"Karena kau menghubungi, kurasa ini informasi penting."
Alby memberi seringai miring. "Tentu saja. Ayahmu, Fabian mencoba melarikan diri. Dia membawa keluarga haramnya untuk bersembunyi. Kau tahu?"
Alicia diam. Sementara Alby merasa puas telah memamerkan gambar yang diam-diam dia ambil dari penguntit abadi yang menyerahkan diri untuk bekerja padanya selamanya. Alby dan uangnya merupakan segalanya.
"Kau ingin melakukan sesuatu?"
Bibir pria itu turun untuk mengeluarkan bunyi cebikan. "Tidak. Kau terlihat enggan melukainya. Alicia, masa kejayaan Fabian telah habis. Runtuh. Dan dia membuat kita sengsara. Benalu harus dibersihkan. Kau tahu itu, kan?"
"Dia mencoba melindungi keluarganya."
"Keluarga yang ini?" Alby menunjuk gambar yang berisi seorang perempuan bersama laki-laki. "Fabian memuja keluarga yang lain dan bukan memujamu."
Alicia hanya tidak bisa berpaling. Sedangkan senyum Alby mengembang membentuk seringai miring. "Aku tidak terlalu peduli."
"Oh, benarkah?"
"Fokuskan saja pada misi pencarianmu sendiri. Berlian. Berlian mendiang nenek yang hilang. Kalau kau yakin dia yang mencuri, kau seharusnya bisa membuktikan itu secepatnya."
"Waktuku masih banyak." Senyum Alby tampak mengerikan. "Dan kau tahu, aku senang bermain-main. Fabian hanya belum merasakan sakitnya."
"Seberapa kuat koneksinya?"
"Lima puluh persen," tukas Alby dingin. "Ayahmu sosok dermawan semasa dulu. Banyak pesohor akan membantunya. Kau perlu mengawasi seseorang."
"Siapa?"
"Darius." Alby dengan santai membalas. "Hana, putri dari Hanan. Hanan adalah junior melarat yang sukses berkat Fabian. Ada utang budi di sini. Keluarga konglomerat farmasi itu bekerja sama dengan keluarga kerajaan. Kita sedang memusuhinya."
"Jika ini bersangkutan dengan Hana, mengapa harus Darius?"
"Karena itu perlu," timpal Alby. "Kau dekat dengan pria itu. Hubungan kalian mungkin lebih dari teman kencan atau teman tidur."
"Kau bergurau."
"Ibumu tahu." Alby mendesah. "Dan dia tidak terlihat kecewa sama sekali."
"Kau dan aku sama-sama tidak bisa menebak jalan pikirannya."
"Memang. Itu menyedihkan," kata Alby dalam. "Ibumu misterius. Tidak seperti ibuku. Lena punya pemikiran terbuka dan wawasan bagus. Sementara ibumu lebih senang memendamnya untuk dirinya sendiri. Bukankah itu prinsip arogan?"
"Tutup saja mulutmu," sela Alicia sinis. Matanya menyala karena marah. "Kau tidak punya kapasitas mencela ibuku di sini."
"Oke, aku minta maaf." Alby mengangkat tangan bagai tawanan yang menyerah. "Aku tidak seharusnya membahas hal itu di sini."
Alicia menghela napas. "Aku membencimu."
"Aku mencintaimu. Sangat. Kau belum sadar?"
"Aku tidak akan sadar," ujar Alicia ironis.
"Perempuan lain ada untuk ranjangku. Sementara hidupku hanya berpusat padamu." Alby tersenyum. Yang membuat sekujur tubuh Alicia bergidik. "Tapi aku di sini tidak sedang menjual rayuan. Melainkan memberimu penawaran."
"Aku menolak." Alicia menukas tajam. "Kalau aku melakukan sesuatu, itu dengan caraku sendiri."
Alby mendesah berat. "Yah, baiklah. Aku tidak punya kewajiban memaksa. Lagi pula, aku menyesalkan keluarga kita yang memiliki sedikit penerus. Entah kau atau aku harus memiliki banyak anak. Bayi-bayi itu harus tumbuh sehat dan kuat seperti kita. Memimpin perusahaan bukan hal yang mudah. Benar?"
"Kau akan menjadi ayah yang spektakuler."
Alby memberi seringai miring. "Kau juga akan menjadi ibu yang hebat. Kuharap kau tidak akan merokok di depan anakmu sendiri nanti."
Alicia pergi dengan pintu terbanting.
***
"Bagaimana rasa makanannya?"
"Pahit."
Si ayah memberi senyum maklum. Sedangkan Darius hanya mengawasi. Bocah malang itu perlahan membaik. Setelah berangsur pulih dari kritis, dia mencoba bertahan dengan banyak makan dan berbicara.
"Dokter," panggil si ayah cemas. "Kau mengenal Alicia dari keluarga Grice?"
"Kami berteman," aku Darius. "Bukan teman baik. Hanya sekadar teman biasa."
Mata cokelatnya berpendar gelisah. Darius masih bisa merasakan guncangan ketika Alicia datang dari pria itu.
"Keluarganya ... mengerikan. Kau tahu?"
"Ya. Apa Anda seorang pebisnis?"
"Sebelumnya. Tetapi pailit dan bangkrut. Aku bergantung pada kemurahan hati pemilik perusahaan besar itu," ujarnya sedih. "Istriku meninggal karena gagal jantung. Putraku menjadi piatu sejak usianya lima tahun. Aku hidup untuknya."
"Anda bekerja untuknya?"
"Untuk Alby, bos besar." Si pria dengan gemetar menyebut namanya. "Dia memberiku banyak kesempatan dan aku tidak bisa melaksanakan tugas itu dengan baik."
"Ayah dipukuli," sahut si anak sedih. "Dia menjerit kesakitan dan mereka tidak mau berhenti. Mengapa mereka memukuli ayah?"
"Karena ayah berbuat salah," timpalnya dengan senyum getir. Meremas lengan sang anak yang kurus. "Aku pantas mendapatkannya."
"Aku tidak membenarkan kekerasan untuk hal yang tidak diketahui sebabnya. Terutama pada anak-anak sampai separah ini." Darius melirik si anak yang diam mendengarkan. "Untuk kalangan bisnis, memang keluarga itu sangat ditakuti. Kuharap Anda menemukan solusinya."
"Lalu Alicia kembali," bibirnya terkatup sebelum membuka. "Untuk golongan melarat seperti kami, aku mendengar banyak obrolan tentang Alicia yang lebih dingin dari Alby. Mereka berdua penerus sebenarnya. Aku mulai cemas dan takut. Begitu pula yang lain."
"Apa isi koper itu, ayah?"
"Uang."
"Uang kita?"
Kepala ayahnya menggeleng. "Uang mereka."
"Mereka meminta Anda melakukan—," kalimat Darius terhenti setelah memikirkan kelanjutannya. "—pencucian uang?"
"Ya."
"Di mana?"
"Berlin."
"Anda tertangkap?"
"Nyaris. Aku melakukan kebodohan."
Darius diam.
"Aku terikat pada mereka sampai utangku tertebus. Bisnisku tidak berjalan semestinya. Terlalu banyak utang dan tagihan. Aku perlu melakukan sesuatu agar terbebas dari semua ini."
"Aku tidak tahu harus bicara apa," sahut Darius datar. "Itu sudah menjadi bagian dari risiko yang Anda ambil. Apa pun itu, jangan korbankan anak. Dia masih punya mimpi dan masa depan."
"Aku mengerti, dokter. Terima kasih banyak."
"Lupakan tentang biaya administrasi kelanjutannya. Aku yang akan menanggung selama anak Anda masih butuh penanganan dokter."
Kedua mata cokelatnya melebar. "Terima kasih banyak."
"Pikirkan solusi terbaik." Darius melepas tatapannya dari si anak yang terlihat bingung. "Aku undur diri."
Darius pergi setelahnya. Menyugar rambutnya dengan tarikan napas berat. Lehernya seperti tercekik dan dirinya tidak bisa berbuat sesuatu lebih selain bentuk uang.
Langkahnya menuntun kembali ke ruangan. Darius melepas jasnya, menggantung kebanggaan keluarganya selama bertahun-tahun pada tiang, dan menemukan sesuatu di atas meja.
Sebuah tas unik bergambar ukiran batik dan pita hijau tua yang kontras. Ada sebuah tulisan singkat di sana.
Untuk pangeran.
Berbagai menu makan siang dan jus ringan dalam botol ada di dalam bingkisan. Darius membongkar semuanya. Sampai menemukan secarik kertas dan pertama kali melihat tulisan indah Alicia di sana.
Aku memasak ini di dapur kantorku. Terburu-buru sekali, bukan? Kupastikan rasanya tidak akan membuatmu kecewa.
Nikmati makan siangnya.
—Alicia.
Tulisan singkat yang membuat Darius berdebar bak bocah belasan tahun sedang kasmaran.
***
"Oh, aku menemukan luka. Apa itu berkat mesin jahit atau pisau?"
"Gunting."
"Tidak mungkin," Cecil mendesah keras. "Kau tidak mungkin terkena gunting. Apa kau memotong bahan atau semacamnya? Memotong tirai yang terlalu panjang?"
Alicia merengut. Melirik sahabatnya yang sibuk menata kardus tidak terpakai untuk dijadikan satu. "Aku tidak bohong."
"Aku penasaran," kata Cecil masam. "Tapi, toh, kalau kau tidak mau memberitahu. Bagaimana kalau memesan ayam goreng dan soda?"
"Pesankan empat bungkus."
"Empat bungkus, oke. Untuk siapa saja?"
"Kita berdua cukup satu. Tapi pekerjaku juga butuh camilan. Berikan mereka juga. Empat bungkus dengan empat botolan soda besar."
"Oke, aku mencari ponsel." Cecil bangun dari lantai. Bergegas pergi ke tasnya untuk meraih ponsel. Sedangkan Alicia hanya perlu melipat kain-kain polos ini sebentar lagi.
"Kantor minimalis yang fantastis."
Seseorang tiba-tiba masuk dengan sumringah. Emily Grice menenteng tas Hermes keluaran terbaru dengan tambahan bandul berlian di atas kulit buaya asli. Kacamata hitam berlabel bertengger manis di hidungnya.
"Aku tidak percaya kau memilih tempat seunik ini. Kantormu di luar negeri tiga kali lipat lebih besar."
"Aku punya selera," kata Alicia senang. "Kau mengemudi, Mama?"
"Aku hampir melupakan Mercedes lamaku. Setelah ini aku akan menjualnya. Di mana Cecil?"
"Aku di sini." Si pirang melambai dari ruangan lain. Bergerak pada Emily yang tersenyum. "Sedang memesan sesuatu."
"Apa yang kau pesan?"
"Ayam goreng dan soda." Alicia duduk di sebelah ibunya. "Soda dan bukan bir."
Kepala ibunya tertunduk. Terkejut melihat goresan yang cukup dalam dan memerah. Kulit putih bersih sang anak harus ternodai. "Kau teeluka?"
"Berkat pisau."
"Sejak kapan memotong kain menggunakan pisau?" Ibunya bertanya sarkatis. "Kau memberantaki dapur?"
"Aku mencoba membuat makan siang."
"Oh, Tuhan. Luka ringan tetapi membuatku hampir terkena serangan jantung."
Alicia memutar mata. "Jangan bercanda, Mama."
"Dia terlalu mandiri," sahut Cecil saat bergabung. "Semua orang iri pada putri Anda, Tante Emily."
"Tentu saja. Dia investasi terbesar dalam hidupku. Keajaiban." Emily tersenyum setelah Cecil memberinya secangkir minuman hangat. "Aku senang melihatnya tumbuh sehat dan berkembang pesat."
"Terlepas bagaimana kacaunya keluargaku," timpal Alicia masam dan ibunya tersenyum miris. "Aku cukup beruntung."
"Ilmu bertahan berguna padamu." Ibunya menepuk lengan sang anak dengan tawa. "Aku menyukai tempat ini. Cocok dengan konsep lingkungan. Berapa harga bangunannya?"
"Delapan ratus lima puluh bersama pajak bangunan pertahun sekitar tiga ratus lima puluh."
"Juta?"
"Juta." Alicia menjelaskan pada sang ibu. "Bangunan ini tidak akan menyentuh miliyar karena termasuk kawasan lama."
"Dia punya pabrik untuk membuat brand pakaiannya sendiri. Harga tentu saja bukan masalah." Cecil menyela dengan senyum. "Tempat ini cocok untuk kos-kosan sebenarnya."
"Aku sempat melihat bangunan di sini seperti tempat membuang sampah." Emily meneleng. "Biaya untuk renovasi tidak sedikit. Kau melakukannya dengan cepat."
"Aku tidak perlu membuang-buang waktu."
Seseorang baru saja mengetuk pintu kaca mereka. Cecil berlari dari tempat duduknya, mengeluarkan dompet untuk membayar sementara Alicia berdua bersama sang ibu.
"Kau mendengar sesuatu?"
"Seseorang yang melarikan diri?"
"Dia cukup berani," tukas Emily datar. "Membawa keluarga haramnya untuk bersembunyi dari kejaran kita."
"Kita hanya mengulur waktu, sebenarnya." Alicia mengembuskan napas panjang saat Cecil kembali dan menyusun bungkusan ayam goreng di dapur.
"Akui saja, Mama. Kau tidak ingin terburu-buru karena ingin melihat suamimu sendiri hancur tak bersisa. Bayaran atas rasa sakitmu harus setimpal."
Emily terkekeh kecil.
***
Darius turun dari Jaguar hitam miliknya. Memindai datar pada bangunan tiga lantai yang satu-satunya masih terlihat hidup. Ini pukul sembilan malam. Dan rasanya mustahil menemukan Alicia masih di dalam.
Tetapi ada satu mobil berharga fantastis terparkir agak menjorok ke dalam. Alicia masih ada. Gadis itu masih menetap di kantornya.
Dan Darius benar-benar melihatnya masih duduk. Menopang dagu tanpa ekspresi dengan salah satu tangan lainnya yang bebas tengah menggambar sesuatu.
Dua ketukan dan atensi Alicia berpindah ke arahnya.
Kening gadis itu berkerut. Alicia bangun dari kursi tinggi. Mengusap wajahnya yang letih tetapi masih terlihat cantik di mata Darius.
"Siapa yang mengundangmu?"
"Tidak ada." Darius dengan bingung membalas.
"Oke, masuklah." Alicia membuka pintu agak lebar. Membiarkan Darius masuk ke dalam dan mengamati bagian dalam kantornya yang sepi. "Silakan duduk. Pilih saja tempat yang kau mau."
"Kau sendirian?"
"Ya."
"Kau tidak takut?"
"Untuk apa?"
"Ini cukup sepi. Seseorang bisa saja menyerangmu dari pintu masuk."
"Tidak ada siapa pun," balas Alicia dengan senyum manis. "Kecuali kau yang mengetuk pintu."
"Kau tidak perlu merasa cemas karena seseorang memata-mataimu, benar?"
"Ya." Iris hijau itu terlihat geli. "Dokter, jangan terlalu tegang. Santai saja. Aku sudah terbiasa dengan kelakuan mereka."
"Aku tidak tegang." Darius melepas ketegangan dengan erangan kecil. "Terima kasih untuk bingkisan makan siangnya."
"Sama-sama."
"Aku menyukainya."
Alicia mendongak dari kertas gambarnya. "Aku tahu. Kau makan seperti orang kelaparan tadi pagi."
Hanya dari sebaris kalimat biasa itu, Darius hampir salah tingkah.
"Apa kau terbiasa bekerja selarut ini?"
"Saat aku memulai bisnisku, aku tidak tidur berhari-hari. Semua sketsaku berantakan. Aku perlu berlibur cukup lama. Aku merasa setres dan tertekan. Tapi semua sepadan."
"Terlihat seperti pekerja keras."
"Tapi aku tidak sepertimu, pangeran." Alicia menyela dengan senyum. "Kau terlihat gemar membaca dan penyabar. Aku sama sekali tidak begitu. Satu-satunya buku yang pernah k****a hanya novel romantis dan resep masak."
Darius tersenyum. "Itu unik."
"Oh?" Alicia menaruh pensilnya. "Apa itu pujian?"
"Setiap orang punya selera, bukan? Itu seleramu."
"Benar. Aku akan melihat ke dapur dan mengecek apa ada sesuatu yang bisa kau makan." Alicia bangun dari tempat duduknya untuk memeriksa kulkas.
"Tanganmu terluka."
Alicia berbalik. Melihat ada botolan jus baru di kulkas. "Matamu cukup jeli," ujarnya sembari meringis. "Ini hanya luka kecil."
"Oke, luka kecil." Darius terlihat tidak percaya. "Kau terluka karena memotong kain atau memotong bahan makanan?"
"Menurutmu?"
"Bahan makanan," balas Darius datar.
"Tidak perlu berlebihan. Aku biasanya bisa memasak dengan setengah mengantuk." Alicia tersenyum, menyodorkan jus dingin pada Darius. "Masih ada dua. Aku satu, kau sisanya. Minum saja."
"Alicia."
"Ya?" Alicia belum benar-benar beranjak dari dapur saat Darius memanggilnya. Pria itu bahkan tidak mengalihkan tatapan darinya.
"Aku tertarik padamu."
"Hm, lalu?"
"Hanya itu," aku Darius datar. "Itu sama sekali tidak membuatmu terkesan?"
Keningnya berkerut dalam. "Aku tidak tahu. Tapi pangeran, kau belum cukup mengenalku. Rasa tertarik itu akan berakhir."
"Mungkin saja." Darius mengangkat bahu. "Aku pernah tertarik pada salah seorang gadis di kampus. Tapi tidak berlangsung lama."
"Yap. Akan memudar begitu waktu berjalan."
"Bagaimana jika tidak?"
Alicia berhenti melangkah. Menyadari percakapan yang berbalut perasaan akan membuatnya lelah. Namun ini Darius. Dan dia tidak mengetahui sisi lain dari pria misterius ini.
"Kita perlu menunggu untuk melihat hasilnya."
Darius menarik napas, membuangnya perlahan. "Kalau begitu, jangan lari dariku."
"Aku tidak bisa berteman denganmu."
"Kau takut?"
"Dokter," Alicia menyerah karena terdesak. "Ini bukan sesuatu yang ingin kubahas. Kau terkesan karena aku mengirimkan makan siang?"
"Ya. Lebih dari itu. Aku ingin mengenalmu."
Alicia menghela napas. "Asumsi itu cukup, bukan?"
Kepala Darius menggeleng. "Belum."
"Lantas?"
Alicia hanya tidak tahu bagaimana cara mengatasi serbuan perasaan yang tiba-tiba hadir. Saat Darius menunduk, memangkas jarak di antara mereka dan membuatnya terdorong sampai ke dinding. Dokter muda itu lebih tinggi darinya, lebih menjulang dan mendominasi. Sementara Alicia terlihat kerdil.
Ciuman itu kembali terjadi. Bersama perasaan yang lenyap dan timbul. Membuatnya berserah diri dengan rasa nyaman walau untuk sementara.