dualima

1563 Kata
Wanita itu menggeram. Mengerang pendek dengan desahan keras yang perlahan memudar. Kelopak matanya terpejam, mencoba mencari sisa tenaga yang terkuras. Sementara keadaan ranjang tidak baik-baik saja. Tidak setelah yang mereka lakukan terlalu kasar, terlalu berhasrat, terlalu penuh gairah. "Dengan menjual tubuhmu, kau berusaha melindungi Alicia, benar?" "Benar." "Kau pikir aku tertarik?" "Kau melakukannya," sahutnya pelan. Menutup separuh wajah dengan lengan. "Kau membuang seluruhnya di dalam." Sorot mata pria itu seperti kail, memicing sinis terarah padanya. "Aku memintamu meminum pil, bukan? Kalau kau hamil, aku tidak akan bertanggung jawab." "Ya, benar." Seolah suaranya terkuras habis. Tidak ada lagi yang tersisa selain rasa sakit dan kosong. "Kalaupun aku mengandung, kau tidak akan tahu." "Aku tidak ingin tahu." Wanita itu bangun. Mencoba meluruskan kaki dan punggungnya yang kaku. Yang tersisa hanya ruam merah bekas percintaan panas mereka. Melirik si pria yang terburu-buru memakai celana dan bertelanjang d**a. "Alicia layak bahagia." "Kau benar. Tapi tidak dengan pria itu." "Darius pria baik," lirihnya tertatih mengambil celana dan bra. "Mereka baik-baik saja kalau hubungan ini berlanjut." "Aku perlu melindunginya." "Karena kau mencintainya?" Si pria mendengus sinis. "Kau tidak perlu bertanya soal cinta di sini, padaku, sekarang." Wanita itu menyusuri jejak rambutnya yang kusut. Sorot matanya terlihat hampa. Tidak ada tanda kehidupan yang tertinggal. Jemarinya menyisir rambut yang tergerai, mencoba mengurai. "Benar. Untuk apa aku bertanya," katanya pelan. Tidak lagi peduli pada ketelanjangan dirinya yang membuat pria itu kembali berhasrat. "Aku tidak punya hak. b***k selamanya tetap budak." Si pria bergeming. Yang membuat getir pada tubuh wanita itu mengencang. "Mengapa kau masih menemuinya?" Kedua matanya melebar. "Siapa?" "Kau pikir aku bisa dibodohi?" "Aku tidak mengerti," suaranya tercekat. "Itu sama sekali bukan urusanmu." Ekspresi keras itu seolah menampar telak dirinya. Wanita itu bangun dari ranjang. Dengan lunglai mencari sesuatu dari tasnya, merogoh dengan cepat lalu menemukan barang yang ia cari. "Kau tidak bisa meminumnya. Tidak sekarang." Cengkeraman tangan itu mengerat. Suara rintihan pelan terdengar dan si pria seakan enggan melepaskan. "Aku membutuhkannya." "Kau tidak bisa melakukannya." "Aku membutuhkannya," manik matanya meredup. Dirinya tidak punya kekuatan lagi untuk melawan. Untuk memberontak atau sekadar berdebat. "Sekarang. Kau perlu melepaskan tanganku." "Kalau aku tidak mau?" Jeda dan tarikan napas panjang setelahnya. "Pria keras kepala," sungutnya. "Aku tidak mau kau mati," katanya dengan geraman. "Tidak sekarang. Aku masih membutuhkanmu." Sebagai pelampiasan, sebagai b***k, sebagai segala-galanya yang bersifat menyakitkan. "Alby, hentikan." "Aku tidak bisa membuat Alicia takluk. Dan sekarang, aku perlu membuatnya menurut. Denganmu, dengan menyanderamu. Sepupu keras kepala itu perlu diberi pelajaran." Tubuhnya menggigil. Yang tersisa hanya rasa sakit dan putus asa. Kelopak matanya terpejam. Saat mencium aroma jantan yang menusuk hidungnya tanpa ampun. "Kenapa kau memakai baju?" suara pria itu terdengar serak. "Aku belum selesai denganmu." "Aku sudah." "Kau tidak ingin merasakannya sekali lagi? Merasakanku? Merasakan aku mengklaim dirimu?" "Tidak." Si pria mendesis dengan seringai. Sebelum kepalanya menunduk, menghadiahi si wanita dengan ciuman panjang. Dengan lumatan penuh hasrat dan membuat segalanya menjadi pekat. "Tetapi Cecil, aku masih jauh dari kata selesai." *** "Kau akan menginap?" "Tidak." "Ini sudah larut. Mama akan memaksamu tetap tinggal." "Aku punya urusan," kata Alicia pelan. Berbalik menghadap sang ibu. "Dan belum selesai." "Ini tentang Lasima?" tanya ibunya. "Lena memberitahu kalau dia mencoba mencari bantuan." "Apa yang dia tawarkan?" Bahu sang ibu terangkat. "Nyawa putrinya. Asal tidak dengan reputasi dan hartanya." Alicia mendesah. Kembali memandang permukaan kolam yang tenang. Warna birunya begitu damai, membuat perasaannya perlahan larut. "Itu ajaran ibunya. Tetapi dia mengambil risiko sebesar itu? Apa ini sebagai bentuk hukuman?" Alicia menghampiri sang ibu yang duduk melipat kaki di sofa, menatap lurus pada barisan lampu bundar taman yang menyala. "Yah, Lasima menjilat ludahnya sendiri. Dia berharap bisa meminang pria kaya melebihi suaminya. Toh, putrinya salah jalur." "Mama punya kesempatan untuk mempermalukannya." "Haruskah?" sang ibu memberi seringai. "Aku masih sakit hati karena dia berusaha menghancurkan reputasimu. Dia penjilat yang baik. Sekarang, dia bermain-main dan mencoba menarik simpati." "Alby berniat membantunya?" "Entahlah. Lena tidak tahu," aku Emily masam. "Alby tidak akan memberi jawaban sampai dia tahu segalanya. Tidak sama seperti saat kalian menyelamatkan keluarga Gloria dari pailit." Alicia bungkam. "Aku kasihan pada Cecil. Semua orang bicara buruk tentangnya. Dia anak yang baik. Aku tidak pernah melihatnya membantah atau melawan orang tua. Meski kadang mereka suka berbuat seenaknya." "Dia merasa berutang karena itu," ujar Alicia datar. "Aku memintanya untuk melanjutkan hidup. Sampai kapan pun keluarga itu tidak akan bisa membayar kita." Emily menarik napas panjang. "Tidak semua keluarga hidup dalam dongeng. Kau tidak sendirian. Aku mencoba membesarkanmu dengan pengalaman minim." "Kau berhasil melakukannya." "Ya, dan aku bangga karena itu." Senyum ibunya terpatri tulus. "Saat aku melihatmu tampil di koran dan televisi karena sukses dengan bisnismu, aku sangat bangga. Ingin menjerit dan meminta dunia memerhatikanmu. Kau luar biasa. Putriku berbakat." "Nah, Alicia. Apa impianmu?" "Membebaskanmu." Ibunya membeku. "Aku tidak dipenjara." "Tidak. Tapi aku merasa begitu," sela Alicia muram. "Aku ingin menjadi cahaya. Sama seperti Mama." Ada rasa sakit yang mengganjal saat dirinya bersuara. Alicia hanya tidak mencoba menjadi lemah. Ia berusaha tangguh, berusaha kuat. Berusaha segala-galanya. "Mama punya kesempatan untuk melenyapkanku. Untuk membuatku tidak hidup dan membuka mata demi mengenali dunia. Agar aku bisa melihat langit. Bisa melihat pelangi dan matahari. Tapi kau tidak melakukannya. Mama tidak melakukannya padaku." Alicia menarik napas. "Impianku sudah tercapai. Tekadku hanya satu, membebaskanmu. Membebaskan diriku sendiri, membebaskan Cecil dan Alby. Semuanya." "Alicia." "Aku ingat saat aku datang ke pesta setelah mendarat di kota ini. Semua orang bicara tentangku. Semuanya. Terkecuali satu orang. Yang satu-satunya mau memandangku tanpa cela. Dia tidak peduli pada asumsi, tidak membenarkan gosip yang berembus. Dia tidak peduli." Suasana hanya berubah saat dirinya mencoba menggali lebih dalam isi hatinya. "Dia mungkin terlalu baik untukku. Setelah segalanya, aku tidak pantas mendapatkannya. Aku cukup menempatkan diriku sebagaimana mestinya." Ibunya mengulurkan tangan. Meremas tangan sang anak dengan sepenuh hati. Sebelum seseorang menyela mereka, bersikap santun dengan membawa nampan berisi air putih dan obat. Alicia membuang wajahnya. Tidak lagi mau bersuara. *** "Kita akan bersama selamanya. Sampai mati, sampai rambutku memutih. Kematian bukan satu-satunya jalan." Si wanita berkaca-kaca. Terlihat terharu dengan bibir bergetar. Menatap sepasang mata teduh yang menghangatkan relung hatinya. "Aku mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu." Tidak ada pelukan. Tetapi kepala wanita itu bersandar pada bahu si pria. Dengan tangan mereka terjalin satu sama lain. Seolah menguatkan, seolah saling mengisi. Tidak ada kesempurnaan. Yang ada hanya rasa cinta, saling melengkapi, saling membutuhkan. Alicia mundur. Memilih menyembunyikan segalanya dalam kegelapan yang memekat. Saat dirinya berjalan, menembus malam yang sepi dan sebuah mobil melintas. Hampir mengenai dirinya. Nyaris membuat tubuhnya terlempar jika terlalu kencang. Alicia berhenti melangkah. Sebelum beberapa menit menyesatkan, mata mereka bertemu. Si lelaki terlihat bingung sekaligus terperangah. "Alicia?" "Selamat malam." Dengan berani membuka pintu, memastikan dirinya baik-baik saja. Alicia hanya tidak mau terlihat, tidak mau tersentuh. "Ah, kau baru pulang?" "Kau bertemu ayah?" "Hem, tidak. Dia sedang sibuk." Alicia menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku mantel. "Aku tidak berniat mengusik momen penuh cinta ibu dan ayahmu." Si lelaki membeku. Ekspresinya keras dan pucat. "Kalau kau berniat bertamu, tidak apa. Kami tidak akan menolakmu." "Kau baik sekali." Mimik takut itu belum berubah. Alicia tidak mengerti mengapa si lelaki gemetar menatapnya. "Aku bisa memberitahunya kalau kau datang. Kita bisa—," "Ah, sayang sekali. Aku harus pulang. Aku bekerja. Sama sepertimu, kan?" Alicia mendesah. "Tidur larut hanya membuat kepalaku sakit." "Kenapa kau gemetar?" "Aku hanya cemas," akunya jujur. Warna bola matanya mengingatkan Alicia pada sang ayah. "Kita bisa bicara baik-baik. Aku tidak ingin ada pertengkaran." "Begitu pula aku." Alicia mundur. Bergeser dari lampu sorot mobil sampai si lelaki bernapas lega. "Kau boleh pulang. Ayah dan ibumu cemas menunggu." "Aku akan memberitahunya." "Terserah. Berkat kau, aku lupa ingin bicara sesuatu. Yah, lain kali saja." Senyum ramahnya timbul sekali lagi sebelum berjalan pergi. Menyusuri aspal yang dingin dan suara gemetar itu memecah sepi. "Jangan sakiti siapa pun, tolong. Kalau kau membenci keluargaku, kau hanya perlu menyakitiku." "Aku berniat melakukannya," ujar Alicia datar. Berbalik tanpa senyum. "Kau menawarkan diri dan aku tidak segan menolaknya." Air muka itu berubah jauh lebih pucat. "Kau ingin kebebasan? Sama halnya denganku. Kau ingin membebaskan mereka? Begitu pula aku. Yah, Rio, apa bedanya kau denganku?" "Aku tidak seberuntung dirimu," suaranya terbata-bata. "Kau memiliki segalanya." "Aku tidak punya keluarga yang utuh sama sepertimu," sahut Alicia datar. "Kau tidak perlu menaruh rasa iri itu terhadapku. Itu tidak adil. Tidak masuk akal." "Dia ayah yang baik. Kalau kau bicara, semua akan terselesaikan. Kita akan mencari solusi. Dia juga menyayangimu. Sama seperti dia menyayangiku. Kasih sayangnya setimpal, sama besarnya dengan kita berdua." Alicia mendongak, memandang langit yang gelap dengan senyum tipis. "Mengapa aku tidak merasa begitu? Kalau yang kau bicarakan hanya sekadar bualan, itu tidak mempan padaku. Aku tidak hidup di negeri dongeng. Ini realita." "Kita hanya perlu bicara." "Yep. Lain kali." Alicia menoleh dengan senyum. Sebelah tangannya terangkat untuk melambai ringan. "Bye, Rio. Hati-hati di jalan. Ayahmu akan sangat cemas jika tahu putranya berdarah." "Alicia." Ia hanya benar-benar tidak lagi mau menoleh ke belakang. Alicia menarik napas, membiarkan tubuhnya menjauh dari sana tanpa suara. Pikirannya kosong. Begitu pula dengan sorot matanya yang meredup. Tidak ada air mata. Itu sudah berakhir. Selesai. Air mata itu telah habis, terkuras bersih. Alicia hanya perlu maju, menantang dunia, dan membuat dirinya keluar sebagai pemenang. Kebebasan. Ia butuh kebebasan. Ibunya, sahabatnya, Alby, bibinya, dan Darius. Semua membutuhkan kebebasan. Alicia menunduk. Meresapi jalanan yang sepi tanpa suara dan merentangkan tangan. Seolah angin bergantian datang untuk mendekapnya. Kemudian samar-samar tersenyum, dan tertawa lirih. Ia benar-benar sudah gila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN