Waktu tepat menunjukkan jam satu dan Finn tiba didepan rumah Ara. Kai, papanya Ara, kebetulan masih berada dirumah dan keduanya pun berpamitan padanya. Setelah berpamitan, mereka berdua segera berangkat.
Kai dan Finn cukup dekat. Karena Kai sudah mengenal Finn, sejak dia masih kecil dan menganggapnya sebagai anak. Karena orang tua Finn terkadang jarang berada dirumah, jadi Finn suka datang ke rumah sekedar makan atau main, begitu juga dengan Ara.
Kalau Kai sedang tidak ada dirumah, Kai suka menitipkan Ara dirumah Finn. Tapi itu dulu saat mereka masih kecil. Sekarang sudah tidak lagi, karena Kai berpikir, kalau Ara, putrinya itu sudah bukan anak kecil lagi , jadi kurang pantas jika menginap di rumah orang lain, walaupun kedua keluarga sudah saling mengenal dekat.
Walau sebenarnya orang tua Finn tidak mempermasalahkannya, terlebih mamanya Finn, wanita itu begitu menyukai Ara. Finn anak tunggal, sama seperti Ara. Jadi, karena itu, mamanya Finn juga menyayangi Ara seperti anaknya sendiri. Karena dia ingin sekali memiliki anak perempuan, tetapi tidak bisa mendapatkannya.
“Yasti mengirim pesan, katanya mereka semua sudah sampai dan nunggu kita ditempat makan,” jelasnya pada Finn, karena dia sempat bertanya tadi.
“Ayookk, Ra!” ajak Finn semangat pada Ara yang sedang melamun entah memikirkan apa. Lalu menggandeng tangannya.
“Oh, ok,” sebenarnya Ara tidak terlalu nyaman soal Finn yang menggandeng tangannya. Soalnya mereka sudah bukan anak kecil. Kalau dulu memang sering jalan sambil menggenggam tangan satu sama lain, tapi semenjak keduanya sudah masuk SMP, kebiasaan ini sudah mulai membuat Ara sedikit risih. Walaupun Ara cuma menganggap dia sebagai saudara laki-laki dan Ara berpikir, jika Finn memiliki pikiran yang sama dengannya. Tapi, beberapa teman-teman mereka di SMP mengira, kalau keduanya berpacaran. Ara pernah menjelaskan kalau itu tidak benar, tapi Finn malah mendiamkannya dan tidak ikut membantu menjelaskannya. sehingga membuat mereka semakin salah paham.
“Araa, Finn, disini!” panggil Obby setelah melihat kedatangan keduanya dengan suara yang cukup kencang.
“Ooh, itu mereka,” kata Ara pada Finn. Lalu Finn meresponnya dengan sebuah anggukan kepala.
“Cieee, tangannya dilepas kali broosiss, Hahaha," ledek Obert saat melihat keduanya bergandengan tangan.
“Lebay lu, Bet,” Ara langsung melepaskan tangannya dari Finn dan duduk disamping Yasti. Lalu Finn duduk disamping Ara dan dihadapan mereka ada Obert, Obby dan Louise.
“Mau makan?” tanya Obby pada kedua sahabatnya yang baru tiba.
“Tidak, tadi gua sudah makan dirumah. tapi, tidak tahu kalau Finn,” jelasnya pada pertanyaan Obby.
“Kalian sudah lama?” Ara bertanya pada mereka.
“Nggak kok, Ra. Gua baru sekitar lima atau sepuluh menit yang lalu sampai. Terus pas banget barengan sama mereka bertiga dan ada babi yang kelaparan. Katanya dia mau makan dulu,” jelas Yasti panjang lebar sambil menatap tajam kearah Obert saat kalimat terakhir.
“Ba..babi??! Pedas banget itu mulut, Yas,” celetuk Obert yang tidak terima dengan perkataan Yasti.
“Pffft, sudah-sudah. Nanti jodoh loh, hahaha,” timpal Ara pada Obert dan Yasti, sehingga membuat keduanya berbarengan menolak perkataan Ara.
“Iihh, amit-amit!” ucap keduanya dengan cepat dan nada suara yang tinggi.
“Tuh kan! Hahaha,” tawa Ara dan disusul yang lainnya.
Semua tertawa melihatnya, kecuali dia, satu orang yang hanya berekspresi datar.
Ara terus memperhatikan Louise yang berwajah datar tanpa ekspresi, dia tidak tahu karena apa, tapi dirinya terus tertarik sama Louise.
Karena sadar ada yang menatap dirinya, Louise langsung melirik kearah Ara dan membuat Ara gugup, hingga membuang pandangannya kearah lain.
Hingga Ara pun bingung. Kenapa dia harus sampai membuang muka dan merasa gugup, hanya karena ditatap oleh Louise.
“Kalian masih lama?” ucap Ara yang entah kenapa dia masih merasa canggung dan gugup.
“Makanannya belum datang. Finn juga katanya mau makan kan,” balas Obby
“Iyah, Ra. Gua belum makan. Jadi mau makan dulu deh sekalian bareng mereka.” timpal Finn.
“Oh yah sudah, kalau begitu gua sama Yasti duluan nggak apa, 'kan? Nanti kalian nyusul saja kalau sudah selesai,” berusaha meninggalkan tempat ini agar tidak perlu merasa canggung.
“Oh yah sudah, kalian tahu harus kemana dan apa saja yang dibeli?” balas Obby ke Ara.
“Tadi gua udah coba search diinternet. Jadi paling beli dulu pakaian atau perlengkapan kecil yang dibutuhkan, sisanya nunggu kalian,” jawabnya santai.
“Oh, ok deh kalau begitu. Hati-hati yah kalian. Nanti kami segera menyusul.” kata Finn pada Ara dan Yasti yang bersiap pergi dari sana.
“Ok, kalau gitu kita berdua duluan yah,” ucap Ara. Setelah pergi dari sana, dalam sekejap Ara merasa sangat lega. Karena tidak perlu merasa malu atau gugup, karena ketahuan menatap Louise.
••••
“Finn, kapan lu bakal nembak dia?” tanya Obert penasaran tentang kisah asmara Finn yang terlihat bertepuk sebelah tangan.
“Nggak tahu, Bet. Gua ragu, soalnya gua takut dia nggak punya perasaan yang sama seperti gua dan malah menghancurkan persahabatan kami," ucap Finn tidak bersemangat saat membahas hal ini.
“Yah susah sih. Tadi gua tanya Yasti juga dia jawabnya tidak jelas. Lu dengar kan, By,” ucap Obert. Karena mereka penasaran sekali, maka dari itu, mereka langsung bertanya pada Yasti. Yasti sangat dekat dengan Ara, Jadi, sudah pasti Yasti tahu bagaimana perasaan Ara pada Finn.
Ternyata keberuntungan tidak memihak, jawaban Yasti tidak jelas untuk mereka. Karena Yasti bilang, jika Ara tidak memiliki perasaan yang seperti itu, tapi dia memiliki perasaan lain yang dirasakannya pada Finn. Entah Yasti yang memang sengaja membuat mereka pusing atau memang mereka yang tidak paham dengan maksud Yasti.
“Iyah, tapi dari yang gua tangkap tadi, sepertinya dia cuma menganggap lu sebagai sahabat. Tapi yah tidak ada yang tahu. Lu coba saja. Buktinya dia digandeng atau digenggam tangannya sama lu mau dan tidak menolak. Kemungkinan dia punya rasa juga sama lu,” ucap Obby menimpali perkataan Obert dan Finn.
“Nah itu dia. Apa gua coba saja? Tapi, gimana kalau dia menolak? Lalu, apa yang terjadi dengan persahabatan kami? Pasti canggung dan berantakan, gua tidak mau kalau kami putus hubungan karena hal ini,”
Louise melihat mereka dan merasa aneh. Mereka berpendapat, kalau mereka sudah saling lama dan sangat dekat, tetapi bagaimana bisa mereka tidak tahu, jika gadis itu merasa tidak nyaman dengan perlakuan Finn. Terlebih saat Finn menggenggam tangannya.
Padahal dilihat sekilas saja sudah dapat ditebak wajahnya yang tidak nyaman. Dan, Louise juga baru mengetahui tentang perasaan Finn pada Ara. Louise berpikir, jika Finn tidak akan memiliki kesempatan untuk mengarah kesana dengan Ara.
Karena selain Ara tidak menyukai Finn. Hubungan dirinya dan Ara, jauh melebihi bayangan Finn dan tidak akan mungkin bisa dilalui oleh Finn.
Karena bosan, Louise bilang pada mereka, kalau dirinya akan menyusul kedua gadis itu.
“Hmm, gua nyusul mereka saja deh. Gua juga nggak makan,” kata Louise sembari berdiri.
“Lu yakin? Mereka sudah pergi cukup lama loh, Lou," kata Obby pada Louise yang bersiap untuk pergi.
“Gua minta nomor mereka saja kalau begitu, biar bisa tanya posisi mereka sekarang dimana,” basa basi Louise sengaja agar bisa mendapatkan nomor ponselnya Ara dan beruntungnya tanpa perlu dia menyebut nama Ara, Obert dengan mudahnya memberikan apa yang dia inginkan.
Sebenarnya Louise penasaran sama Ara, hanya Ara seorang. Makanya, dia sampai rela mengikuti jalan-jalan yang menurutnya tidak berfaedah sedikit pun.
Karena ini pertama kalinya Louise merasa penasaran dengan seseorang, terlebih lagi dengan seorang gadis.
“Nih, nomornya Ara. Lu hubungin Ara saja. Kalau Yasti tidak usah diharap. Susah sekali dia balesnya. Apalagi sekarang, lagi shopping malah semakin menjadi-jadi. Padahal anaknya tomboi, tapi kenapa suka sekali dengan shopping,” kata Obert menjelaskan semuanya pada Louise.
“Ok, thanks, Bet,” timpal Louise singkat.
Lalu tanpa basa basi lagi, Louise pun langsung pergi meninggalkan mereka. Sambil berjalan, dia sambil mengirim pesan pada Ara.
"Kalian dimana?!"
Isi pesan dari Louise yang sangat singkat, sesuai dengan kepribadiannya yang tidak banyak bicara.
"Huh?! Siapa ini?!" gumam Ara kebingunan pada identitas pengirim pesan tersebut. Karena mengirim pesan singkat tanpa basa basi atau setidaknya mengatakan namanya, momornya juga tidak dikenal dan Ara pun mengatakan hal tersebut pada Yasti, tapi hanya ditanggapi biasa saja. Karena dia sedang asik sendiri memilih-milih belanjaannya.
“Dicuekin saja. Paling spam, Ra. Biasa kan lu sering dapet kayak gitu. Mening lu ganti nomor deh kalau gua bilang,” ucapnya santai tanpa menoleh kearah Ara dan sibuk memilih beberapa barang yang tidak ada hubungan dengan berkemah.
“Maunya gitu, tapi nomor ini kan sudah lama sekali, Yas. Sayang saja kalau harus diganti,” balas Ara.
Louise heran dan kesal karena Ara tidak membalas pesannya dan hanya dibaca saja. Lalu, Louise melihat, ternyata dia tidak memberitahukan namanya dipesan itu.
“Ini gua, Louise. Kalian dimana? Biar gua bisa mendatangi kalian,” Lalu dikirimnya sekali lagi pesan singkat tersebut.
“Ooh, ini dari Louise, Yas,” ucap Ara memberitahu Yasti juga.
“Kami ada didepan supermarket. Datang saja kesini, kami tunggu disini,” balas Ara singkat juga padanya.
“Kita tunggu disini saja, Yas. Biar dia tidak susah nyarinya. Lagian itu orang yah ngirim pesan keterlaluan sekali tahu nggak! Apaan pesan seperti itu, mengesalkan sekali!" celoteh Ara dihadapan Yasti, hingga membuat sahabat gadis itu terkejut dengan perilaku Ara yang tidak seperti biasanya.
“Woaah, wooaah! Ara stop! Sabar neng, sabar. Kenapa sih lu sensi banget sama dia? Lu naksir?” sindir Yasti sekaligus heran dengan tingkah sahabatnya itu.
Karena Ara bukan tipe orang yang akan banyak bicara seperti ini. Biasanya gadis itu hanya akan diam, walaupun tidak suka. Ini pertama kalinya Yasti melihat reaksi Ara yang seperti ini.