duabelas

1521 Kata
"Ini, makanlah." Alicia memeluk mantelnya semakin erat. "Terima kasih." Darius hanya mengangguk. Mengambil tempat di samping gadis itu dan menatap kebab miliknya. "Pertama kali datang?" "Ya. Kau?" "Kedua kali." "Yang pertama?" "Ibuku. Ibuku mengenalkan tempat ini dulu." Mata Alicia memindai sekitar yang tidak terlalu ramai. Lampu-lampu kuning di taman tampak temaram. "Apa selalu sesepi ini?" "Ramai saat matahari masih ada." Darius membalas setelah menelan potongan kebab baru. "Aku sudah lama tidak datang untuk duduk." "Keluargamu menyenangkan?" "Begitulah." "Karena keluarga kita berdua sama-sama pebisnis, aku mengerti betul penderitaanmu." Alicia tersenyum samar. Menarik selada dari isian kebab. "Kehidupan kita tidak jauh berbeda. Kau dituntut untuk beberapa hal yang sama seperti pendahulu." "Kupikir reputasi keluargaku tidak semengancam keluargamu," kata Darius datar. "Orang-orang selalu membahas tentang bisnis keluargamu." Alicia mendesah. "Apa yang orang bicarakan tentangmu?" Alis itu terangkat naik. "Paras dan bakat. Sikap misterius dan dingin, mungkin? Aku tidak tahu." "Kau terlihat seperti dongeng. Asumsi semua orang sependapat tentang kau yang baik hati dan dermawan. Apa itu benar?" "Kita tidak bisa menilai diri kita sendiri, bukan?" Darius bertanya sembari menatap Alicia. "Itu semua tergantung orang lain." Alicia mengangguk. Menyetujui pendapat tersebut. Hal yang menjadi alasan terbesarnya untuk tidak bersuara perihal apa pun. "Kau tidak terlalu senang membahas keluargamu." Darius berkata rendah. "Tapi pria di rumah sakit bercerita tentangmu." "Apa?" "Bisnis kotor." Darius membalas tanpa berpaling. "Perusahaanmu merekrut orang-orang yang mengalami krisis di ujung tanduk dan pailit. Untuk dijadikan ladang uang." "Begitulah cara kapitalisme bekerja." Alicia mengangkat bahu. Menatap Darius tanpa ekspresi berarti. "Bukan berarti kita melupakan soal mafia rumah sakit." "Kau benar. Tidak ada yang suci di dunia ini. Putih hanya simbol. Bahkan sekelas air yang bening pun, meninggalkan celah untuk kotor." "Aku menyukai karakter Hana. Dia seperti udara segar di keluarga kalian, bukan?" "Ya. Hana terlihat bersemangat." Darius menghela napas. "Keluarga terkadang mencemaskannya. Dia bisa saja sangat ceroboh dan kurang berhati-hati." "Selama tidak menimbulkan masalah, itu wajar. Remaja memang suka bertindak di luar batas." "Hana tumbuh di keluarga yang sehat dan mendukungnya. Dia akan baik-baik saja sama sepertiku dan Dannes," ujar Darius. "Ini sudah larut. Kau harus pulang." "Aku punya pistol di mobil." Darius tampak terperangah, tetapi tidak bicara apa pun selain menghela napas. "Apartemen mana tempatmu tinggal?" "Golden Rose Apartement." "Mengapa aku tidak terkejut?" Alicia tersenyum. "Aku beruntung karena apartemen itu dihuni hanya untuk kalangan berkelas. Tidak ada simpanan di sana. Para pejabat atau orang kaya lain mampu memendam aib mereka dengan baik." Darius meringis. "Mereka juga diberikan fasilitas mewah." "Para pria dan pride mereka." Alicia meneleng dengan jenaka. "Aku tidak terkejut. Lagi pula, mereka senang bersenang-senang." "Kesetiaan itu mahal," tukas Darius. "Aku belajar itu dari ayahku." "Ayahmu setia?" "Entahlah. Sejauh ini, ya. Ibu dan ayahku menikah karena saling mencintai." Darius menimpali dengan senyum. "Hubungan mereka pasang surut seperti pasangan pada umumnya. Tapi sejauh ini terlihat baik-baik saja. Di usia senja, apa yang mereka butuhkan selain kehadiran satu sama lain?" "Pangeran, aku tahu alasannya kenapa para gadis menggilaimu." Alicia mengalungi tasnya dengan geli. "Mereka hanya butuh melihat satu senyumanmu, dan akan bertekuk lutut selamanya. Kau mempesona!" Alicia berlebihan. Namun, kalimat itu berhasil membuatnya senang. *** "Ibu hanya ingin tahu jawabannya darimu. Kau sudah dewasa. Kau tumbuh melebih ekspetasi kami. Sebagai ibumu, aku percaya pada putraku sendiri." Tidak ada perempuan selembut dan sebaik ibunya. Darius kadang-kadang berpikir keras kalau ibunya hanya manusia tidak berdosa yang lahir ke dunia kejam ini. Keluarga sang ibu terpandang. Memiliki karier yang bagus sebelum menikah dan punya dua anak. "Aku melakukan kesalahan." "Kakak?" "Darius," tegur sang ibu dalam. "Duduk dulu. Kau tidak bisa menyela saat yang tua berbicara. Sini, di samping ibu." Darius menurut. Memindahkan dirinya sendiri untuk duduk dan mendengarkan Dannes bersuara. Darius yakin, teramat yakin, keluarga besarnya tahu hobi buruk Dannes yang gemar menghambur-hamburkan uang dengan cara lain. "Aku bertaruh di salah satu kasCecil termahal di kota ini. Letaknya ada di bawah tanah. Aku mendaftar untuk menjadi anggota." "Kasino milik siapa itu?" tanya ibunya cemas. "Alby." "Oh." Suara ibunya terdengar tertarik. Namun, wanita itu tetap diam untuk mendengarkan. "Teruskan ceritamu." "Aku bertaruh untuk satu juta dolar dan kalah." "Satu juta dolar?" Darius tidak bisa menahan rasa tercengangnya. "Dannes, kau gila atau apa?" "Alicia yang memenangkannya. Tentu saja gadis itu tidak bermain sendiri. Dia membayar orang lain untuk memenangkan pertaruhan. Aku baru menyadarinya. Alicia mencari celah untuk mengambil uang kami dengan cara lain. Bukan dengan cara biasa. Dia tidak pernah terlibat untuk berjudi secara langsung. Dia bertaruh dengan dirinya sendiri." Ibunya diam. Sama halnya dengan Darius yang ikut bungkam. "Kau melihatnya sendiri, Darius. Mau menelisik darimanapun, Alicia berbahaya. Kita tidak pernah tahu jalan pikirannya. Kita tidak pernah tahu tindakan yang dia ambil selagi merasa terancam. Perempuan itu benar-benar seperti sebutan orang lain." "Tenang dulu," kata ibunya menegur. Menepuk tangan sang anak di atas meja. "Kau merasa kalah karena keluarga itu mengambil uangmu. Tapi putraku, kau menyadari kalau kau siap dengan segala risiko dan konsekuensi?" "Ya, ibu." "Lantas, kau tidak punya alasan untuk terlihat kesal atau merasa kalah bersaing. Gadis itu juga memilih untuk bertaruh dan memenangkan keuntungan." Kali ini Dannes terdiam. "Kita semua hanya tahu tentangnya dari mulut orang lain. Alicia seperti ini, Alicia seperti itu, bahkan sampai hal terkecil yang hanya orang dalam tahu. Gosip itu menyebar begitu kejam. Dan lagi-lagi semua itu hanya bentuk asumsi, bukan?" Darius memarik napas panjang. "Hana bercerita kalau Alicia mentraktirnya di sebuah kafe sehabis pergi berbelanja di toko buku. Alicia banyak memberinya nasihat dan gambaran soal bisnis serta masa depan. Dia meminta Hana untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil tindakan atau pendapat saat situasi berubah rumit. Bukankah, itu sebuah kebaikan?" "Itu hanya kamuflase," sindir Dannes sinis. "Percuma saja. Alicia selalu terlihat buruk menurutmu, bukan?" Darius berkata dingin, menegur kakaknya tidak hanya melalui kalimat, tapi juga matanya. "Kau melihat dirinya yang angkuh di kasCecil tersebut dan membawa uangmu. Benar?" Dannes mendesah. "Ya." "Kalaupun dia kalah, dia sama sepertimu. Kehilangan uangnya. Itu karena faktor keberuntungan dan dia pintar mencari celah musuh. Kau seharusnya merubah taktik agar musuhmu tidak bisa membaca pergerakan tangan permainanmu." Darius memilih untuk bangun. "Dan mungkin memilih opsi terakhir. Untuk tidak pernah terlibat ke hobi kotor itu lagi demi keselamatanmu sendiri dan keluarga kita." Kening Dannes mengernyit. "Keluarga kita?" "Kau pasti mengerti." Lalu beranjak pergi dari sana secepatnya. *** Darius sama sekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap apa pun. Mengapa? Mengapa pengaruh perempuan itu sekeras ini padanya? Terlalu banyak mengapa yang tidak mendapatkan jawaban. Darius termenung. Diam-diam mengukir sesuatu di atas kertas kosong. Lalu tersentak, tersadar atas lamunannya sendiri. "Oh, hai." Darius mengerjap. Memandang perempuan berambut pirang yang tersenyum lembut ke arahnya. Itu Cecil Gloria, pemilik warna mata biru murni sekaligus sahabat terdekat Alicia. Kabar juga berembus cepat tentang keluarga wanita itu dianggap sebagai benalu yang beruntung karena menempel pada inang sehebat keluarga Grice. "Aku mengganggu waktumu?" "Tidak." Darius menggeleng. "Kau punya keluhan?" Cecil mendesah. "Sebenarnya tidak. Aku datang untuk menjenguk seseorang. Lagi pula, aku melihat namamu di depan pintu ruangan. Aku tiba-tiba masuk. Maaf. Itu terkesan tidak sopan." "Oke," ujar Darius ringan. Mengembalikan pulpen ke tempatnya. "Kau ingin bicara sesuatu?" "Tidak terlalu spesifik sebenarnya," tukas Cecil. "Aku hanya bertanya-tanya tentangmu. Alicia tidak pernah membahas hal pribadi termasuk teman kencan atau asmaranya padaku." "Benarkah?" "Aku bicara kebenaran," kata Cecil sembari meringis. "Alicia tertutup. Kalaupun ini berkaitan dengan masalah keluarga, dia juga memilih untuk bungkam." "Aku berharap kau dan keluargamu akan baik-baik saja. Di masa depan, sesuatu hal bisa saja terjadi." "Apa ini bentuk antisipasi?" "Teguran. Dokter, kalau kau tidak mau terbakar maka jangan mendekati api." Cecil mengambil napas. "Aku tahu ketertarikan di antara kalian. Alicia hanya tidak mau memikirkan hal tersebut dalam jangka panjang." "Dia punya trauma?" "Keluarga." Cecil mengangkat bahu. "Aku memberimu peringatan hanya agar kau tidak membuatnya kerepotan. Alicia cenderung pasif untuk berbagi percakapan tentang solusi. Dia tipikal pemikir keras." Darius mengangguk dengan kernyitan. "Ada lagi?" "Aku mendukungmu sebenarnya," pungkas Cecil dengan senyum. "Aku menyukai kepribadian misteriusmu. Kau sama seperti Alicia. Tembok gosip kalian terlalu menjulang. Asumsi-asumsi terhadap kalian berdua benar-benar terdengar melelahkan." Darius menghela napas. "Aku prihatin mendengarnya." "Aku sedikit melihat kemiripan kalian." Cecil memberi senyum. "Tidak terlalu sama, tapi sedikit serupa. Alicia orang yang baik. Orang-orang yang tidak berpikir begitu." Sementara Darius memilih untuk bungkam. Obrolan tentang Alicia hanya menyeret pada kenangan saat dirinya mencium gadis itu, mendorongnya rapat ke dinding. Darius terlalu minim atau tidak sama sekali paham tentang secuil pengalaman asmara. Dan mencium Alicia termasuk dorongan primitif yang tidak bisa ia kendalikan. "Kau melamun." Matanya bersirobok dengan mata biru Cecil yang cemerlang. Wanita itu memberi seringai miring, menepuk meja dengan semangat. "Alicia menetap di Tokyo cukup lama. Semoga itu bisa menjadi pembuka awal yang baik. Aku mencemaskan dirinya di luar negeri. Tapi karena sahabatku tangguh, aku percaya padanya." "Kalian terlihat dekat." "Memang. Tapi mau bagaimana lagi? Orang lain melihatku sebagai benalu," sela Cecil pahit. "Itu benar. Aku benalu. Keluargaku benalu. Kami semua takut miskin. Kau juga sama sepertiku, bukan? Takut melarat dan kehilangan segalanya yang sempat kau genggam." Darius hanya diam. "Yah, atau mungkin ini hanya aku saja." Cecil meringis dengan senyum masam. "Takut dengan kehidupan terlunta tanpa bisa berjuang. Memikirkannya saja membuat kepalaku sakit." Darius baru benar-benar bisa berpikir jernih saat Cecil berpamitan. Memutuskan cukup menilainya sebagai pria dari kacamata seorang perempuan, dan berjalan pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN