"Kau perlu duduk."
Suara tenang sang dokter membuat Alicia beralih. Mungkin karena Darius masuk, lalu melihatnya berdiri sembarangan mengitari kamar yang luas. Alicia tidak tahu bagaimana bentuk rumahnya. Tetapi melihat interior kamar dan bagaimana perabotan diletakkan, rumah ini cukup besar dan modern.
"Mengapa kau membawaku kemari?"
"Tidak ada pilihan lain," kata Darius santai. "Aku bawakan kau air putih. Dan maaf untuk hal yang lain. Aku perlu memeriksamu."
"Oke," Alicia mendekat dengan senyum. "Apa yang terjadi?"
"d******i karena kelelahan dan kurang tidur. Kau perlu mengurangi sedikit minum minuman alkohol." Darius melihatnya yang duduk di tepi ranjang. "Sudah. Hanya itu."
"Aku memindahkan sebagian bisnisku kemari, ke tempat asalku," ujar Alicia meraih gelas berisi air dari tangan pria itu. "Tentu saja tidak membangunnya dari awal lagi. Aku sudah punya nama dan brand sendiri. Aku hanya memulainya dengan berbenah dan menata kantor pribadi."
Darius mengernyit. "Kau melakukannya sendirian?"
"Ya, dokter. Dengan siapa lagi? Cecil berniat membantu dan aku menolaknya. Itu kantorku, aku akan memastikan semua sesuai kemauanku."
"Kau kelelahan karena itu."
"Ya. Mungkin saja." Alicia lantas meminum air putih. "Pengaruh kurang tidur juga bisa."
"Di mana tempatnya?"
"Apa?"
"Kau membuka—," Darius tiba-tiba diam. Memilih untuk mengatupkan bibirnya dengan desahan berat. "—tidak, tidak jadi."
Gadis itu tersenyum. Memindahkan gelas ke atas nakas, mendongak untuk menatap mimik datar yang membuatnya tertarik penuh.
"Kalau kau bertanya, aku punya kewajiban untuk menjawab. Santai saja, dokter. Kalau rekanmu atau siapa pun membutuhkan jasaku, aku senang hati membantu."
"Ya," balas Darius. "Tentu saja. Di mana letaknya?"
"Ada di jalan Palem sebelah selatan nomor empat. Kau bisa menemukan bangunan minimalis tiga lantai ke atas di sana. Semua bangunan hampir mirip satu sama lain," ujar Alicia dengan ringisan. "Aku perlu sentuhan baru untuk membedakan bangunan satu dengan yang lain."
"Kau akan menetap di sini?"
"Untuk jangka lama, ya." Alicia mengernyit dengan senyum. "Kau menyukai ide itu, kan?"
"Apa?"
"Aku menetap di sini?"
Darius mendesah. "Aku tidak mengerti."
Alicia hanya menggeleng. Bangun dari tepi ranjang untuk berkeliling. "d******i kamar pria yang tidak terlalu unik. Kau menyukai warna hitam. Karena barang-barang ini mendominasi warna pekat. Tapi tidak memungkinkan menyukai warna putih."
"Monokrom," tukas Darius sembari bersidekap. Memandang Alicia lekat. "Aku menyukai warna putih dan hitam. Keduanya hampir seimbang."
"Kalau makanan favorit?"
"Tidak terlalu spesifik karena aku menyukai hampir seluruh makanan." Darius menautkan alis. "Dengan tambahan tomat yang banyak."
"Tomat, ya?" Gadis itu tertawa singkat. "Aku teringat ibuku yang selalu memberi hiasan tomat tersenyum pada bekal makan siang semasa sekolah."
"Kau membawa bekal?"
"Kadang-kadang. Masakan di kantin tidak melulu sesuai seleraku. Aku banyak mengeluh pada Mama," sela Alicia dengan senyum mengenang. "Mama akan bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal. Itu spesial darinya."
Darius berdeham. Satu informasi yang tidak akan dia dapatkan dari mulut orang lain. "Kau dekat dengan ibumu?"
"Ya, karena kami ibu dan anak." Alicia memindahkan tatapannya pada pigura Darius kecil bersama Dannes. "Kalian mirip satu sama lain. Aku bisa melihat matamu di mata Hana sesekali."
"Aku juga tidak menyangka itu."
Alicia tersenyum tipis. Berbalik untuk pergi ke pintu. "Aku butuh makan. Kita perlu pergi membeli sarapan atau kau punya bahan masakan di kulkas?"
"Aku punya bahan di kulkas."
"Excellent. Ayo, kita buat omelete telur dan sup kaldu."
***
Darius memandang bagaimana Alicia bergerak luwes serta cekatan di dapurnya. Gadis itu mampu mengisi ruang-ruang yang kosong. Yang sebelumnya terisi dengan kehadiran asisten rumah tangga. Yang Darius pekerjakan untuk mengurus rumahnya selagi dia tidak ada. Urusan makanan, ia hanya punya dua pilihan. Memasak seadanya atau membeli makanan cepat saji dan meminta mereka mengantar ke rumah. Kadang-kadang ibunya yang perhatian membawakan makanan dalam jumlah banyak untuknya dang sang kakak.
"Kau terbiasa memasak?"
"Apa yang kau harapkan dari seorang perempuan tinggal jauh di negara lain?"
"Kau punya opsi untuk membeli makanan."
Alicia berbalik untuk mengangkat bahu. "Aku punya dan sering melakukannya. Tapi beberapa hal membuatku sadar. Aku harus memasak."
"Memasak termasuk basic skill. Kau mungkin bisa melakukannya saat terpepet waktu." Darius berkata muram. "Aku sering melakukannya."
"Aku bisa melihatnya," ucap Alicia geli. Memamerkan wajan milik pria itu yang masih tampak baru. "Ini sudah cukup sebagai bukti."
Darius mendesah. Memilih untuk tidak mengelak kebenaran. Saat dia bangun, membuka kulkas dan menyadari bahan makanannya cukup banyak.
"Aku bisa membantu sesuatu."
"Tentu. Ambil tomat itu dari laci paling bawah. Kau bisa memotongnya menjadi dadu."
"Untuk sup?"
"Untuk sup." Alicia sibuk membuat adukan telur yang telah diberi bahan tambahan. "Aku tidak masalah dengan tomat. Karena kau suka, mari kita perbanyak salah satu bahan."
Darius mengambil talenan serta pisau. Menaruh dua tomat segar setelah dicuci dan mulai memotongnya. "Aku pernah melihat ayahku membantu ibuku memasak. Terkadang membantu menyiram tanaman."
"Dia bekerja sebagai kepala rumah sakit sekarang?"
"Ya. The Grand Center. Letaknya hampir ada di sudut kota."
"Itu rumah sakit terpandang," kata Alicia datar.
"Aku tidak terlalu paham pasti bagaimana mendiang leluhur membangun bisnis ini," ucap Darius datar. "Yang aku tahu, keluarga berkewajiban meneruskan garis pewaris dan bisnis dengan sangat baik. Kami tidak bisa menghancurkan apa pun yang telah ada."
"Kau merasa itu sebagai beban?"
"Tidak." Darius meneleng, melirik Alicia yang menunggu sampai air mendidih. "Aku dan Dannes tidak pernah menganggap itu sebagai beban melainkan sebagai tanggung jawab."
Alicia menatapnya dengan sorot terperangah. "Aku tidak tahu kau sedang berpikiran naif atau apa. Tapi setelah melihat matamu, oh, kau baru saja bicara kebenaran."
"Aku bicara kebenaran." Darius mengakui tanpa ekspresi. "Tidak ada gunanya aku berbohong."
"Air rebusannya sudah mendidih. Aku akan memasukkan kaldu dan kau bisa memasukkan tomat serta bahan lain dalam mangkuk ke sini."
Darius menurut dalam diam. Memindahkan tomat serta campuran bahan lain seperti wortel, kentang dan ayam yang sudah dipotong dadu dalam kuah kaldu.
"Bisa aku tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Mengapa kau memutuskan untuk menjauh?"
"Demi dirimu."
"Diriku?" Darius mengangkat alis. "Aku membuat kesalahan?"
"Bukan kau, tapi aku. Yang membuat kesalahan adalah aku." Alicia tersenyum tipis. "Hanya tidak ingin membuatmu dalam bahaya."
"Keluargaku terancam?"
"Kau akan melakukan apa pun demi mereka? Demi keluargamu?"
"Apa pun." Darius mengangguk yakin. "Keluarga menjadi prioritas utama."
"Bagus."
"Karena itu kau menghindariku?"
"Aku tidak menghindarimu." Alicia menjawab bosan. "Kalau aku menghindarimu, aku sudah pergi dari sini setengah jam yang lalu. Dan bukannya memasak di dapurmu."
Darius diam. Matanya memindai Alicia dengan tatapan tak berarti.
"Aku merasa kau akan melakukannya dalam hitungan lima belas menit ke depan."