Episode 6

1630 Kata
“Nak..naksir?!! Gua?! Dia!? NGGAK BANGET YASTI!!!!” teriak Ara tanpa sadar pada Yasti. “Aauww..!! Kuping gua!!” respon Yasti jengkel dan heran karena Ara tiba-tiba berteriak kencang tepat disampingnya. “Ara!! Kenapa sih teriak-teriak? Selow aja kenapa. Kan gua cuma bercanda,” ucapnya sekali lagi dan Ara masih dengan wajah yang terlihat tidak suka dengan ucapan Yasti yang sebelumnya, tapi perlahan kembali seperti biasa lagi. “Oopss! Maaf, Yas,” kata Ara lembut sembari menyengir kuda. “Isshh dasar lu yah ..., oh hai, Lou!” saat Yasti masih bicara tiba-tiba dia pun nongol dan tepat berada dibelakangnya Ara. Ara tahu karena Yasti menyapanya langsung dan memberikan kode mata padanya. Lalu Ara langsung buru-buru membalik badan dan tidak sengaja jatuh, tapi dengan segera ditangkap oleh Louise. Ara merasa malu dan berteriak dalam hati. Sudah seperti drama pikir Ara. Jatuh lalu ditangkap. "So..sorry,” ucapnya tergagap dan cepat-cepat berdiri biar gak bikin tambah malu. “Makanya hati-hati, punya mata kan,” ketusnya pada Ara. Louise berpikir jika Ara hanya modus kepadanya. Maka dari itu dia tidak suka dan menganggap Ara sama dengan gadis-gadis lainnya yang sering merayunya dengan berbagai macam cara. “Maaf,” lirihnya pelan dengan wajah tertunduk. Karena Ara merasa itu salahnya, jadi dia tidak bisa membantah. Walau tidak seharusnya Louise sekasar itu padanya. Ara berpikir jika Louise bisa bicara dengan baik-baik tanpa harus berbicara kasar dan dingin seperti itu. Sepertinya Yasti juga kesal mendengarnya dan saat hendak bertindak, Ara memegang tangannya lalu menggelengkan kepala padanya. “ ..., " Louise menatap kearah Ara yang hanya diam dan tertunduk. Sepertinya terlalu kasar. Tapi, dia juga yang salah. Trik murahan seperti itu banyak banget yang melakukannya. Jadi nggak perlu baik-baik sama cewek seperti gitu. Batinnya tidak terlalu menghiraukannya. “Ka..Kalau begitu kita jalan kesana, disana kayaknya ada toko yang khusus menjual perlengkapan untuk berkemah,” menunjuk kearah depan mereka saat ini dan Ara menarik tangan yasti untuk jalan, lalu diikuti dengan Louise. “Kenapa sih, Ra, tadi lu nahan gua. Pengen gua tampol tahu nggak sih tuh cowok. Kasar banget ngomongnya tadi,” ucap Yasti kesal. “Sssttt, nanti dia dengar, Yas. Sudah nggak apa kok. Gua juga nggak mikirin kok. Lagian tadi salah gua juga kok, wajar kalau dia marah,” bisiknya pelan sekaligus menenangkan Yasti yang marah. “Kenapa bisik-bisik? Lalu mau jalan sampai mana? Tuh tokonya sudah kelewat,” Louise merasa jengkel jika harus berhadapan dengan wanita. Karena menurutnya, semua sama saja seperti, bisanya meminta maaf, tapi terus terjadi lagi dan lagi. Dia memang tidak suka dengan yang namanya wanita. Karena menurutnya, para wanita itu hanya merepotkan saja, maka dari itu dia selalu bersikap dingin, kasar dan ketus pada lawan jenisnya. “Oh maaf,” mereka kembali berputar dan memasuki toko tersebut. “Woah, Ra! Gua nggak ngerti sama sekali. Tapi bagus-bagus banget barangnya, hahaha,” semangat Yasti lalu langsung melihat-lihat. Untunglah Yasti sudah kembali normal dan melupakan hal tadi. “Yas, gua kesebelah sini dulu yah,” setelah mendapatkan jawaban dari Yasti, Ara pun mencari yang akan dia beli sembari mengirim pesan pada Finn kalau mereka sudah berada ditoko tersebut. “Finn, kami ditoko Axcrea yah.” Lalu dengan cepat Finn langsung membalas pesan Ara. "Ok, Cinta. Sebentar lagi kami menyusul kesana, Obet lagi membeli minuman boba. Kamu mau juga?" tanya Finn melalui sms. “Pfftt, tumben banget ini anak pakai 'aku kamu' segala. Kesambet apa coba,” gumamnya pelan membaca pesan dari Finn dan baru sadar kalau Louise ternyata ada disebelahnya, setelah membalas pesan dari Finn. “Nggak, lu kan tau gua nggak suka boba, Finn. Tapi makasi yah. Beliin buat Yasti dan Louise aja,” tepat sebelum Ara mengirim pesan terdengar suara Louise dari samping. “Nggak perlu, gua juga nggak suka boba,” katanya dingin. “Aahh! Bikin kaget aja. Lagian nggak sopan tahu lihat-lihat pesan orang,” protes Ara pada Louise. “Sorry, tadi nggak sengaja terlihat,” jawab Louise santai tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Haa, tolong hargai privasi orang lain,” balasnya enggan karena sudah terlalu malas meladeni Louise dan dia tidak ingin membuang energi lagi hanya untuk berdebat dengannya. “Ok, Baby,” balasan dari Finn. “Ini anak kenapa sih. Aneh banget bahasanya,” gumam Ara sambil menyimpan ponsel kedalam kantong celana dan kembali melihat-lihat. “Ini akan sangat diperlukan saat nanti disana,” kata Louise. Walau nada bicaranya masih sama dingin dan tak berperasaan. “.....? Ini kan untuk mendaki,” gumam Ara yang tentu saja masih dapat terdengar oleh Louise. “Kemah di Pegunungan kan. Otomatis kita akan mendaki sampai atas gunung. Kecuali mereka menyediakan transportasi sampai atas sana dan gua rasa nggak akan ada,” kalimat terpanjang yang diutarakan oleh Louise, hingga dirinya sendiri pun takjub. “Ok, kira-kira harus beli apa lagi? Tolong bantuannya ya,” ucapnya berusaha ramah, karena ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Louise. Jadi, Ara meminta sarannya lagi. Ok! Karena dia sudah berniat membantu mari lupakan dosanya itu. Batin Ara. Sementara, Louise juga memikirkan hal yang sama. Karena dia merasa bersalah telah berkata kasar dan dengan sengaja ikut membaca pesannya, jadi dia membantu Ara memilih apa saja yang diperlukan. Berkat Louise membantu Ara memilih, semuanya jadi cepat selesai tanpa ada kekurangan. Karena Ara juga tidak terlalu suka berlama-lama dalam dunia perbelanjaan, berbeda dengan Yasti. Terlihat tomboy tapi senang berbelanja. Sedangkan Ara terlihat feminim dan seperti gadis yang memiliki hobby shopping, tapi faktanya malah sebaliknya. Ara malah lebih suka jajan kulineran daripada yang seperti ini. “Makasih ya Louise sudah bantuin gua. Jadinya bisa cepat selesai. Tapi lu gak beli apa-apa?” mengatakannya dengan tulus. Mengesampingkan semua sikap dan tindakan menyebalkan darinya, Ara benar-benar merasa terbantu. Karena itu dia dengan tulus mengatakannya serta ingin mentraktir Louise karena telah membantunya, tetapi Louise menolak dengan tegas. “Nggak, gua sudah punya semuanya. Leng-kap!” jawabnya singkat dengan memberikan penekanan dikata terakhirnya. “Ish, biasa aja dong jawabnya,” ucap Ara dengan nada protes pada Louise. “Tapi, kenapa lu beli double untuk beberapa item?” tanyanya penasaran. Karena tidak ada orang yang beli lebih dari satu, terlebih untuk pemula yang belum tentu akan kembali lagi. “Oh, ini buat Yasti. Dia juga pasti belum milih. Makanya sekalian gua ambilin,” jawab Ara polos. Dia sudah hafal sekali tabiat sahabatnya itu. Karena itu dia mengambil lebih untuk Yasti. “ ... “ Hanya diam dan menatap Ara. “Pffttt, nanti lu pasti mengerti kok saat melihat Yasti sebentar lagi. Jadi, tolong kondisiin ekspresi mukanya ya,” ucap Ara sembari menahan tawa saat melihat ekspresi wajah kebingungan Louise yang baru pertama kali dia lihat, selain wajah datar dan dinginnya Louise. “Yas!” panggil Ara cukup kencang saat melihat Yasti. “...?! Ra! Ara, Ara, Ara!! Sini deh! Lihat tuh lucu-lucu semuanya yah, Ra! Gemas banget gua. Gua bingung mau milih yang mana jadi gua ambil aja deh semuanya, yang menurut gua lucu,” semangat Yasti sembari menunjukkan barang apa saja yang dia ambil, walau itu tidak ada hubungannya dengan perkemahan dan belum tentu juga terpakai. “ ... “ Louise hanya diam dan memperhatikan saja. Karena benar kata Ara, saat melihat Yasti, dia mengerti kenapa Ara mengambil lebih barang yang akan dia beli. “Pfffttt, sudah paham kan sekarang?” bisiknya pelan disamping telinganya Louise, walau tidak sampai dan cuma menengok keatas, kearah wajahnya, dikarenakan dia tinggi sekali. Menurut Ara ekspresi Louise juga sangat lucu. “Aah, iyah!” Louise terkejut saat menengok kearah samping dan menatap Ara. Karena jarak wajah diantara mereka itu cukup dekat. Malah Louise berpikir sikap Ara yang barusan terlihat cantik dan imut dimatanya. Ap..apa?! Tadi gua bilang apa? cantik dan imut? Gak waras lu, Lou!! Batinnya menolak sekaligus tidak mempercayai pemikirannya sendiri. “Ini gua sudah pilih beberapa barang buat lu, Yas. Lalu taruh semua tuh barang yang nggak berguna. Gila lu yah, Yas!! Kenapa nggak sekalian aja lu beli ini toko,” mengomeli Yasti atas sikapnya yang sembarangan mengambil tanpa tahu itu berguna atau tidak. “Heheheh, maaf, gua khilaf, heheh,” menyengir tanpa dosa. “Khilaf, khilaf. Alasan! Taruh semuanya tuh. Sayang duitnya tahu,” perintah Ara kesal dengan kelakuan sahabatnya itu. Walau seperti itu, bukan berarti Ara benaran marah. Dia hanya berpura-pura dan sedikit tegas kalau sahabatnya melenceng seperti ini. Semua barang diambil dan mau dibeli hanya karena alasan imut atau lucu. “Issshh! ini ucu-ucu, Ara,” nada suara yang terdengar seperti anak kecil dan wajahnya berekspresi cemberut dengan bibir yang sengaja dicondongkan kedepan. “Terserah ah! Gua mau bayar duluan, capek!” Ara langsung berbalik dan meninggalkan Yasti. Apaan mukanya manyun-manyun, dikira mempan apa?! Iyah! Hampir aja mempan. Gumam batinnya. “Iihh, Ara! Kok gak mempan sih?! Biasa kan bisa. Tungguin gua, Ra,” panggil Yasti, yang tentu saja tidak dihiraukan oleh Ara. “Halo mba, saya mau bayar ya,” katanya ramah pada pegawai kasir toko tersebut. “Baik, tolong tunggu sebentar ya,” balas pegawai kasir di toko itu dengan ramah. “Ara! Tega banget sih lu, Ra. Gue kan belum selesai milihnya,” gerutu Yasti setelah menghampiri Ara. “Lagian lama banget sih. Sudah lama, yang dipilih juga nggak tahu apaan,” membalas perkataan Yasti. “Yah, terus gimana dong,” ucap Yasti tidak tahu harus apa dan bagaimana. “Entar lu bareng Si Kembar sama Finn aja. Ini sebagian sudah gua ambilin punya lu, sisanya minta bantuan mereka ya. Gua capek,” memberikan beberapa barang ke Yasti yang memang tadi Ara pilihin buat dia. “Uughh, maaci, Ara!! Cayang banget deh sama lu,” sambil memeluk Ara dan bersikap manja. “Iish, geli gua dengarnya. Jauh-jauh sono gih. Tuh, anak-anak sudah sampai,” menolak kelakuan Yasti dan mendorongnya menjauh. Kebetulan Finn dan Si Kembar pun tiba, jadi Ara bisa dengan tenang meninggalkan Yasti pada mereka. Karena ada yang jagain Yasti, terutama Obert. Dia pasti akan menemani Yasti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN