Menyingkirkan Laura

1137 Kata
Lanjutannya.... Jared masih tidak percaya dengan ucapan Laura. Rasanya tidak mungkin, ucapan Laura menusuk otaknya hingga Jared tidak mampu berpikir jernih. Kepalanya begitu sakit. Tubuhnya berkeringat, gelisah. Jantungnya berdegup kencang melanda hatinya. Ia terus teringang-ingang ucapan wanita itu. Bagaimana bisa Laura hamil? Menyentuh wanita itu saja tidak pernah. Selama ini hubungan mereka hanya lah boss dan sekretaris saja, tidak lebih. Mana mungkin dirinya berani menyentuh wanita lain selain Celline, sang kekasih. Jared dan Celline sudah bertunangan dan hubungan mereka sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan. Jared yakin semua hanya akal-akalan Laura! Wanita itu pasti punya rencana licik dan sengaja menjebaknya. Jared menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kedua tangan yang melipat sambil menopang kepalanya. Ia mendesah resah. Pikirannya kacau dan tak karuan. Hatinya berkecamuk, murka, panik, gelisah dan takut jika semua itu adalah benar. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jared mengingat jelas sudut mata Laura ada kebenaran disana. Jared berusaha mengenyahkan kenyataan tersebut bahwa semua tidak benar. Namun, lagi-lagi hatinya ragu seakan menjawab kebenaran tersebut. Sulit sekali mengenyahkan wajah wanita itu dari pikirannya. Jared mengacak-acak rambutnya, frustasi! Bagaimana jika benar Laura hamil dengannya? "AH, SIAAALL!! TIDAK MUNGKIN WANITA ITU HAMIL DENGANKU!!" Jared berteriak dengan emosi yang berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jared tidak ingin rencana pernikahannya dengan Celline gagal karena wanita itu. Ia tidak ingin hubungan yang selama ini ia jalin bersama Celline kandas begitu saja. Pernikahan mereka adalah penantian terbesar dihidup Jared. Ia mencintai Celline, tidak ada wanita lain selain Celline yang dicintainya. Jared berpikir, mencoba menjernihkan otaknya. Ia menarik napas dalam-dalam sambil memijit pelipis kepalanya. Benar atau tidak Laura hamil dengannya. Ia harus mencari cara menyingkirkan Laura dari hidupnya. Jared tidak ingin wanita itu menjadi benalu bagi hidupnya. Jared mengambil ponsel di saku celana. Ia langsung menelepon orang suruhannya untuk membereskan masalah ini. "Saya tidak peduli bagaimanapun caranya, kalian harus membereskan wanita itu. Seret dia untuk mengaborsi janinnya!" titah Jared geram, cepat. Volume suaranya tinggi. Tak peduli dengan kondisi Laura. Wanita itu hanya sumber masalah dan benalu. Jared memasukkan kembali ponselnya di saku celana. Jared bangkit dari sofa. Resah dan gelisah, ia akan langsung turun tangan, membawa Laura ke tempat aborsi. Apapun caranya janin tersebut harus dimusnahkan. Jared tidak ingin masuk keperangkap wanita sialan itu. Dengan cara itu, Laura tidak bisa berkelit dan tidak ada bukti untuk menuntutnya. "Kita lihat saja Laura! Siapa yang akan menang! Aku tidak akan masuk ke jebakan bodohmu itu." Jared terkekeh sinis, menantang permainan Laura. Jared melangkahkan kaki ke arah pintu. Ia mencengkeram keras gagang pintu. Jared membanting pintu, begitu murka. Dengan cekat ia meninggalkan apartemen dan pergi menangani masalahnya. **** Laura mengeluarkan koper dan mengepaki seluruh pakaiannya. Keputusannya sudah bulat untuk menjauh dan pergi sejauh-jauhnya dari Jared. Isak tangisannya tidak juga berhenti. Air mata terus mengalir di pipinya hingga membuat matanya bengkak dan wajahnya bengap. Dadanya sangat sakit bak dihantam tombak api. Laura tidak ingin berurusan dengan lelaki keji itu lagi. Laura memang tidak menginginkan bayinya, tetapi ia juga tak sudi anaknya memiliki ayah saiko seperti Jared. Rencana hidupnya sudah hancur. Sekian lama menata hidupnya, pupus seketika. Memang lelaki itu siapa berani menginjak-injak harga dirinya? Apakah karena sudah bisa menghamili dirinya, lantas berkuasa dengan hidupnya juga? Jared lelaki keji, angkuh dan biadab. Ia tidak pantas menjadi ayah dari bayinya. Ya! Apapun yang terjadi Laura harus bertahan dengan hidupnya. Ia tidak boleh menyerah hanya karena ancaman bodoh lelaki keji itu. Laura menutup koper, mengunci kopernya. Ia menarik gagang koper dan beranjak bangun. Ia menyapu pandangannya ke seluruh apartemen, mengingat semua kenangan selama berada di New York. Apartemen kecil ini ialah saksi hidupnya berjuang hidup. Laura menyibakkan poninya, menarik napas dalam-dalam sambil menyeka matanya. Dengan kaki yang begiru berat untuk pergi, Laura menyeret kopernya berjalan ke arah pintu. Tangannya mencengkram erat gagang pintu seakan tidak ingin meninggalkan apartemen tercintanya itu. Laura menarik gagang pintu, menghela napas panjang dan mengunci pintunya. I melangkahkan kakinya menuju lift sambil menyeret satu koper besar. Langkah kaki Laura cekat meninggalkan apartemen. Laura tidak tahu sekarang harus ke mana? Ia mengambil keputusan cepat tetapi tidak tahu arah tujuannya saat ini. Laura membuang napasnya, menyandarkan punggungnya di jok mobil. "Maaf, Ibu mau diantar ke mana?" tanya supir taksi menolehkan kepala pada Laura. Laura terdiam, ia berpikir sejenak. Pergi tanpa tujuan dan tidak ada Ben yang mendampinginya membuat ia bingung. Laura gusar, mengusap keningnya. "Kita ke stasiun saja, Pak," jawab Laura. Supir taksi mengangguk paham. Taksi melaju ke tempat tujuan. Sambil menunggu perjalanan, Laura memejamkan matanya untuk istirahat sebentar. Ia sangat lelah dan frustasi. Perasaannya berkecamuk. Sedih, kecewa, benci, murka bercampur menjadi satu. Pikirannya kacau, kepalanya sakit. Kenapa hidupnya seketika berubah 180 derajat seperti ini? Lelah rasanya terus merutuki keadaannya kini. Apakah bisa dirinya menghadapi kehamilan seorang diri tanpa pendamping? Laura berandai-andai seperti wanita lain di luar sana. Betapa beruntungnya mereka menjadi ibu hamil dan mempunyai suami yang sangat mencintai mereka. Sedangkan Laura? Nyawanya masih bisa selamat saja ia sudah sangat bersyukur. Tidak beberapa lama kemudian, taksi berhenti di Grand Central Terminal. Supir taksi menatap Laura yang terlihat tidur, tidak tega memberitahunya. "Bu, kita sudah sampai," kata supir yang sungkan membangunkan si penumpang. Laura membuka matanya. Ia masih bisa mendengar jelas supir taksi berbicara. Karena Laura tidak benar-benar tidur. Ia mengambil selembaran uang dari dompetnya dan memberikan uang itu pada supir taksi. Laura membuka pintu taksi, ia segera mengambil koper dan travel bag-nya di bagasi, yang dibantu supir. "Makasih, Pak." "Sama-sama, Bu." Taksi berlalu pergi. Laura menyeret kopernya dan masuk ke dalam stasiun. Ia langsung cekat membeli tiket kereta. Tanpa pikir panjang Laura masuk ke dalam kereta yang ia tuju. Untung saja setelah membeli tiket, keretanya langsung datang sehingga ia tidak perlu menunggu lagi. Laura meletakkan travel bag-nya di keranjang khusus barang-barang bawaan. Ia berjinjit menaruh tasnya di tempat yang sudah disediakan. Lumayan cukup tinggi tempatnya, atau dirinya yang terlalu pendek. Laura mendesah lelah. Koper besarnya berada ia letakkan di sampingnya. Karena tidak mungkin di letakkan di keranjang tadi. Laura menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan matanya. Tujuan Laura kini ke Copperstown. Ia sengaja memilih tempat tersebut. Selain kota terpencil di New York dan juga pemandangannya masih sangat asri. Sehingga dapat menjauh dari Jared, dan kemungkinan lelaki b******k itu tidak tahu keberadaan Laura. Laura sudah memikirkan matang-matang setelah tiba di Copperstown. Ia akan menyewa rumah atau apartemen yang kecil, yang jelas sesuai dengan tabungan yang ia miliki. Laura harus berhemat, ia akan mencari pekerjaan atau berencana membuka toko roti kecil di sana. Itulah rencana yang sudah ia buat saat ini. Selama bekerja, tabungannya kira-kira cukup untuk hidupnya selama beberapa bulan di sana sampai mendapatkan pekerjaan baru. Semoga saja setelah ini tidak ada lagi yang mengganggu hidupnya. Laura benar-benar sudah lelah. "Lebih baik aku tidur saja sekarang. Lumayan sambil menunggu tujuan tiba," ucapnya, memejamkan mata berusaha tidur. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN