sembilan

1619 Kata
"Selamat datang." Alby mengangguk seadanya. Tidak perlu berlama-lama untuk sekadar berbasa-basi. Matanya berpendar mengelilingi ruangan. Beberapa barang masih terlihat tertata asal. Cukup kacau dan berantakan. "Kau memutuskan untuk pindah." Alby membuka suara, mengamati Alicia yang sibuk menggaris tepian buku gambar. "Apa ini suatu kemajuan yang bagus?" "Apa?" "Memulai bisnis dari tempat asal," kata Alby dengan seringai. "Tanah kelahiran. Kau memboyong bisnismu kemari, apa itu pertanda bagus?" "Kau datang dalam rangka apa?" "Memberimu selamat." Pria itu menukas dengan senyum. Satu-satunya yang terlihat muak dengan senyum mautnya hanya Alicia, sepupunya. "Aku mengirimkan karangan bunga, you know. Di depan teras. Selain sahabatmu, tentu saja. Dan beberapa orang yang mencari muka untuk berharap bisa bekerja sama denganmu." "Terima kasih." Alby berdeham. Menyadari pensil dan penggaris lebih menarik minat Alicia daripada dirinya. "Kau menemui Darius semalam." Alby yakin percakapan ini mengusik sepupunya. Dan benar saja. Alicia mendongak, mengangkat alis dengan bingung. "Darius?" "Ya, si dokter umum. Kita bisa membahas bagaimana dirinya yang terlihat cerdas dan itu benar adanya terlambat mengambil pendidikan sarjana dua." Alby meringis. "Dia dan Dannes mampu bersaing. Tapi si pangeran itu tidak mau melakukannya." "Mengapa kita membahasnya?" "Mengapa?" Cibiran halus terdengar. "Darling, kita perlu membahasnya karena pangeran itu bisa menjadi ancaman." Alicia merasa merinding saat Alby memanggilnya dengan panggilan kesayangan yang sama sekali tidak ingin dia dengar. "Dia tidak akan menjadi ancaman," kata Alicia dingin. "Karena kami sudah selesai. Aku penasaran dengannya. Satu malam dan semua berakhir." "One night stand?" "Seks bukan hal yang ingin kubahas denganmu," tukas Alicia santai. "Sebagaimana aku yang tidak pernah peduli dengan daftar boneka ranjangmu, kau sebaiknya melakukan hal yang sama." Pandangan Alby mencemooh. Namun, Alicia hanya terlalu santai menanggapi. Ia terbiasa menghadapi Alby yang murka dengan sisi lainnya yang tenang tanpa riak. "Aku peduli padamu." "Kau mengatakannya beribu kali." Alicia menghela napas. Meminta salah satu staf untuk membawakan soda dingin dari kulkas. "Kau mau?" Alby lekas menggeleng. "Aku harus kembali. Lima belas menit lagi ada jam temu makan siang. Kau mau bergabung?" "Dengan siapa?" "Seseorang." Staf dengan patuh membawakan sekaleng soda dingin untuknya. Sementara benak Alicia dipenuhi pertanyaan. "Aku tidak yakin. Siapa seseorang itu?" "Kau mengenalnya." "Beri aku nama dan semua rasa penasaran ini selesai." Alby meringis. "Aku mengenal betul dirimu. Dan kita tidak perlu menebak-nebak siapa yang kutemui. Kalau kau penasaran, kau bisa datang. Aku akan menambah satu kursi lagi untukmu. Spesial." "Aku tidak akan datang." Alicia mengangkat bahu, melepas lelah pada bahunya dengan kepala meneleng. "Semoga sukses. Kau bisa melakukannya lebih baik dari siapa pun di keluarga kita." "Aku tumpuan, ingat?" Ekspresi Alby berubah lebih dingin. "Yang sayangnya, keputusan ada di mendiang pria sialan itu. Sebagai cucu perempuan kesayangan, tentu saja kau tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk memegang kartu AS, bukan? Kau tidak sebodoh itu." Alicia tertawa sampai nyaris tersedak. "Aku belajar banyak dari Mama. Bisnis tetap bisnis. Ikatan terkadang tidak berarti apa-apa jika kita berbicara ambisi. Toh, kau perlu bersantai sekarang. Aku sedang tidak berambisi membuat melarat siapa pun." *** "Aku menunggu sampai dua penerus terbaik ini memiliki pasangan. Kapan kalian bersedia melepas masa lajang?" Hanan melirik ayah Darius dengan senyum. "Dulu kami berdua menyukai hidup membujang. Bertahun-tahun tanpa ikatan dan bebas. Kemudian aku menyadari kalau aku kesepian." "Itu cerita membosankan," kata Hana lesu. Memandang datar pada sang ayah. "Ayah selalu bilang begitu di depan para kaum muda yang belum menikah." Dannes menahan senyum. Dengan kerutan halus di dahi, memegang bahu Hana dengan tepukan. "Biarkan saja. Para pria tua akan memberi wejangan tentang pengalaman hidup." "Ada-ada saja," tukas Hana muram. "Aku juga belum berpikir punya pacar." Ayahnya memutar bola mata. "Kau tidak bisa—aku belum setuju. Belum. Jangan ada pacar, Hana. Aku akan meminta seseorang mengawasimu. Dasar bocah nakal." Hana mendelik dan ibunya tertawa lembut. Seisi meja terlihat hangat. Saling bercengkerama satu sama lain. Yang membuat perasaan Hana menghangat. "Dannes, Darius? Tidak pernah terlibat dengan perempuan," tegur ayahnya dengan senyum. "Mereka punya mimpinya sendiri." Hanan mendesah. "Anak muda, mau sampai kapan?" "Aku masih perlu belajar bisnis lebih banyak," aku Dannes dengan senyum. "Tidak tahu kalau Darius." "Dia sudah berkencan." Ibunya tersedak. "Hana, benarkah itu?" "Heem. Aku berani bertaruh dengan semua aset sekolahku di kamar apartemen," kata Hana ceria. Yang membuat kepala mereka menggeleng. "Bukan kaleng-kaleng, dia mengencani Alicia. Si penerus dari keluarga kaya lama itu." "Ya Tuhan." "Darius?" Hanan terburu-buru meminum air putihnya. "Aku harap kepalamu tidak terbentur atau apa pun. Jadi, bagaimana bisa? Ini Alicia si penerus raksasa perusahaan." "Aku tidak tahu," aku Darius sedikit cemas. "Kami tidak ada hubungan apa pun. Tidak ada kencan. Hana meracau." "No. Aku serius. Darius tertarik, tapi kurasa Alicia biasa saja. Dia tidak terlihat antusias sama sekali." Hana mengernyit dengan sedih. Ibunya mendesah. "Apa ini benar?" Mata kelamnya memindai Darius. "Kau berkencan? Sejak kapan?" "Kami tidak berkencan," ujar Darius dalam. "Yah, hanya satu kali. Berjalan-jalan. Aku mendengar banyak asumsi tentangnya." "Asumsi," pungkas Dannes. "Kau percaya pada asumsi tersebut?" "Tidak semua. Tapi, ya, sedikit." "Lantas, kau bertanya?" "Dia tidak perlu memberi jawaban," sahut Darius ringan. "Gosip hanya gosip. Belum tentu semua berdasarkan fakta. Tidak semua menjurus kebenaran." Semua orang terdiam. Sementara Hana dengan santai memakan omelete telur terakhir di piring. Menatap seluruh anggota keluarga yang terdiam. Ibu Darius berdeham. "Aku tidak pernah mempersalahkan teman kencan kedua putraku. Bagiku, mereka yang paham arti terbaik atau tidak. Biarlah, bersenang-senang saja dulu." "Aku hanya memintamu untuk berhati-hati," tegas ayah Darius serius. "Keluarga kaya lama bukan golongan sembarangan. Meski keluarga ini bergelut dari beberapa generasi, keluarga satu itu tidak terkalahkan. Pendapat mereka bisa memengaruhi keuangan negara kita." Semua orang bungkam. Sama sekali tidak bersuara. Sedangkan Darius hanya menunduk, berpura-pura abai tidak akan memecahkan masalah untuk sementara. "Aku hanya perlu waktu." "Kau menyukainya?" "Mum, pasti bercanda." Hana menyahut bosan. "Dia sangat tertarik. Oh my God. Tidak ada pria yang bisa berpaling dari separuh jelmaan bidadari surga. Alicia itu luar biasa." "Aku mendengar ceritamu dengan baik," keluh ibunya. "Ibu mencemaskan Darius." "Dia bukan anak kecil yang menangis karena celananya terpapar permen karet. Darius sudah besar. Biarkan saja dia menjadi landak liar." Celetukan Hana yang membuat mereka tertawa. *** "Kau memikirkan Darius?" "Untuk apa aku memikirkannya?" "Karena kau tertarik?" Cecil bertanya serius. "Pesona seorang pangeran yang tidak bisa ditolak. Kau tidak sendirian." Alicia nyaris tertawa. "Aku masih waras. Satu-satunya cara untuk menghindarinya adalah tidak lagi berhubungan." "Kau perlu melindunginya," kata Cecil seraya menatap ruangan yang sesak. "Kau harus melakukannya. Benar, kan?" "Ya." "Alby benar-benar bajingan." "Lupakan saja. Sifatnya memang sudah seperti itu." Bola mata senada langit biru itu memutar. "Kau membelanya. Apa akan terus seperti ini? Kau lebih kuat darinya. Tapi, yasudah. Aku tidak bisa bicara banyak." Alicia hanya tersenyum. "Kau tidak bisa melakukannya." "Aku tahu batasanku," tukas Cecil masam. Bibirnya tertarik membentuk senyum muram. "Tidak akan memaksa apa pun yang melanggar aturan. Aku paham benar." Alicia mengernyit seraya meneleng dramatis. "Abaikan saja. Asumsi itu tidak membuat mereka lebih baik dan kau lebih buruk. Lupakan itu." Cecil tersenyum. Alicia meraih kunci mobil di atas meja. Memeriksa lampu-lampu di dalam ruangan dan memastikan listrik tidak ada yang menyala. Guna mengurangi risiko konsleting yang menghantui perkantoran di setiap malam. "Kau pulang ke apartemen?" "Aku akan pergi ke suatu tempat." "Oh, apa ini bersifat rahasia?" "Ya." Cecil mendesah. "Aku tidak akan memaksa. Hati-hati di jalan." "Kau juga." Mereka berpapasan untuk terakhir kali sebelum Alicia membawa mobilnya ke rumah sakit. Medical Center tampak senggang di malam hari. Beberapa perawat mondar-mandir dengan santai, tidak terlalu terburu-buru. Petugas keamanan yang rutin berkeliling. Alicia mendapati pemandangan keseharian mereka di malam hari. Pintu masuk otomatis membuka saat dirinya terdeteksi. Beberapa orang menoleh ke arahnya dengan cemas. Alicia melupakan keadaan sekitar dalam sejenak. Langkahnya tanpa ragu berbelok dari satu lorong ke lorong lain. Menemukan beberapa pintu yang tertutup. Udara terasa cukup dingin malam ini. Dirinya bergegas memakai mantelnya dengan cepat, memasuki sebuah pintu dan menemukan sosok bocah malang itu terbaring tidak berdaya di ranjang. Sang ayah pulas tertidur di kursi sempit. Tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Gambaran sosok lelah yang kental menarik perhatiannya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Alicia hanya perlu mundur untuk memberi ruang bagi dirinya sendiri. Mendengar suara serak dari seberang telepon, napasnya tercekat. "Jangan ganggu aku." Satu bisikan dingin yang berhasil merenggut kewarasannya. Dengan gemetar, melempar ponsel mahal itu ke dinding. Terempas cukup jauh dan menggelinding retak untuk berhenti di depan sepasang kaki berlapis sepatu kasual. "Uh?" Darius membungkuk dengan kening berkerut. Mengangkat ponsel miliknya yang hancur dan retak. "Ini sudah rusak." "Bukan masalah." Alicia mencoba mengambil ponselnya kembali dan Darius mundur. "Kembalikan saja." "Kau datang untuk menemui siapa?" Mata Darius memindai Alicia. "Sepasang ayah dan anak?" "Bukan urusanmu." Sang dokter kembali membuat Alicia jengkel. Karena dengan sengaja memundurkan tubuh agar tangannya tidak berhasil meraih ponsel itu dari tangannya. "Kenapa kau datang semalam ini?" "Aku punya urusan." Alicia mendelik sinis. "Aku tidak bisa percaya itu. Urusan? Di rumah sakit?" "Ini rumah sakit keluargaku," balas Darius santai. Mengangkat kedua bahunya. "Aku datang untuk memeriksa sesuatu." "Oke." Alicia memutuskan untuk menyerah. Memandang ponselnya sekali lagi dengan desahan. "Sebelum kau membuangnya, hancurkan ponsel itu sampai tidak bersisa. Ponsel itu harus benar-benar rusak total." "Ada rahasia tersembunyi di sini?" "Menurutmu?" Darius mengangkat alis. "Aku tidak ingin menebaknya. Tapi, yah, mungkin saja cukup penting. Kalau aku membuka ini, kau akan panik?" "Tidak ada video diriku yang sedang melakukan m********i atau berpose seksi di depan kaca, dokter." Alicia tersenyum manis. Yang membuat Darius salah tingkah. "Aku tidak akan terkena serangan panik." "Kau tidak mempersalahkan itu?" "Jika kau membukanya?" tanya Alicia memperjelas. "Aku percaya padamu." Darius hanya tertegun. Lidahnya terasa kaku. Sama halnya dengan langit-langit mulutnya yang terasa kering. Mengapa Alicia percaya padanya? "Aku kembalikan." Gadis itu memekik senang. "Terima kasih, pangeran. Kau baik sekali." Darius hanya tidak bisa berpaling untuk sesaat. Saat Alicia lagi-lagi hampir meninggalkannya tanpa menyapa atau mengucapkan selamat tinggal, ia melihat gadis itu limbung dengan langkah goyah sebelum jatuh ke lantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN