duapuluh

1617 Kata
Lena menyesap anggurnya. Memandang lurus pada rembulan yang bersinar terang. Langit sedang tersenyum saat menepati janji dengan membiarkan bintang bersinar. Sementara dirinya duduk bersama Emily dalam diam. Saudara kandungnya tidak bersuara sedikitpun setelah membahas pernikahan. "Yang tersisa hanya trauma," ujar Lena skeptis. "Aku mencoba memahami posisimu sekarang." "Lebih baik dia mati." "Sisi lain dirimu menolak itu walau kau bisa." Lena berujar pahit. Mengendus aroma anggur dari tepi gelas kaca. "Kau membencinya. Antara perasaan cinta dan benci imbang. Aku bisa melihatnya dari matamu." "Kau mengambil kelas cenayang sekarang?" Lena terkekeh mendengar sarkasme dingin itu. "Tidak. Aku saudarimu. Kita lahir dari rahim yang sama. Apa yang tidak bisa kulihat?" "Mengapa kau membiarkan dirimu terluka?" Emily mendesah. Pertanyaan Lena membawanya pada tepi jurang putus asa. Saudarinya paham benar tentang kekalutan, kekacauan yang menimpa kediamannya. Lena tahu banyak. Wanita itu paham benar kegundahan yang mengitarinya sejak bertahun-tahun. "Dulu, kau melakukannya demi Alicia. Tapi sekarang putrimu bertambah dewasa. Dia memahami masalahmu, masalah orang-orang yang beranjak umur. Alicia tidak bodoh." Lena meneleng dramatis. Menatap sang adik dengan ratapan nelangsa. "Aku menyayangimu. Tetapi tidak begini caranya. Dia benalu. Parasit. Kalau kau mengajukan gugatan, kau akan menang." Emily menggeleng. "Kau tidak tahu." Suaranya gemetar karena rasa sakit. "Aku mencoba menjalaninya selama bertahun-tahun. Aku hanya mencoba bertahan." "Sampai kapan?" Adiknya hanya diam. Membisu adalah jawaban dari semua persoalan. "Aku punya Alby sementara kau punya Alicia. Kita lengkap. Mendiang ayah dan ibu menginginkan penerus yang berdedikasi terhadap kemajuan bisnis raksasa ini. Kita berdua sudah mencapai batas. Sekarang, waktunya menyerahkan takhta pada penerus. Kau tidak mau Alicia terpukul atas lukamu sendiri, bukan?" "Dia sudah terpukul," ucap Emily pahit. "Aku menyesali luka yang menyinari matanya. Alicia hanya tidak bisa bicara. Dia memilih untuk pergi. Untuk melepas segalanya seakan melarikan diri. Dia melihat caraku di masa muda." "Kau menjengkelkan saat itu," tambah Lena dingin. "Kau membuat kami cemas sekaligus marah. Tapi toh, kami tidak bisa berbuat apa-apa." Keduanya menarik napas berat. Lena memejamkan mata, bersidekap dengan bibir tertarik turun. "Pernikahan kita berdua hancur. Bisnis yang melingkupi tidak berjalan sebaik itu. Atau setidaknya, panutan kita berujung kematian." "Suamimu meninggal." "Aku bisa memandang dunia lebih baik darimu," imbuh Lena. "Kesepakatan hanya untuk melahirkan penerus. Kita hidup dalam tekanan dan harus memberi nasihat yang sama pada anak-anak." "Bagaimana dengan Alby?" Lena meringis. "Anak itu," gumamnya. "Kadang-kadang aku melihat sisi suamiku padanya. Alby keras kepala. Tapi dia mendengarkanku sebagai ibunya." "Kau berniat meneruskan pernikahan ini?" Kedua mata Lena berpendar ragu. "Tidak. Aku tidak setuju. Alby pantas mendapat seseorang yang sepadan. Begitu pula dengan Alicia, bukan?" "Ya. Tentu saja. Setelah semua ini, Alicia pantas mendapatkan yang terbaik." Emily memberi cengiran lebar pada Lena. Saat mereka saling menghibur satu sama lain. Membahas kenangan lama saat keduanya masih menjadi remaja menyebalkan yang merepotkan. Setidaknya, Lena lebih cepat dewasa darinya. Orang-orang berasumsi mereka bertengkar karena harta. Toh, biarkan saja. Lena dan Emily punya cerita sendiri selama mengarungi lautan kehidupan. *** "Bagaimana caramu pulang?" Gadis muda itu mengernyit. Mengalungkan tas murah dan mantelnya secara cepat. Terburu-buru. "Dengan bis, Nona." "Ini sudah malam," kepalanya mengendik pada jam besar di dinding. "Pergilah dengan taksi. Panggil sekarang. Aku yang membayar ongkos taksi kalian semua." "Jam sembilan malam," cicit salah satunya. "Kami terbiasa pulang dengan bis umum." "Kalian bisa sampai rumah pukul sepuluh atau sebelas. Transportasi umum berjalan seperti siput dan harus berhenti di setiap halte," kata Alicia lelah. "Hubungi taksi sekarang. Biarkan mereka menjemput sampai di depan kantor." "Nona Alicia, ini—," "Sudah, tidak apa. Aku tidak ingin mengambil risiko karena kalian berkenan menemaniku lembur." Alicia bangun dengan seurai senyum tipis. "Hubungi taksi. Aku yang akan membayar dari sini. Kebetulan aku perlu menghabiskan uang tunai." Mereka saling berpandangan saat Alicia berlalu pergi ke dapur. Kemudian menurut tanpa suara. Memanggil taksi melalui ponsel. Satu-persatu taksi datang untuk menjemput. Sedangkan Alicia benar-benar menepati janjinya untuk membayar lebih banyak agar para pekerjanya pulang dalam keadaan selamat. Dan menyisakan dirinya sendiri dalam sepi. Berkutat dengan kumpulan kertas di atas meja. Yang berserakan memenuhi seisi meja bersama pensil dan kotoran bekas penghapus. Alicia perlu duduk. Dalam remangnya ruangan, bertanya-tanya tentang dirinya sendiri dan kehidupan. Kemudian lagi-lagi menerima bisu. Tidak ada yang bersuara. Sketsanya berantakan. Yang tersisa hanya goresan abstrak memenuhi tempat kosong. Kertas putih itu terlalu banyak noda. Terlampau kacau dan buruk. Ia tidak bisa menggambar saat pikirannya terlalu bercabang. Ponselnya berbunyi. Nama sang ibu tertera di layar yang menyala. Alicia menarik napas, merubah suaranya agar tetap tenang. "Aku akan pulang sebentar lagi. Ke apartemen." Lalu, jeda. "Mama, aku baik-baik saja. Jangan cemaskan aku. Bibi Lena masih tinggal?" Sang ibu memberi nasihat singkat sebelum menutup percakapan. Alicia hanya mendengarkan, membiarkan ponsel kembali mati dan tidak ada suara apa pun yang terdengar selain detak pada jam dinding. Ia hanya perlu tidur. Keputusannya untuk pulang membuatnya sedikit bersemangat. Mengemas barang, merapikan meja dan memeriksa kantor sekali lagi. Memastikan tidak ada apa pun yang terlewat. Lexus miliknya menjadi satu-satunya yang tersisa. Memastikan semua barangnya telah di tangan, masuk dan mulai memindahkan gigi untuk mundur. Jalanan mengering saat hujan telah berhenti berjam-jam lalu. Alicia menarik napas, mematut lampu merah yang berkedip selama beberapa detik sebelum bergeser ke hijau. Mungkin pikirannya terlalu kosong. Atau mungkin dirinya terlalu lelah. Pekerjaan, rasa asing, kesepian, perasaan bersalah, penyesalan, semua berbaur menjadi satu. Mobilnya nyaris menabrak bagian depan truk tronton berlawanan arah yang sekeras mungkin menekan klakson. Alicia tersentak, membanting setir ke arah lain agar terhindar dari lindasan. Kemudian merasakan tubuhnya terguncang hebat. Satu-satunya penyelamat hanya sabuk pengaman dan airbag yang membesar ketika benturan keras itu terjadi. Alicia terlempar. Nyaris terkapar di jalan saat mencium bau bensin dari mobilnya sendiri. Lexus itu tidak lagi berbentuk. Rasa bersalah sekaligus takut melilit perutnya tanpa ampun. Darah? "Nona, awas!" Kedua matanya melebar. Menemukan tangisan keras berasal dari sedan yang terlempar karena menabrak mobilnya. Alicia bangun dari jalan, tertatih mencoba menyelamatkan seorang anak kecil yang terhimpit di antara pintu mobil dan kaca. "Menjauh dari sana!" Ia tidak mendengar. Benar-benar mencoba menulikan kedua pendengarannya saat berlari kencang. Sebelum ledakan itu terjadi, dan dirinya terlempar. *** "Aku beruntung karena Anda datang." Darius menggeleng dengan cepat. Mengambil jas dari ruangannya dan berlari. "Bukan masalah. Aku ada di dekat sini saat kau menghubungi. Sisanya di mana?" "Di ruang gawat darurat. Yang selamat menunggu di lorong depan ICU." "Aku akan memeriksa luka korban yang selamat." "Baik, dokter." Darius bergeser ke persimpangan lorong. Melihat ada tangisan dan kerumunan yang cukup ramai membelah sepinya koridor. Matanya yang awas menangkap bayangan seorang perempuan. Duduk berlutut dengan kepala tertunduk. "Alicia?" Ia mengenali gadis itu ketika memilih menjaga jarak dari para korban lain. Sebelum benar-benar menyentuhnya, bertanya tentang luka para korban dan memberi mereka bantuan. Pikiran Darius bercabang. Karena Alicia seolah tidak melihat ke arahnya, tidak menganggap dirinya ada di sana. "Pindahkan ke kamar rawat yang kosong." Para perawat menuntun mereka untuk beristirahat alih-alih bersandar di kursi yang dingin. Segera bangun untuk mendekati Alicia yang melamun. "Alicia?" "Anak itu ... tewas." Anak itu? "Ledakan, api, aroma bensin." Alicia berujar dengan gemetar. "Aku tidak peduli pada mobilku. Aku peduli pada mereka. Anak itu ... tewas." Darius menarik bahu Alicia agar tersadar. Saat manik hijau itu memandangnya, cahaya redup berpendar menelusup ke dalam hatinya. "Kau terluka? Kau baik-baik saja?" "Luka kecil, dokter." Alicia membalas datar. Mencoba menyingkirkan tangan Darius dari bahu. "Aku baik-baik saja. Selamatkan yang lain." "Mereka sudah teratasi," kata Darius cemas. Menelisik seluruh tubuh gadis itu dan menemukan pakaian yang terkoyak serta luka yang mengering. "Kau perlu diobati." "Aku perlu tidur." "Kau akan tidur setelahnya." Darius mencoba bangun, dan Alicia bergeming. "Alicia?" Gadis itu mencoba bangun dengan tertatih. Sementara Darius dengan sigap membantunya. Membiarkan tangannya melingkari tubuh feminim itu dengan gerakan lembut. Penuh kehati-hatian. "Apa yang terjadi sebenarnya?" "Kecelakaan. Karena aku." Alis Darius mengernyit. Saat dirinya membawa Alicia menuju ruangan kelas satu, mendudukkan gadis itu di atas ranjang. "Karenamu?" "Aku melamun. Truk tronton itu membunyikan klakson dan semua terjadi. Mobil meledak, ada anak kecil, dan aku tidak ingin mengingat apa pun lagi." "Kau mengalami trauma karena benturan," ucap Darius lirih, mengulurkan tangan untuk memeriksa luka karena goresan kaca. "Aku akan memeriksamu." "Belum tentu ini salahmu," tambah pria itu datar. Mencoba mengembalikan atensi Alicia yang terpecah. "Polisi akan bekerja menemukan titik masalahnya." "Anak itu tewas. Aku sudah mencoba menyelamatkannya." Alicia gemetar. Ketika tangannya menyentuh tangan Darius, tubuhnya terguncang. "Karena ledakan. Aku tidak bisa membayangkan tubuh mungil yang hancur." Darius bergeming. Sementara benaknya berkelana mengingat ucapan ayah Alan tempo hari sebelum kepergiannya. "Aku akan mengobatimu. Sebentar, kau perlu menahan rasa pedihnya." "Aku ingin menangis," ujar Alicia lirih. "Tapi tidak bisa. Air mataku tidak mau turun." Darius meliriknya. Membiarkan tatapan gadis itu jatuh pada luka-lukanya sendiri. Darius membalur luka-luka yang kering dengan cairan dan obat anti infeksi untuk mempermudah penyembuhan. Agar tidak ada bakteri atau kotoran yang masuk dari luka yang terbuka. "Setidaknya, kau baik-baik saja." Alicia menatapnya dalam gamang. "Dokter, kenapa suaramu bergetar? Kau mencemaskanku?" "Ya." Ekspresi Alicia berubah menjadi pecahan yang tidak terbentuk. Rasa sakit, putus asa, bingung dan lega menjadi satu. "Aku datang karena darurat. Mendengar kecelakaan beruntun membuatku tiba di sini lebih cepat." "Teringat ibumu?" "Ya." Darius mengakui dengan berat hati. Ia hanya terlalu pengecut untuk membiarkan kenangan itu mati. Ibunya kritis, nyaris tidak tertolong, dan hidupnya ada di tepi kehancuran. "Maukah kau memelukku?" Darius terdiam. Sorot matanya yang kelam menembus ke dalam manik teduh gadis itu. Ini tidak sama seperti Alicia yang pertama kali ia lihat. Sosoknya berbeda. Darius hanya perlu mendekat, menyusuri pipi pucat gadis itu dengan tangannya lalu mendekap. "Kau sudah baik-baik saja." Alicia tersenyum di bahunya. "Terima kasih." Kemudian semua kenangan itu mengalir deras tanpa bisa tertolong lagi. Mengaburkan harapan serta rasa sakit yang terlalu menggenang. Alicia gemetar, dan mencoba untuk tidak menjadi pengecut dalam satu malam. Saat pelukan Darius semakin erat. Mengaburkan bayangan fantasi dan kenyataan yang sempat mengontrol kehidupannya. Alicia merasa aman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN