duasatu

3149 Kata
"Aku perlu melihat para korban." "Nanti." Alicia mengangkat kepalanya dari d**a bidang pria itu yang terbalut kemeja dan jas kebanggaan sebagai seorang dokter. Saat mata mereka bertemu, desakan untuk beristirahat dari Darius teramat jelas terlihat. "Aku akan membayar administrasi dan menyantuni korban meninggal. Itu semua salahku," kata Alicia masam. Mencoba bangun dan lagi-lagi sepasang tangan besar menahannya untuk tetap diam. "Aku perlu melihat mereka." "Alicia," tegur sang dokter. "Polisi belum memberi kabar atas kecelakaan beruntun tersebut. Belum tentu ini salahmu." "Kau berpikir begitu karena kau tidak ada di sana." Suaranya datar, terlampau datar dan tenang. "Aku yang membanting setir ke arah lain. Mobilku memiliki fasilitas keamanan yang tinggi. Sedangkan mereka? Anak itu tewas di depan mataku." Dan suaranya tetap datar meski terdengar sedikit lirih. "Secara tidak langsung, aku yang membunuhnya. Aku membiarkan mereka kehilangan salah satu anggota keluarga atau tidak ada yang tersisa sama sekali." Darius menangkap kegetiran itu dari matanya. Alicia tidak menangis, tidak histeris, meski menurutnya itu hal lumrah. Wajar kalau batinnya terguncang. "Biarkan aku pergi." "Tidak sampai lukanya benar-benar mengering." Darius tetap bersikeras, serupa dengan dirinya. "Kau perlu berbaring. Biar aku memeriksa pasien lain." Pintu terdorong masuk. Sesosok yang tidak asing di mata Darius muncul dengan raut pucat, seolah mati. Kedua matanya membengkak, dan Darius bergeser untuk memberi keduanya ruang. "Mama." "Alicia, ya Tuhan." Ibunya beringsut mendekat. Memeluk sang anak dengan gemetar hebat. Bahunya merosot, isakannya semakin jelas. "Ya Tuhan, aku hampir mati mendengar kabarmu." Mungkin sebaiknya dia pergi. Darius memutuskan untuk mundur sebelum bertemu seseorang yang tidak lagi asing dalam ingatannya. Seulas senyum tipis muncul ketika mata mereka bertemu. "Halo, dokter. Aku Lena." Lena? Ibu Alby? "Darius." "Aku tahu dirimu," ujar Lena parau. "Terima kasih telah membantu mengobati keponakanku. Dia sebenarnya terguncang. Tapi lihatlah, tampak baik-baik saja. Seolah berhadapan kematian bukan yang pertama kali." "Bukan yang pertama kali?" Lena mendesah. Bersedekap di samping pintu ruangan yang terbuka. "Alicia berkali-kali menantang maut. Ibunya tidak akan pernah bisa melewatkan sedikitpun pengawasan terhadap putrinya. Yang mengabari Alicia kecelakaan adalah mata-matanya." "Dia baik-baik saja," ucap Darius. "Terguncang, benar. Ada trauma karena benturan. Luka-lukanya mengering dan aku mencoba menghentikan infeksi karena kotoran atau debu." Sorot mata Lena melemah. "Terima kasih banyak. Aku perlu mengurus beberapa hal terkait para korban. Polisi akan memberi keterangan, bukan? Adikku tidak akan bisa berpikir jernih sekarang. Biar aku yang mengambil alih." "Tidak perlu." Alicia mengurai pelukan ibunya, merangkul perempuan itu dengan senyum tipis. "Aku yang akan mengurusnya." "Simpan saja uangmu, Alicia." Lena meneleng dan mengernyit. "Alby ada di kantor polisi sekarang. Kau tidak perlu cemas. Semua akan terbongkar." Semua akan terbongkar. Alicia pucat pasi. "Aku yang akan mengurusnya," ujar Alicia keras kepala. Mencoba bangun dan sang ibu merangkul tangannya. "Mama, lukaku sudah diobati." "Akan lebih baik kalau kau berbaring atau tidur." Ibunya memberi tatapan tulus penuh makna. Alicia menghela napas, memandang sang ibu lalu bergeser pada Darius. "Lena akan mengurusnya. Mama akan membantu. Ini menjadi urusan kami." "Aku tidak berutang apa pun pada kalian." Alicia menyela getir, mengangkat dirinya dari lantai untuk berbaring di atas ranjang, memejamkan mata. Ibunya memberi senyum. Mengusap rambut sang anak dengan lembut. Memberi perhatian pada Darius yang masih mematung. "Kau sudah membantu putriku. Terima kasih banyak, dokter." Darius mengangguk. Tidak sanggup bersuara. *** "Bukan salahmu." Suara Cecil bergema antara heningnya kamar yang damai. Alicia membuka mata, masih bernapas, dan tidak mengeluarkan suara apa pun untuk membalas. Ia hanya diam. Cenderung seperti patung. "Aku tidak bisa menolongnya." "Bukan salahmu," tukas Cecil lagi. Memandang sahabatnya yang terbaring dengan kedua mata nyalang terbuka. "Polisi bilang, itu kesalahan karena ada pengemudi mabuk dan menerobos lampu merah. Dia yang menabrakmu." Cecil mendesah. "Dia juga yang mencelakakan anaknya sendiri." "Aku ada di sana dan seharusnya membantu mengeluarkannya dari neraka." Alicia berujar pedih, mengenang saat mendengar jeritan dan air mata putus asa. Ia hanya terlambat. "Dia punya masa depan. Dia punya—," "Takdir yang memintanya untuk pergi. Kenapa kau terus mengeluh?" Suara Alby terkesan dingin. Alicia kembali diam. Sementara Cecil bergeming, tidak lagi mengeluarkan suara apa pun. "Kita juga tidak berhak membayar semua kerugian setelahnya. Perusahaan asuransi yang akan turun tangan. Begitu juga dengan mobilmu. Mereka akan menggantinya dengan yang baru." Alicia tetap diam. "Kau membuat orang lain cemas. Kau tidak sadar kalau ibumu bisa saja kembali kambuh dan menyakiti dirinya sendiri? Hanya kau yang bisa mengendalikannya. Bibi Emily kembali menjerit seperti orang gila di rumah saat tahu kau kecelakaan." Kedua mata Alicia terpejam. Alby menyerangnya dengan bertubi-tubi tanpa belas kasihan. Sedangkan Cecil menarik napas, meremas tangan sahabatnya, memandang Alby sinis. "Pelankan suaramu. Ini bukan saatnya menyalahkan. Alicia sedang terguncang." "Kau membelanya?" Alby menukas dingin. "Dia membuat cemas kami semua. Bertahun-tahun dia pergi, membuat ibunya tidak stabil, dan bersikap kembali kekanakkan. Kami di sini mencoba melindunginya. Keluarga mencoba melindunginya." Cecil mendesah. Berpaling menatap Alicia yang membuang wajahnya ke arah lain. "Kau tidak bisa menyerangnya seperti itu. Alicia perlu waktu. Sudah, berhenti." Alby diam. Menutup rapat bibirnya saat melihat Alicia dan Cecil bergantian. Tidak ada suara yang muncul setelahnya. Ia hanya mendengus, memandang datar pada permukaan lantai yang dingin. "Aku akan pulang. Apartemen terasa lebih aman untukku." "Kau belum pulih," ujar Cecil mengingatkan. Menahan bahu sahabatnya untuk bangun. "Darius masih ada di sini. Dia tidak akan memberi izin kau pergi." Alicia melirik Alby yang diam. Kedua mata mereka bertemu dan ia memutus pandangan di antara mereka. "Aku tidak perlu izinnya. Aku hanya ingin pulang." "Alih-alih apartemen, kau sebaiknya pulang ke rumah. Rumahmu. Kau lebih baik di sana." "Kau tidak bisa mengaturku!" Cecil menahan jeritan saat Alicia melempar vas bunga dari nakas pada Alby yang berdiri. Lemparannya meleset. Hanya mengenai tembok di sebelah Alby. Cukup dekat. Yang bisa membuat kulit pria itu tergores pecahan vas. Namun Alby bergeming. Memandang datar pada pecahan vas yang berserakan sementara napasnya berembus berat. "Kau belum berubah." "Ya Tuhan." Cecil mengusap pelipisnya. Meminta Alicia untuk tenang selagi dia membereskan kekacauan secepat mungkin. Alicia menarik napas kasar, menunduk menatap sahabatnya. "Kau tidak perlu membersihkannya, Cecil. Kau bukan b***k. Kau bukan budaknya." Tangan Cecil gemetar. Tetapi gerakannya membereskan vas bunga melambat. "Tidak apa. Harus ada seseorang yang membereskannya sebelum dokter atau perawat masuk." "b***k memang sepantasnya melakukan pekerjaan dengan sebaik mungkin." Kalimat itu cukup membuat jantung Cecil berdarah bagaikan tertusuk ribuan belati. *** "Ibu akan pulang, kan? Iya, kan? Nenek, kenapa diam saja?" Alicia membatu. Menemukan seorang anak kecil berlutut di depan perempuan paruh baya yang hampir seluruh rambutnya telah memutih. Tangan kurus nan pucat itu mengelus rambut cokelat sang cucu, memberi bisikan penuh kelembutan serta menyelipkan hiburan. "Ibu akan pergi sangat lama. Untuk semantara, Alia akan tetap bersamaku. Iya?" "Ke mana ibu akan pergi?" "Jauh. Ibu tidak memberitahu. Huh, dia suka menyimpan rahasia, kan?" Bocah itu tidak tersenyum. Sorot matanya meredup dan kepalanya terangguk. Kembali memeluk kaki sang nenek dengan kedua mata terpejam. "Ayo." Cecil menghelanya untuk pergi. Alicia melihat bocah malang itu sekali lagi. Sebelum membuang muka, berjalan lurus ke depan tanpa lagi menoleh ke belakang. "Ini bukti administrasinya," kata Darius menghadang mereka di depan pintu. "Alby yang membayar. Ada tanda tangannya di sini." Cecil mengambil dengan senyum. "Terima kasih." "Biar aku yang mengantarnya pulang," ucap Darius. Membiarkan pegangan Cecil menggantung. "Kau pulang saja." "Dia akan pulang ke rumah." "Aku akan kembali ke apartemen," ujar Alicia singkat, merapatkan jaketnya. "Mama akan pergi ke apartemen kalau aku tidak pulang. Kau perlu beristirahat, Cecil." "Alby—," suara Cecil tertahan saat mata birunya melirik Darius yang diam. "—aku tidak bisa memaksa. Aku akan mampir nanti. Kabari pekerjamu untuk mengambil libur. Kurasa dokter muda ini juga akan setuju." "Ya." Alicia tersenyum tipis. "Itu bisa diatur." "Dia sangat keras kepala." Cecil mengendik pada sahabatnya dan pergi setelahnya. Membawa mobilnya menjauh dari halaman parkir. "Aku menebus obat untukmu," ucap Darius ketika mereka menuruni tangga. "Sebagian besar pereda nyeri. Kau bisa saja sakit kepala mendadak." "Karena trauma?" "Ya, benturan dan trauma." Darius mendesah. "Kau perlu tidur. Rumah sakit tidak membuatmu nyaman, kan?" Alicia mengakui dengan senyum berat. Saat pria itu membawanya ke mobil, yang tersisa hanya kenangan buruk. Alicia berhenti, mengambil napas selagi Darius mengawasi. "Mungkin sedikit musik bisa membuatku rileks." "Kau ingin mendengar lagu yang seperti apa?" "Apa pun. Aku tidak punya permintaan khusus sekarang." Alicia menghela napas. Menyandarkan kepalanya pada kursi mobil dan memakai sabuk pengaman. "Kalau aku tertidur, kau perlu membangunkanku." "Aku tidak terlalu sering mendengar musik," kata Darius mencari kaset. "Beberapanya ada pemberian Dannes dan selera ibuku. Aku akan memutarnya." Alicia tidak lagi bersuara. Ia memilih untuk diam saat mobil membawanya pergi. Jalanan terasa damai di pagi buta. Senggang. Tidak ada kekacauan seperti beberapa jam sebelumnya. Semua terasa mati. Seolah tidak terjadi apa pun yang mengguncang. "Ibumu terlihat sangat hancur." Darius bersuara setelah dirasa mobil terlalu mati pada dua orang di dalam. "Ada ibu Alby di sana. Yang banyak membantu menenangkan." "Akan terasa lebih baik kalau dia tidak datang. Melihatku hanya membuatnya semakin kacau." Alicia menekuk lututnya ke atas, meringkuk seperti bayi dan memunggungi Darius. "Aku berutang banyak padanya." "Untuk segalanya. Untuk semua yang kuperbuat." "Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri." "Aku tidak melakukannya," katanya lamat. Tenggelam dalam gamang yang menyakitkan. "Aku tidak berniat terus menyalahkan diri sendiri." *** "Kau lapar?" "Tidak." Darius mengerutkan kening. Melihat Alicia yang duduk bersandar di tepi jendela, memandang lurus pada pemandangan mahal Tokyo yang tidak pernah tidur dari lantai unit kamarnya tinggal. "Aku melihat ibumu sangat peduli," kata Darius pelan. Bersandar pada tepi meja, menatap Alicia dilema. "Orang-orang bilang, dia termasuk yang cuek dan angkuh. Kau tahu, asumsi. Gosip lagi." "Kalau mereka bicara masa muda, ya, itu benar." Alicia menarik napas panjang. "Remaja naif, keras kepala, tidak suka mendapat kekangan dari siapa pun atau apa pun." "Mama tidak terlalu peduli," ujarnya lamat. "Tidak akan pernah peduli pada apa pun yang membahas soal dirinya. Dia hidup untuk dirinya sendiri dan aku." "Kau tahu apa impiannya?" Darius mengangkat alis. Pandangan Alicia memantul dari jendela tempat tinggalnya. "Penyanyi. Itu terdengar aneh, bukan? Mama mengikuti banyak kelas semasa sekolah untuk memberi mereka hiburan. Dia hidup untuk melepas beban." "Kadang-kadang menanggung beban menjadi penerus tidak selamanya berhasil." Alicia mengambil napas, membuangnya perlahan. "Mendiang kakek dan nenek melihatku dan Alby sebagai investasi. Tapi ibuku tidak." "Kau menyesali kehidupanmu?" Kepala itu meneleng. Sorot hijaunya meredup dengan senyuman lirih. "Tidak. Hidup menjadi kaya menyenangkan. Kau bisa membeli apa pun tanpa berpikir panjang. Aku tidak bisa membayangkan seandainya kehidupanku sulit." "Hanya saja, mungkin beberapa hal membuatku berpikir keras. Aku terlanjur mengotori tanganku dan tidak bisa berhenti. Untuk beberapa kasus berat, aku terlanjur menikmatinya. Mempertahankan, memperjuangkan, mencoba menjadi orang lain. Aku mulai terbiasa." Alicia mendesah, memejamkan mata selama sejenak sebelum beralih pada Darius yang mematung. "Kau sendiri? Bagaimana hubungan kau dan Dannes? Kau dan ayahmu?" "Aku akan melakukan apa pun untuk mereka, untuk keluargaku. Pada dasarnya aku dan Dannes sama saja. Kami melindungi dengan cara lain. Ibuku tahu hobi kotor Dannes yang gemar membuang uang." Darius menghela napas panjang. "Kami hanya tidak bisa menghentikannya. Semua berasal darinya, dan hanya dia yang bisa menghentikannya." "Kehidupan tanpa pernikahan akan membuatmu baik-baik saja, benar?" Alicia tersenyum. "Meski aku yakin, perempuan selembut ibumu punya harapan bagus tentang kedua putranya yang berkeluarga." "Aku tidak pernah memandang sinis pada pernikahan." Darius berujar datar. "Orangtuaku punya cara mengatasi masalah di rumah tanpa kami tahu. Jika ibu bersedih, kami akan tahu. Hari terakhir yang membuat kami hancur saat dirinya tertidur cukup lama." Alicia menatapnya penuh makna. Yang membuat Darius salah tingkah. Iris hijau gadis itu begitu dalam, begitu cantik, begitu mengagumkan. Darius hanya tidak pernah melihat perempuan dengan tampilan yang sama selain Alicia selama ini. "Aku memuja matamu." Darius mengucapkannya terlalu lirih. Ia hanya berharap Alicia tidak mendengar pujian itu. Gadis itu hanya diam. Tidak ada rona malu, tidak ada rona merah, tidak ada apa pun yang terlihat. Tampilan temboknya terlalu keras untuk tertembus. "Aku memuja dirimu," balas gadis itu dengan senyum. Yang membuat getaran asing menghantui d**a Darius sekarang. "Semuanya. Segalanya. Yang ada pada dirimu." Darius berjalan melintasi meja untuk mendekat. Napasnya memburu, berantakan dengan cara yang ia mau. Matanya yang pekat menunduk, membasahi rasa penasarannya dengan rupa Alicia yang pucat, tetapi penuh tekad. Penggambaran Hana tentang Alicia sama sekali tidak salah. Gadis itu benar-benar berpenampilan layaknya malaikat. *** "Mau, Sayang?" Alicia mengangkat kepalanya dari daftar obat yang Darius tebus untuknya semalam. "Mama membuatnya sendiri?" "Hasil karyaku tidak akan mengecewakan," kata ibunya senang. "Bubur jagung dengan tambahan ayam. Kau suka ini." "Tentu." Alicia tersenyum, membuka mulutnya dan sang ibu dengan senang hati memberi suapan. "Bubur buatanmu yang terbaik." "Cukup sampai di sana pujiannya." Ibunya tertawa lembut. "Maaf karena Mama pulang lebih awal. Aku hanya perlu waktu sebentar." "Bukan masalah." Emily mendesah. "Darius yang menemanimu?" "Ya." Alicia memainkan jemarinya di atas meja. Mengetuk bibir gelas dengan desahan pendek. "Dia memaksa Cecil pulang, mengantarku, dan tidur di sofa." "Dia membeli satu unit kamar tepat di sebelahmu, kan?" "Ya." Kepala Emily meneleng. "Aku tidak pernah melihat ada pria yang seserius itu padamu." "Mama pernah," sahut Alicia lirih. Memandang mata ibunya yang meredup, ia terburu-buru menghela napas. "Yah, barisan mantanku tidak akan melakukannya. Terlalu takut pada kuasa Alby." "Bukan Alby, tapi margamu. Marga besarmu. Kebanggaanku." Seulas senyum tipis menghiasi wajahnya yang pucat. Setelah tidur, Alicia merasa lebih baik. Ibunya datang pagi-pagi sekali untuk memasak, merapikan kamar apartemennya dan menunggunya bangun. "Bibi Lena menemani?" "Dia tidak mau pergi. Seperti benalu saja," ujar Emily dengan bercanda. "Dia tidur di kamar lain." "Aku melihat bagaimana hubungan kalian berkembang. Orang lain tidak akan berpikir sampai sana, bukan?" tanya Alicia sinis. "Lena dan Emily hanya sepasang kakak beradik yang saling adu sikut untuk memperebutkan takhta dan harta." Ibunya tertawa geli. "Aku sudah sangat kaya. Sebagai sosialita terkaya, itu terdengar seperti lelucon lucu. Aku dan Lena berbagi keuntungan bersama. Kami tidak akan saling membunuh." Ekspresi ibunya melembut. Alicia diam-diam menarik napas panjang, membuangnya perlahan. "Gosip terkadang memuakkan. Tapi mereka butuh itu untuk membuat diri mereka sendiri tenang. Sementara kita membutuhkannya untuk membangun tembok." Suapan terakhir dan Emily merenung memandang wajah putrinya. "Kau terluka. Terakhir kali kau terluka karena kau berkelahi di Las Vegas." "Aku berjudi." Alicia tersenyum. "Luka kecil karena aku melemparkan botol kaca whiski ke kepala pecundang itu." "Orang lain menyebutmu pendosa, buatku kau seperti cahaya. Putriku, segalanya untukku. Aku rela melawan dunia atas namamu." Alicia terdiam. Kepalan tangannya mengeras di bawah meja. Ibunya memberi senyum, menelusuri lukanya dengan ibu jari dan mendesah. "Mama tidak perlu melakukannya." "Kenapa tidak? Aku ibumu." "Ini saatnya untukmu di rumah, bersantai, membaca buku, berenang. Mencintai kegiatan yang biasa kau lakukan. Sekarang giliranku." Sorot mata ibunya berubah. "Aku curiga dengan kalimatmu, Alicia. Kau hendak melakukan apa?" "Bersenang-senang?" Ibunya menghela napas. "Aku tidak pernah melarangmu bersenang-senang. Tapi tolong, jangan lukai dirimu sendiri." "Bagaimana dengan melukai orang lain?" Emily membisu. "Aku melukai jika itu perlu," sahut Alicia dengan cengiran. Melihat mimik wajah ibunya yang berubah. "Mama tidak perlu cemas. Ini yang terakhir kali. Kita bisa menganggap ini tidak terjadi." "Ini bukan salahmu. Kecelakaan itu. Hari ini petugas asuransi akan datang untuk memberikan mobil yang baru. Mama tidak peduli dengan mobilnya, Mama peduli padamu." Alicia tersenyum. Mengusap pipi tirus sang ibu dengan sorot penuh makna. "Aku menyayangimu. Sangat. Satu-satunya sosok yang kurindukan saat berada di tempat jauh." Ibunya memberi seulas senyum manis. *** "Dia ayahmu. Kenapa kau diam saja?" Alby berdeham. Menyadari Alicia yang melamun sejak rapat berlangsung tidak membantu apa pun. Sepupunya memberi kejutan dengan hadir meski lukanya masih tampak segar. Dirinya tidak bisa meminta Alicia mundur. Tidak akan pernah bisa. "Kami juga merugi. Tapi kami berusaha mengatasi segalanya. Kau tidak perlu cemas." "Aku hanya perlu tahu mengapa perempuan seberkuasa Alicia hanya diam saja," tukas pria itu dingin. Melempar dengusan keras ke arah Alicia yang melamun. "Dia bisa meruntuhkan kekaisaran kalau dia mau. Bisa membuat Perdana Menteri menjadi boneka hidup. Semua bisa dia lakukan. Tapi ini? Cih." "Dia masih ayahnya," kata Alby dingin. Membuat suasana berubah tegang dan mencekik. "Kami masih punya ikatan keluarga." "Tuan Dio, berhentilah mencari masalah." Salah seorang mencoba mengatasi kekacauan. "Kita akan menemukan jalan lain. Kau tidak perlu marah saat kita sedang rapat." "Aku perlu solusi. Dia selama ini diam saja. Aku tidak melihat dedikasi kesayangan leluhur marga besar ini padanya. Aku hanya melihat Alby yang sangat pantas." Alicia masih diam. Lirikan matanya berhasil membuat suasana kembali berubah. Pria itu bungkam. Ketika manik hijau itu berubah sinis. "Kau tidak bisa mengancamku sekarang. Aku punya saham yang lumayan di tempat ini, di perusahaanmu!" Alby menarik napas panjang. Ekspresi letihnya menggambarkan sesuatu yang baru. Alicia menggeser posisi duduknya, memangku dagu dengan senyum manis. "Terima kasih untuk sanjungannya. Aku tidak perlu diingatkan seberapa banyak nilai investasimu. Sahammu tidak terlalu berpengaruh untuk kemajuan perusahaan ini, orang kaya baru." "Kau meremehkanku?" "Kalau kau ragu, kau bisa mengambilnya sekarang. Jual saja dengan harga tinggi. Orang lain berlomba-lomba untuk duduk di kursimu sekarang." Manik cokelat Alby memandang sepupunya datar. "Aku dan Alicia bisa mengatasi ini," ucap Alby. "Kau hanya perlu menunggu. Itu sudah tugas kami. Kalau kau berkenan, silakan mundur. Aku malas menerima komplain untuk saat ini." "Risiko pailit pada keluarga kaya baru cenderung besar. Koneksi mereka belum terlalu banyak. Terutama untuk manusia sesombong dirimu," timpal Alicia dingin. "Aku bicara kenyataan tentang ayahmu!" Alby mendengus kasar. "Aku perlu membubarkan rapat sekarang. Kita akan membahas ini lain waktu. Asisten kalian akan mengabari kalau rapat kembali diadakan." "Begini caramu lari?" Pria itu dengan sinis bertanya, memandang Alicia dan Alby bergantian. "Kenapa kau harus membela sepupumu, Alby?" "Bukan urusanmu." "Kau beruntung karena aku belum menembak kepalamu sekarang." Semua orang tercekat mendengar kalimat santai Alicia. Gadis itu memiringkan kepala, memandang datar pada Dio yang pucat pasi. Kening Alby mengernyit. Ekspresinya menggambarkan kecemasan. Sebelum akhirnya para pemegang saham beranjak pergi, membiarkan mereka berdua tersisa di dalam. "Fabian kembali melarikan diri. Kau tahu?" "Ya." "Aku tahu kau punya rencana," tukas Alby. "Alicia, aku dan siapa pun tidak akan tahu langkah yang kau ambil. Kau punya jalanmu sendiri." Alicia menarik napas panjang. Memutar kursinya menghadap lurus ke luar jendela. Pada langit biru yang membentang luas memenuhi atap bumi. "Aku ingin membebaskan seseorang. Aku ingin dia bebas." Ekspresi Alby melemah. "Siapa?" "Mama." "Kau." Lamat-lamat Alby merasa dirinya tertikam. "Bibi Lena." "Cecil." Kendali diri Alicia terlampau besar. Gadis itu mampu menyesuaikan diri dalam situasi apa pun. Setelah kecelakaan itu, dirinya berhasil mengangkat kepala, membiarkan ekspresi misterius itu kembali. Segala ketakutan membanjiri benak Alby. "Kau tidak bisa membebaskan siapa pun." "Aku bisa." Alicia menarik tangannya dari meja, menjalinnya di atas pangkuan. "Jika aku harus menukar sesuatu, aku akan menukarnya dengannya diriku sendiri." Kepala Alby berdenyut. Kedua tangannya tertahan di rambut, mencoba menarik kesadaran dari segala kemungkinan. "Kau bebas berbuat apa pun asal tidak melukai dirimu sendiri. Ibumu sempat membahas itu denganmu, kan?" Sudut bibir Alicia tertarik naik. "Kenapa kau ingin tahu? Ibumu juga mengatakan hal yang sama, kan? Pada dasarnya Lena dan Emily sama saja." Alby diam. "Kau lihat, cahaya itu. Matahari. Aku akan menjadi dirinya suatu hari nanti." Pandangan Alby mengikuti telunjuk itu ke jendela. Tepat saat matahari bersinar terlalu terik. Yang terlihat hanya cahaya, tidak ada lagi yang lain. Alicia tersenyum tipis. "Aku akan menjadi cahaya." Kemudian bangun untuk membereskan sisa berkas, berjalan untuk pergi, meninggalkan Alby seorang diri bersama lamunan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN