BAB 79: Rahim yang Tenang di Bawah Langit Keikhlasan Mereka terus berjuang, bukan lagi berjuang melawan takdir, melainkan berjuang untuk tetap bahagia apa pun takdirnya. Minggu-minggu berikutnya berlalu seperti aliran air yang tenang di sungai pegunungan—tanpa riak kegelisahan, tanpa interupsi jadwal medis yang kaku. Kamar mereka bukan lagi sebuah laboratorium tempat mengukur suhu basal atau menghitung masa subur; ia telah sepenuhnya kembali menjadi sebuah suaka. Di sana, aroma lilin aromaterapi tidak lagi berfungsi sebagai stimulan biologis untuk mengejar ovulasi, melainkan sebagai pengantar tidur yang paling tulus bagi dua jiwa yang telah letih berperang dengan ekspektasi dunia. Ghara benar-benar menjadi pria yang berbeda. Ia berhenti menatap jam setiap kali mereka bersentuhan. Ia me

