Alicia mendongak saat melihat Hana datang dengan senyum lebar. Remaja itu masuk dengan celana pendek dan pakaian berlengan panjang. Sepatu bermerek keds menempel ketat di sepasang kakinya.
"Wah, aku mendapat kabar kalau gaunku sudah jadi. Benar-benar tidak sabar." Hana kegirangan saat melihat gaun pesanannya datang dari dalam. Dipajang dalam sebuah boneka dan tersenyum berbinar. "Ini luar biasa."
"Aku tersanjung mendapat pujianmu," kata Alicia dengan senyum. Turun dari kursinya untuk memamerkan gaun baru Hana. "Kurasa milik ibu dan bibimu akan selesai besok. Kami perlu menata pada bagian leher dan pinggang sekali lagi."
"Bukan masalah. Mereka bisa menunggu." Hana menyahut dengan senyum. "Ini indah sekali. Aku memiliki gaun rancanganmu dan itu luar biasa. Tidak peduli ada harga mahal yang perlu kubayar."
"Bagaimana kalau aku menyebutnya gratis untukmu?"
"Khusus?"
Alicia tertawa. "Ya. Untukmu saja," bisiknya. "Kedua gaun lain berbayar. Aku tentunya perlu memberi makan para pekerjaku, bukan?"
"Ya Tuhan, baik sekali."
Alicia memberi isyarat agar pegawainya segera membungkus gaun yang sudah sempurna itu untuk Hana. Sementara Alicia membawa gadis itu untuk duduk, mengambil dua soda kaleng untuk mereka.
"Aku menceritakanmu pada teman-temanku. Dan mereka tidak percaya. Rupanya gosip itu sudah beredar luas. Aku sama sekali tidak suka dengan omongan mereka." Hana membuka suara, memainkan kaleng soda dingin di tangan.
"Kau tidak perlu sebaik itu. Biarkan saja. Aku terlalu malas memberikan klarifikasi yang tidak perlu," imbuh Alicia dengan senyum. Meminum soda dingin dari kaleng. "Toh, gosip selamanya akan tercium gosip."
"Aku beruntung karena Darius tidak seperti itu. Bagaimana hubungan kalian selanjutnya?"
"Kurasa kau bisa tanyakan itu padanya," balas Alicia setengah datar. "Kalau dia bicara jujur, maka dia akan bicara jujur."
Hana tersenyum. "Dia tidak bisa berbohong. Terutama pada ibunya. Darius dekat dengan ibunya."
"Yah, setelah hampir kehilangan seseorang yang berjuang keras melahirkannya, itu tidak mudah." Alicia berujar datar, menyesap aroma soda. "Tentang kecelakaan itu."
"Ah, lima belas tahun lalu." Hana mengucap getir.
"Kecelakaan itu memukul telak seluruh keluarga besarmu, bukan?"
Iris kelam Hana menyorot dengan pedih. "Ya. Terutama untuk keluarga inti. Aku tidak pernah melihat kedua sepupuku sehancur itu. Tapi, toh mau bagaimana lagi? Pelaku utamanya tewas di tempat kejadian. Bibiku menjadi satu-satunya yang selamat."
"Kau mendengar beritanya?" tanya Hana gusar.
"Sempat ramai di portal berita. Aku melihatnya dari sana. Dan tidak tahu kalau salah satu korbannya ibu Darius. Sebelum beliau bercerita padaku. Secara singkat, dan aku ikut berduka kemarin."
Hana tersenyum. "Itu sudah berlalu. Bibiku punya trauma berkepanjangan. Dia memakai supir. Dan saat memasuki tol, dirinya lebih waspada. Aku bisa memahami ketakutannya. Yang tersisa hanya trauma."
"Aku mengerti." Alicia mendesah. "Kalau aku ada di posisi yang sama, mungkin juga akan seperti itu."
"Saat aku pergi ke rumah sakit, aku melihat bingkisan makan siang di meja Darius. Aku tidak percaya kalau tanganmu handal dalam banyak hal," puji Hana tulus. "Kau benar-benar panutan terbaik. Astaga. Teman-temanku hanya iri karena bidadari benar adanya dan bukan sekadar khayalan semata."
Alicia tertawa singkat. Sementara Hana meluruhkan suasana dengan beberapa lelucon singkat yang membuat Alicia terbuai.
***
"Alicia?"
"Aku perlu tahu kondisimu."
Cecil tersenyum menahan pedih. "Koneksi persahabatan di antara kita benar-benar nyata, bukan?"
Alicia masuk ke dalam. Memandang lurus pada sosok yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Selayaknya dirinya mematut, Alicia merasa seharusnya dia yang terbaring di sana, dan bukan orang lain.
"Kau melamun," tegur Cecil lembut. "Sini, duduklah. Aku punya sisa roti yang kubeli siang tadi."
"Kau tidak bekerja?"
"Hanya sebentar."
Alicia menangkap kegelisahan yang mencemari wajah cantik serta pucat sahabatnya. Dulu, Cecil bersinar. Sinarnya melebihi dirinya. Alicia tidak pernah mengenal kata dengki pada sahabatnya. Namun, ada beberapa perubahan mencolok yang membuat sinar itu memudar.
"Mereka tidak bicara apa pun lagi?"
Rambut pirang itu terayun lembut mengikuti kepala yang menggeleng. "Tidak. Kau tahu, hanya membiarkanku pergi dengan air mata. Aku ini lemah. Mereka tidak akan menahan anak sepertiku untuk berlama-lama menangis."
"Kau tidak seharusnya—," suara Alicia tertelan rasa gundahnya sendiri. "—mengalami mimpi buruk ini. Aku mencoba memahamimu."
"Jangan." Cecil tersenyum menahan sakit. "Ini semua risiko. Aku bersiap menanggungnya, dan aku tidak akan menyalahkan siapa pun atas hal ini. Alicia, ini kemauanku."
"Kau benar-benar menyebalkan."
Alicia tidak benar-benar mengatakannya hanya untuk membuat perasaan Cecil semakin hancur. Ia memilih untuk melempar pandangan ke arah lain, menahan getir yang menyambangi dadanya bagai sambaran petir.
"Aku penasaran. Bagaimana hubungan kalian di masa depan?"
"Aku tidak punya pandangan," sela Alicia muram. "Kami sama-sama menjadi dua pribadi yang saling tertarik satu sama lain."
"Itu terdengar agak kasar," kata Cecil dengan desahan. Tidak menghiraukan rasa pendingin ruangan yang berlama-lama menetap di kulit serta lantai. "Kita terlalu cepat menyimpulkan kalau dokter muda itu jatuh cinta."
Sebuah tawa hambar meluncur. "Aku tidak sepakat untuk itu. Kami baru bertemu. Sepasang orang asing yang jatuh cinta, terdengar konyol. Aku seperti sedang membaca buku romantis murah."
Cecil menahan senyum dengan ringisan. "Kau tidak memandang cinta dengan cara sinis, melainkan dengan cara beradab. Cara yang lebih modern dan dewasa. Tidak seperti aku."
"Kau punya hati yang baik," sahut Alicia tanpa ekspresi. "Tidak seperti diriku. Setidaknya, ada sisi lain darimu yang perlu kau pertahankan selain pikiran rasional."
Kepala Cecil terlempar ke belakang. Menatap langit-langit kamar yang terang dengan tarikan napas. "Mau minum? Aku butuh minum. Kau mungkin perlu merokok."
"Aku mengurangi nikotin," ujar Alicia skeptis. "Di depan ibuku. Tapi kalau kau mengajak, aku tidak akan menolak."
"Dokter itu tidak memberi nasihat?"
"Belum." Alicia meneleng. "Atau mungkin nanti. Dia akan memberi wejangan manis tentang bahaya rokok pada perempuan."
"Ibu hamil serta menyusui," imbuh Cecil dengan cengiran. Mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja lalu memakainya. "Konsep di sini kau tidak hamil dan tidak menyusui."
"Aku tidak berpikir akan menjadi ibu."
Alis sahabatnya yang rapi tertarik naik. "Oh, memang tidak. Tidak sekarang. Aku percaya kau tidak pernah memikirkan hal itu dalam waktu dekat."
"Mungkin waktu yang panjang juga akan berpengaruh."
Alicia memandang sosok yang terbaring dalam diam. Melirik Cecil yang bungkam, kemudian menghela napas. "Tidak apa kalau kau ingin mengucapkan salam perpisahan atau selamat malam. Dia cintamu."
Cecil mendekat untuk mencium pipi si malang yang terbaring cukup lama.
***
"Dokter?"
Darius menurunkan tatapannya pada si bocah delapan tahun yang meringkuk dengan pandangan cemas. "Kau akan baik-baik saja. Aku perlu membawamu pergi."
"Di sini tidak aman?"
Kepalanya menggeleng. "Tidak aman. Kita harus pergi."
"Ayahku pasti kembali, kan?"
Darius menarik napas. Sisi emosionalnya tertonjok karena melihat sepasang mata polos itu melebar penuh harap. "Aku tidak tahu. Apa dia berjanji padamu?"
"Dia bilang akan pulang. Aku hanya perlu menjalani hidup dan bermain. Masa depanku sangat cerah. Benar begitu, dokter?"
"Ya." Darius mengurung anak itu dengan mantel. "Masa depanmu bagus. Ayahmu benar. Kau hanya perlu belajar lebih tekun lagi."
"Siapa namamu, dokter?"
"Darius. Kau?"
"Alan." Senyum bocah itu mengembang. "Nama yang bagus. Ayahku bilang, yang memberi nama bagus ini ibuku. Dia pernah melihat singa liar yang tertembak mati karena menghantui rumah penduduk. Nama singa itu Alan."
"Ibumu bekerja untuk perlindungan hewan?"
"Ya, dokter. Ibu sudah pergi ke surga lama sekali. Aku tidak boleh merasa sedih karena ibu akan menangis nanti." Alan bangun dari ranjangnya. Memijak lantai dengan hati-hati sebelum memakai sandal. "Kita akan pulang?"
"Kau tidak aman di rumah," ucap Darius datar. Membawa anak itu dalam genggaman tangan. "Aku punya rumah sementara yang mungkin membuatmu merasa lebih aman."
Alan mengangkat alis. "Jauh dari perkotaan?"
"Tidak terlalu. Tetapi pemandangannya masih asri. Kupikir kau akan menyukainya."
"Terima kasih banyak." Alan berujar dengan senyum manis. "Dokter banyak membantuku dan ayahku."
Darius membawanya melalui pintu belakang. Ia sudah memarkirkan Jaguar di sana. Berjaga-jaga kalau seseorang melihat mereka. Alan masuk ke dalam mobil dan Darius memastikan bocah itu memakai sabuk pengaman dengan benar.
Alan tidak banyak bertanya saat Jaguar membawanya pergi. Mantel yang besar membungkus tubuh ringkihnya yang masih terbalut beberapa perban dan bekas infus.
"Makanlah dengan baik setelah sampai."
Mata polos anak itu berpindah pada Darius. "Aku akan makan dengan baik. Supaya cepat sembuh, kan?"
"Ya."
Tiga puluh lima menit dan Darius menurunkan Alan dari kursi penumpang menuju sebuah rumah. Pondokan itu terlihat besar dengan lampu kekuningan yang menyorot di semua taman. Alan terpukau. Bibir anak itu membuka takjub.
"Tuan Darius."
Salah seorang membuka pintu, memegang kedua tangannya di d**a dan memandang Alan dengan tatapan cemas. "Apa dia yang Anda sebutkan?"
"Ya." Darius membawa Alan mendekat. "Rawatlah dia dengan baik. Dia bukan anak yang nakal. Dia pasti bisa berbaur dengan yang lain."
"Hai."
Alan memberi senyum. "Halo, selamat malam."
"Namaku Kia. Aku ketua pengurus pondokan ini. Kau akan senang berada di rumah barumu. Teman-temanmu akan menerima teman baru dengan cepat. Kalian akan saling akrab satu sama lain."
"Teman-teman?"
"Kau bisa bertanya pada Nyonya Kia setelahnya. Kau tidak akan sendiri lagi," ujar Darius saat membungkuk, menyusuri tangannya ke rambut anak itu. "Aku akan mampir untuk memeriksa kesehatanmu. Sekarang, kau bisa tidur dan beristirahat di dalam. Kamar telah siap."
"Aku akan tidur di sini sampai ayahku kembali," kata Alan ramah. "Terima kasih banyak karena mau menerimaku. Aku tidak akan nakal."
Kia tersenyum meski kedua matanya berkaca-kaca. Pengurus pondokan itu memang memiliki hati yang tulus dan baik. Keluarga besarnya sama sekali tidak menyesali telah memberikan kepercayaan secara finansial untuk menghidupi banyak anak terlantar yang mereka urus.
"Bagaimana kabar Nyonya Evelyn?"
"Kabar ibu baik. Aku akan mengabarinya nanti. Sudah lama sekali?"
"Baru satu minggu," ujar Kia dengan senyum. "Aku rindu mengobrol banyak hal dengannya. Tapi kurasa dia sibuk. Tidak apa. Masih ada waktu."
Darius melihat Alan masuk bersama seorang perempuan yang menjadi bawahan Kia selama mengurus pondokan.
"Dia masih terluka. Dan aku akan sering mampir untuk mengecek kesehatannya."
"Tidak apa. Aku sangat berterima kasih karena kami mendapatkan teman baru. Semoga Alan betah dan merasa nyaman di sini."
Darius mengangguk. "Aku juga. Dan sebaiknya aku pergi sekarang. Permisi."
"Selamat malam. Hati-hati di jalan."
Jaguar itu mundur untuk mencari jalan keluar. Darius menekan klakson sekali sebagai salam perpisahan dan Kia mengangguk dengan senyum ramah. Sebelum mundur, menutup pintu dan kembali menguncinya rapat.