Aku tidak tahu dari mana Tuhan memberikan kekuatan yang membuatku bisa meluapkan semua isi hati yang selama ini membebaniku. Begitu lancarnya aku berbicara tanpa ada satu tetes pun air mata yang menyertai setiap ucapanku. Sayang sekali kalau aku terus menangis karena laki-laki yang sama yang sudah membuatku kecewa. Biarkan saja semua unek-unek yang selama ini mengganjal aku tumpahkan semua di depan Dean. Tentu saja semua aku lakukan tanpa menatap sorot matanya. Aku mencintainya … tidak bisa dibohongi rasa cinta itu masih ada meskipun kini kekecewaan yang mendominasi, tapi aku tidak bisa berbohong kalau rasa ini masih untuknya. Bukan kah kata orang tidak mudah untuk melupakan cinta pertama. Seperti itu lah yang aku alami … benci, kecewa dan rasa lainnya tidak bisa menghapus kenyataan kal

