Darius termenung. Mengamati pemandangan kota di malam hari dari unit kamar apartemennya benar-benar memanjakan mata. Ia tidak akan menemukan pemandangan dengan lampu menyala dan suasana hidup saat berada di rumah. Apartemen ini menawarkan kehidupan baru yang lebih padat.
Belnya berbunyi. Sepantasnya tidak ada yang bertamu di malam hari. Angka menunjukkan pukul sepuluh malam. Tokyo masih hidup, tetapi manusianya memilih untuk memulihkan diri untuk mempersiapkan hari esok.
Alicia ada di sana. Tampil dengan terusan piyama polos dan membawakan bungkusan makanan. Senyum gadis itu membawanya pada debaran baru yang menyenangkan. "Well, selamat malam, dokter. Aku bertaruh kau belum tidur."
Darius bernapas berat dari mulutnya. "Belum. Kau ingin masuk?"
"Aku berencana mampir dan melihat kamar apartemenmu." Alicia masuk, menaruh bungkusan roti di atas meja dan berdecak kagum. "Aku baru pulang dari rumah sakit, membeli roti, dan mampir."
"Rumah sakit?"
"Ya. Untuk suatu urusan."
Alis Darius yang rapi terangkat. "Dan, urusan apa itu?"
"Memeriksa lukaku," kata Alicia letih. "Jadwalku padat hari ini. Aku baru bisa memeriksakannya di malam hari. Karena rumah sakit selalu melayani dua puluh empat jam. Sedikit berharap kalau kau yang ada di sana."
Darius mendesah. "Aku sudah kembali."
"Ya, tapi bukan masalah." Alicia duduk di sofa, menikmati rasa sofa yang lembut dan nyaman. "Ini bagian terbaik. Oh, aku membelikan roti dari toko favorit ibuku. Dulu hanya buka selama dua belas jam. Sekarang dua puluh empat jam dan menjadi toko favorit banyak orang."
Sudut bibirnya tertarik untuk tersenyum. "Kenapa harus membelikan ini?"
"Aku hanya bersikap ramah pada tetangga baru," aku Alicia dengan cengiran. "Kau merubah unit kamarmu seperti rumahmu sendiri. Tipikal yang monoton? Kau mencintai warna monokrom lebih besar rupanya."
"Ya, sebagian besar." Darius beralih pergi ke dapur. Memberi Alicia sisa kue yang ibunya buat bersama segelas jus jeruk dingin alih-alih soda kaleng. "Itu buatan ibuku."
"Ibumu pintar memasak?"
"Selepas menikah banyak mengikuti kelas memasak. Dia berbakat. Memastikan aku dan kakakku mendapat gizi yang seimbang. Dia masih rajin membuat bekal untuk ayahku bekerja."
"Romantis," kata Alicia riang. Mencicipi rasa kue itu dan memekik. "Oh, ini enak. Padahal sudah dingin."
"Terlalu manis?"
Kepala itu menggeleng. "Pas."
"Aku tidak terlalu suka manis," sela Darius memandang Alicia yang antusias terhadap kuenya. Itu membuatnya senang dan merasa sang ibu layak mendapat apresiasi lebih. "Ibu membuatnya sempurna tanpa harus membiarkanku memuntahkannya."
"Kau bukan tipikal rewel dan memakan semua makanan walau rasanya hancur sekalipun, kan?" Alicia tersenyum geli. "Aku tidak berbohong. Ini luar biasa."
"Habiskan saja."
Alicia mengangguk.
"Aku sebenarnya tidak ingin berbohong. Tapi siang tadi, aku dan pamanku makan siang bersama ayahmu."
Alicia diam. Genggaman pada sendok mengendur ketika matanya melirik. "Oh, benarkah? Dia memintamu makan siang bersama?"
"Bukan dia, tapi pamanku. Aku belum pernah terlibat percakapan dengan ayahmu sebelum ini. Tadi yang pertama kali."
Darius mengamatinya. Mengamati ekspresi Alicia yang belum berubah saat topik sensitif itu kembali menyinggungnya. Alicia diam. Hanya memainkan sendok dan berpaling ke arahnya. Memberi seulas senyum samar.
"Kau tidak perlu takut," ungkap Alicia pelan. "Bukan kejahatan karena berbincang dengan Fabian."
"Aku punya firasat buruk," ujar Darius dingin.
"Semua akan baik-baik saja." Alicia membalas dengan mengulurkan tangan, mengusap pipi sang dokter yang pucat, lalu kembali makan. "Setidaknya kau memberi izin untukku menyantap kue ini dulu, bukan?"
Darius mengangguk.
***
Tatapan Cecil terasa mencekiknya. Iris biru laut itu terang-terangan memandang gelisah pada wajahnya.
"Kau merokok lagi."
"Aku butuh ini sekarang," sahut Alicia acuh. Menekan puntung rokok pada asbak kayu dan melihat seseorang berjalan menuju lokasi mereka dari pintu kaca. "Dan butuh minum."
Cecil menghela napas. Tidak lagi bersuara ketika seseorang membuka pintu. Sorot matanya tampak terkejut. Dan selintas bergeming. "Nona Alicia, ada yang ingin bertemu."
"Siapa?"
"Nyonya Lasima dan putrinya."
"Katakan aku sedang tidur karena terserang sakit kepala. Aku tidak mau menemui dua serigala itu sekarang." Alicia melambai pada wanita bertubuh pendek dengan rambut hitam sebahu. "Aku tidak mau melihat mereka."
"Baik."
"Samia namanya. Dia bekerja untukmu?"
"Kau baru melihatnya?"
Alis Cecil bertaut satu sama lain. "Tidak. Aku pernah melihatnya di New York saat bersamamu. Dia memutuskan untuk menetap di sini? Osaka dan Tokyo tidak terlalu jauh."
"Adiknya terkena kanker pankreas. Ibunya bekerja keras membayar pengobatan. Samia meminta padaku untuk bekerja di dalam negeri alih-alih melancong ke negara orang." Alicia mengembuskan asap rokok dari bibirnya. "Aku mengiyakan."
"Kapan dia kembali?"
"Seminggu yang lalu. Aku memberinya libur. Dia dapat diandalkan dan aku tidak bisa kehilangannya."
Cecil memainkan kaleng soda di tangan. "Kemungkinan kecil untuk bertahan hidup. Aku baru mendengar istilah kanker pankreas. Malang sekali. Berapa usianya?"
"Empat belas tahun. Samia bercerita bulan depan adiknya berusia lima belas tahun," ujar Alicia. "Kalau dia tertolong, Samia berencana memberi hadiah bagus."
Ada selipan pesimis dalam suara Alicia yang datar. Gadis itu menyesap rokoknya sekali lagi, menekan ujung puntung kuat-kuat. "Samia mencemaskan kondisinya yang tidak selamat. Kanker membuat segalanya semakin sulit."
"Untuk apa Nyonya Lasima mencarimu?" tanya Cecil setelah berpaling dan melihat Samia berdiri untuk menghadang pintu masuk menuju lokasi mereka. "Aku benar-benar tidak suka dengan mereka sekarang."
Alicia menopang dagu. Memandang Samia yang keras berusaha mengusir mereka. Samia mendapat tempat khusus di kantor ini dan Alicia meminta para pekerja yang lain menghormatinya.
"Wanita itu tidak akan berhenti," ucapnya setengah mengantuk. "Dia akan berhenti kalau tujuannya tercapai, sudah terpenuhi."
"Apa dia berada dalam ancaman?"
"Mungkin." Alicia duduk lebih tegak dengan raut datar. "Putrinya senang bermain-main dengan para pria kaya. Bujangan atau bukan. Dan kurasa sekarang dirinya terkena imbas. Getah itu merasuki keluarganya."
Ekspresi Cecil membeku. "Kita akan mendapat skandal baru nanti."
"Ibunya tidak belajar dari kesalahan dan terus membela putrinya." Alicia berucap sinis. "Yah, aku tidak menyalahkannya. Karena yang para ibu lakukan sama saja. Membela anak mereka terlepas salah atau tidak."
Manik teduhnya melirik Cecil yang menunduk. "Kecuali ibumu, benar. Perempuan itu pengecualian."
Alicia bangun dari kursinya. Memandang Cecil yang ikut bangun, lalu berjalan pergi saat mendengar bentakan Lasima di sepanjang kantornya. Ucapannya kasar. Yang membuat para pekerjanya kecewa serta marah. Kecuali Samia yang tetap tenang.
"Oh, Alicia." Suara Nyonya Lasima berubah lembut saat melihat Alicia hadir di tengah kekacauan. "Aku memang ingin bertemu. Tapi mereka mengacau. Mereka melarangku bertemu denganku."
"Memang." Alicia bersedekap saat matanya beradu pandang dengan putri Lasima yang kaku. "Aku yang meminta mereka melakukannya."
"Alicia, aku perlu bicara."
"Pergi saja, Nyonya Lasima. Aku sibuk."
Sebaris kalimat itu seharusnya cukup membuat harga diri Lasima tercabik.
***
"Ke mana kau membawa anak bernama Alan itu pergi?"
Darius menengadah dari tumpukan kertas di atas meja. Sesaat setelah pasien pergi dan membiarkannya istirahat, Dannes menerobos masuk tanpa permisi. Ekspresi keras dan tangan berkacak pinggang cukup membuat Darius tidak terkejut.
"Ke suatu tempat."
"Di mana?" Dannes bertanya lagi. "Kau melindunginya?"
"Tidak." Darius mendesah, menurunkan tangannya dari meja. "Aku membawanya pergi. Itu amanah dari ayahnya."
"Amanah?"
Raut sang kakak berubah sinis. Darius tahu Dannes hanya berusaha melindungi sesuatu yang tidak kasat mata. "Kau bergurau."
"Dia tidak memintaku untuk membawa putranya pergi, tetapi aku menawarkan diri."
Alis sang kakak yang tajam terangkat. "Lantas, ke mana kau membawanya pergi?"
"Alan bukan percobaan," sungut Darius dengan erangan kecil. "Dia terluka dan kesepian. Ayahnya belum kembali."
"Siapa bilang dia percobaan?" tanya Dannes agak ketus. Menarik kursi untuk lebih dekat dengan sang adik. "Darius, ayahnya bermasalah dengan keluarga Alicia. Paman Hanan memberitahu kalau pria itu tidak selamat. Dia dibunuh setelah menyelesaikan misinya. Aku tidak mau kau terlibat."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Kau tidak perlu tahu," kata sang kakak dingin. "Aku perlu membebaskan keluargaku dari semua tuduhan. Paman tidak bisa mencegahmu, dia memintaku bertindak."
"Fabian yang memberitahunya?"
Dannes bergeming.
"Aku tidak terlalu suka dengannya," aku Darius datar. "Dia bicara buruk tentang putrinya sendiri. Hal yang tidak bisa kutolerir. Bahkan sekelas ayah kita sendiri tidak akan bicara sekotor itu di depan orang lain."
"Ayah kita berbeda." Dannes bersedekap memandang ekspresi dingin sang adik. "Ibu dan ayah kita berbeda. Sementara keluarga Alicia kacau, bermasalah. Kau seharusnya tahu perbedaannya."
Darius meringis. "Aku tidak terlalu suka dengannya. Paman Hanan seharusnya menjauh dari pria itu."
"Mereka teman dekat."
"Kita tidak bisa memetik keuntungan dari berdekatan dengan Fabian," ujar Darius sinis. "Bagaimana jika dia mencoba menarik pasukan?"
"Kau berpikir ini perang?"
Ekspresi Dannes berubah kaku dan Darius melihatnya cukup jelas. "Perang keluarga. Alicia tidak bicara apa pun."
"Dia terlalu tertutup. Kau bilang kalian berkencan," ujar Dannes datar. "Tidak ada keterbukaan dan hubungan itu tidak akan berhasil. Lupakan saja gadis itu."
Darius membisu.
"Kau tidak mau," tebak Dannes masam. "Karena ibu memberi dukungan, kau merasa lebih percaya diri."
"Untuk apa kau mencari Alan?"
"Membebaskannya. Membebaskanmu dan anak itu." Dannes mendesah berat. "Aku tidak mau kau terluka. Bocah itu harus menerima nasibnya sendiri yang keras. Ayahnya berbuat sembrono dan dia perlu menanggungnya."
"Anak sekecil itu?"
"Dia perlu tahu kalau dunia itu kejam," sahut Dannes. "Kau tidak perlu membelanya karena itu bukan keharusan. Dia sudah menerima pengobatan sebaik mungkin. Saatnya untuk pergi. Seperti membebaskan anak burung ke alam liar."
"Aku tidak bisa."
Kening sang kakak mengernyit dan kepalanya meneleng. "Kau harus bisa. Kalau kau tidak bisa, aku akan mencarinya sendiri."
Darius bergeming. Rahangnya mengeras dan bibirnya terkatup. Sementara mereka saling beradu pandang satu sama lain. "Itu bukan ide bagus. Dia masih terguncang."
"Itu membuatnya belajar untuk bertahan dan tetap kuat."
"Bagaimana kalau dia mati?"
Dannes menarik napas panjang. "Bukan urusan kita, oke? Kau seharusnya paham itu. Kita tidak mau berurusan dengan keluarga penguasa dalam segi mencari musuh. Keluarga itu tiada lawan. Kerajaan sekalipun tidak bisa menyentuh mereka."
Dannes pergi menahan kesal. Sedangkan Darius diam, bungkam seribu bahasa.