Padahal dia ingin cepat pulang dan istirahat, tetapi dia juga merasa kasihan saat melihat gadis itu terus mengaduh dan menahan sakit. Sampai dia berhenti dan mengulurkan tangan.
"Apa?" tanya Ishana, merasa bingung.
"Saya bantu berdiri," jawab Tristan.
Ishana pun dengan semangat meraih uluran tangan Tristan. Dia berharap ini adalah awal yang baik, tetapi baru saja berniat bangkit, Ishana kembali berhenti. Dia merasakan sakit di pergelangan kaki. Sepertinya, dia tidak hanya luka, tetapi juga terkilir.
Tristan yang mengetahui hal tersebut pun kembali mendesah. Dalam hati, dia mencemooh Ishana yang menurutnya ceroboh. Dia bingung, kenapa ada pimpinan yang seperti Ishana.
Namun, meski begitu, Tristan tidak membiarkan begitu saja. Dia menundukkan tubuh dan mengulurkan tangan. Dia meraih tubuh Ishana dan mengangkat secara perlahan.
"Tristan, apa yang kamu lakukan?" tanya Ishana dengan kedua mata melebar. Dia cukup terkejut dengan tindakan Tristan kali ini. Tangannya pun langsung mengalung di leher pria tersebut.
"Kamu tidak bisa jalan. Jadi aku gendong sama supaya cepat selesai," jawab Tristan.
Ishana yang mendengar pun hanya diam dan menutup mulut. Pipinya bersemu merah saat dia dan Tristan memasuki resort.
Banyak pasang mata yang memperhatikan keduanya. Bahkan, Freya yang ada di kejauhan pun langsung melangkah lebar dan menuju ke arah keduanya.
"Apa yang terjadi dengan Ishana, Tristan?" tanya Freya dengan raut wajah cemas.
"Di mana kamarnya?" Tristan malah balik bertanya.
Freya cukup kesal dengan sikap Tristan kali ini, tetapi dia tetap menunjukkan dimana kamar saudaranya. Sesekali, melirik ke arah Tristan yang masih tenang. Hingga mereka berada di kamar. Tristan pun langsung meletakkan Ishana di ranjang.
"Kamu gunakan mobilku saja, Tristan," ucap Ishana saat melihat Tristan akan pergi.
"Saya bisa naik taksi," sahut Tristan.
"Gak usah. Kami pakai mobilku saja. Besok, biar petugas resort yang mengambil di tempat kamu," ucap Ishana kembali.
"Say—"
"Ayolah. Kamu sudah menolongku. Jadi, aku gak mau terjadi hal buruk dengan kamu. Lebih baik pakai mobilku. Kamu juga tidak perlu mengantar ke sini," sela Ishana.
Tristan yang mendengar pun membuang napas kasar. Ishana menang gadis cerewet dan suka sekali memaksa. Dengan setengah hati, Tristan menerima tawaran Ishana. Dia enggan mendengar ocehan Ishana terus-menerus.
Ishana pun langsung memberikan kunci mobil, membuat Tristan segera melangkah pergi. Sedangkan Freya yang melihat pun merasa bingung. Dia mendekat ke arah Ishana dan menatap curiga.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu dan Tristan bisa terlihat akrab begitu?" tanya Freya ketika melihat Tristan sudah menghilang. Padahal biasanya dua manusia ini terlihat seperti tom and Jerry.
***
Dering ponsel terdengar. Tristan yang baru saja selesai mandi pun langsung keluar. Dia membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka dan hanya mengenakan celana pendek. Handuknya di kalungkan di leher dan menuju ke arah nakas.
Papa. Tristan yang membaca nama yang tertera di layar pun segera mengambil ponsel dan mengangkat panggilan. Dia mendekatkan ponsel di telinga.
"Halo, Pa," sapa Tristan.
"Halo, Tristan."
"Ada apa, Pa?" tanya Tristan.
"Papa ingin membicarakan mengenai perpindahan pegawai yayasan amal milik kamu ke perusahaan papa, Tristan," ucap Yoga.
Tristan yang mendengar pun diam dan menunggu keputusan sang papa. Dia takut kalau papanya akan menolak. Kalau sampai itu terjadi, apa yang akan terjadi dengan karyawan-karyawannya?
"Papa menerima usulan kamu, Tristan. Dalam waktu dekat ini, papa juga akan memanggil mereka dan memberikan pekerjaan pengganti," ucap Yoga.
Tristan merasa lega. Semua kekhawatirannya menghilang begitu saja. Setidaknya, satu masalah terselesaikan.
"Terima kasih, Pa," ucap Tristan.
"Tidak perlu sungkan, Tristan. Lagi pula papa memang sudah berniat memberikan pekerjaan pengganti untuk mereka dari lama. Tapi, papa mau menunggu kamu pulang dan membuat keputusan saja," sahut Yoga.
"Bagaimana hari kamu di sana? Menyenangkan?" tanya Yoga.
Tristan pun menceritakan mengenai kehidupannya yang membaik. Dia juga menyampaikan pemikirannya dan meminta pendapat sang papa. Sampai tiga puluh menit kemudian, terdengar suara sekretaris sang papa dari kejauhan.
"Papa tutup dulu, Tristan. Hari ini papa ada rapat," ucap Yoga.
"Tidak masalah, Pa."
Tristan pun menutup panggilan. Dia meletakkan ponsel di nakas dan keluar. Di sana, ada Andre yang sedang menikmati kopi pagi hari ini. Dengan tenang, Tristan melangkah ke arah Andre berada.
"Kopi untukmu," ucap Andre saat Tristan sampai. "Tadi aku mengajakmu minum bersama, tapi sepertinya kamu sedang bercerita dengan seseorang," tambahnya menjelaskan.
"Tadi Papa. Dia bilang kalau dia menerima usulanku mengenai perpindahan karyawan. Papa akan memberikan pekerjaan pengganti untuk mereka," jelas Tristan.
"Oh iya, Andre. Kalau begitu segera rekrut karyawan baru. Tidak banyak, delapan orang saja sudah cukup," perintah Tristan dan mendapat anggukan dari arah Andre.
"Setelah ini kamu mau ke mana, Tristan?" tanya Andre sembari meletakkan sendok di piring. Dia sudah selesai dengan sarapannya dan beralih menatap ke arah Tristan.