Episode 4

1021 Kata
“Araa...!” panggil Finn dengan nada suara yang besar, sembari berjalan menghampiri Ara dan Yasti. disusul oleh Obby, Obert dan juga Louise. “Masih belum dijemput, Ra?” tanya Finn sengaja tidak memberi Reas kesempatan. “Hai semuanya. Belum nih, Finn. Kalian gimana?” balas Ara lega. Kehadiran Finn dan yang lain menyelamatkannya. “Gua bawa kendaraan. Lu mau ikut gua saja, Ra?" tanya Finn santai seolah-olah Reas tidak ada disana. “Bagus, bagus yah! Yang dipanggil cuma Ara, terus yang ditanya dan ditawarin juga Ara saja. Pikiran lu tuh yah, sepertinya isinya cuma Ara, Ara dan Ara saja yah, Finn!” celoteh Yasti kesal karena ulah Finn. Tapi disatu sisi bersyukur mereka datang dan menghentikan Ara yang akan memberikan nomornya pada Reas. “Iiihh, sensi lu. Kenapa sih, Ra, si nenek lampir satu ini?" kata Finn. “Kambing lu! Siapa yang lu bilang nenek lampir?!” kesal Yasti dan bersiap untuk memukul Finn. “Pfftttt,” tanpa disengaja Ara yang melihat interaksi kedua sahabatnya itu tertawa geli. Padahal disana masih ada Reas. “Hmm, kalau begitu saya pamit dulu yah. Yang tadi lain kali saja," Ucap Reas dan segera meninggalkan tempat itu setelah Ara membalas perkataannya. “Oh, iyah Kak. Maaf dan terima kasih ya, Kak.” Lalu yang lain pun ikut menyapa dan Reas pun menghilang dari pandangan mereka. “Ngapain tuh orang?” tanya Obert penasaran. “Biasa bet, minta nomor. Mau apalagi memangnya,” Jawab Yasti sedikit ketus dan tidak suka dengan Reas dan gerombolannya. Walau tentu saja, Reas itu orangnya baik. “Minta nomor lu, Yas? Sepertinya sih tidak mungkin atau memang selera Ketua Osis jelek?” ucap obert lagi sambil menaikkan kedua bahunya. “Buaakakakaka!” tawa kencang mereka, kecuali Louise. “Kambing lu pada yah. Memangnya gue kenapa, hah?! Dasar!” sambil memukul kepalanya Obert. “Dia minta nomor Ara, 'kan? Gua tadi lihat dari jauh. Makanya gua sengaja teriak panggil Ara,” ucap Finn dengan tatapan waspada, yang tentu saja tidak diketahui oleh Ara. Karena Ara hanya berpikir yang diucapkan oleh Finn, hanya ucapan biasa layaknya seorang teman atau sahabat. “Aduhh, cieee..cieee,” ledek Yasti setelag Finn menyelesaikan perkataannya. “Apaan sih, Yas. Biasa saja,” ujar Finn sedikit salah tingkah. “Iyah, Finn. Untung lu dan yang lain datang. Gua tadi sempat kebingungan buat nolaknya dan tadi malah kepikiran untuk memberikan nomor gua, karena tidak bisa menolaknya,” balasnya kepada finn dan yang lain, dengan raut wajah lega. “Bilang aja lu sudah punya pacar, Ra. Jadi dia tidak bisa mendekati lu lagi,” ucap Obby yang baru terdengar suaranya sampai saat ini. “Nah betul tuh kata Obby. Alasan itu paling oke, pasti ampuh,” timpal Obert menyetujui perkataan saudara kembarnya. “Tapi nanti kalau ketahuan Ara belum punya pacar, malah makin repot Obet dodol. Alasannya bagusan dikitlah,” celetuk Yasti sekaligus memarahi Obert. Padahal saran tersebut dari Obby, tapi selalu dia yang kena imbasnya dari Yasti. “Sewot banget sih lu, Yas. Lagian kenapa gua yang diomelin coba. Kan, sarannya dari Obby,” protes Obert tidak terima dirinya disalahkan, tapi tidak dihiraukan Yasti. “Tolak saja! Kenapa harus ribet!?” timpal Louise tiba-tiba. Louise menyadari sepasang mata, sedang menatapnya tajam dan membiarkannya saja dengan berpura-pura tidak tahu. “Ara itu orangnya segan, Lou. Dia memang tidak menolak diajak bicara orang lain, tapi bukan berarti dia bisa menolak permintaan orang,” ucap Finn menjelaskan segaris kecil kepribadian Ara dan disaat yang bersamaan, Yasti pun bersuara untuk berpamitan. Karena jemputannya baru saja tiba. “Jemputan gua sudah datang. Gua duluan yah, Ra. Nanti jam dua jangan lupa yah, Ra. Bye semuanya!!” Seru Yasti sambil meninggalkan tempat itu. “Ok, hati-hati, Yas!” balas Ara pada Yasti yang sudah lebih dulu dijemput oleh supirnya. “Jam dua? Kalian mau kemana?” tanya Finn penasaran. “Oh itu, kami mau pergi membeli keperluan untuk lusa. Kalian juga mau ikut?" tanyanya pada mereka, lebih ramai lebih baik. “Oh, yah sudah. Gua ikut, nanti lu perginya bareng gua yah, Ra. Nanti gua jemput,” ucap Finn. “Ok, kita berdua juga ikut deh. Sekalian juga kan. Lou gimana? Mau ikutan juga?” kata Obby dan sekalian mengajak Louise yang baru bergabung bersama mereka. “Ok, nanti kirim pesan saja dimana tempatnya," balas Louise tanpa eskpresi. “Ok, siap!” jawab Ara mengiyakan. Pada akhirnya semua ikut, termasuk Louise. Walau dia tidak nyaman, tapi masih bisa ditahan. Karena Louise juga orangnya pendiam dan tidak banyak bicara. Jadi seharusnya tidak masalah untuk Ara. Lalu, sampai jemputan Ara datang, mereka berempat menemani Ara digerbang sekolah. Wajar jika itu Finn, Obby dan Obert. Tapi, kenapa Louise juga ikutan menunggu disana. Itu yang membuat Ara merasa bingung, tetapi hanya bisa diam dan berpikir dalam hati saja. “Oh. Itu sudah sampai. Makasih yah kalian sudah nemenin,” ucap Ara tulus pada mereka. “Papa!” Panggil Ara. Kai, papanya Ara, melambai sembari berjalan mendatanginya. “Halo Om," sapa mereka semua pada Kai. “Papa, tumben lama,” ucap Ara lembut dan senang. Bagaikan seorang anak kecil yang sedang diberikan hadiah kejutan. “Maaf yah sayang, tadi papa meetingnya lebih lama, makanya telat.” balas Kai hangat pada putri kesayangannya. “Halo boys, bagaimana hari pertama sekolah?” sapanya ramah setelah menjawab pertanyaan putrinya. “Aman, Om. Ara juga aman kalau yang Om maksud itu, hehehe," jawab Obert dengan kekehan konyolnya. “Haha, bisa saja, Obert. Kalian pulangnya gimana? Mau sekalian Om antar?” tanyanya pada mereka. “Tidak usah, Om. Kami bawa kendaraan sendiri,” ucap Obby sembari menunjukkan kunci mobil ditangannya. “Oh, ok kalau begitu. Makasih yah sudah nemenin Ara sampai Om datang. Kalau begitu, Om sama Ara duluan yah,” suaranya Kai begitu enak didengar. Mungkin karena pembawaan Kai yang ramah, sopan dan dewasa. “Iyah, Om. Hati-hati ya,” serentak mereka, kecuali satu orang yang hanya mengangguk pelan. “Dah semuanya,” ucap Ara dengan senyum lebar. Selama dimobil Ara meminta ijin pada Kai, untuk pergi membeli keperluan berkemah nanti, lalu Kai mengijinkannya. Karena mendengar cerita sang putri, kalau dia akan pergi bersama Finn dan ketemu Yasti beserta yang lainnya nanti disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN