BAB 78: Pemujaan di Balik Kabut Cendana Jangan pikirkan hari ini tanggal berapa. Jangan pikirkan suhu basalmu. Hanya rasakan bahwa aku di sini, mencintaimu," gumam Ghara. Fathimah perlahan melemaskan bahunya. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti sedang menjalani "ujian". Ia mulai menikmati bagaimana jemari Ghara yang biasanya memegang stetoskop itu kini menelusuri kulitnya dengan pemujaan yang tulus. Dalam kegelapan, identitas mereka melebur. Tidak ada Gus, tidak ada Istri Kiai, hanya dua manusia yang sedang menyembuhkan satu sama lain. Kamar itu kini bukan lagi sekadar ruang istirahat; ia telah menjelma menjadi kuil perlindungan di mana waktu seolah berhenti berdetak. Cahaya lilin ylang-ylang yang berpijar keemasan memantulkan bayangan yang menari-nari di dinding, menciptakan

