"Seingatku kau akan pergi?"
Darius mendengus muram. Mengulurkan tangan untuk menyentuh helaian rambut halus itu di telapak tangannya. Aromanya terasa seperti kebun bunga segar. Alicia mungkin memakai perawatan rambut terbaik dan termahal dari harga yang ada.
"Tidak jadi."
"Dannes tidak akan menunggu?"
"Dia bisa menunggu lebih lama," kata Darius acuh. "Kau tidak senang aku di sini?"
"Ayolah, pangeran. Kau mungkin bercanda." Alicia mendesah panjang. "Seseorang yang menguntitku akan berbicara pada majikannya tentang kau. Kau tidak takut?"
"Siapa yang memata-mataimu?" tanya Darius.
"Aku tidak bisa bicara," aku Alicia enggan. "Untuk sekarang. Mungkin lain kali?"
Darius terlihat tidak keberatan. "Ya, lain kali."
"Kau tahu, ibuku beberapa kali bertanya tentangmu. Gosip beredar cepat seperti badai. Secepat itu pula akan tersapu hilang. Dan kurasa, yang satu ini akan bertahan lama."
"Biarkan saja."
"Bagaimana dengan keluargamu?"
"Ibu tidak pernah mempersalahkan kehidupan asmaraku. Tidak sama sekali. Dia pernah mencampuri urusanku kalau menurutnya itu kesalahan. Dia bahkan membiarkan Dannes terbakar di neraka karena hobi jeleknya." Darius mengambil napas. "Apa kau berpikir perasaan ini kesalahan?"
"Tidak sama sekali," kepala itu menggeleng keras. "Kadang-kadang perasaan itu muncul begitu saja tanpa bisa kita duga. Timbul, hilang, timbul, hilang. Semua mengalir."
Darius tidak berpikir pendek seperti itu. "Mungkin saja."
"Saat ibumu mampir untuk melihat gaun, dia berbicara tentang trauma. Kau tahu itu?"
"Lima belas tahun lalu?" suara Darius berubah getir. "Aku ingat betul kejadiannya. Yang membuat ayahku depresi. Ibu tertidur panjang setelahnya karena kritis."
"Hanya dia yang selamat?"
"Hanya dia." Darius mendesah berat. "Aku tidak bisa membayangkan mimpi buruk itu kembali. Rasanya seperti aku sedang berkaca di depan cermin kamar mandi, lalu mengutuk nasibku."
"Kau menyalahkan dirimu sendiri?"
"Saat itu aku berbuat kesalahan," ujar Darius singkat. "Ibu menyusulku tanpa mendengarkan perintah ayah. Naluri seorang ibu. Dia menerobos segalanya."
Alicia hanya diam.
"Kupikir semua sudah selesai. Ibu punya trauma, tetapi dia baik-baik saja sekarang." Darius menatap matanya. "Dia bercerita sebanyak itu?"
"Aku cukup prihatin mendengarnya. Tiba-tiba merasa sedih dan membayangkan jika aku ada di posisimu saat itu," aku Alicia pilu. "Ibumu bertahan dan itu bagus. Tuhan menyayanginya."
"Keluarga mendoakannya sepanjang hari. Ayah tidak akan hidup tanpa ibu di sisinya. Aku berdoa agar aku saja yang pergi dan bukan ibu."
"Kau menyalahkan dirimu sendiri?"
"Itu semua salahku," tukas Darius muram. "Aku tidak bisa mengelaknya. Setiap kali kami membahas ini, ibu akan pergi. Dia ingin aku berhenti membahas masa lalu perih itu."
Alicia menarik napas, melipat lututnya ke atas sofa serta menjulurkan tangan. Menyentuh paras rupawan itu dengan senyum samar.
"Kau luar biasa. Aku akan bicara jujur padamu, kalau tidak pernah ada seorang pria yang membuatku terkesan sepertimu. Aku memandangmu dari sisi yang berbeda."
"Aku tidak percaya terhadap asumsi orang lain tentangmu," sahut Darius parau. "Aku lebih percaya dengan apa yang kulihat sendiri. Itu mungkin terdengar lucu bagimu."
Susupan perasaan asing memenuhi dadanya. Alicia gemetar sembari menekan lututnya, menatap pria itu dengan seulas senyum samar.
"Kau yang terbaik. Aku perlu berterima kasih karena kau memandangku dengan cara yang sopan."
Manik kelam itu berkilat jahil. "Apa aku mendapatkan apresiasi sekarang?"
"Kau meminta hadiah?"
"Kalau kau memberikannya, aku tidak menolak."
Alicia tersenyum lebar. Melompat dari sofa dan bergegas pergi ke dapur. "Oke, dokter. Aku akan memasak makan malam. Kuharap kau kelaparan sekarang karena aku lapar."
Darius menahan senyum sambil membuntuti gadis itu pergi ke dapur.
***
"Kau apa?"
Leon memasang wajah dramatis yang mengesalkan. Sementara Dannes bersidekap, memandang sang adik tanpa ekspresi. "Kau dan Alicia berkencan?"
"Ya."
"Kau ikut taruhan?"
Kepala Darius menggeleng. "Tidak, ini nyata."
"Kau menghamilinya?"
"Belum."
"Berencana?"
"Setelah pernikahan," kata Darius datar.
Leon terperangah. "Kau berniat bersamanya sampai ke pernikahan? Demi Tuhan, kau berani sekali. Mereka yang menyebutmu cupu adalah pecundang sebenarnya. Apa yang ada di kepalamu?"
Dannes menghela napas. Sementara Darius mencium aroma bir yang menyengat dengan dengusan kecil. "Kau berpikir tentang ibu dan ayah saat menabrak batasan ini?"
"Aku sudah bicara pada ibu."
Leon mendesah. "Sudah kuduga. Ibumu bahkan mendukung," ujar Leon dramatis pada Dannes. "Darius punya amunisi. Bukan salahnya kalau dia berani mengambil tindakan senekat itu."
"Itu tindakan yang sangat berani," ungkap Dannes masam. Darius tidak bisa menampik ekspresi keras sang kakak yang bingung serta cemas. Berkaitan dengan keluarga Alicia bukan hal yang mudah.
"Apa kau tahu setidaknya sedikit tentang Alicia?"
Darius mengernyit dan meneleng. "Jikapun aku tahu, aku tidak akan memberitahu kalian."
"Apa dia juga tertarik padamu?"
"Kurasa."
"Kau terdengar ragu," tukas Leon. Ekspresinya menelisik ketat. "Kalau Alicia sama tertariknya denganmu, itu bagus. Kau tidak akan patah hati sendiri."
"Tidak ada perempuan lain?"
"Seumpama ada yang mirip dengan Alicia?"
Kedua mata Darius memicing, mengambil napas berat dengan kepala meneleng. "Aku tidak yakin. Pengalamanku akan asmara masih nol besar."
"Nol menggelinding," sela Leon pahit. "Kau perlu belajar. Tapi mentormu Alicia sekarang. Dia sudah pro."
"Leon," tegur Dannes. "Kuharap semua baik-baik saja. Kalau ibu tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika ini menyangkut pernikahan atau jenjang yang lebih serius, ada baiknya kau pikirkan lagi."
"Aku setuju." Leon mengangguk.
"Berhubungan dengan keluarga Alicia bukan perkara remeh. Keluarganya adikuasa. Kita semua berkuasa di wilayah sendiri. Tetapi keluarga itu? Menyeluruh. Dia menempati tanah-tanah ini sebelum kita. Kekayaannya tidak terbatas. Kalau mereka ingin menghancurkan negara ini, mereka bisa melakukannya dalam waktu semalam."
Darius mendesah. "Ada lagi?"
"Aku tidak bisa berkomentar. Karena aku sendiri sama terkejutnya," kata Leon dengan senyum. "Apa pun itu, good luck. Darius, kau perlu berjuang untuk masuk ke marga misterius itu."
Leon tersenyum lebar. Sementara kontras menghampiri raut Dannes yang suram. Kakaknya berulang kali menegak birnya. Yang membuat Darius merenung.
"Kau seharusnya bicara sesuatu."
"Aku tidak berhak mencampuri urusanmu seperti asmara," balas Dannes datar. "Tapi kau perlu tahu, aku tidak ingin keluarga terlibat. Terutama orangtua kita. Ayah dan ibu sangat berharga. Keluarga besar juga."
"Hana menyukai Alicia." Leon menimpali dengan alis terangkat. "Para remaja jarang yang menjadikan Alicia panutan setelah mendengar banyak gosip tentangnya."
"Aku berjanji."
"Kalian berdua mirip," tukas Leon dengan kekehan. "Keluarga di atas segalanya, bukan? Para konglomerat ini memang punya jalan pemikiran yang rumit. Aku tidak terkejut."
"Keluargamu sama saja."
Leon mendesah panjang. "Mungkin lebih kejam. Kami mementingkan uang melebihi apa pun. Aku akan berakhir seperti sepupuku yang lain. Terjerat perjodohan dengan perempuan manja berjiwa sosialita tinggi."
Darius menahan senyum.
***
"Tuan Hanan."
Ayah Hana mengangguk saat beberapa staf rumah sakit menyapa dengan santai. Kepribadiannya yang terbuka membuat beberapa orang menyukainya. Terlebih sebagai kepala yayasan sekaligus keluarga besar pemilik bisnis farmasi di kota ini, nama Hanan cukup disegani.
Hanan menarik langkahnya saat melihat Alicia berdiri di depan pintu yang tertutup. Pandangannya terpaku pada sosok menjulang yang sedang bersidekap, seolah memelototi pintu dan berharap seseorang muncul dari sana.
Dirinya sudah tertangkap basah. Alicia menoleh tanpa ekspresi berarti. Penerus dari bisnis keluarga kaya lama itu segera menelisik ke arahnya. Sebelum melempar sebuah senyum dan Hanan bergidik.
"Tuan Hanan," panggil Alicia ramah. Berjalan mendekat dengan santai. "Selamat pagi."
"Selamat pagi." Hanan mendesah. "Kau datang untuk menemui Darius?"
"Bukan, untuk Anda." Alicia menukas dengan senyum simpul. Yang lagi-lagi membuat Hanan membeku. "Anda punya waktu?"
"Tentu. Mari, kita bicara ke ruanganku."
Alicia mengekori tanpa suara. Hanan mengangguk saat beberapa orang menyapa. Fokusnya terlalu terpaku pada Alicia yang membuntuti dari belakang.
Sesampainya di ruangan, Hanan mempersilakan gadis itu untuk duduk. Sementara Alicia tidak akan menolak untuk sekadar berbasa-basi.
"Aku bisa menebak kedatangamu kemari untuk mencari sesuatu," ujar Hanan singkat. "Alicia, aku bisa bicara jujur. Aku tidak tahu apa pun."
"Aku percaya." Alicia memberi senyum. "Sayangnya, kepercayaan itu berharga mahal. Dan omong-omong, aku menyukai Hana. Aku tidak akan menyakitinya."
Hanan pucat pasi. "Jangan kaitkan keluargaku atas apa pun."
"Tidak, Tuan Hanan. Tolong bernapaslah." Alicia hampir tersedak karena tawa. "Aku tidak berniat melakukannya. Aku bukan Alby. Pikiran rasionalku masih berjalan sesuai tempatnya."
Hanan bernapas dari mulutnya. Sorotnya yang cemas memandang Alicia penuh tanya. "Aku memang berutang budi pada Fabian. Tapi tidak banyak membantunya. Terlebih saat kutahu dia terlibat dengan keluarga sebesar dirimu. Aku tidak ingin mencari masalah."
"Anda tahu di mana dia bersembunyi?"
"Sebelumnya. Tapi aku tidak yakin," aku Hanan muram. "Kau mencarinya?"
"Alby. Dia punya urusan. Aku datang kemari hanya untuk memastikan sesuatu."
"Aku berharap itu tidak berkaitan atas apa pun. Keluargaku tidak pernah mencari masalah sebelum ini," ujar Hanan pahit. "Mereka tidak pantas menerima kebencian atau rasa bersalah."
"Sejatinya aku tidak terlalu peduli," ungkap Alicia pelan. "Urusan keluarga yang satu dengan yang lain. Aku mengusik jika sedang terancam. Kebetulan bisnisku berjalan baik. Begitu pula hubunganku dengan dokter umum di sini."
Hanan menarik napas. "Darius, benar. Dia pria yang baik. Menyayangi keluarganya. Dia akan bertindak impulsif sesekali jika menyangkut ibunya."
Pandangan Alicia menerawang ke luar jendela.
"Putriku menyukaimu. Aku sering mendengarnya menceritakan tentang dirimu. Hana menjadi penggemarmu. Aku berterima kasih karena kau memberikan warna berbeda dalam kehidupannya."
"Dia hanya mencoba mencari jati dirinya sendiri," balas Alicia. "Itu hal lumrah karena dia seorang remaja."
"Sebagai seorang ayah, aku akan berhati-hati."
Hanan membungkuk ke arahnya. Sedangkan Alicia berpaling, meraih tasnya untuk bangun.
"Kalau Anda tidak ingin terluka, sebaiknya Anda tidak menyembunyikan apa pun, Tuan Hanan. Kita tentunya tidak ingin mengalami insiden rumit yang membuat kedua belah pihak menyesal di kemudian hari."
Sepasang lutut Hanan bergetar. Kedua matanya bergulir cemas saat Alicia berjalan pergi. Menembus koridor yang sepi dan berlalu begitu saja. Tanpa lagi menoleh ke belakang untuk sekadar memastikan.