“Sudah selesai, Ra?”
“Sudah, Finn. Yasti nih yang belum. Tolong bantuin ya. Suka salfok terus nih anak,” Finn menghampiri Ara, lalu Si Kembar langsung milih-milih barang.
“Ya sudah, lu tunggu aja didepan atau dimana gitu kalau capek. Barang lu sini gua yang bawain,” Finn hendak mengambil belanjaan Ara dan ditolaknya dengan halus.
Karena Finn juga mau belanja masa masih harus membawa barangnya, padahal bukan kewajiban Finn untuk membawa barang-barang Ara.
“Nggak usah, Finn. Lu kan juga mau milih. Masa bawain punya gua. Lagian berat tahu. Sudah gua bisa sendiri kok. Sana gih buruan,” balas Ara lembut.
“Yakin? Justru karena berat biar gua bawain, Ra,” kekehnya dan tetap ingin membawakan belanjaan Ara. Karena Ara menolak terus, akhirnya pun dia menyerah.
“Iyah, Finn. Yah elah, dikira gua apaan kali yah segini saja gak bisa,” gerutu Ara karena Finn seolah meremehkannya. Padahal dia gadis yang kuat, segini bagi Ara hanya sepele. Tapi Ara akan segera menyesali keputusannya saat ini.
“Hahaha, yah sudah. Lou, lu tolong bantuin Ara ya. Gua tinggal dulu,” tawa Finn lucu mendengar perkataan Ara. Baginya semua yang dilakukan terlihat sangat menggemaskan. Finn pun menitipkan Ara pada Louise.
“Ok!” singkatnya menjawab.
Ara merasa canggung saat berjalan beriringan dengan Louise. Tapi sudah lebih baik daripada sebelumnya, terlebih saat berada dikantin tadi. Setidaknya Ara bisa tahu kalau dia bukan cowok aneh.
“Hmm, mau duduk disini dulu nggak sambil nunggu mereka? Sepertinya bakal lama sih,” kata Ara pelan dan canggung.
“Ok,” singkat, padat dan jelas. Itulah Louise.
“Yah sudah,” balas Ara setengah hati.
“Permisi, Mba,” memanggil salah satu pelayan ditempat ini.
Toko yang menjual khusus dessert. Antara lain, cookies, ice cream sampai minumannya juga enak. Toko ini salah satu tempat favoritnya Ara.
“Lu mau pesen apa, Louise? Disini semua menunya enak-enak. Gua sudah cobain semuanya. Tapi menurut gua yang paling the best sih yang ini,” menunjukkan buku menu kearah Louise dengan antusias.
“Yah sudah gua pilih yang itu saja,” ucap Louise asal.
“Yah sudah, Mba. Saya pesen dua yah yang ini. Punya saya tolong seperti biasa aja ya, Mba,” pintanya ramah pada pegawai tersebut.
Karena Ara sering banget berkunjung ke Cafe tersebut, jadi hampir semua pegawai disini tuh kenal dengannya. Ara juga selalu bersikap ramah pada mereka, bahkan kadang sampai mengobrol dengan mereka.
“Siap, Non. Pacarnya yah?” liriknya penuh arti.
“Bukan, Mba! Teman kok, ini juga sama yang lain. Cuma mereka belum selesai belanja jadi kami duluan deh,” bantah Ara secukupnya. Mana mau Ara disandingkan dengan cowok seperti Louise. Sudahlah kaku, pelit kata, dingin, jutek, muka serius dan masih banyak lainnya yang dirutuki olehnya. Bagi Ara, Louise sudah paket komplit sebagai jelmaan Iblis.
“Kirain. Habis wajah baru kan. Hehehe, ganteng banget lagi,” kata pegawai tersebut dengan polos.
“Pfffttt, buat Mba aja kalau mau dan bisa, hahaha. Saya nggak tertarik,” tawanya setelah mendengar perkataan orang tersebut. Bagi Ara darimana ganteng, orang mukanya seperti sedang tertimpa tangga dan selalu ditekuk terus.
Louise yang mendengarnya hanya menatap tajam kearah Ara, tepat setelah pegawai itu meninggalkan mereka.
“Sorry, jangan terlalu dianggap serius. Tadi cuma bercanda kok,” ucapnya sembari melirik-lirik kearah Louise dan bergantian ketempat lain.
“Terserah,” balasnya singkat dengan dingin.
“Wahh, makasih ya, Mba. Tolong sampaikan ke Kak Mike juga. Eh, nggak usah deh, nanti saya sms aja orangnya langsung,” ucapnya saat pegawi tersebut menaruh pesanan mereka keatas meja. Orang yang dipanggil Mike itu memang selalu baik padanya. Mungkin karena Mike juga memiliki adik perempuan seusia Ara.
“Selamat menikmati ya," kata pegawai tersebut sebelum beranjak dari sana.
“Hem, enak!” gumam Ara setelah memasukkan sesuap ice cream kedalam mulutnya.
“Tolong kondisiin mukanya. Nanti dikira orang gila kabur dari RSJ.” ucap Louise tanpa ekspresi, padahal dia terpesona dengan senyuman Ara, hanya tidak mengakuinya saja.
“Biar wee! Coba gih minum itu. Pasti nagih deh. Itu favorit gua disini. Terus ice creamnya juga enak banget,” tetap berusaha ramah dan menahan emosinya.
Satu jam pun berlalu dan mereka masih belum selesai dan suasananya begitu canggung diantara Ara dan Lousei. Sejak tadi mereka berdua hanya diam tanpa sepatah kata pun. Jika Ara mengajaknya berbicara, Louise pasti hanya menjawab singkat. Jawabannya cuma ok, iyah, terserah, atau tidak. Itu membuat Ara mati kutu dan merasa kesal sekali.
“Hmm, kayaknya mereka masih lama. Nggak apa kan lu nunggu? Atau kalau lu mau pulang duluan? Nggak apa-apa kok kalau,” ucapnya lagi. Ara mencoba mengajaknya berbicara ramah sembari menahan gejolak emosinya. Rasanya ingin sekali dia melempar sesuatu ke wajah datarnya Louise.
“Nanggung!” lagi-lagi Louise hanya menjawab satu kata.
“Oh, yah sudah,” jawabnya malas.
"Yah Tuhan cobaan apa ini," gumam Ara pelan sekali.
“Hmm, kalau gitu gua ke toilet dulu ya,” katanya pamitan pada Louise.
“Ok.” lagi-lagi jawabnya singkat.
Sesampainya di toilet, Ara mencuci tangan dulu. Setelah cuci tangan, Ara merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya dan ternyata nggak ada.
“Dimana yah hp gue?! Tadi sepertinya ada deh dikantong,” setelah ingat-ingat lagi ternyata ketinggalan dimeja.
“Hah! Dasar dodol banget sih lu, Ra!” lagi-lagi Ara berbicara sendiri
“Ya Sudah deh biarinin Saja. Toh ada si Louise ini," tidak lagi memedulikannya dan langsung saja masuk kedalam bilik kecil itu.
Ring Ring
Sudah yang keberapa kalinya ini ponsel berdering. Louise berpikir apa dia angkat saja. Dia berpikir takutnya itu adalah telepon penting karena sampai nelpon berkali-kali.
Ring Ring
Akhirnya Louise pun memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.
“Halo, ma...,” baru berbicara hampir dua kata, ucapannya terhenti karena seseorang disebrang sana.
“Siapa lu?! Ini benar handphone nya Arabella Raveen, 'kan?” suara seorang cowok yang terdengar tidak sopan dan kasar.
“Iyah betul. Ini ponselnya, Ara,”
“Wah, ternyata si jalang itu sudah punya cowok baru. Berarti yang tadi gua lihat, dia jalan sama cowok benar adanya,” ucapnya disaat panggilan masih berlangsung.
“Maaf, anda siapa ya?” kata Louise singkat dan sedikit dengan nada sedikit kesal.
Karena orang tersebut seenaknya saja memotong perkataannya dan bicara tidak jelas.
“Gua?! Lu nggak perlu tahu siapa gua. Yang perlu lu sampaikan cuma satu. Lu bilang ke jalang itu kalau gua bakal datangin dia sebentar lagi, jadi jangan coba-coba kabur. Tunggu pembalasan gua, p*****r kecil.”
“Maaf, anda siapa yah? Kenapa nada bicara anda seperti mengancam? Saya bisa melaporkan anda kepihak yang berwajib,” balas Louise dengan nada mengancam. Louise merasa tidak asing dengan suara orang yang berbicara padanya ditelepon, tapi dia tidak dapat mengingat suara siapa itu.
“Hahahah, jangan ikut campur! Cukup sampaikan saja pesan itu sama dia.”
“Tungguu! Haloo? Ha..,” panggilan telepon tersebut terputus dari sana.
Louise melihat nomor tersebut dan tidak tertera namanya. Berarti tidak menutup kemungkinan ini telepon iseng atau memang dia berurusan dengan sesuatu yang berbahaya. Ternyata wajahnya sangat bertolak belakang sekali. Jika ada cowok berkata seperti itu berarti memang dia bukan cewek baik-baik.
“Maaf kelamaan. Tadi gua mampir sekalian buat beli ini untuk bokap gua,” Ara merasa bingung dengan ekspresi Louise yang terlihat kesal, padahal dia baru saja tiba.
“Oh, bentar handphone gua ketinggalan disini. Untunglah,” menghela napas lega.
Louise hanya menatap Ara kagum karena aktingnya benar-benar sempurna tanpa celah. Dia juga hampir saja tertipu.
“Tadi ada telepon masuk. Berkali-kali. Jadi tadi gua angkat, takut penting,” ucap Louise datar.
“Oh, thank you,” balasnya ramah ke Louise karena dia sudah bantu angkat teleponnya. Walau dia tidak bilang telepon dari siapa.
“Loh, yang telpon nggak ada nama, cuma nomor aja. Dari siapa yah?” gumamnya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Louise. Ara mengira jika penelepon terseebut adalah papanya, Kai.
“Maaf, Louise. Tadi yang telepon tadi siapa ya? Atau dia ada bilang sesuatu?” sedikit cemas dengan penelepon ini.
Karena saat melihat daftar panggilan cukup banyak panggilan dari nomor tersebut. Lalu beberapa pesan juga yang belum dia buka.
Ara membuka kotak pesan diponselnya sambil mendengarkan Louise berbicara.
“Dari cowok. Dia hanya menitip pesan ke lu,” ucap Louise sembari memperhatikan ekspresi wajahnya yang berubah.
“I..ini,” lirih Ara.
Mimik wajahnya berubah dalam seketika. Ara menjadi cemas dan takut, tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkannya didepan Louise. Ara sudah tidak lagi mendengar ucapan Louise.
“Hey! Lu nggak apa? Ada apa?” tanya Louise yang mengetahui perubahan Ara.
“Ta..tadi yang menelepon cowok?” tanya Ara terbata-bata pada louise.
“Iyah, dia nitip pesan ke lu. Dia bilang sebentar lagi dia akan menemui lu,” Louise berpikir tidak perlu dikatakan semua yang diucapkan oleh laki-laki tadi, terlebih soal ancaman itu. Cukup sampaikan intinya saja.
Ara hanya terdiam. Seolah jiwanya melayang entah kemana. “Apa..apa hanya itu saja?” tanya Ara sekali lagi memastikan.
“Hmm,” jawab Louise.
“Hanya itu? Yakin? nggak ada yang lain lagi?” sekali lagi benar-benar memastikan.
“Misalnya tentang keberadaannya atau waktu atau lainnya?!” setelah bertanya seperti itu pada Louise, barulah dia sadar.
Tidak mungkin orang itu akan memberitahukan kapan kedatangannya pada Louise. Ara hanya merutuki kebodohannya.
“Iyah, hanya itu saja. Memangnya dia siapa? Kalau mengganggu laporin saja ke polisi,” balas Louise yang heran dengan sikap Ara.
“JANGAN! Aahh, maaf. Gu..gua nggak bermaksud, tapi tidak perlu sampai seperti itu. Lalu gua minta tolong rahasiain ini dari yang lain,” lirihnya pelan sembari menatap Louise lekat.
“Lu yakin?!” tanyanya.
“Iyah!” jawab Ara.
“Ini bukan masalah besar,” Mulutnya berkata demikian, tapi hatinya tidak. Ara terus merasa cemas dan takut jika orang itu benar-benar akan mendatanginya. Karena tidak ada yang tahu dimana orang itu berada sekarang.
Karena ada seseorang yang membela dan melindungi orang itu dari belakang. Makanya, sejak kejadian itu, setelah beberapa bulannya, cowok itu dipindahkan dan tidak ada kabarnya lagi.
Ara hanya berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang untuk melindungi dirinya sendiri. Karena keberuntungan tidak akan terus menerus menghampiri dirinya.
“Yang lain datang. Atur ekspresi kalau gak mau yang lain curiga,” pesan Louise saat melihat kedatangan mereka.
“Makasih” ucap Ara pelan pada Louise.
“Yooo., maaf yah lama. Ini nih kanjeng ratu belanjanya lama banget. Ujung-ujungnya tetap milih yang awal,” cerita Obert sembari mengeluh soal Yasti.
“Duhh, cape banget gua!” keluh Obby.
“Ooh, haha, nggak apa kok. Gimana kalian sudah nemu semuanya, 'kan?” tersenyum lepas seolah tidak ada apapun yang terjadi.
“Sudah dong! Komplit! Jadi besok tinggal santai-santai dirumah," Obert menjawab pertanyaan Ara.
Ara sama sekali tidak bisa fokus. Dia berpikir harus pulang sekarang juga. Kalau lebih lama disini, kemungkinan terbesar yang lain akan mengetahuinya. Karena Ara bukanlah gadis yang bisa berbohong.
“Hmm, teman-teman gua pulang duluan ya. Tadi gua ditelpon bokap katanya dia mau jemput dan bentar lagi sampai,” beralasan apapun yang dapat dia katakan, agar bisa dengan cepat pergi dari sana.
“Yahh kok gitu sih. Iyah sudah deh. Gih sono, nanti bokap lu keburu sampai duluan loh,” balas Yasti tidak rela jika Ara lebih dulu balik. Mereka sebenarnya masih ingin Ara berada disini, tapi pasrah karena Ara bilang kalau ayahnya mau menjemputnya.
“Ok, Yas. Sorry yah, lain kali deh kita jalan lagi deh. Gua janji bakal temenin lu sepuanya, oke?!” katanya pada Yasti yang terlihat tidak rela, jika dirinya kembali lebih dulu.
“Gue pegang janji lu yah. Hati-hati ya, Ra,” ucap Yasti.
“Hati-hati ya, Ra,” kata Finn padanya yang sudah bersiap meninggalkan tempat.
“Oke, Finn nanti tolong anterin Yasti yah. Tadi mamanya telpon gak ada orang rumah yang bisa jemput dia dan minta gua anterin dia. Tapi karena gua duluan jadi gua minta tolong lu. Bisa kan?” meminta tolong pada Finn sebelum dia pergi.
“Ok, serahin saja sama gua, Ra.”
“Oke deh. Bye semuanya!” Ara pun pergi dengan terburu-buru. Ara merasa sangat bersalah karena telah berbohong pada teman-temannya. Tapi, jika tidak seperti itu dia tidak akan bisa pergi lebih dahulu. Dia tidak dapat menemukan alasan yang lebih baik daripada ini.
Ara sembari berjalan, sembari melihat ke kiri dan kanan. Dia merasa cemas dan takut, jika orang itu tiba-tiba muncul dan mencegatnya atau kemungkinan terburuknya, dia membawa paksa Ara pergi dan melakukan sesuatu yang jahat padanya seperti sebelumnya.
Entah kenapa Louise ingin mengikuti Ara. Dia bertindak spontan begitu saja, seperti bukan dirinya.