Diculik Orang Tak Dikenal

823 Kata
Lanjutannya... Jared berada di mobilnya. Ferrari Mustang tua berwarna merah, terparkir di depan Grand Central Terminal. Jared sengaja membawa mobilnya yang ini, berbeda dengan yang biasanya ia pakai, Tesla. Ia tidak ingin sampai ada yang mengetahui dirinya berada di stasiun. Jared sudah mendapatkan informasi dari orang suruhannya bahwa Laura berada di stasiun hendak melarikan diri. Bagaimana Jared bisa tahu Laura ingin kabur darinya? Tentu saja Jared tahu! Jared bisa melakukan apapun yang inginkan sekali menjentikkan jari saja. Bahkan tembok jalanan pun bisa berbicara padanya. Jared tidak akan membiarkan Laura lolos begitu saja sampai ia bisa mengaborsi kehamilan Laura. Siapa yang akan berani bermain dengan Jared? Ia akan melenyapkan orang itu, termasuk Laura. Meskipun wanita itu sedang mengandung anaknya. Peduli setan dengan bayi di dalam kandungannya. Jared tidak mencintai Laura. Jared masih tidak percaya telah menghamili Laura. Perasaan penuh tanda tanya masih terus menggerogoti otaknya hingga saat ini. Namun, Jared tidak ingin terlalu pusing. Sengaja atau tidak sengaja melakukan hubungan menjijikkan itu dengan wanita lain, Jared tidak peduli. Ia akan menggugurkan janin Laura. Janin itu yang akan menjadi benalu di hidupnya nanti, jika tidak segera ia singkirkan. Ia mencengkeram keras stir mobil hingga buku-buku jemari tangannya memutih tebal. Murka, gusar dan frustasi menjalar hatinya. Menunggu orang-orang suruhannya membawa Laura ke hadapannya. Tiga puluh menit Jared menunggu, tetapi belum juga muncul batang hidung mereka. "Sial! Kenapa mereka lama sekali bawa wanita itu," makinya, sambil memukul stir mobil dengan kencang. Dengan terpaksa, Jared enggan menunggu mereka dan wanita sialan itu. Jared menghela napas panjang menyandarkan punggungnya di jok mobil, menatap tajam pada kaca mobil di depan matanya. **** Dua puluh menit Laura tertidur di kereta. Lumayan ia dapat tertidur selama itu. Meskipun hanya dua puluh menit, namun kepalanya sedikit membaik. Laura belum menghubungi kakaknya, Ben. Bahwa ia pergi dari apartemen. Namun, lagi-lagi ia malas untuk merogoh ponselnya di dalam tas. Mungkin nanti malam jika Laura sudah menemukan tempat tinggal. Lagipula, Bentley pasti akan khawatir dan cerewet sepanjang telepon. Laura tidak ingin kakaknya khawatir, ia membiarkan Bentley bekerja dengan tenang di Nevada. Laura menarik napas dalam-dalam, menyandarkan tubuhnya di kursi. Suasana dalam kereta nampak sepi. Hanya ada sekitar tiga orang termasuk dirinya. Apa mungkin Laura tidur sepulas itu hingga tidak menyadari di dalam kereta sepi seperti ini? Laura tidak ingin pusing. Ia terlalu kalut memikirkan masalahnya hingga tidak menyadari di sekelilingnya. Suara wanita dari speaker yang tergantung di atap stasiun menggelegar. Operator stasiun memberitahu bahwa tujuannya sebentar lagi akan tiba. "Sebentar lagi sampai, aku harus siap-siap turun." Beberapa menit kemudian, akhirnya kereta yang ia naik tiba juga di Copperstown City. Laura dengan antusias, bangkit dari kursi. Mengambil travel bag-nya yang ada di atas keranjang, kursi. Ia meraih pelan-pelan travel bag-nya besar. Kemudian melangkahkan kaki turun dari kereta sambil membawa travel bag dan koper besar di tangannya. Cukup berat bawaan yang ia bawa. Tetapi Laura harus kuat demi hidup anaknya. Baru tas saja sudah mengeluh. Bagaimana dengan hidupnya nanti? Ya! Laura harus tegar dan kuat. Ia berjalan menyeret koper hendak ke arah ke luar stasiun. "Di sana ada taksi," ucapnya senang banyak melihat taksi berlalu-lalang dari dalam stasiun nampak jelas. Baru akan menghampiri taksi. Tiba-tiba ada laki-laki besar mendekatinya. Laura tercekat menatap lelaki tak dikenal itu dengan tatapan tidak senang. Perawakan laki-laki itu besar, tinggi dan wajahnya cukup menyeramkan, seperti preman atau orang jahat. "Apakah, ada butuh bantuan?" tanya laki-laki tak jelas itu menawarkan bantuan. Matanya tajam dengan pandangan aneh menatap Laura. Seakan memaksa Laura menerima bantuannya. Kening Laura berkerut. Curiga dan kesal. "Tidak! Terima kasih, saya bisa sendiri," tolaknya tegas. "Tapi bawaan anda sangat berat, Nona. Saya bantu bawakan sampai taksi. Anda ingin naik taksi kan?" Laura menghela napas panjang. Laki-laki besar itu memaksa dan menatap Laura tajam. Dari cara bicaranya saja mencurigakan. Laura menatap laki-laki besar itu dengan tatapan tajam dan menolak tegas untuk menyuruhnya pergi. "Tidak!" erangnya tegas. Malas menanggapi laki-laki tidak jelas itu, Laura berjalan lagi. Namun, langkah kakinya berhenti saat ia baru berjalan tiga langkah. Tiga laki-laki tinggi, besar tak di kenal menghampirinya. Mereka mencegat jalan Laura dengan tatapan tajam dan menyeramkan. Laura tercekat melihat mereka, jantungnya berdetak cepat, takut, gelisah dan cemas. Apa yang harus Laura lakukan? Dengan tangan gemetar, Laura memberanikan dirinya menghadapi mereka. "Siapa kalian?" tanyanya lantang dengan suara meninggi. Laura membusungkan d**a, nekat menghadapi mereka. Tangan gemetar, melawan. Ia menunjuk wajah ketiga orang itu dengan telunjuk jarinya, satu-persatu. Wajahnya memerah penuh amarah, menatap tajam mereka. "Jangan mendekat atau saya akan meneriaki kalian!" Kenapa tempat seramai ini ada orang jahat? Apa dari orang sebanyak ini di stasiun tidak ada yang menyadari nyawa Laura sedang dalam bahaya? "Anda harus ikut kami!" ucap salah satu dari mereka. Belum Laura sempat melawan. Salah satu dari mereka mendekat pada Laura dan seketika Laura pingsan. Mulut dan hidung Laura dibekap hingga pingsan. Ketiga orang itu langsung membawa Laura ke mobil mereka, sebelum ada yang melihat kejahatan tersebut. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN