Duaarrrr. Bagai petir di siang bolong aku hanya bisa melongo mendengar keputusan Cathy. ingin mengelak, tapi aku tak kuasa menatap sorot matanya yang penuh luka. Aku merasa bagai makan buah simalakama, menolak … tak kuasa aku memaksanya, menerima pun aku tak mampu ditinggalkan olehnya. Namun, semua yang dikatakan Cathy tidak pernah aku sangkal. Semuanya benar, tidak terbantahkan dan kini aku harus menerima buah dari kesalahan yang aku perbuat. Sakit, tapi melihat pancaran luka yang tercetak jelas di wajah Cathy … aku tahu kalau sakit yang aku rasakan tidak ada seujung kuku pun dibandingkan dengan sakit hati yang dirasakan Cathy. Aku tertunduk, tak tahu mau dibawa kemana diri yang berlumur dosa ini. Aku diusir dari rumah Papi … aku pun tidak diterima Cathy. Begini lah seharusnya nasib s

