duatiga

1708 Kata
"Ada masalah?" "Tidak ada." "Bagaimana rapatnya?" "Biasa saja." Alicia mengembuskan napas berat. Melirik sang ibu yang terpaku di tempat duduknya. "Semua berjalan sesuai seharusnya." "Aku percaya padamu." Ibunya memberi senyum manis. Alicia kembali diam. Mengaduk pasta pada piring. Manik hijaunya menangkap bayangan Darius yang muncul dari pintu sebuah restoran. Pria itu terlihat agak kesal. Gestur wajahnya menunjukkan hal itu cukup jelas. Alicia mengerutkan kening, mengamati sang dokter sampai sosoknya tidak lagi terlihat. Jaguar hitam itu menghilang. Lenyap dari pandangan matanya. Parkiran restoran lokal cukup senggang. Sampai sepuluh menit berlalu, Alicia melihat Hanan, ayah Hana muncul dan Fabian mengekori dari belakang. Napasnya tertahan. Begitu pula dengan sorot matanya yang memicing waspada. Sebelah tangannya turun, meremas garpu terlalu erat. "Alicia?" Ibunya menegur dengan pandangan cemas. Mengikuti arah mata sang anak, lalu terdiam seribu bahasa. "Aku tidak terkejut sama sekali kalau itu Hanan. Dia satu-satunya pria yang bisa diandalkan. Yah, kalau ada yang lain." Alicia mengembuskan napas panjang. Menunduk memandang pastanya sendiri. "Dia mungkin mencari pasukan baru. Tentu saja, untuk menyelamatkan dirinya sendiri." "Alicia," panggil ibunya lirih. "Kalau dia benar-benar mencurinya, Alby tidak akan tinggal diam, kan?" "Ya." Sang ibu terlihat sinis. "Aku ingin segalanya dihancurkan. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada satupun yang tersisa." Selera makannya tiba-tiba menguap. Alicia melamun, merenungi semua kalimat sang ibu dalam diam. Benaknya berkelana. Seakan mencari jawaban yang sebelumnya tidak pernah ada. "Setiap orang yang melakukan perbuatan, selalu memiliki alasan. Tapi terkecuali dirinya, aku tidak bisa menerima alasan sekecil apa pun itu." Mata sang ibu menyorot datar. "Aku memandangmu sama seperti aku memandang diriku semasa muda. Ini alasanku membiarkanmu meraih mimpi dan tidak peduli dengan nasihat mendiang orangtuaku." Sudut bibir Alicia tertarik naik. Gagasan ketika sang ibu membelanya mati-matian membuatnya tersentuh. "Mama yang terbaik." "I am. Dan selalu menjadi yang terbaik," ucap ibunya senang. "Kau berbakat. Tanganmu adalah keajaiban. Aku tidak mungkin menyiakan bakat itu darimu. Perusahaan tetap menjadi bagianmu. Tentunya dengan cara lain. Itu tidak akan jatuh ke tangan manapun." "Dan Fabian mencoba merebutnya dariku, merebut bagian itu darimu. Apa-apaan dia? Seorang gelandangan yang berhasil memasuki rumah dan terpukau dengan isinya?" Senyumnya terlihat masam. "Yah, aku kehilangan ide untuk itu. Dia punya alasan. Dan sayangnya, alasan itu tidak bisa kuterima." "Kita tidak bisa menerima alasan dari pria pendusta." Alicia melirik tangan sang ibu. Cincin itu tidak ada. Tidak akan pernah ada lagi. "Mama ingin berlibur?" "Tidak sekarang. Aku hampir mati melihatmu kecelakaan. Aku tidak bisa pergi. Kau baru saja kembali dari luar negeri." "Aku menetap di sini, di kota ini. Aku tidak pergi." Alicia mengulurkan tangan, mengusap tangan sang ibu. "Kalau Mama menginginkannya, aku selalu di sini. Tapi Mama butuh berlibur. Bibi Lena benar, ibuku harus bersantai." "Aku menghabiskan waktu untuk bersantai," tukas Emily tajam. "Membuang uang sekarang menjadi hobi baruku." "Kalau aku yang membelikan tiket, Mama tidak akan menolak?" "Alicia." "Mama," putrinya mencoba merajuk dengan nada manja. "Ibuku mulai keriput sekarang. Kau hobi berjalan-jalan dulu. Aku juga akan memesan tiket lain untuk bibi." "Kau pemaksa." Alicia memberi cengiran. "Memang." *** "Nona Alicia, selamat malam." Alicia bisa melihat dua pemuda sakau di atas lantai. Saat matanya memicing jijik, salah seorang lagi bergegas menyeret keduanya untuk pergi dengan paksa. "Mereka hanya pemuda miskin yang mencoba barang baru. Benar-benar payah. Aku memberikannya percobaan dan kondisi mereka sudah separah itu." "Kalau begitu, jangan. Jangan berikan. Bidiklah pembeli selektif dan bisa menanggung risiko." "Sesuai arahanmu, Nona." Si pria berbadan besar pergi untuk menemui orang lain. Alicia menghela napas panjang, menyilangkan kakinya dengan bibir terkatup. "Anggur?" "Tidak." "Bagaimana dengan yang lain?" "Sampanye dingin, mungkin?" Alicia mengangkat alis. "Aku hanya butuh dua gelas." "Sepupumu ada di sana. Dia baru tiba sekitar setengah jam yang lalu dan sudah membuat kehebohan." Alicia menautkan alis. Menatap lurus ke depan dan menemukan para perempuan berpakaian minim dengan beberapa pendukung bersorak di area meja besar. Mereka mendukung kandidat satu sama lain dengan semangat. Bertaruh siapa yang membawa pulang banyak uang malam ini. "Aku menduga dia kalah di dua putaran pertama." Alicia menegak sampanye dengan kernyitan. "Dia terlalu sial untuk urusan putaran awal." "Oh, tidak. Dia menang. Alby membuatku tercengang. Dia belum kehilangan uangnya sepeser pun." "Benarkah?" Kebenaran itu membuat Alicia tertarik. Sembari meraih gelas sampanye, kakinya memijak lantai. Aroma alkohol mahal memenuhi ruangan yang besar. Semua orang kembali bersorak. Lalu memudar ketika melihat siapa gadis berpakaian kasual yang mendekat dengan langkah ringan. Alicia seperti salah kostum karena hadir di tempat seramai ini. Toh, dia tidak peduli. Saat mereka semua menatapnya, bergantian untuk memberi ruang. Alicia hanya mendengus, mereka semua paham siapa dirinya. "Kemenangan yang tidak perlu dirayakan." Alby memberi seringai kecil. Alicia melihat ada tangan dari sesosok perempuan berpakaian minim bergelayut di bahu bidang Alby. Saat mata mereka bertemu, wanita itu lekas menarik tangannya dan berdiri canggung. "Kau bisa melawanku." Semua orang terkesiap. Saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh tanya. Seringai Alby memudar, tergantikan kesinisan yang kental. "Kau pasti bergurau." "Kau bertaruh berapa?" "Kau dulu." "Satu juta?" "Dolar?" "Atau kau ingin bermain dalam pounds?" "Sepakat." Alicia memberi senyum. Iringan sorak berubah ketika dirinya mengusir si penantang dan membiarkannya duduk. Menikmati bagaimana cara Alby menilai permainan dengan serius. "Semua orang tahu siapa dirimu," kata Alby dingin. "Alicia si ratu judi Las Vegas." "Ah, sudah lama sekali." Alicia melambaikan tangannya dengan kekehan. "Aku lupa pernah mendengarnya darimana. Aku lebih senang disebut sebagai perancang busana sukses." Alby mencibir dengan cemoohan. "Itu pasti melukai harga dirimu," ujar Alicia dingin. "Karena aku bisa membelikanmu pesawat pribadi di hari ulang tahun. Wah, perayaannya luar biasa. Aku memberikan hadiah yang tak biasa, bukan?" "Itu dari uangku." "Haha. Aku menambahkannya. Kau tenang saja. Uangmu sedikit." Alicia meneleng, membiarkan Alby menarik napas panjang. Sekali lagi, mencoba untuk tetap tenang. Alicia tidak akan terkecoh. Ia banyak bertaruh selama ini. Tentang segalanya. Kehidupannya, kisah cintanya, dan masa depannya sendiri. Ini belum apa-apa. "Aku bertaruh untuk Alby!" Beberapa pendukung menaruh kepercayaannya pada pundak Alby. Termasuk para wanita yang memandang Alicia dengan sinis sekaligus iri. Hanya kurang dari enam menit, Alicia berhasil menguras isi rekening Alby dengan seringai puas. *** "Terima kasih banyak." Suara lemah itu mencicit muncul dari sosok kurus bertubuh tinggi yang memberi Alicia seulas senyum manis. "Bukan masalah." "Kau sudah banyak membantu." Alicia mengangguk. Berjalan bersama menuju lorong yang sepi. Membelah sunyi yang mencekik saat hanya mendengar suara kaki dan bunyi kruk saling bersahutan. "Bagaimana kondisi kakimu?" "Aku akan operasi bulan depan. Setelah ibuku pulih." Senyumnya yang ringan membawa Alicia pada satu perasaan lega. "Yang terpenting ibuku. Aku bisa menahannya sedikit lebih lama." "Rasanya pasti sakit sekali." "Tidak terlalu." Bibir pucat itu melengkungkan senyum. Alicia tidak percaya dengan kalimat itu walau dia sendiri sering mengatakannya pada sang ibu. "Aku bisa menahannya. Ini belum seberapa." "Bersikap jujur pada diri sendiri tidak membuatmu terlihat lemah," ucap Alicia datar ketika mereka berdua duduk. "Aku membawakanmu roti isi. Kau belum makan sesuatu, kan?" "Aku membawa bekal. Tapi terima kasih banyak. Kau membawakan roti yang terbaik." Alicia melihat bagaimana gadis itu tersenyum setelah membuka bungkus rotinya. Senyumnya yang manis merekah sempurna. Membuatnya terdiam, lalu membuang wajah ke arah lain. "Kau telah banyak membantu. Tapi maafkan aku karena tidak bisa membalas kebaikanmu sebanyak ini. Aku tidak bisa." "Aku tidak membutuhkan imbalan apa pun," kata Alicia dalam. Bersedekap dengan kepala terdongak, memandang langit koridor rumah sakit yang terang. "Tidak darimu, tidak dari siapa pun." "Kau melakukannya dengan tulus?" "Entahlah. Aku tidak mengenal tulus atau istilah apa pun itu. Selama aku mau, aku akan melakukannya. Itu berasal dari keinginanku sendiri." "Karena berkontribusi menghilangkan nyawa ayahku?" Alicia mendesah. "Kau menyayangi ayahmu?" "Sangat. Kehilangannya membuatku hancur. Tapi aku tidak menaruh dendam padamu. Ini sepenuhnya bukan salahmu. Dunia hanya kejam untuk kita berdua, benar?" Ia hanya tidak bisa lagi bersuara. Lidahnya tiba-tiba kaku. Semuanya terasa gelap, terasa tidak memiliki jalan untuk kembali. Alicia seakan tersesat tanpa tahu arah kembali. "Kau benar." Suaranya seperti tertarik. "Dunia terlalu kejam untuk kita berdua." "Kau berasal dari keluarga kaya?" Alicia menggeleng. "Biasa saja. Pekerjaanku cukup sukses dan menghasilkan banyak uang." "Kau kaya," gadis itu memberi cengiran. "Ayahku sempat bekerja di perusahaan ternama. Dia sangat bangga. Dan tiba-tiba semua terjadi begitu saja. Aku tidak bisa mencerna setiap kejadiannya sampai sekarang." "Aku tidak bisa melupakan mimpimu." Iris biru gadis itu melebar. "Mimpiku? Orang lain menyebutnya aneh. Kau bilang itu luar biasa." "Benar. Itu luar biasa. Kau punya impian yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Bagaimana bisa gadis sepertimu menginginkan menjadi seorang astronot? Kau ingin menginjak tanah Mars?" Senyumnya melebar. Dan Alicia ikut tersenyum walau sangat tipis. "Aku terlalu banyak berkhayal. Ibuku memintaku menjadi tenaga pendidik dan tidak membiarkanku pergi jauh. Tapi menjadi seorang astronot terdengar keren. Begitu, kan?" "Ibumu suatu saat akan mengerti." Alicia mempererat pegangan pada jaketnya. Tiba-tiba udara berembus sangat dingin. "Kalau kalian punya waktu, bicaralah. Dia akan memberi dukungannya untukmu." "Kau juga mengalaminya?" "Hem. Ibuku juga perempuan keras kepala. Tetapi dia mau memahamiku. Satu-satunya yang mau memahamiku," ujar Alicia penuh tersirat. Memberikan senyum tipis pada si gadis yang menatapnya penuh rasa kagum. Binar matanya menunjukkan ketulusan. Alicia menghela napas, kembali merenung dalam diam. Membiarkan gadis itu berceloteh. Kemudian pandangannya jatuh pada kruk yang bersandar. Ada banyak mimpi yang pupus saat Alicia melihat kruk di sana. Seolah jembatan yang sangat panjang membuat langkah mereka berhenti, tidak lagi berani untuk maju untuk sekadar mempercepat langkah. "Biaya berobat ibuku tidak murah. Aku bingung memikirkannya." "Aku tidak memintamu memikirkannya, kan?" Kepala gadis itu menggeleng. "Terima kasih banyak. Kalaupun nyawanya tidak tertolong, aku akan melepasnya. Itu lebih baik. Kematian terasa lebih menyenangkan daripada tetap hidup dan tersiksa melebihi kematian itu sendiri." "Dunia yang kita tempati ini kejam." Alicia mengusap wajahnya yang letih. Ia tahu, tatapan gadis itu cemas terhadap lukanya. Tetapi dia tidak bertanya. Dan Alicia tidak punya keharusan untuk menjelaskan. "Aku harus pergi." "Rotinya?" "Itu untukmu. Carilah sarapan setiap pagi. Aku melihat bobot berat badanmu terus menurun." "Yah, aku terbiasa tidak makan. Tapi terima kasih. Rotinya enak!" Alicia memberi senyum dan anggukan. Sebelum berjalan pergi, melihat Dannes baru saja memasuki pintu utama dan mata mereka bertemu. Belum ada beberapa langkah Alicia menjauh, suara pria itu terdengar dingin. Atau bahkan menusuk terlalu dalam. Berbaur bersama dinginnya udara malam. "Kalau kau mencari sesuatu yang berkaitan dengan misi keluarga kejimu, sebaiknya kau mundur. Kau tidak akan menemukan apa pun di sini. Di rumah sakit ini." Dannes meneleng dengan kerutan dalam pada dahi. Melihat Alicia yang acuh dan pergi begitu saja tanpa lagi menoleh ke belakang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN