sembilanbelas

1513 Kata
"Lucu sekali. Siapa namanya?" "Lucy dan Louise. Mereka kembar. Sayangnya, Lucy tidak terlalu sempurna." Alicia tersenyum memandang dua anjing lucu yang ikut pemiliknya berjalan pagi di sekitar taman apartemen tempat tinggalnya. Cuaca sangat bagus untuk berlari. Saat dia memutuskan untuk membuka kantor lebih siang, dan menghadiri beberapa rapat atas permintaan Alby, Alicia hanya perlu amunisi lebih untuk menjalani hari yang monoton. "Dia sangat cantik." Alicia mengulurkan tangan dan anjing itu memberi sapaan hangat dengan mengulurkan salah satu kaki yang bengkok padanya. "Juga menggemaskan." "Terima kasih. Kau baik sekali. Kau punya anjing?" "Ya, sebelumnya. Pergi lebih awal dan terlalu muda." Alicia tidak ingin membahasnya. Kenangan akan Angel merasuk dadanya sampai merobek pangkal. "Aku turut berduka." Si pemilik berpamitan dan membawa anjingnya pergi. Lucy dan Louise berlari mengejar mereka. Meski Lucy tidak sempurna, anjing mungil itu lincah. Senyumnya terlihat lebar bermandikan sinar matahari. Alicia kembali pergi. Mematikan musik dari Ipod miliknya untuk membeli segelas air minum. Kembali berlari, mencari udara segar bersama beberapa pesepeda yang berdampingan di jalan lain. Bangunan apartemen yang menjulang menjadi pemandangan kontras tersapu siluet bibir matahari yang muncul. Alicia menarik napas, berolahraga kecil untuk membuat otot tubuhnya tetap rileks ketika bersandar, menatap lurus pada daun apel yang hijau. Pemandangan anak-anak yang berlari, orang tua yang mengawasi, kebisingan yang timbul karena mereka saling bercakap-cakap. Alicia melihat orang baru bertemu orang baru lain. Saling berbicara dengan maksud berbeda. Dirinya termenung. Mengamati satu-persatu tanpa bisa bersuara. Lidahnya tiba-tiba kelu. Kedua matanya menyapu datar pada orang-orang di sekitar. "Kupikir kau berniat olahraga, bukan mengamati orang-orang yang keluar untuk mencari udara segar." Sengatan tarikan napas tajam membuat Alicia tersentak. Kedua matanya menyipit saat melihat Darius berdiri di sebelahnya. Dokter muda itu berpakaian santai yang khas. Dengan celana training, kaos hitam polos melekat pada tubuh atletis dan menggenggam sebotol air dingin. "Kau berolahraga?" "Aku melakukannya hampir setiap pagi. Kau?" "Apartemen punya fasilitas gym di lantai atas," aku Alicia. "Kau tidak tahu?" "Tahu. Aku terbiasa berjalan pagi sejak dulu." Mata kelam Darius menyapunya. "Apa kau mabuk semalam?" "Aku hanya minum dua gelas." Alicia mengakui dengan ringisan. "Aku bersama Cecil untuk minum." "Kupikir bau alkohol tidak lagi tercium," imbuh Alicia masam. Mencium dirinya sendiri dan mendapati aroma manis lain yang muncul. "Aku tidur cepat semalam." Darius hanya mengangguk. Tidak bersuara lagi saat Alicia beralih mundur, membawa dirinya bergeser ke tempat lain dan pria itu mengekori. "Aku perlu sarapan." "Oh, ada bubur rekomendasi di sini. Beberapa tempat makan yang cocok setelah membakar kalori. Kita berolahraga agar tetap sehat, bukan untuk diet." Alicia memberi cengiran. "Pilih saja tempat makannya. Aku yang mentraktir." "Oh, baik sekali." Alicia pikir itu bukan sarkasme. "Hana baru saja bercerita kalau kau memberikan gaun itu secara gratis khusus untuknya. Ibuku meminta agar dia tutup mulut dan tidak berlebihan. Tapi dia berterima kasih." Alicia tersenyum. "Sama-sama. Itu untuk nilai tambah penjualan. Hana sepertinya cocok memasarkan produkku ke beberapa kalangan remaja." Darius tidak terlalu menanggapi lelucon gadis itu. Nama Alicia cukup terpandang dari segi marga maupun bisnis hebatnya sendiri. Tangan gadis itu berbakat. "Bagaimana dengan bubur?" "Bukan masalah." "Rekomendasi terbaik," kata Alicia setelah mereka masuk dan dihadiahi senyuman manis dari si pemilik. "Bubur kerang mereka yang mendapat lima bintang." "Aku akan mencoba." *** "Peralihan musim yang mengesankan. Sebentar lagi memasuki musim penghujan. Setelahnya musim kemarau, dingin. Terus begitu ..." Suara Cecil tertelan bisingnya ketel yang mendidih di atas kompor. Salah seorang pegawai bergegas untuk mematikan barang kecil beruap itu, memindahkan seluruh isinya pada wadah dengan hati-hati. "Cuaca yang sempurna untukku kembali ke tempat tidur," ujar Alicia datar. Gestur mimiknya tampak masam. Menggores sesuatu di atas sketsa. "Kalau aku menyingkirkan semua kertas ini, percuma saja. Tidurku tidak akan nyenyak." "Kau berolahraga pagi ini, kan?" "Ya. Alby memberitahu?" Mata biru Cecil terlihat redup. "Ya, dia memberitahuku." Alicia tidak lagi terlihat berniat membuka mulut. Saat matanya mengerjap, menatap Cecil sekilas, sebelum akhirnya duduk dan memangku dagu. Membiarkan rintik gerimis membasahi jalan dan jendela. "Aku rasa kau masih bisa bertahan seandainya pria itu menyerang," tukas Cecil sambil lalu. Duduk di sofa, bersandar dan dengan malas melihat katalog. "Kau tahu, kekuatanmu. Kau bisa memakainya di saat terpenting. Dan dia tahu. Dia menyadarinya." "Aku belum berniat melakukannya," ujar Alicia skeptis, mengambil napas berat. "Well, belum untuk sekarang. Suatu hari nanti, aku tidak berjanji." "Manusia memang secara alamiah membentuk tameng itu sendiri untuk melindungi. Itu tindakan spontan mereka." Cecil memandang lirih ke langit ruangan. "Jika kau melakukannya, aku mendukungmu. Dukunganku untukmu, tidak untuk siapa pun." Secara gagasan, Alicia menyukai ide sahabatnya yang memberi dukungan padanya. Alicia tidak punya pendukung selain orang-orang dengan bisnis lemah dan suka menjilat. Meski Cecil termasuk ambil bagian dari salah satunya, wanita itu tetap sahabat terbaiknya. Alicia yang anti sosial tidak akan bisa berbaur dengan lebih dari satu orang dan menetap. Cecil pengecualian terbesar. Ada beberapa hal yang membuat mereka menyatu secara tidak kasat mata. "Aku punya selimut di lemari kalau kau ingin berbaring sebentar." "Dan membuat malu para pengunjung?" Cecil mengambil napas dengan ringisan. "Tidak, aku hanya akan berbaring sebentar dan bukan tidur." "Tidur juga tidak apa-apa. Kalau kau tidak mau di sana, pergilah ke dalam. Kamar itu mungkin terlihat seperti kamar kos sepetak." Tawa meluncur dari bibir Cecil yang terbuka. "Ketika kau bisa membeli kantor yang lebih hebat, kau memilih ini. Merombaknya sesuai gayamu sendiri. Aku percaya ini sesuai gayamu, memang." "Aku lebih suka membeli yang rusak, lalu merubahnya menjadi sempurna. Kepuasan tersendiri saat kau melihat bangunan kantor yang fantastis sesuai seleramu." Manik biru laut Cecil meredup. Serupa seperti langit yang bersembunyi saat gerombolan awan mendung tiba. "Setelah hujan reda, aku akan pergi." "Akan berlangsung lama," sela Alicia setelah menyusuri sketsa baru dengan telunjuknya, menatap hasil singkatnya. "Satu atau dua jam lagi. Kau punya waktu untuk tenggelam dalam tidur sebentar." "Aku belum bekerja dan sudah merasa lelah," tukas wanita itu lirih. Meraih bantal, melipat kakinya di atas sofa dan melihat beberapa orang yang bekerja untuk Alicia memandangnya iba. Ia tidak butuh dikasihani. "Berhenti menatapku seperti itu." Alicia mengangkat kepalanya dari lembaran kertas. Mengarahkan matanya pada dua pekerjanya yang memandang Cecil skeptis. Penghakiman yang nyata, yang sama-sama membuat mereka berdua terguncang. "Berhenti memandangnya. Teruskan pekerjaan kalian." Seharusnya, teguran itu cukup membuat Cecil merasa aman untuk sementara. *** "Kopi?" "Ya," Alicia berujar tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. "Thanks." Alby mengempaskan tubuhnya pada sofa. Memandang penuh senyum pada sepupunya yang sibuk. "Well, thanks, ucapan yang mengesankan. Aku tidak percaya kau bisa mengatasinya dengan baik." "Kau selalu meremehkanku." "Koreksi bagian itu," tukas Alby masam. "Aku tidak pernah meremehkanmu selagi ibumu membanggakanmu melebihi dunia dan isinya. Orang-orang yang menaruh ekspetasi besar terhadapmu. Dan aku, termasuk korban." "Kau bukan korban." "Aku korban. Selama ini melihatmu sebagai gadis pemurung dan pendiam. Mungkin karena keluargamu kacau? Kehidupanmu tidak berjalan baik?" Alby mendengus pelan. "Itu bukan urusanku, memang. Tapi aku terkejut." "46 persen saham. Kau serius?" "Aku serius." Alby mengerutkan alis. "Bank itu berada di garis merah selama hampir tiga bulan. Bayangkan saja. Mereka harus memecat sekurangnya dua ratus orang perbulan. Ratusan pekerja mereka terlantar tanpa pesangon." "Tiga bulan dan ada enam ratus orang." Alicia mendesah. "Ini termasuk anak cabang?" "Tipuan finansial dan terlalu gegabah memandang nilai saham," sahut Alby muram. "Manajemen keuangan yang buruk. Mereka merugi dan uang nasahah berhamburan pergi. Ya, itu termasuk anak cabang. Mereka tetap buka dan terus menerima laporan dari pelanggan." "Lalu kau berniat menolongnya?" Kedua bahu Alby terangkat acuh. "Bukan aku, tapi kau. Aku memberikan 46 persen itu untukmu. Kau bisa menganggap ini pelatihan nyali. Sisi manusiawimu lebih besar dariku." "Kau bergurau." Kepala itu meneleng. "Tidak. Aku bertaruh." "Nol terlalu banyak dan aku tidak bisa menghitung kerugian sebanyak ini." Alby mendesah. "Kau sepertinya harus mengorbankan waktu kencanmu dengan dokter muda itu demi menyelamatkan kehidupan orang lain." Senyum Alby melebar. Sudut bibirnya berkedut naik dengan seringai. "Yah, aku tidak mau mengatakan ini. Tapi sebagai pewaris, kau harus tahu kapan dan apa yang harus kau lakukan. Ini percobaan." "Ini neraka." "Leluhur kita juga mengalami fase yang sama. Jangan mengeluh." Alicia tidak lagi bersuara. Kepalanya terasa berdenyut perih walau samar. Rasanya akan berlangsung lama dan menetap. Saat matanya melirik, Alby sedang melamun. "Kau bersama Cecil tadi?" "Kenapa bertanya?" "Tidak sulit untuk menjawab," tegur Alby dingin. "Sahabatmu sepertinya butuh dukungan mental yang lebih banyak." "Biayai dia pergi untuk berobat. Uangmu banyak." Alicia mendengus, merapikan berkas di atas meja. "Berkurang beberapa juta di rekening tidak akan membuatmu miskin." "Bukan perkara uang," sahut Alby lemah. "Ini bukan hal yang kumau. Aku tidak peduli padanya. Tapi kau peduli." Alicia bangun dari kursi. Mengalungkan tas mahal miliknya sebelum beranjak. Dan Alby lagi-lagi menarik langkahnya untuk tidak terlalu tergesa. "Darius menyimpan rahasia darimu," ucap Alby pelan. Matanya menyimpan api yang berkobar di dalam tungku. "Tidak semua orang bersikap suci. Dia hanya naif." "Aku tahu." "Kau tidak marah?" "Kita sama saja." Ekspresinya sama sekali tidak melembut. "Manusia menyimpan iblisnya sendiri dalam hati. Kau, aku, dia, atau siapa pun. Kalau dia memiliki rahasia, itu miliknya." "Bagaimana rasanya tertipu?" Alby berujar muram, melirik sepupunya yang mematung. "Kau belajar dari pengalaman. Ibumu, keluargamu. Semuanya. Kau belajar dari mereka. Menipu lebih baik." "Aku—," "Kau tidak boleh terluka," kata Alby dingin. "Aku yang memastikanmu tidak akan terluka." Alicia hanya kehilangan suara untuk membalas dan memilih pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN