Pemuda itu bernama Rio. Usianya dua puluh dua tahun dengan segudang prestasi. Lahir dan tumbuh menjadi kebanggaan sang ibu. Gelar yang dia dapatkan membuat banyak orang kagum. Lahir tanpa marga. Seolah sesuatu berusaha disembunyikan.
Alicia merenung. Mengamati gambar demi gambar dalam diam. Bibirnya terkatup. Sorot matanya sama sekali tidak melunak kala menatap potret Rio balita sampai tumbuh besar. Tidak ada bedanya dengan potret dirinya di masa lampau.
Kau memiliki segalanya.
Tidak. Ia tidak punya segalanya.
Rio bekerja untuk sebuah perusahaan berbasis media. Kenalan Fabian yang mengantarnya sampai sana. Berdalih bahwa Rio keponakan hebat yang pantas memberi dedikasi terbaiknya untuk perusahaan tersebut.
Kebohongan manis yang diselimuti koneksi.
Pandangan Alicia turun pada potret Hana. Kemudian menarik napas panjang, menghelanya kasar. Hana terlihat begitu manis dengan gaun pendek dan memegang es krim yang hampir mencair. Lalu ada gambar Hana bersama ibu dan ayahnya. Terlihat sempurna.
Alicia meraih gelas anggur. Meminumnya sampai sisa terakhir. Melucuti semua gambar dalam diam. Dalam rasa sakit yang mencekik, tidak ada yang tersisa selain rasa marah dan terluka. Amarah terlanjur menguasainya terlalu dalam. Menginjak sampai tidak ada yang tertinggal.
Terlalu banyak.
Sampai matanya jatuh pada gambar seorang anak sedang memegang ketapel. Ada nama yang tertulis dengan spidol hitam di ujung gambar.
Alan.
Alicia mendesah. Meluruskan kedua kakinya pada meja. Memutar kursi dengan seulas senyum samar. Kedua matanya menatap langit ruangan. Meresapi remang yang menghiasi tempat dengan cahaya kekuningan temaram.
Aku ingin menjadi cahaya.
Impianku membebaskan semua orang.
Lalu pada satu nama yang melintas. Yang Alicia yakini akan menjadi sandungan terbesar. Sebesar rasa penasaran dan bagaimana dirinya merespon ketertarikan mereka. Sebelumnya, ia senang bermain-main. Tetapi Darius hadir sebagai bentuk pengecualian, untuk menentaskan rasa aman.
Alicia tidak lagi berlindung pada seseorang. Tidak Alby, tidak ibunya dan tidak Darius.
Namun terkadang, tragedi membuatnya goyah. Gemetar itu terlampau hebat. Menyaksikan darah, tangisan dan luka. Ia tidak bisa menyingkirkan bayangan yang perlahan merenggut setengah akal warasnya.
Atau semuanya.
Ia menunduk menatap lukanya sendiri. Bekas luka itu memudar dan tergantikan dengan lebam samar yang mencolok. Warna pekatnya terlalu kontras dengan warna kulitnya yang putih. Alicia bergeming. Ini bukan kali pertama kulitnya tergores warna kelam yang menyakitkan.
"Kau menyakitinya!"
"Aku tidak menyakitinya!"
"Dia berdarah! Kau lihat itu? Putrimu berdarah! Dia terluka!"
"Dia tidak menangis. Tidak ada suara. Dia masih hidup. Kau melihatnya sendiri. Dia menatap ke arahku, dia melihat ke arahmu! Dia masih hidup!"
Gelas anggur itu terbang bebas mengudara. Alicia tersentak mendengar bunyi pecahan yang menarik dirinya ke alam realita. Semua sudah terlambat. Ekor matanya melirik ketika gelas malang itu tidak lagi berbentuk utuh.
Sengatan panas berbaur sakit terlalu mencengkeram erat. Alicia bangun dari kursinya. Menunduk untuk membereskan sisa pecahan gelas tanpa suara. Mengadahkan tangan memindahkan sisa yang paling besar sebelum membersihkan serpihan terkecil.
Pukul tiga pagi dan dirinya masih terjaga. Malam bukan penghalang untuk membuat otaknya beristirahat.
Ini belum apa-apa.
Kemudian satu pesan suara muncul dari saluran telepon miliknya. Alicia bangun, mendengar suara sahabatnya yang serak.
"Alicia, ini aku. Untuk sementara, aku akan pergi ke suatu tempat sekaligus mencoba menenangkan diri. Kau tidak perlu cemas. Aku akan kembali. Ini tidak lama, hanya sebentar."
Dan ruangan kembali senyap.
***
Kebiasaan keluarganya jika ada di ruang makan adalah senyap. Terkecuali kumpul bersama keluarga besar. Yang terbiasa menabrak aturan hanya Hana. Remaja itu akan berceloteh banyak hal dan tidak bisa diam barang sebentar. Ruang makan yang penuh adab dan aturan akan melebur.
"Darius membuat kekacauan."
Ekspresi ibu dan ayahnya berubah. Saat Darius menengadah, menatap Dannes yang mengangkat alis, tidak bertanggung jawab setelah menaruh bom di atas meja.
"Darius apa?" ibunya terlihat tidak percaya. "Apa yang adikmu lakukan?"
"Menyembunyikan seseorang. Dia tahu kalau keluarga Alicia mengincar sosok tersebut dan membawanya lari. Paman Hanan memberitahuku."
"Darius?" kali ini ayahnya bersuara. Seolah mereka tidak lagi berselera menyantap sarapan. "Itu benar?"
"Alasan kau meminta ibu memasak sarapan dan berkumpul untuk ini?" tanya Darius dingin. Dannes bergeming, sama sekali tidak gentar.
"Aku tidak menyudutkanmu. Aku menyelamatkanmu. Ini yang perlu kulakukan untukmu dan keluarga kita."
"Aku tidak berbuat kesalahan." Darius berujar masam. Memandang sang kakak dan selintas melihat sang ibu menatapnya cemas. "Aku tidak membahayakan keluarga dalam bentuk apa pun."
"Ya, kau bisa melakukannya. Keluarga Alicia bisa melakukan apa saja yang mereka mau." Dannes bersungut dan ruang makan terasa lebih tegang.
"Dannes," ujar ibunya lirih. "Berhenti menyudutkan Darius. Mari kita dengarkan pendapatnya. Apa ibu mengajarimu menghakimi orang lain tanpa pertimbangan?"
Dannes meneleng. "Tidak."
"Kau bisa bicara," tukas Tommy datar. Atensinya berpusat pada si putra bungsu sekarang. "Kami perlu mendengar."
"Paman Hanan dekat dengan ayah Alicia, Fabian. Ini yang membuat keluarga Alicia mungkin menargetkan kita."
Darius bisa merasakan semua orang terkesiap kecuali dirinya. Ibunya terlihat menahan napas. "Awalnya aku menduga tidak sedekat itu. Tetapi ternyata mereka punya hubungan dekat yang tidak kita sangka. Aku membawa salah satu anak yang ayahnya menjadi bawahan keluarga Grice dalam menjalankan bisnis kotornya. Anak itu bernama Alan."
"Bisnis kotor?"
"Misi bunuh diri, mereka menyebutnya begitu." Darius menghela napas. "Alan terluka dalam satu insiden. Aku menyelamatkannya. Usianya baru delapan tahun."
Dannes mengambil napas panjang, mendengarkan secara seksama.
"Apa ini tentang penyelundupan narkoba atau pencucian uang?"
Kepala Darius menggeleng. "Aku tidak tahu pasti. Ini misi bunuh diri. Dan sampai sekarang, Alan menunggu ayahnya. Aku tidak mendapat kabar apa pun. Aku membawa Alan pergi. Pria itu tidak memintanya. Aku yang berniat membawanya pergi ke tempat yang lebih aman. Anak-anak tidak bersalah, kan?"
Ibunya memasang raut sedih. "Tidak. Anak-anak tidak bersalah. Usianya baru delapan tahun, ya Tuhan. Dia pasti terguncang."
"Yang tidak kau mengerti Darius, kalau keluarga besar itu memburu setiap penerus untuk memendam kebencian. Kau lupa bagaimana cara mendiang leluhur mereka bermain? Mereka tidak segan memburu keluarga kerajaan yang membelot dan membuat mereka hancur." Dannes bersuara dan Darius membisu. "Keluarga itu menginginkan reputasi yang bersih. Mereka memburu Alan untuk menghilangkan bukti semisal ayah Alan tewas dalam pekerjaan."
"Dannes," tegur ibunya lirih.
"Aku tidak bisa menerimanya. Kita tidak berbuat salah untuk menantang mereka. Darius bermain api, dan aku perlu memadamkan api itu secepatnya." Dannes berkata gusar dan suasana kembali mencekik.
"Fabian tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, kan?" tanya Tommy datar. "Aku perlu memastikan sesuatu agar Hanan tidak tercebur."
Darius mendesah. "Aku tidak tahu."
"Lindungi saja anak malang itu." Ibunya memberi nasihat dengan seulas senyum. "Kau menuruti kata hatimu sendiri dengan benar. Aku percaya Alicia tidak seburuk itu. Kau juga memikirkan hal yang sama dengan ibu, kan?"
Bibir Darius terkatup. Tetapi sorot matanya menunjukkan jelas jawaban ya.
***
Yang membanjiri pemandangan kedua matanya adalah anak-anak bermain dengan riang. Suara tawanya menembus sampai ke telinga Alicia. Sedang berdiri mematung, mengamati mereka dari depan mobil yang terparkir. Ada bagian-bagian kelompok baru yang memecah. Meski tidak ada pertengkaran. Beberapa sibuk menyendiri, beberapa lagi senang bermain. Usia mereka terlihat berbeda. Kontras dengan tinggi badan dan raut wajah yang perlahan berubah lebih tegas.
"Halo, selamat siang."
"Siang."
Alicia berlalu memapaki jalanan berbatu dengan alas sepatunya. Senyum terukir di bibirnya kala mematut penampilan seorang perempuan ramah dengan pakaian tertutup.
"Dengan siapa?"
"Samia." Ia berbohong.
"Ah, Nona Samia. Aku Kia, pengurus pondokan."
"Pondokan ini milikmu?"
"Ya, aku membawahi beberapa pekerja yang mengabdikan dedikasi mereka untuk mengurus anak-anak terlantar. Silakan mampir."
"Tentu."
Alicia tidak akan menolak usulan untuk masuk. Mengamati pondokan yang terbuat dari kayu dengan pandangan menilai intens. Kia duduk di ujung sofa, meminta Alicia ikut duduk dengan kesan ramah yang kental.
"Kami merawat anak-anak terlantar dan terbuang. Tidak semua yang berada di jalan kami rawat. Kebanyakan dari mereka menolak dan merasa nyaman."
"Berapa totalnya?"
"Keseluruhan mencapai seratus lima puluh dengan sepuluh pekerja."
Alicia menarik napas panjang. "Donatur?"
"Ah, donatur terbesar ada di keluarga Foster. Keluarga yang memiliki bisnis rumah sakit dan farmasi. Hampir semua keturunannya menjadi seorang dokter."
"Kau akrab dengan salah satunya?"
"Aku akrab dengan Nyonya Evelyn."
Ibu Darius.
"Yah, aku bisa melihatnya. Beberapa keluarga kaya memiliki saluran dana untuk dikembangkan ke beberapa yayasan karena mereka mendirikin badan amal." Alicia tersenyum. "Seberapa sering mereka datang?"
"Tidak terlalu. Mungkin Tuan Hanan sering mampir untuk melihat. Tapi sudah beberapa bulan belakangan tidak ada."
Kepala Alicia meneleng dengan kerutan. "Kepala yayasan Medical Center?"
"Ya, Tuan Hanan."
"Alan jangan berlari terlalu jauh."
Alicia berpaling mendengar nama seseorang disebut. Melihat bocah berperawakan kurus dengan perban mengitari taman bersama dua orang berusia lebih muda mengejar. Alan membawa mainan dan dua lagi tampak kegirangan berusaha merebut mainan itu darinya.
"Apa mereka saling akrab satu sama lain?"
"Kami mencoba membuat mereka berinteraksi seperti keluarga dan sahabat. Alan yang paling baru. Dia baru bergabung beberapa hari lalu."
"Dia terluka," ucap Alicia. "Di mana kalian menemukannya?"
"Kami tidak menemukannya." Kia menyahut pelan. "Dokter Darius yang membawanya datang. Alan baru saja kehilangan ayahnya. Kami mencoba menghiburnya dengan membuatnya merasa dicintai. Dia punya teman-teman baru di sini. Mereka cepat akrab dan senang berbagi mainan bersama."
Kia memandangnya hangat. "Aku melihatmu membawa mobil hitam itu. Apa kau datang untuk mengadopsi?"
"Bukan. Aku datang untuk memberi bantuan." Alicia berpaling, memberi Kia senyum manis. "Mungkin keluargaku tidak sekaya keluarga Foster yang melegenda. Tetapi aku punya tabungan untuk membantu anak-anak yang kau asuh agar mendapat fasilitas lebih layak."
Kia terlihat terharu. "Ya Tuhan, terima kasih banyak. Biar aku mencatatnya dalam pembukuan. Namamu Samia, benar?"
"Benar, Samia." Alicia mengangguk dan Kia mengulurkan tangan sebagai tanda formal. "Aku mungkin akan sering mampir. Melihat anak-anak seperti membebaskan diriku dari penjara."
Semula, Kia sama sekali tidak mengerti. Namun didasari ilmu mempelajari gestur tubuh orang lain sejak muda, Kia paham.
Sepasang manik hijau itu menggambarkan rasa kesepian yang mendalam.
***
Darius melihat gadis itu terburu-buru masuk setelah gerimis kecil menghantui langit lima menit yang lalu. Pintu kaca terdorong. Pelayan segera membantu dan Alicia berbicara singkat sebelum mata mereka bertemu.
Gadis itu segera berlalu. Bersama pelayan yang mengekori sembari membawa buku menu. "Apa saja. Karena aku lapar sekarang."
Darius menunjuk pada beberapa menu rekomendasi, dan pelayan itu berpamitan pergi. "Ini kesempatan yang bagus?"
"Ya."
"Kau dari kantor?"
"Ya, lalu pergi mencari Cecil."
"Dia pergi?"
"Tiba-tiba. Aku hanya cemas," kata Alicia masam. "Dia berjanji hanya sebentar dan akan kembali."
"Semoga dia baik-baik saja."
"Kuharap." Alicia melepas mantelnya dan duduk bersandar. Mengamati restoran yang senggang dengan iringan orkestra datang dari radio usang. "Ini tampak seperti restoran lama. Bangunannya seolah banyak mendapat renovasi."
"Dulu ini milik keluarga ibuku. Cukup lama sekali. Sebelumnya beroperasi sebagai industri rumahan biasa." Darius membalas dan Alicia mendengarkan. "Bisnis yang sempat naik turun sebelum bangkrut."
"Aku mengerti."
"Keluargamu pernah mengalaminya?"
Sepasang iris teduh itu balas menatapnya. Alicia memberi senyum, memainkan tisu di atas meja. "Pernah. Setiap orang memulai bisnis dengan cara halus sampai kasar. Leluhurku mengalaminya. Mereka bahkan tidak peduli dengan darah sekalipun selama tujuan mendapat keuntungan ada di depan mata."
"Kita sama."
"Ya." Alicia mendesah. "Karena sudah terbiasa dengan cara kotor, mendapatkan sesuatu dengan cara sederhana membuat kita terlihat asing."
Minuman mereka hadir. Bersama makanan pembuka dan hidangan utama. Alicia perlu es krim untuk membuatnya tetap rileks sebagai hidangan penutup.
"Jika Alby mundur, aku yang memegang perusahaan."
Darius mengangkat matanya dari mangkuk ramen di atas meja. "Kau memiliki bisnismu sendiri."
"Itu tidak penting lagi. Perusahaan harus berada di tangan penerus asli. Yah, ibuku selalu bilang begitu." Alicia mengendik. "Tapi Alby sanggup melakukan segalanya. Dia berambisi. Dia bisa memegang kendali."
"Dia yang selama ini mengawasimu?"
"Ya. Dia dan ibuku," aku Alicia muram. "Semata-mata untuk melindungiku. Bukan karena hal lain."
Dan Darius hanya teringat kalimat Fabian sebelumnya. Yang mengatakan Alicia sumber kekacauan, sumber dari segala masalah yang ada. Gadis itu membenarkan reputasinya selama ini.
"Kau melamun."
Darius terdiam sebelum menghela napas. "Ayahmu dan pamanku bersahabat dekat. Kau tahu?"
"Ya. Ayah Hana. Benar?" Alicia mengangguk. "Mereka teman lama."
"Aku tidak terlalu mengenal ayahmu. Apa dia orang baik?"
"Apa manusia terlahir untuk menjadi baik?" tanya Alicia datar. "Kau bisa menilainya sendiri. Selama pamanmu tidak melenceng dari garis yang seharusnya, pengaruh itu tidak punya efek samping."
"Keluargaku mencemaskannya."
Alicia meminum ocha dari gelas. "Sebaiknya begitu. Kau perlu mengenal siapa lawanmu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."
"Uh, makanan ini enak. Kau punya selera luar biasa." Alicia menambahkan dengan seringai puas saat menyantap senang makan siangnya. "Aku bisa membawa Mama kemari untuk makan. Dia pecinta kuliner dan rela menghabiskan banyak uang demi memanjakan lidah."
Darius tersenyum. "Ibuku tidak pernah salah dalam memberi rekomendasi. Dia pengamat yang handal."
***
"Putriku tidak mungkin melakukannya."
Emily menggeleng tegas. Gagasan tuduhan Alicia membunuh mata-mata yang selama ini menguntitnya membuat perasaannya berubah tidak nyaman. Alicia memang mengeluh, tetapi selama bertahun-tahun dirinya tidak pernah berbuat lebih untuk menghindari mereka. Jalan terbaik untuk sang ibu mengawasi adalah dengan mengirimkan seseorang.
"Dia tidak hanya membunuh orang suruhanmu, bibi. Dia juga membunuh orang suruhanku. Semua adil. Kematian mereka mengenaskan. Alicia mencoba menusuk kita setelah semua ini. Dia mencari pilihannya sendiri."
Emily mendesah. Sesaat Lena bergeming, memandang sang anak dan adiknya bergantian. "Kapan terakhir kali mereka memberi kabar?"
"Siang ini. Saat Alicia dan Darius pergi makan siang bersama. Alicia pergi ke suatu tempat. Sepertinya dia pergi ke pemakaman. Aku tidak tahu alasannya pergi ke sana," ujar Emily getir. "Dia sering ke pemakaman untuk alasan lain. Bukan makam leluhur kita. Makam orang lain. Pemakaman umum."
Alby menarik napas. "Kita bisa memastikan Alicia memang sering pergi ke sana. Aku tidak mencurigai Alicia menemui siapa pun selain pemakaman dan kantornya."
Lena mengangguk muram.
"Apa ini pekerjaan Darius?"
Kedua mata Emily melebar, tercengang. "Bocah itu tidak mungkin melakukannya. Aku berani menjaminnya."
"Dengarkan dia, Alby." Lena menatap sang anak. "Darius tidak akan seberani itu melawanmu. Ini Alicia, dengan marga yang sama denganmu. Dia melindungi keluarganya sebaik mungkin. Serupa dengan Dannes, benar?"
Alby menaruh dokumen di atas meja dalam diam. Melipat tangan di d**a, memilih untuk memandang lurus pada pemandangan malam Tokyo yang gemerlap.
"Kau menyetujui Alicia dengan dokter muda itu, Emily?"
"Aku tidak punya pilihan," balas Emily datar. "Yang terbaik untuk Alicia, akan kulakukan. Lagi pula, pernikahan antar sepupu ini tidak akan berjalan benar. Alicia akan melakukan berbagai cara untuk menghancurkannya."
Lena mengangguk. Bibirnya terkunci rapat dan tidak lagi bersuara.
"Kalau kita membuat asumsi, ini bukan hanya tentang Alicia. Aku curiga Fabian menarik perhatiannya dengan membuat Alicia merasa bebas dan tidak terkekang oleh kita."
Lena bersuara setelah lama jeda. Merebut atensi Alby yang fokus memandang lampu gedung di malam hari. Sorot matanya yang tajam memicing.
"Kita akan membutuhkan banyak bukti. Kalau benar Fabian, ini tidak perlu memakan waktu lama."
Semua orang terdengar setuju. Ketika Alby duduk, menghubungi seseorang dari ponselnya dan Emily bergeming. Lena menatap sang adik dengan pandangan penuh tanya, mata mereka bertemu, Emily menggeleng pelan.
"Kau mencemaskan Alicia?"
"Selalu."
"Bayimu sudah besar. Tidak ada bedanya dengan bayiku. Alby sudah besar. Dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita tidak punya banyak pilihan untuk menahan mereka lebih lama."
Ucapan Lena benar. Kakaknya punya kesimpulan yang bagus. Memandang dunia sesuai kacamatanya. Sementara Emily masih bergelung dalam dunia kelamnya sendiri. Dunia yang kerap membuat Alicia hancur dan sedih. Putrinya tertekan, itu disebabkan olehnya. Emily seharusnya sadar hal itu sejak lama.
"Aku akan mencoba bicara dengan Alicia besok. Dia akan buka sesuai jam. Aku akan mendatangi kantornya. Kami perlu bicara."
"Kau bisa memanfaatkan Cecil," sahut Lena datar. "Ke mana dia?"
Bahu Alby terangkat. "Dia pergi untuk urusan lain."
"Pekerjaan?"
"Aku tidak tahu. Mungkin Alicia tahu," ujar Alby. "Kebetulan yang aneh, bukan?"
Baik Lena maupun Emily sama-sama terdiam.
***
Alicia menanti tanpa rasa cemas. Aroma anggur memenuhi ruangan dengan semerbak mengikat yang menawarkan candu. Sudut bibirnya terangkat naik. Memikirkan kepuasan yang membuat adrenalinnya semakin terpacu.
Kerang basah dengan saus membuat perutnya lapar. Ia hanya makan bersama Darius dan selepasnya menyibukkan diri. Sebelum berhenti di sini untuk duduk, dengan santai menunggu seseorang sampai tiba.
Mantelnya tersampir pada sisa kursi yang kosong. Alicia mencicipi kerang basah dengan garpu kecil. Merasakan rasa saus yang kental berpadu dengan kesegaran kerang rebus berbumbu. Rasanya luar biasa. Anggur menjadi penambah daya pikat yang mengagumkan. Lidahnya dimanjakan.
Dan tidak semua orang sanggup membayar mahal untuk kesenangan ini.
Ia hanya beruntung karena pemiliki restoran mengenal baik siapa dirinya. Alicia diberi privasi yang cukup di lantai dua. Membiarkan dirinya sendiri, dilayani dengan sepenuh hati.
"Silakan."
Seseorang baru saja membuka pintu. Sudut bibirnya melengkung naik membentuk seringai kala mematut penampilan kalem dari seorang laki-laki yang dengan cemas menundukkan kepala. Tidak berani menatap matanya.
"Santai saja."
Dia berjengit setelah mendengar suara super tenang itu mengusik. Alicia mengamati ekspresi kacaunya. Pucat itu terlalu kentar dan membuatnya meringis. "Aku datang," cicitnya.
"Ya. Kau layak diberi apresiasi."
Sorot matanya berubah linglung. "Aku tidak buruh apresiasi apa pun. Aku hanya punya permintaan."
"Sssh, tidak ada permintaan," ucap Alicia dingin. "Kau tidak dalam kapasitas bisa menawari permintaan dan aku mengabulkan. Ingat? Kita ini simbiosis. Mutualisme. Bukan parasitisme."
"Aku tahu kau cerdas. Seseorang hanya perlu memberi perintah tanpa perlu mengotori tangannya sendiri. Aku melakukannya bertahun-tahun," tambah Alicia ramah, menuang anggur ke gelas baru untuk si tamu. "Rasanya menyenangkan. Walau aku lebih senang merasakannya sendiri. Ada kepuasan yang lahir dalam diri ini."
"Bisa aku tanya sesuatu?" tanyanya dengan gemetar. Sebelum memulai, diliputi keraguan dan kecemasan. "Aku membutuhkan jawaban."
"Ya, kau bisa bertanya."
"Apa kau berniat menghancurkan keluargaku?"
"Tidak."
Kedua mata itu melebar. "Tidak?"
"Aku mencoba menghancurkan dunia. Manusia yang bersarang di dalamnya. Bumi terlalu besar, terlalu luas. Kita hanya bagaikan kawanan semut yang berbondong-bondong pindah untuk mencari kehidupan baru di tempat lain."
Pucat menjalari anak malang itu. Alicia mendesis, memamerkan senyum ramahnya saat mendorong sepiring kerang berbumbu. "Coba itu. Kerangnya segar dan asin. Aku menyukai bagaimana mereka membuat rasa kerangnya luar biasa," ucapnya dengan ceria.
"Keluarga adidaya sepertimu ... bisa melakukan apa saja."
"Memang."
"Keluargamu ditakuti. Banyak orang takut pada kekuasaanmu, kekuasaan keluargamu."
"Hm, kerangnya enak sekali." Alicia mengunyah tanpa peduli kedua tangan lelaki itu bergetar. "Kau yakin tidak mau mencicipinya?"
"Aku tidak lapar."
"Oke." Alicia kembali mengunyah. Kali ini benar-benar terlihat sangat menikmati.
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Kebebasan."
Alicia tanpa ragu membalas. Menyusuri jemarinya yang basah karena bumbu dengan tisu. Meminum anggur dengan lirikan dingin. "Kebebasan. Kemenangan. Kepuasan."
Ekspresi lelaki itu tampak muram serta cemas. Kedua tangannya terjalin di atas meja. Bibirnya mengatup, seolah suara tidak lagi bisa keluar barang sedikit saja.
"Kau masih muda. Tidak akan paham arti kebebasan sebenarnya," tukas Alicia dengan senyum dingin. "Kebebasan yang membuat dirimu seperti melayang tanpa beban. Aku mencari itu sejak aku muda. Sejak aku menatap gumpalan seperti kapas itu di langit."
Mata mereka bertemu satu sama lain. Dan Alicia merasa dirinya tidak perlu bersusah-payah memasang tameng apa pun.
"Aku juga mencari kebebasan."
Alicia diam. Sebuah dengusan meluncur bebas. Sama halnya dengan tatapannya yang deras menelisik, membuat si objek merasa tidak nyaman. Merasa terintimidasi, merasa tertekan, merasa tersudut dan siap dimangsa.
"Kau ingin bekerja sama?"
Sebuah tawaran menggiurkan. Namun sayangnya, Alicia tidak akan menerima jawaban itu dalam hitungan detik.
"Aku ragu padamu."
"Yah, baiklah. Aku tidak memaksa. Kau punya waktu untuk memikirkannya. Ini jelas akan berefek padamu dan keluargamu."
Lalu hening.
Alicia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Memberikan sebuah amplop putih cukup tebal pada laki-laki di depannya. Yang mematung mendapatkan imbalan besar dari hasil kerja kerasnya selama beberapa jam.
"Ini apa?"
"Uang. Kau perlu bersenang-senang," ujar Alicia dengan senyum tipis. "Ayahmu yang murah hati tidak akan pernah memberikan uang sebanyak ini, bukan?"
Alicia bisa melihat bibir itu berubah kaku. Sinar matanya berubah ketika mencoba mengintip jauh ke dalam amplop yang sedikit menganga di ujungnya.
"Itu bukan uang yang sedikit."
"Setimpal dengan pekerjaanmu, Rio. Terimalah. Ini imbalannya."
Rio memandang ragu. Tetapi bias mata Alicia menggambarkan kemurahan hati penuh makna. Yang membuatnya dilanda ragu, dilandasi kecemasan. Tetapi tidak punya kesempatan untuk menolaknya.
Rio mengambilnya.
Dan Alicia memberi seulas senyum ringan.