enam

1536 Kata
"Alicia." Putrinya berhenti di persimpangan tangga dan dapur. Sambil memegang ponsel cukup erat, melirik datar pada sang ibu yang duduk dengan anggun di kursi mini bar kediaman mereka. "Mama tahu kau habis bersenang-senang." Alicia mundur, mengangkat sebelah tangannya ke atas. "Bukan bersenang-senang. Hanya melepas setres sebentar." "Mama tahu siapa pria itu," kata ibunya dengan senyum. "Tapi alangkah baiknya kalau putriku sendiri yang memberitahu. Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Mama kira, seleramu tidak seperti dia?" "Bukan. Aku akan mengakui kalau aku tertarik." Alicia mengangkat bahu. Dan reaksi ibunya masih sedatar sebelumnya. "Dia mungkin tidak sepadan dengan kita. Mama ingin membahas ini?" Ibunya menyeka sampanye dari sudut bibir. Memandang putrinya dengan mata emas berkilau. "Tidak, Sayang. Tapi ada baiknya Mama tahu. Ini juga demi kebaikanmu, kan?" "Ya, hm." Alicia meneleng, mendengar suara berisik dari lantai atas rumah mereka. "Papa di rumah?" "Ada atau tidaknya dia, itu tidak membantu sama sekali. Pura-pura saja kau tidak mendengar suaranya," tukas ibunya datar. Mengibaskan tangan dan kembali tersenyum. Alicia bersumpah bahwa dia banyak belajar tentang mengendalikan diri dari emosi yang mengikat karena ibunya. Seorang Emily Grice adalah panutan terbaik. Ibunya bertahun-tahun mengenyam pendidikan di perguruan tinggi Yale. Yang membuatnya disegani sekaligus terpandang. Lihatlah sosoknya sekarang. Sosialitas kelas atas tidak ada lawan. Alicia mengambil napas panjang. Memutuskan untuk bergabung bersama sang ibu di bar. Mencari cola di dalam kulkas tiga pintu, duduk di kursi tinggi dan melihat ibunya tersenyum. "Kenapa Mama tersenyum?" "Aku teringat saat-saat putri kecilku membawa buku berisi binatang dan legenda untuk bertanya. Kau yang kecil sangat aktif dan pintar. Mama tidak pernah lelah menjawab seluruh pertanyaan dari bibir kecilmu saat itu." Alicia diam. Memainkan kaleng sodanya tanpa ekspresi. "Apa Mama pernah merindukan masa lalu?" "Sekilas, ya. Mama mengakui," aku Emily dengan sorot mengenang. "Selepas itu tidak. Mama belajar banyak hal untuk tidak menyesali apa pun." Bibir Alicia terkatup. Sebelah jemarinya mengetuk badan kaleng dengan desahan berat. Kemudian menegak isinya. "Aku belajar banyak darimu. Membiarkan orang-orang berbicara sesukanya. Kita tidak selamanya bisa mengendalikan reputasi diri sendiri." Tawa singkat meluncur bebas. "Bagaimana bisa aku melepasmu? Dunia akan kutantang jika si b*****h itu merebutmu dariku." Bedebah yang perlu digarisbawahi di sini adalah ayahnya. Mereka tidak sampai ke pengadilan untuk perceraian. Namun seandainya itu terjadi, kedua belah pihak akan bertarung sengit memperebutkan hak asuh satu sama lain. Alicia diambang harga diri orangtuanya. Meski begitu, ia akan tetap memilih ibunya sebagai pemenang hak asuh atas dirinya. "Aku akan ikut denganmu," timpal Alicia seraya menunduk. "Tidak ada gunanya bersama seseorang yang memiliki anak di luar pernikahan." "Kau membencinya?" "Aku mati rasa untuk sekadar membenci." Suara gelas beradu dengan permukaan meja terbentur lirih. Alicia mengambil napas, mengamati sudut-sudut di dalam rumah dengan erangan kecil. "Kalau begitu, kita berdua ada di posisi yang sama. Aku tidak pernah memberimu doktrin tentang Fabian sama sekali. Kau yang melihatnya sendiri. Memandang bagaimana Papamu dari kacamatamu sendiri. Kacamata seorang anak." Dan memandang kehidupan dari sisi seorang anak yang lahir karena kesepakatan bisnis. Alicia menyadari hal tersebut dengan sangat baik. Baik Fabian maupun Emily sama-sama mengedepankan masa depan perusahaan dan investasi. Pernikahan bukan hal yang perlu mereka pikirkan selagi memiliki uang sebanyak mungkin. "Karena kalau kau berharap pada manusia, yang kau temukan hanyalah kesia-siaan." *** "Hari yang buruk?" Alicia mengangkat sebelah alis saat menemukan Alby dengan santai menunggu di depan pintu lift yang terbuka. Bersandar pada tembok yang keras, mengabaikan beberapa tamu pemegang saham yang hadir untuk membahas rapat tahunan. "Ini pertama kalinya kau hadir dalam rapat," tukas Alby santai. "Aku menginginkan pendapatmu di meja rapat nanti." "Kau terbiasa memegang semuanya sendiri, bukan?" tanya Alicia kurang antusias. "Aku akan menontonmu melakukannya." Alby mengernyit sebelum akhirnya tertawa. "Lucu sekali. Perusahaan ini jatuh ke tangan kita berdua. Kemungkinan besar pada dirimu. Sebagai seorang kesayangan. Yah, kesayangan. Orang pilihan terbaik." "Kau sudah mengantisipasinya dengan baik, bukan?" Alicia menunggu sampai asisten membukakan pintu untuk mereka. "Menimbun uang untuk kepentingan pribadimu sendiri." Kedua mata Alby memicing penuh antisipasi. "Kau perlu hati-hati saat bicara." "Mulut lancang." Alicia memberi kedipan singkat, lalu melangkah masuk ke dalam. Rata-rata pemegang saham yang baru terlihat asing. Banyak pebisnis yang silih berganti mempercayakan nilai modal investasi ke sistem manajemen perusahaan mereka. "Nona Alicia, selamat datang. Sudah lama sekali. Terakhir kali aku melihatmu, saat usiamu masih sepuluh tahun. Kau datang bersama mendiang kakek." "Ah, selama itu rupanya." Alicia berkata ramah sembari berpura-pura mengenang. "Sama halnya denganku. Banyak wajah asing yang tidak kukenal di sini. Konglomerat muda baru saja lahir atau ada terobosan baru yang membuat para milyuner muda berani mengambil risiko?" "Kami senang bertaruh." "Ah, benar. Terutama untuk sesuatu yang kurang pasti." Alicia mengendik dengan senyum. "Aku mendengar beberapa orang menginginkan kepemilikan properti dan mengambil bisnis saat mencari celah pailit. Sayang sekali, itu belum terjadi." Semua orang berpandangan. Sementara Alby mengangkat satu alisnya tinggi. "Kami akan melepaskannya kalau itu berujung kehancuran. Bisnis tetap bisnis." "Apa kita bicara tentang perusahaan Gloria?" Alicia mengangkat kepalanya dengan seulas senyum sinis. "Aku tidak membicarakan siapa pun di sini. Kalian jangan salah paham." "Perusahaan induk hampir hancur karena terlilit utang dan kasus penipuan anak buahnya sendiri. Malang sekali." "Kami menyelamatkannya," timpal Alby dengan senyum. "Seperti yang kalian lihat. Itu terlalu mudah. Kami mengakuisisi beberapa anak cabang, tidak secara keseluruhan. Alicia masih menyayangi sahabatnya. Mereka juga butuh makan dan hidup enak." Semua orang berusaha menahan tawa. Barangkali Alby merasa puas setelahnya. Karena saat mata mereka bertemu, seringai pria itu hanya membuat Alicia muak. "Bisnis tetap bisnis. Tetapi relasi dengan salah satu anggota penting dalam generasi orang kaya lama memang benar-benar menguntungkan." Alby memberi reaksi berupa senyum tipis. Sementara Alicia bungkam. Memilih untuk tidak bersuara sama sekali. Ia menyadari kalau bantuannya didefinisikan berbeda oleh orang lain. Dan itu fakta. Alicia membantu karena dia memang mau. Menginginkan Cecil memiliki hidup layak dan tidak terlunta-lunta karena ayahnya yang bodoh. "Aku punya pekerjaan lain setelah ini. Bagaimana kalau kita mulai saja rapatnya?" "Sure." Alby bangun dari kursinya. Memberikan beberapa arahan singkat sebagai pemimpin perusahaan yang menaungi ribuan pemegang saham. "Ada pendapat lain?" Semua yang hadir bergantian memberi pertanyaan. Sedangkan Alicia benar-benar bungkam. Tidak tertarik sama sekali dengan kehidupan yang berjalan di dalam gedung ini. *** "Kau menang. Sialan." Gemuruh riuh menggelegar di sepanjang ruangan saat seseorang baru saja memenangkan satu juta dolar dalam tiga kali permainan. Penuh ketegangan serta keseriusan yang membuat beberapa penonton bersorak. "Beginner's luck." Salah satunya menukas dengan senyum empati. Yang membuat si pemenang menyeringai. Memandang mata biru cerah yang mematikan akal waras selama beberapa detik. "b******n yang beruntung." Semua orang bersorak. Kecuali satu orang yang duduk, kembali menegak alkohol dalam kadar banyak. Tidak terhitung berapa gelas telah dihabiskan. Mendengar kabar buruk itu hanya membuat kepalanya semakin sakit. "Satu juta dolar bukan uang yang sedikit," kata Alicia membuka suara. Mengeluarkan sebatang rokok dari saku kemejanya. "Kalau keluargamu tahu, mereka bisa saja menebas lehermu, loh." Dannes Foster mengernyit dan meneleng. Memandang perempuan bertubuh ramping dan tinggi yang berdiri di depannya. Karena topi hitam pekat itu mengganggu, Dannes tidak bisa melihat jelas siapa perempuan yang nekat masuk ke ruang kasCecil ternama di kota ini. "Oh, kau." Alicia memberi senyum tipis. "Halo, senang melihatmu. Aku sering berkunjung sebelum pergi ke New York untuk bekerja. KasCecil ini banyak berubah." Tidak banyak orang yang punya akses masuk ke dalam ruang bawah tanah tersembunyi. Bahkan sekelas polisi tingkat ataspun tidak akan berani membubarkan area perjudian terbesar dan terlarang milik keluarga-keluarga kaya yang gemar bertaruh. "Kau bertaruh juga?" "Yang baru saja memenangkan satu juta dolar," timpal Alicia dengan seringai puas. Mengembuskan asap rokok dari bibir kecilnya. "Aku tidak terlalu suka mempertaruhkan keberuntunganku di meja bermain." "Kau menyadari kalau kau tidak membawa keuntungan?" Alicia berpaling, menelisik ekspresi sang dokter dengan kening berkerut. "Aku menyadarinya. Kadang-kadang aku membawa hoki. Tapi kau tahu, selama aku bisa membayar seseorang dan bertaruh untuk hal yang besar, why not?" Dannes lekas diam. Menggeleng dengan raut muram saat seseorang menghampiri mereka. Kesulitan bernapas ketika melihat Alicia di sana, dan terburu-buru mendekati Dannes. "Mereka takut padamu." "Bukan padaku, tapi pada margaku. Keluarga besar. Kemungkinan besar Alby pernah mengacau di tempat ini. Efeknya masih terasa sampai sekarang." "Lebih tepatnya mengacak-acak," sahut Dannes datar. "Sepupumu senang mencari musuh baru." "Dia problematic," tukas Alicia. "Mencari musuh adalah hobi. Membuat keributan jelas kesenangan. Dia terlalu lelah bekerja." "Sebagai pewaris takhta, hal itu melelahkan." Alicia mengambil napas. Melihat Cecil menyeringai di depan sana karena melihat tumpukan uang dalam koper. "Adikmu terlihat sangat mengayomi keluarga. Kau dan Darius tampak berbeda." "Kami sama." Dannes menyahut tanpa menoleh. "Dengan cara yang berbeda. Bagaimana pun, keluarga di atas segalanya." "Aku tidak terkejut." "Jika Darius mencari masalah, lupakan dia." Dannes terdengar seperti memohon. "Adikku tidak banyak belajar tentang kehidupan di luar ilmu kedokteran dan bisnis keluarga." "Dia cukup polos." Alicia membuang puntung rokok ke lantai, menginjaknya cukup kasar dengan sepatu. "Aku tidak berniat mengenalnya lebih lanjut." "Itu bagus." "Karena sama seperti kalian semua yang paham tentang risiko. Pengecut yang kalah lebih dulu di medan perang." "Itu lebih baik daripada mati penuh beban di awal perang." Cecil berlari senang ke arahnya. Alicia memberi sahabatnya senyum. "Kau lihat ini? Satu juta dolar. Sebentar, aku mau bernapas." "Kau berlebihan." Alicia menutup koper itu dan mengendik pada si pembawa hoki untuk mendekat. "Ini saat yang bagus untuk pergi." Cecil kembali membawa koper itu pergi. Ketika Alicia melempar tatapannya sekali lagi pada Dannes, dia menyeringai. "Terima kasih untuk satu juta dolarnya, dokter."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN