Satu jam berlalu, semuanya masih sama seperti kala aku datang. Tak ada suara-suara ceria dari orang-orang yang aku cinta. Aku memilih tetap duduk di tempat yang sama untuk menanti kedatangan mereka. Entah Mami akan pulang hanya berdua dengan papi … atau mereka kembali dengan keluarga kecil yang kini teramat aku rindukan. Sungguh, belum pernah aku merasa sehancur ini. Biasanya, aku selalu membanggakan diri yang terlahir sebagai anak tunggal dari Papi dan Mami yang memiliki harta berlimpah dan tak akan habis hingga tujuh turunan. Namun, sore ini tak ada lagi yang bisa aku banggakan. Aku merasa hidup sendiri, aku merasa terbuang setelah sebuah khilaf yang datang tanpa bisa aku elakan. Penyesalan dan harapan membuat aku tak lagi berpikir panjang memilah tetap melanjutkan mimpiku atau pulan

