Tristan yang ditanya pun diam. Dia sedang menimang, akan melakukan apa hari ini. Pasalnya, Tristan tidak memiliki rencana apa pun.
"Apa mau melanjutkan merias cafe sebelum pembukaan?" tanya Andre kembali.
Kali ini, Tristan mendesah kasar dan menggeleng-gelengkan kepala. "Aku rasa hari ini aku mau melihat kampus di sekitar sini, Andre. Seperti yang kamu tahu, aku sudah lama berhenti kuliah dan sekarang sudah hampir semester baru. Jadi, aku mau kembali berkuliah dan melakukan study," jawab Tristan dengan tenang.
Andre pun menganggukkan kepala, tanda dia mengerti dengan ucapan Tristan. Dia sendiri cukup mendukung hal tersebut.
Tristan akan membangun usaha baru. Setidaknya jika dia berkuliah dan bertambah ilmu, pria itu pasti akan mendapatkan pengalaman dan bisa membangun usaha jauh lebih maju. Ya, setidaknya seperti Yoga yang menjadi pengusaha sukses.
"Kamu sendiri mau ke mana hari ini?" tanya Tristan dan menyuap masakan terakhir.
Andre yang baru meneguk minuman pun meletakkan gelas di meja. "Seperti yang kamu tahu, Tristan. Kamu sudah membatalkan pemesanan resort milik Ishana. Jadi, sekarang aku harus segera mencari ganti karena waktu pertemuan yang sudah dekat," jawab Andre. Kali ini menunjukkan raut wajah tidak bersemangat.
Sejenak, Tristan kembali diam. Keningnya berkerut dalam, memikirkan mengenai keputusan selanjutnya. Dia bahkan mulai goyah dengan keputusan yang sebelumnya dibuat. Hingga dia melihat Andre bangkit dari kursi makan, membuatnya segera mendongak.
"Aku rasa kamu tidak perlu mencari lagi, Andre," ucap Tristan cepat.
Jelas, Andre yang mendengar terdiam dengan sorot mata bingung. Dia kembali meletakkan b****g di kursi dan mensedekapkan tangan di meja. Manik matanya menatap tajam.
"Tadi, kamu bilang apa?" tanya Andre, tampak seperti orang bodoh. Sebenarnya, dia cukup mendengar, tetapi dia ingin memastikan sekali lagi kalau telinganya tidaklah tuli
"Aku bilang, kamu gak perlu mencari lagi. Kita gunakan resort milik Ishana saja," ulang Tristan. Kali ini dengan tatapan mematikan.
"Serius?" Andre langsung bersorak gembira. Bahkan, bibitnya langsung tersenyum lebar.
"Kalau begitu, aku akan hubungi Viona," ucap Andre semangat. Dia segera mengambil ponsel.
Namun, belum juga dia melakukan keinginannya, Tristan sudah lebih dulu mencegah. Pria itu menahan punggung tangan Andre, membuat Andre terdiam. Andre bingung dengan tingkat Tristan yang menurutnya aneh.
Apa dia mau berubah pikiran, batin Andre dan menelan saliva pelan.
"Kamu gak perlu hubungi dia, Andre. Biar aku yang ke sana. Sekalian mengembalikan mobil Ishana. Soalnya sudah jam segini dan belum ada yang mengambil," ucap Tristan sembari melirik ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul sembilan.
Padahal jelas-jelas gadis itu yang mengatakan akan menyuruh orang mengambil, tapi sampai siang, tidak ada seorang pun yang datang.
Andre yang mendengar pun hanya menganggukkan kepala. Dia lagi-lagi mengulas senyum manis. Tristan yang melihat sendiri merasa geli, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia memilih bangkit dan melangkah pergi.
Andre membuang napas kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. "Semoga dia menemukan jodohnya," gumam Andre.
***
Tristan yang sudah berada di resort Ishana segera memarkir mobil dan turun. Kakinya melangkah pelan, sembari menikmati pemandangan resort yang indah.
Semua tertata dengan rapi. Bahkan, dalam hati Tristan benar-benar mengakui keunggulan resort tersebut. Rasanya begitu tenang dan nyaman.
Namun, akan sampai di lobi, Tristan berhenti. Manik matanya melihat ke arah kerumunan yang ada di depannya. Dia melihat ada seorang pria yang tengah berdiri dengan senjata tajam dan menjadikan satu wanita sebagai sandera. Terlihat raut wajah tegang dari semuanya.
Tristan yang melihat pun hanya diam dan memilih mengamati. Ini bukan masalahnya. Jadi, tidak ada tanggung jawab Tristan untuk ikut campur di dalamnya.
Sedangkan Ishana yang juga ada di tempat yang sama tampak tegang. Berulang kali dia menelan saliva pelan, berusaha untuk tetap tenang. Manik matanya menatap lekat ke arah pria yang ada di depannya.
"Kamu bisa tenang sebentar? Kita selesaikan semua dengan baik-baik," ucap Ishana dengan hati-hati.
"Tenang, kamu bilang? Aku bahkan sudah memberikan semuanya dan dia meninggalkanku. Dia bahkan jalan dengan pria lain dan tidak memikirkan perasaanku sama sekali," sahut pria tersebut.
"Aku gak ninggalin kamu demi dia. Aku cuma udah gak betah sama kamu," ucap sang wanita yang menjadi sandera.
"Diam!" bentak pria tersebut. Tangannya semakin menggenggam erat pergelangan tangan dan mendekatkan pisau di leher sang wanita.
Seketika, suasana di sana menjadi tegang. Tidak ada yang berani membuka suara. Pasalnya, terlihat aura mengerikan dari wajah pria tersebut. Satpam di sana pun tampak bingung melihat kejadian kali ini. Kalau mereka nekat mendekat, apa wanita itu akan baik-baik saja?
Ishana yang melihat pun membuang napas lirih dan menatap lekat. "Aku tahu apa yang kamu rasakan. Mencintai tanpa balasan yang setimpal benar-benar menyakitkan. Sedih, marah, kesal. Semua bercampur menjadi satu. Tapi, bukan begini cara menyelesaikannya. Kita bisa bicara baik-baik," ucap Ishana dengan lembut.
"Kamu hanya berbicara omong kosong," ucap pria tersebut.
Ishana menggelengkan kepala dan berkata, "Aku juga pernah merasakannya, tapi aku tidak melakukan hal gila begini. Aku menyelesaikan dengan cara yang baik. Jadi, mari kita bicara baik-baik dan jangan gunakan emosi."
Ishana pun melangkah pelan. Dia mencoba mendekat ketika melihat pria di depannya tampak jauh lebih tenang. Sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lama karena pria tersebut tampak tersulut emosi saat melihat pria yang dicintai mantan kekasihnya itu juga mendekat.
Ishana yang berada di dekat kekasih sang sandera pun melebarkan kedua mata. Dia menggunakan tangannya sebagai tameng, berusaha untuk menghindar. Kedua matanya pun terpejam, siap merasakan sakit karena goresan.
Namun, beberapa lama menunggu, Ishana tidak merasakan apa pun. Perlahan, dia membuka mata untuk melihat apa yang terjadi. Tepat saat itu, dia melihat Tristan berada di depannya, menjadikan diri sebagai tameng.
"Tristan," gumam Ishana dengan kedua mata berkaca.
Sayangnya, Tristan tidak menghiraukan hal itu. Dia memilih fokus dengan pria di depannya. Dengan cekatan, dia meraih tangan pria tersebut dan memukul wajah sang pria.
Tangannya juga meraih pisau yang sejak tadi dipegang dan membuangnya. Tristan benar-benar mengabaikan luka di tangannya. Sampai dia melumpuhkan pria asing tersebut dan menyerahkan dengan sang petugas keamanan.
Ishana yang sejak tadi menahan tangis pun langsung mendekat ke arah Tristan. Melihat darah mengalir, dia langsung menangis. Hatinya benar-benar merasa sakit sekalipun terharu karena pengorbanan Tristan. Padahal, pria tersebut bukanlah orang terdekatnya.
"Ishana, jangan menangis," ucap Tristan dengan wajah bingung.
Namun, bukannya diam, Ishana malah semakin menangis keras. Gadis itu terisak, membuat Tristan semakin bingung. Hingga dengan tenang, dia mengulurkan tangan dan mengusap punggung gadis itu pelan. Dia berharap hal itu bisa menenangkan Ishana.
Sayangnya, bukannya tenang, Ishana malah mendekat dan memeluk Tristan. Jujur, Tristan cukup terkejut melihatnya. Dia yang merasakan dekapan pun terdiam untuk sejenak. Sampai akhirnya, dia ikut mendekap dan mengelus pelan.
Ishana yang merasakan pun menutup kedua kata. 'Kamu benar-benar seperti malaikat untukku, Tristan,' batin Ishana.