tujuh

1605 Kata
Darius terdiam. Ibu dan saudaranya sedang membahas beberapa hal penting terkait bisnis mereka. Sementara para pria akan selamanya menjadi pria. Ayah dan saudara iparnya membahas klub bola serta beberapa peruntungan yang bisa saja menambah pundi uang di dompet mereka. Darius lantas bergerak pergi. Menyisiri rumah tanpa ekspresi. Sedangkan benaknya berkelana, mencari sesuatu untuk berlabuh selagi pikirannya hanya terpusat pada satu nama. Alicia. Yang berhasil mencuri satu sampai dua senyuman. Darius seperti orang bodoh pasca kencan mereka selesai. Dan menyadari itu pertemuan terakhir, dirinya hanya seperti sedang berharap pada angin. Sia-sia. Semua tidak akan berakhir baik. Alicia telah memperingatinya. "Aku tidak pernah melihatmu melamun karena memikirkan seseorang. Biasanya kau merenung karena tidak bisa memecahkan soal fisika." Hana menghampiri sepupunya dengan girang. Remaja itu punya pesona yang membuat orang-orang tertarik. "Iya, kan?" "Kau bersama siapa di bar malam?" Ekspresi Hana berubah. "Aku tidak bersama siapa pun." "Aku tidak memintamu berbohong, Hana." Darius menimpali dingin. "Kalau kau salah melangkah, yang hancur dirimu. Juga ibumu. Dia akan sangat sedih." "Aku—," Hana kesulitan bersuara. "Yah, berkenalan melalui sosial media. Dia lulusan universitas swasta di Osaka." "Kau mengenalnya hanya dari sosial media?" tanya Darius tak percaya. "Dan seberani ini?" "Sssh. Jangan keras-keras!" Hana mencubit lengan sepupunya. "Apa yang tidak mungkin? Kurasa dia orang baik." "Itu asumsimu." "Kau juga terkenal berkat asumsi," tegur Hana muram. "Orang-orang berpikir kau dingin, ketus, dokter yang tidak berperasaan. Kenyatannya tidak begitu." Darius menghela napas. "Aku tidak peduli terhadap asumsi. Aku menjalani hidupku sesuai kemauanku." "Aku tidak akan menemuinya lagi." Hana akhirnya mengalah. "Demi masa depan. Benar. Lagi pula, ibu atau ayah mungkin sudah mencarikan calon terbaik, bukan?" "Hana," panggil Darius pelan. "Kau masih bisa mencari cintamu sendiri." "Begitukah?" Hana meringis keras. "Yang terpenting kaya, terpelajar dan sepadan dengan keluarga kita." Darius enggan berkomentar. "Bagaimana denganmu?" tanya Hana ringan. "Kau tertarik dengan penerus dari keluarga kaya lama. Si bidadari dalam bayangan. Alicia yang terkenal karena beragam reputasi. Keluarganya super kaya dan sangat berkuasa. Bisnis keluarga kita bisa saja hancur sewaktu-waktu karenanya." Kepala Darius meneleng. "Aku tidak tahu. Sejujurnya aku tidak memikirkan apa pun." Hana tertawa hambar. "Itu kebenaran?" Darius memilih untuk diam. "Darius Foster yang malang. Kau minim sekali soal asmara, tapi belagak berpengalaman. Karena kau mencari yang sepadan, Alicia mungkin bisa menjadi lawan tangguh." Hana menjelaskan dengan ceria. "Aku mendukungmu. Karena aku menjadikannya panutan. Dia sangat keren." "Keren?" "Hem. Perwujudan perempuan mandiri dan bertangan dingin. Tidak ada bisnis gurita keluarganya yang terjun ke fashion. Tapi Alicia merubahnya. Dia membawa perubahan. Panutan, tentu saja." Darius menyadari kalau selama ini dirinya tertinggal banyak hal. Hana lebih mengenal dunia luar lebih baik daripada dirinya. Darius meringis kecil, mengutuk ketertinggalannya yang parah. "Rileks. Tidak apa-apa, bruh. Semua ada masanya." Hana memberi kedipan mata lucu sebelum berbalik, berlari mengejar ibunya yang tertawa karena tingkahnya. Meminta putrinya mendekat dan memberikan setusuk daging bakar kesukaan Hana. *** "Alicia." Gerakan tangan menekan tuts piano terhenti. Kala matanya melirik, melihat sosok tinggi dengan pakaian formal menghampiri. "Kau tidak kembali ke apartemen? Ibumu yang memaksamu untuk tetap di rumah? Cih, Emily benar-benar." "Ini kemauanku sendiri," kata Alicia datar. Menekan deretan tuts piano dengan santai. Dia telah belajar selama bertahun-tahun. Ibunya menginginkan dirinya punya keahlian untuk menghibur seseorang. "Bukan paksaan siapa pun." "Papa tidak yakin." Fabian menukas cemas. "Kau sudah makan? Papa bisa hubungi petugas antar makanan untuk membawakanmu sesuatu." "Aku tidak lapar." "Kenapa denganmu?" tanya sang ayah cemas. "Kau baru saja kembali dari luar negeri dan kita tidak punya kesempatan saling berbicara." "Papa terlalu sibuk, benar?" Alicia merespon dengan seulas senyum tipis. "Aku tidak berniat mengganggu sama sekali. Lanjutkan saja." "Sayangku, Papa bisa meluangkan waktu kapan pun yang kau mau. Alicia hanya perlu meminta." Rasanya permainan jemari tangannya tidak lagi menarik. Alicia mengambil napas panjang, membuangnya kasar. "Aku tidak butuh apa pun sekarang. Dan tidak berniat meminta juga. Jadi, teruskan saja pekerjaanmu. Jangan ganggu aku." Fabian terdiam. Mengamati sang anak yang lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja Alicia berubah. Bukan Alicia kecil yang mudah membuatnya tertawa. Banyak hal yang putrinya lewatkan sebagai seorang anak sekaligus penerus bisnis besar keluarga. "Aku harap ibumu tidak memaksamu merebut posisi takhta dari Alby." Alicia bungkam. Kedua tangannya mengepal di atas pangkuan. Sesaat Fabian berhasil merusak konsentrasinya. "Apa yang kau mau?" "Alicia." "Tinggalkan aku sendiri." "Aku belum selesai bicara," ujar Fabian dingin. "Seberapa besar kau membenciku, aku tetap ayahmu." "Kau hanya berpikir ibumu yang berjuang demi dirimu. Ibumu yang jatuh bangun membelamu dari siapa pun. Kau berpikir hanya dia malaikatmu." "Karena realitanya memang begitu," kata Alicia pahit. Mengakui dengan muram. Seorang Emily Grice bisa menghalau badai jika itu demi dirinya. Alicia tidak akan mampu berdiri tanpa ibunya. "Mama yang melakukannya untukku, bukan kau, bukan siapa pun. Aku tidak ingin mendengar pengakuan korban pura-pura di sini." "Aku tidak berpura-pura." Alicia berbalik, mengamati sang ayah dengan sorot sinis. "Toxic people always love playing a victim, right?" "Aku ingin menjelaskan banyak hal padamu. Tapi tidak sekarang." Fabian meneleng, memandang putrinya yang terlampau datar. "Kita akan membahas itu nanti." Alicia hanya mengangkat bahu. Memberikan gestur tangan seolah membiarkan sang ayah pergi secepatnya. Ia hanya tidak mau berlama-lama terjebak karena pria itu. Sementara dirinya larut dalam kesunyian dapur yang membingkai malam. Ibunya mungkin saja sudah terlelap di kamar, bermimpi indah tentang masa mudanya. Masa-masa yang membuat seorang Emily pernah hidup untuk dirinya sendiri. Alicia mendengarkan semua cerita itu dengan baik. Ibunya bersinar seperti bintang di malam hari sebelum meredup dan tergantikan bintang lain. Tetapi Emily kembali seperti matahari. Yang bersinar lebih terang mengalahkan si cantik yang berkilau di malam hari. Alicia tidak perlu menjadi bintang, ia hanya perlu menjadi matahari. Sama seperti ibunya. Berkuasa, memiliki segalanya, tidak tunduk atas apa pun dan mengendalikan situasi sama baiknya dengan mengendalikan kehidupan orang lain. Mengontrol banyak kemauan dengan jalan pikiran serta tangannya sendiri. Alicia hidup untuk itu. *** Alicia mengernyit dan meneleng. Dari jarak yang cukup, dia bisa mendengar tarikan napas Alby terlampau keras. Sampai-sampai membuat ruangan terasa panas. "Si bodoh ini benar-benar membuatku muak." Alby membanting sebuah berkas ke meja. Dengan Fabian yang berlutut di depannya, terlihat memelas sekaligus memohon. Sementara sang istri duduk di sofa bersama sang kakak, ibu Alby. "Santai dulu, Alby. Dia pamanmu." "Hanya di atas kertas." Alby menukas dingin. "Kau mengirimkan orang bodoh untuk mengirimkan uangku?" "Alby," panggil Fabian lemah. Matanya melirik sang anak yang duduk di atas meja, memainkan bungkus rokok dengan santai. Melemparnya ke atas berulang kali. "Aku meminta maaf karena hal ini." "Sialan." "Biarkan saja, Lena." Emily menyahut ringan, memperlihatkan koleksi berlian baru di tangannya. "Dia pantas mendapatkannya." Lena tertawa keras. "Aku tidak tahu mengapa kau mau mempertahankan benalu macam ini di rumah besar itu. Hei, Alicia. Kau bangga punya ayah seperti dia?" "Apa bedanya denganmu, bibi?" Alicia menimpali dengan senyum manis. "Oh, aku lupa. Bibi Lena beruntung karena Paman Yaman sudah lama pergi. Kenapa para pria di keluarga ini tidak berguna?" Dan mendapati tatapan tajam Alby. "Oh, kecuali kau. Alby yang terbaik." Lena tertawa sekali lagi. "Benar-benar si mulut lancang." "Kau tidak bisa bicara?" Alby mencengkeram kerah Fabian cukup erat. "Aku memintamu bicara. Kau memperkerjakan teman putra harammu yang tidak berguna?" "Tidak ada yang berguna jika ini bersangkutan dengan dirinya," tukas Lena dingin. "Keluarganya sempat sukses dan jaya. Sampai melarat ke titik terendah. Astaga. Aku malu membayangkannya. Bahkan sudah sejauh ini, kau mencoba melawan kami?" Emily menghela napas berat. "Dia mencintai keluarganya yang lain. Bebaskan saja dia, Alby. Kau sebaiknya melenyapkan bocah tak becus itu." "Aku memang berniat melakukannya." Alby melempar Fabian ke ujung, yang membuat pria itu terbatuk karena cekikan kerah membuatnya sulit bernapas. Alby mundur dan berbicara pada seseorang dari balik interkom di atas meja. "Bawa kembali koper itu. Cari orang baru secepatnya. Aku mau uang itu sudah ada di bank delapan jam dari sekarang. Cuci uangku secepatnya!" "Pergi saja dari sini. Aku muak melihatmu sekarang." Fabian mencoba bangun. Tertatih-tatih dengan kaki gemetar sembari berpegangan pada tembok ruangan. Alicia mendesah pelan. Mengulurkan sebelah tangannya untuk membuka pintu secara otomatis melalui tombol di atas meja kerja Alby. Membiarkan pintu itu terbuka dan Fabian terjatuh setelahnya. Pintu kembali tertutup. Ruangan kembali dihiasi damai saat Lena mengeluarkan rokok elektrik dari Hermes miliknya. "Dongeng sudah selesai sampai di sini." "Ayahmu menyimpan berlian milik kita." Alicia mengangkat alis. Mendengar gerutuan Alby yang duduk bersandar di meja, memijit pelipisnya sendiri. "Berlian?" "Berlian peninggalan mendiang nenek. Kita semua tahu berapa harganya. Aku hanya butuh itu kembali. Satu-satunya alasan mengapa aku tidak membunuh ayahmu." Alis Emily bertaut satu sama lain. "Kau yakin ada padanya?" "Putraku tidak mungkin salah menduga, Emily." Lena menukas pahit. "Bakat pencuri memang sudah ada di diri suamimu bertahun-tahun lalu. Dia beruntung karena kita masih membutuhkannya sebagai alat dan kambing hitam. Ah, aku tidak tahu sampai kapan dia akan bertahan." "Dia akan bertahan lama," sahut Emily santai. Meminum teh mawar dari cangkir. "Aku tidak akan membiarkannya mati semudah itu." "Tentu saja. Sampai berlian milik kita kembali. Fabian menginginkan hubungan setimpal. Simbiosis mutualisme yang tidak mungkin akan terjadi," sela Lena dingin. "Pria itu terlalu arogan untuk menantang kita. Dia lupa dengan siapa dia berhadapan." Sementara Alicia merenung. Mendengarkan segala percakapan dengan baik. Sebagai pendengar yang semestinya, ia hanya perlu mencerna. Sebelum akhirnya bangun, meraih mantel dan kunci mobilnya. Bersiap-siap pergi. "Kau mau ke mana?" "Bertemu Cecil." Alby mengernyit. "Kau yakin?" "Aku bisa saja mengawasimu, Alby." Alicia berbalik untuk menantang mata pria itu. "Kita sepadan, ingat? Aku cukup santai karena kau berkompeten mengurus segalanya. Andai saja kau terlewat batas, aku bisa melakukan sesuatu yang tidak akan kau duga sebelumnya." "Alicia?" Lena tercengang karena kalimat keponakannya. "Aye, bibi. Aku pergi. Bye, Mama." Alicia melambai pada semua orang di dalam ruangan. Membiarkan kesunyian menemani saat Emily menaruh cangkirnya ke atas meja. "Alicia banyak berubah. Dan itu karenamu, Emily." Lena benar. Itu semua karena dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN