Tristan mendesis pelan ketika merasakan alkohol menyentuh lukanya. Jemarinya langsung mengepal, berusaha menahan sakit yang dirasakan. Tatapannya pun beralih, menatap ke arah lain untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Sedangkan Ishana yang sedang mengobati luka pun hanya diam, tetapi melambatkan gerakan jari. Dia berusaha sepelan mungkin supaya Tristan tidak merasakan sakit. Dia pun selesai menangis meskipun wajahnya masih terlihat sembab.
"Kenapa kamu bisa di sini, Tristan?" tanya Ishana dengan suara serak. Dia tidak melihat ke arah Tristan dan kasih fokus dengan beberapa jenis obat di depannya.
"Saya mengembalikan mobil kamu. Soalnya gak ada yang juga ambil ke rumah. Karyawan kamu juga gak ada yang datang," jawab Tristan.
Seketika, Ishana yang mendengar pun menghentikan gerakan dan menepuk jidatnya pelan. "Aku lupa menyuruh orang buat ke rumah kamu, Tristan. Tadinya aku mau nyuruh satu orang ke sana, tapi karena insiden tadi, aku lupa," jelas Ishana dengan raut wajah bersalah.
"Gak apa," ucap Tristan singkat.
"Maaf, ya." Ishana bingung harus mengatakan apa karena jawaban Tristan yang benar-benar singkat.
Ruangan kembali tenang. Tidak ada yang membuka percakapan sama sekali. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Ishana selesai mengobati dan merapikannya kembali.
Tristan yang melihat Ishana melangkah pergi pun hanya diam. Dia lebih tertarik dengan ruang kerja Ishana yang memikat hatinya. Tidak begitu luas, tetapi semua barang tertata dengan rapi. Semua yang ada di sana juga jelas barang yang dibutuhkan dan tidak ada yang dijadikan pajangan semata.
"Terima kasih untuk tadi, Tristan. Maaf, aku malah jadi merepotkan kamu," ucap Ishana ketika kembali dan duduk di depan Tristan.
Tristan hanya menganggukkan kepala, tidak terlalu banyak berbicara. Dia memang lebih suka diam dan berbicara seperlunya saja.
"Tapi ngomong-ngomong, sepertinya kamu jago bela diri. Kamu belajar dimana?" tanya Ishana, mencoba mencari topik pembicaraan.
Kali ini pun Tristan diam. Dia tidak mungkin mengatakannya karena Tristan belajar bela diri di dalam jeruji besi. Di sana, dia harus bisa bertahan hidup dan membela diri. Beruntung, ada yang baik hati dan mengajarinya.
Ishana yang melihat Tristan diam pun ikut diam. Dia tidak lagi memaksa. Lagi pula, Ishana merasa kalau pertanyaannya kali ini terkesan pribadi. Mungkin kalau teman dekat, tidak masalah. Tapi masalahnya, Ishana baru mengenal Tristan beberapa hari. Mereka bahkan baru kemarin berbaikan.
Suasana di dalam ruangan pun menjadi canggung. Ishana bingung harus mencari topik pembicaraan apalagi. Sejak tadi, dia yang memulai berbicara. Sampai dia teringat sesuatu, membuatnya menatap Tristan lekat.
"Tristan, apa kamu sudah mendapat resort pengganti untuk acara yayasan amal?" tanya Ishana.
"Memangnya kenapa?" Tristan yang sejak tadi menatap pemandangan di luar ruangan pun mengalihkan pandangan, menatap ke arah Ishana.
"Kalau belum dapat, aku bisa membantumu mencarikan. Aku memiliki banyak kenalan dan kamu bisa memilihnya," jawab Ishana.
Jelas saja Tristan langsung mengerutkan kening dalam. Apa gadis di depannya ini bodoh? Atau karena kejadian tadi membuat Ishana menjadi kehilangan kecerdasannya? Kenapa dia malah mau membantu? Tristan benar-benar dibuat tidak mengerti dengan tingkah Ishana kali ini.
"Saya membatalkan pemesanan di resort milikmu, Ishana. Tapi, kenapa kamu malah mau membantuku?" tanya Tristan dengan raut wajah heran.
Ishana pun membuang napas kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. "Aku tidak bisa memaksa siapa pun untuk tinggal di resortku, Tristan. Aku tidak memiliki hak untuk itu. Aku tidak memiliki hak untuk mengikat mereka dan bertindak semauku. Selain itu, kamu juga sudah banyak sekali menolongku. Jadi, aku juga mau membantumu," jawab Ishana dengan raut wajah bahagia. Bibirnya juga menunjukkan senyum tulus.
Belajar berlapang d**a, hah? Tristan hanya menunjukkan senyum tipis yang tidak terlihat. Bahkan, Ishana yang berada di depannya pun tidak melihat untaian senyum tersebut.
"Jadi, apa kamu sudah mendapatkannya?" tanya Ishana kembali.
"Bagaimana kalau saya tidak jadi mencari resort lain?" Tristan malah balik bertanya.
"Maksudnya?" Ishana mengerutkan kening bingung. Apa maksudnya tidak mencari resort lain? Apa acara yayasan amal tidak jadi dilakukan?
"Bagaimana kalau saya tetap menggunakan resort kamu untuk acara kali ini?" tanya Tristan, tetapi kali ini dengan kalimat yang lebih mudah dipahami.
Ishana yang sejak tadi bingung pun mulai mengembangkan senyum lebar. Dia berkata, "Kalau kamu jadi menggunakan resortku, jelas aku senang, Tristan. Aku akan memberikan pelayanan yang baik. Bahkan aku akan memberikan diskon untuk kamu."
Tristan menggelengkan kepala. "Gak perlu diskon. Tapi saya membutuhkan sedikit bantuan dari kamu," kata Tristan.
"Apa?" tanya Ishana dengan tatapan menyelidik.
"Saya baru akan merekrut karyawan baru karena karyawan yang lama tidak bisa ke Bali. Jadi, kalau waktu pertemuan nanti kamu membantu kami, apa kamu bisa? Saya kekurangan sumber daya," jawab Tristan. Sebenarnya dia tidak enak hati. Ishana pasti sibuk, tetapi dia malah meminta hal yang menyita waktu.
Namun, hal lain ditunjukkan Ishana. Gadis itu malah tersenyum lebar dan berkata, "Gak masalah. Aku akan bantu."
Tristan yang mendengar cukup lega. Setidaknya dia memiliki satu orang yang bisa membantu nantinya. Padahal sebelum ini dia cukup bingung, harus mencari kemana orang untuk membantu?
Tristan yang sudah merasa membaik pun pamit pergi. Dia segera keluar, diikuti Ishana yang tampak bahagia. Tristan yang melihat cukup dibuat bingung karena perubahan suasana hati Ishana yang mudah sekali berubah.
"Setelah ini kamu mau kemana, Tristan? Apa mau melanjutkan mendekor cafe?" tanya Ishana, menatap Tristan lekat.
"Saya mau survey kampus," jawab Tristan.
"Siapa yang mau berkuliah? Adik kamu?" tanya Ishana kembali.
"Saya," jawab Tristan singkat.
"Ah, kamu mau melanjutkan S2 di sini?" tanya Ishana dengan enteng. Kakinya terus melangkah ke arah lobi resort.
"Bukan. Saya melanjutkan kuliah S1," jawab Tristan dengan enteng. Dia bahkan tidak merasa malu karena hal itu.
Hah? Ishana cukup terkejut dibuatnya. Dia pikir Tristan sudah lulus kuliah. Lidahnya pun terasa kelu, semakin bingung harus berkata apa. Suasana juga menjadi canggung karena hal itu. Dalam hati, Ishana merutuki dirinya yang suka sekali sok tahu. Sampai sebuah pikiran terlintas, membuat Ishana tersenyum lebar.
"Bagaimana kalau aku yang antar kamu berkeliling? Lagi pula aku jauh lebih mengerti Bali dari pada kamu, Tristan," ucap Ishana, memberikan usul.
Tristan yang baru sampai di lobi menghentikan langkah dan menatap Ishana. "Gak perlu. Saya bisa sendiri," sahut Tristan.
"Gak masalah. Aku akan membantu kamu mencari kampus yang bagus. Lagi pula aku juga gak sibuk," kata Ishana.
Jujur, Tristan semakin tidak enak hati karena harus merepotkan Ishana. Tapi, gadis itu terus memaksanya, membuat Tristan mau tidak mau menganggukkan kepala. Ishana yang melihat pun semakin tersenyum lebar.
Sedangkan dari kejauhan, Freya menatap lekat. Bibirnya tersenyum manis dengan kedua tangan disedekapkan.
"Rasanya sudah lama tidak melihatmu tersenyum begitu lepas, Ishana," gumam Freya.