duadua

1521 Kata
"Nama Cecil, hobi mencari pekerjaan baru." Alicia melirik pada sahabatnya tanpa suara. Saat Cecil hendak mampir ke apartemen, Alicia memintanya untuk datang ke kedai penjual aneka makanan manis dan kopi tepat di seberang gedung apartemen tempat tinggalnya. Semula sahabatnya ingin mengomel, tetapi diurungkannya ketika melihat meja penuh makanan manis dan segelas kopi dingin. Alicia mencoba menebusnya dengan makanan, pikir Cecil muram. "Menurutmu, aku akan diterima?" "Ya. Kau berbakat." "Kau bicara untuk menyenangkanku, kan?" Alicia mendesah. "Tidak. Kau berbakat, itu kebenaran. Kau tidak berkaca?" "Aku pengacau," sungutnya sebal. "Kalau aku tidak mengacau, aku tidak akan berpindah tempat seperti parasit." "Aku bisa memberimu pekerjaan." Mata biru itu bersinar lebih redup. "Tidak perlu," katanya dengan senyum. "Aku akan mencoba yang lain." "Dengan risiko mendapat cibiran?" "Apa bedanya kalau bekerja bersamamu? Julukan benalu, parasit, akan selamanya ada. Benar?" Cecil menarik napas, menatap kertas di atas meja. "Aku tidak bisa merasa lebih buruk dari itu." Alicia membisu. "Orang-orang tidak akan mau berhenti mencela kita, bukan?" tanya Alicia sinis. "Asumsi itu akan selalu ada tanpa tahu kebenaran. Ah, atau mungkin mereka tahu dan sengaja menambah bumbu agar semua tampak dramatis?" Sahabatnya mencibir pelan. "Itu semua karena mereka iri. Sebut saja begitu." "Ibuku menitipkan sesuatu untukmu. Dia mendengar kabar kecelakaan itu," kata Cecil cepat. "Kabar menyebar sangat cepat, bukan? Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan berita ini." "Biar saja." "Polisi tidak menyebut ini kesalahanmu, tapi mereka semua menyebutnya karena kelalaian. Kau melamun, beberapa lagi bilang kau mabuk." Iris biru laut Cecil melirik suram pada sahabatnya. "Dan yang paling parah, mengonsumsi obat terlarang. Well, seakan penerus mereka suci saja." "Kau tidak seharusnya kesal." Pandangan Alicia mencemooh pada langit. "Biar saja. Aku tidak peduli pada pendapat orang lain." Cecil mendesah panjang. "Mereka bicara seolah tidak membutuhkanmu di masa depan. Para keluarga kaya baru itu masih menginjak awan. Lagi pula, bisnis tidak selamanya berjalan mulus. Roda itu berputar. Mereka akan pailit suatu hari nanti. Dan setelah itu, apa yang bisa mereka lakukan selain mengemis?" Alicia memberi senyum tipis. "Kau membayangkan hal itu terjadi?" "Kehidupanku dan mereka semua sama saja. Kau melihatnya secara langsung. Ini masih giliranku, belum giliran mereka." Cecil mengamati mimik wajah sahabatnya yang datar. Tidak ada raut emosi atau segumpal perasaan lain yang hinggap. Alicia masih diam, mengaduk kopi dan memandang camilan manis di atas meja. "Kau tidak sendiri. Ada harga yang harus mereka bayar jika menginginkan kehidupan lama kembali," ucap Alicia dingin. "Harga yang terlampau besar untuk mereka yang terbiasa menyantap daging setiap hari di meja makan tanpa mengenal bosan." Cecil diam. Lidahnya terasa kelu. Karena yang Alicia bicarakan adalah kenyataan. "Darius menginap di tempatmu?" "Ya, tidur di sofa." Alicia mengerang rendah. "Dokter muda itu bisa saja mencuri debar jantungku setiap saat. Itu menyebalkan." Ekspresi Cecil berubah geli. "Kau serius? Dia memujamu. Dan kurasa itu berbanding sekarang. Tidak ada yang sepihak." Alicia menatapnya cukup lama. "Aku tahu kau tidak memandang sinis pada pernikahan. Tapi untuk saat ini, tidak sempat berpikir sampai sana, bukan?" tanya Cecil. Kepala itu menggeleng. Dan cukup menjadi jawaban. "Darius juga tidak berpikir seperti itu," kata Alicia pelan. Memainkan garpu di atas meja. "Dan itu membuatku lega." *** "Putriku punya reputasi bagus. Ah, sayangnya dia masih berada di Jerman untuk bekerja. Kalau saja pria itu tidak membuatnya kacau, dia akan baik-baik saja sekarang." Seorang ibu baru saja bercerita tentang putri tunggalnya yang hebat. Darius melirik nama dan mendesah. Menyadari bahwa perempuan paruh baya dengan rambut sebahu berwarna cokelat dan bergelombang adalah pemilik pabrik cat dan parfum ternama. Suaminya memiliki bisnis itu sejak bertahun-tahun silam. Sementara sang istri berasal dari keluarga mapan yang bergelut di bidang kecantikan. "Kuharap putrimu segera membaik." "Kami kesulitan mencari pria yang pantas untuknya. Aku dan suamiku bersusah payah membuatnya terus hidup dan melanjutkan perjalanan," katanya gusar. "Aku melihatmu. Aku juga mengenal ibumu. Dia sangat ramah." "Terima kasih." "Kabar tentangmu dan Alicia itu benar?" Sorot mata kelam Darius memindai datar. "Ya." Si ibu menghela napas. "Aku seperti kehilangan kesempatan. Siapa yang bisa mengalahkan marga terbesar itu? Keluarga kaya lama, kekayaan yang tidak pernah habis dan dinasti yang tidak mudah runtuh. Kau mempermudah perjalanan koneksi bisnis keluargamu jika berhasil mendapatkannya." "Aku tidak—," suara Darius tercekat saat mata mereka bertemu. "—tidak berpikir sampai ke sana." "Anak muda, cinta itu bonus. Semua orang kaya menikahi seseorang yang sepadan karena keharusan. Mereka harus mempertahankan bisnis yang terlanjur menguntungkan demi meraup keuntungan yang lebih banyak. Kau tidak bisa bersikap naif di sini." "Ya." Darius mengalah untuk tidak mendebat. Memberikan resep obat dan si ibu melihatnya tanpa berkedip. "Anda akan pulih setelah banyak beristirahat." "Terima kasih banyak." Wanita itu bangun setelah menenteng tas mahalnya. "Kalau kau berkenan, aku bisa menawarkan putriku pada kakakmu. Apa dia punya kekasih?" "Belum." Darius meneleng. "Tidak berpikir sampai ke sana sama sekali." "Benarkah?" Si ibu terperangah, terlihat tidak percaya. "Bisnis ini akan jatuh pada Hana?" "Aku tidak tahu." Alis wanita itu terangkat sebelah. "Aku menduga kau merancang masa depanmu sendiri alih-alih menetap untuk melebarkan sayap bisnis keluarga. Putriku belajar untuk memperkaya dinasti sampai waktu yang lama." "Aku terlahir untuk itu," kata Darius pelan. "Semua penerus yang lahir dari rahim perempuan sosialita hanya investasi masa depan berupa objek hidup, benar?" Wanita itu bungkam. Dan pergi begitu saja melintasi ruangan untuk menutup pintu. Barangkali Darius merasa pasrah dan letih. Memijit pelipisnya sendiri saat ia melirik jam, mencari udara segar diperlukan selagi perutnya menjerit meminta makan. Ia bergegas bangun. Menyugar rambutnya dan menggantung jas pada tiang. Meraih ponsel dari laci, bersiap untuk beristirahat kala melihat sosok Fabian yang terkulai muncul dari lift. Mimik Darius berubah keras. Menyadari bahwa Fabian tidak sendiri. "Oh, Darius." "Paman Hanan?" Darius menghampiri dengan kerutan. "Ingin makan siang?" "Ya. Kau mau bergabung?" Tatapan Darius turun pada Fabian yang menatapnya tanpa makna. Pandangan matanya terlihat kosong. Seolah tidak hidup, seolah mati. "Fabian," pria itu mengulurkan tangan sambil menyebut nama. "Kau Darius, benar?" "Ya." Darius hanya perlu menerimanya. Hanan mendesah panjang. "Kami harus pergi. Kalau kau berkenan gabung, silakan. Aku tidak menutupi apa pun dari keluargaku." Seakan kalimat sang paman menyiratkan sesuatu. Gagasan untuk tahu lebih dalam ayah Alicia membanjiri benak Darius. Ia diam, kemudian mengangguk saat Hanan menepuk bahu, mengajak Fabian untuk pergi sementara Darius mengekori. *** "Tidak ada hal baik yang tersisa jika kau mengencani putriku." Darius mengangkat alis. Sejak tadi, ia tidak terlalu fokus pada Fabian yang berusaha mengintainya dengan pancingan mata tajam. Pria itu terlihat lebih tua dari usianya. Desas-desus berembus kencang dari keluarga adidaya Alicia. Bahwa pria itu terbuang, tersisihkan, menjadi yang paling tersakiti karena keluarga besar itu menginginkan pengorbanan serta pengabdian. "Fabian," tegur Hanan masam. "Tidak sekarang." "Aku perlu menyelamatkan keponakanmu." Fabian berujar tegas. Sorot matanya mengeras saat bertemu pandang dengan Darius. "Sebelum dia terluka lebih parah dariku." "Dia belum berniat menikah. Kurasa tidak akan ada pernikahan," sungut Hanan sebal. "Benar, kan?" Memandang Darius dan berharap jawaban. Darius hanya diam. Serta tarikan napas berat Hanan menjadi gerbang keputusasaan. "Alicia sama sekali tidak memgambil bagian dari diriku. Dia cantik, berparas dingin. Sama seperti ibunya di masa muda. Alicia sering berbuat kesalahan, dan itu membuat kami semua kerepotan." Kening Darius mengernyit. Seorang ayah bicara buruk tentang putrinya sendiri? "Aku siap membela Alicia jika dia merasa tersudut. Tapi cuci otak Emily membuat segalanya bertambah rumit. Alicia menjauh, mundur, tidak lagi peduli. Dia bernapas untuk ibunya. Berbalik memusuhiku dan tidak mendukungku." Hanan mendesah. "Itu salahmu sendiri. Kau mundur, mencari pelarian dengan menikah diam-diam bersama perempuan lain dan punya anak." Kebenaran itu membuat Darius seakan tertampar telak. Jantungnya bergemuruh. Terlebih Fabian seolah tidak membantah fakta tersebut. "Orang lain tahu?" "Yah, tidak semua." Hanan membalas. "Hanya segelintir. Keluarga Alicia menyimpannya terlalu rapat." Fabian menghela napas. "Lambat laun semua akan mengerti alasanku. Kesetiaan memang diperlukan, tapi aku punya alasan. Mereka hanya menunggu waktu sampai membuat diriku tercabik." Darius kembali membisu. "Aku ingin mengembalikan Alicia ke masa lalu. Saat dia masih menjadi putriku. Dalam arti sebenarnya," kata Fabian lirih. "Aku punya kesempatan, dan istriku mengambil segalanya yang ada. Tidak ada lagi yang tersisa. Semua sudah selesai." "Kau tahu kalau Alicia terlibat dalam kecelakaan?" "Ya," aku Fabian. "Aku berniat menemuinya. Alicia tidak pernah pergi dari tempatnya. Tapi melihat istriku ada di sana, aku mengurungkan niatku." "Kau terlihat seperti pecundang." Hanan memandang keponakannya. "Darius," tegurnya. "Dia putrimu." Darius mengacuhkan Hanan dan menatap Fabian yang tegang. "Seburuk apa pun dia, Alicia tetap putrimu. Aku tidak pernah tahu, tidak pernah mendengar kalau ayahku berbicara buruk tentangku di depan orang lain." Hanan menarik napas tajam. Sementara Fabian diam. "Kau tidak mengerti." "Memang. Tapi segelintir orang peduli. Mereka akan mencari pembenaran dari ceritamu untuk menyudutkan Alicia dan keluarganya. Kau tidak takut dengan mereka?" "Kau takut?" Kepala Darius menggeleng. "Aku tidak berbuat salah. Lebih pada mencemaskan kondisi keluarga. Alicia tidak akan berbuat tanpa alasan." Fabian mendesah berat. "Kau belum mengenalnya dengan benar. Belum. Alicia seperti sisi dua mata pisau yang berbeda. Kau tidak akan tahu bagaimana pikirannya berjalan." "Fabian," panggil Hanan datar. "Kau datang meminta bantuan. Jangan memancing perkara pada keponakanku. Dia tidak bersalah." "Aku perlu memberitahunya," tukas Fabian masam. Memandang Darius yang balas menatapnya sinis. Sorot tajam itu sepenuhnya terarah padanya. "Untuk menghindari sesuatu di masa depan. Kau mungkin akan menyesalinya." Darius tidak mau peduli. Ia memilih untuk bangun dari kursinya tanpa bicara. Membiarkan Hanan memanggilnya dan pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN