“Bukan Pelakor, tapi Viny itu seolah menganggap kamu ….” “Cukup Pak, bisa kita tidak usah membahas itu,” potong naya. Wijaya mengangguk ragu dan sejak saat itu dia tidak lagi bertanya tentang Dean maupun tatapan kebencian yang tercetak jelas di wajah Viny. Buat Wijaya sang petualang cinta, sudah mendapatkan Naya dengan begitu mudah tanpa harus mengeluarkan janji manis dan rayuan sudah merupakan sesuatu yang membanggakan untuknya. Setidaknya dia bisa memecahkan rekor tercepat untuk mendapatkan wanita. Tanpa Wijaya tahu wanita seperti apa wanita yang duduk di hadapannya. Mereka melanjutkan makan dengan sesekali membahas tentang kegiatan Naya selama di Jogja juga aktivitas Naya saat tinggal di Aceh. Setelah makanan di depan mereka ludes tanpa sisa, barulah Wijaya menggandeng Naya menuju ka

