Valeria tersentak saat ia terbangun di suatu kamar, matanya melebar sempurna melihat keadaan kamar yang begitu berantakan juga tubuhnya yang polos hanya tergulung selimut. Ia memijat kepalanya yang terasa berdenyut nyeri, apa yang sudah ia lakukan sebenarnya? Samar-samar Valeria mengingat sentuhan demi sentuhan dahsyat yang ia rasakan semalam. Astaga, apa ia dan Andrew melakukan malam pertama mereka sebelum menikah? Valeria bergerak dengan gusar, sepertinya karena terlalu mabuk ia malah melakukannya dengan Andrew tanpa sadar.
Valeria menghela nafasnya panjang, mencoba menenangkan dirinya. Semua sudah terjadi, ia tidak boleh menyesali semuanya. Lagipula ia melakukannya dengan Andrew, mereka akan menikah sebentar lagi, jadi tidak ada masalah, bukan?
Ponselnya tiba-tiba berdering, Valeria segera mengambil benda itu lalu mengangkat panggilan yang ia terima.
"Valeria, kamu dimana? Jangan karena saya sudah menaikkan jabatan kamu, kamu jadi seenaknya seperti ini. Ini sudah jam berapa? Ada skandal yang muncul juga di kantor hari ini mengenai kamu. Segera datang ke kantor sekarang juga!"
Valeria terperangah mendengar suara managernya yang penuh amarah di telepon, ia terkejut seketika saat melihat waktu yang ditunjukkan di layar ponselnya. Jam delapan tepat? Astaga! Kenapa Andrew tidak membangunkannya? Apa Andrew pergi ke kantor sendirian?
Tanpa menunggu lama, Valeria segera memakai seluruh pakaiannya yang tercecer di lantai lalu melesat ke arah rumahnya. Karena terburu-buru, ia tidak tahu jika ada secarik kertas dan juga beberapa lembar uang yang tertera di atas nakas dari pria yang menghabiskan waktu dengannya semalam.
****
Alis Valeria terangkat dengan heran saat mendapati tatapan tajam yang ia terima dari para rekan kerjanya saat ia tiba di kantor. Tatapan mereka begitu sinis seolah jijik dengan kedatangannya, batinnya menggerutu, apa itu karena ia datang terlambat? Kenapa semua orang terlihat sangat marah hari ini?
"Sudah datang kamu?"
Valeria yang melihat kedatangan sang manager segera menunduk penuh penyelasan, "Saya mohon maaf Pak, saya datang terlambat saya tidak akan–"
"Ini bukan hanya masalah keterlambatan kamu. Apa maksudnya ini?" Potong managernya cepat.
Valeria terperangah melihat gadget yang disodorkan oleh managernya. Sekilas ia dapat melihat foto dirinya dalam buletin kantor hari ini. Foto dirinya yang dibopong ke suatu kamar oleh seorang pria terpampang jelas di sana.
"Ini–"
Semua orang terlihat menatap Valeria dengan pandangan mencemooh, beberapa lainnya bahkan mulai berbisik menyindirnya terang-terangan.
"Wanita gatal, jangan-jangan dia bisa naik jabatan juga dengan jalan pintas."
"Gayanya saja polos, tapi rupanya liar."
"w************n, bagaimana bisa dia jadi kepala divisi kita?"
Valeria menggigit bibirnya mendapat seluruh penghakiman itu, mencoba menahan cairan yang mulai menggenang di kelopak matanya meminta ditumpahkan. Matanya terhenti ke arah Andrew yang sama sekali tidak bergeming, kenapa Andrew tidak membelanya saat ini?
"Jawab Valeria! Apa maksudnya ini? Ada rumor yang mengatakan bahwa kamu menjual dirimu sendiri ke sembarang pria, apa itu benar?"
"Itu tidak benar!" jawab Valeria dengan lantang. Suaranya mulai bergetar, menahan seluruh desakan emosi yang memenuhi rongga dadanya.
"Itu kekasih saya, saya melakukannya dengan kekasih saya. Dia adalah staff kantor ini juga, kami bahkan akan menikah."
"Kekasih? Memang ada pria yang mau kepadanya?"
"Astaga telingaku benar-benar sakit mendengar seluruh dramanya."
Seluruh nada sumbang itu kembali terdengar di telinga. Ia memang tidak melakukannya dengan orang lain, ia melakukannya dengan kekasihnya sendiri. Kenapa banyak sekali tuduhan-tuduhan tidak benar yang ia terima?
Kesal dengan semua tuduhan itu, Valeria segera menunjuk ke arah Andrew yang sedari tadi hanya terdiam, "Andrew adalah kekasih saya selama tiga tahun. Saya menyembunyikan semuanya dari kalian karena tidak ingin mengganggu pekerjaan."
Mata semua orang terbelalak, Valeria melirik ke arah Andrew, meminta pertolongan, "Benar kan Sayang? Semalam kita menghabiskan waktu bersama, iya kan?"
Namun apa yang ia harapkan sungguh jauh dari kenyataan, Andrew terlihat menampilkan raut wajah bingung, "Apa yang Anda katakan? Apa Anda sedang mengigau? Sepertinya Bu Valeria sedang mengarang sebuah cerita. Saya sama sekali tidak menghabiskan waktu satu detik pun bersamanya." ujar Andrew.
"Apa maksudmu? Aku ingat sekali kau menghampiriku dan mengajakku minum. Katakan yang sebenarnya, jangan berbohong!" Jerit Valeria tidak percaya melihat Andrew yang malah memutar balikkan fakta.
"Maaf menyela, tapi Pak Andrew sedang bersama saya saat itu. Lagipula apa kalian lupa? Pak Andrew tidak memakai jas sama sekali semalam. Sepertinya Bu Valeria sengaja memfitnah Pak Andrew agar terbebas dari tuduhan."
Lucia tiba-tiba maju semakin memperuncing keadaan yang menimpa Valeria. Lucia dan Andrew terlihat tersenyum penuh kemenangan, sementara semua orang menatapnya dengan jijik. Kepala Valeria terasa berputar mendengar seluruh fakta ini, jadi jika semalam bukan Andrew yang bersamanya, lalu siapa?
"Bu Valeria memang sungguh licik, bagaimana bisa dia memfitnah saya? Kami tidak memiliki hubungan apapun, kami hanya rekan kerja." ujar Andrew semakin memanas.
Hati Valeria semakin sakit mendengar ucapan Andrew, mereka tidak memiliki hubungan apapun katanya? Dia ini tunangannya, bagaimana bisa Andrew tidak mengakuinya saat ia berada di situasi terpojok saat ini?
"Saya berani bersumpah saya adalah tunangannya, kami sebentar lagi menikah!"
Valeria terus berteriak meminta pertolongan, namun semua orang di sana terlihat mencibirnya.
"Pecat saja Bu Valeria Pak!"
"Ya pecat saja, dasar tidak bermoral!"
"Lagipula mana mungkin Pak Andrew yang begitu tampan berhubungan dengan Bu Valeria yang sama sekali tidak menarik!"
Robert Green terlihat mengangkat tangan mendengar kasak-kusuk dari seluruh karyawan di sana. Ia menatap tajam ke arah Valeria yang sudah tersudut.
"Sepertinya saya harus mempertimbangkan lagi soal kenaikan jabatan kamu, Valeria. Karena kesalahan kamu sangat fatal saya juga akan berdiskusi dengan para atasan mengenai hal ini. Untuk itu sebaiknya kamu menjauh dari kantor ini terlebih dulu demi kenyamanan bersama. Saya akan menghubungi jika kamu dibutuhkan kembali di kantor ini."
Mata Valeria terbelalak, "Apa maksud Bapak? Saya dipecat?"
"Ya benar, silahkan keluar."
Robert Green segera pergi, sementara Valeria terdiam di tempat. Valeria segera menghampiri Andrew lalu menarik tangannya, "Kau yang telah menjebakku, bukan?"
Andrew tersenyum tipis lalu berbisik di telinga Valeria saat semua orang tidak memperhatikan.
"Kau baru sadar? Aku memang memberikan obat perangsang kepadamu demi mendapatkan berita itu. Bagaimana? Apa kau bersenang-senang dengan pria sembarangan yang kau tiduri itu?"
Valeria kembali terperangah dengan fakta menyakitkan yang diberikan oleh Andrew. Dengan penuh emosional ia menarik kerah pria itu, "b******k, kau sudah merusakku, Andrew Sebastian! Kau sudah merusakku!"
"Lihat Pak Andrew dianiaya oleh Valeria. Ayo kita usir dia!"
Semua karyawan yang sudah beranjak pergi kembali ke arah Valeria atas hasutan Lucia. Beberapa rekannya menarik tubuhnya yang tengah mencengkram Andrew.
"Diam kalian! Aku harus membunuh b******n itu!" Teriaknya dengan air mata yang mengalir dengan deras. Ia tidak percaya, bagaimana bisa pria yang ia cintai tega melakukan hal seperti ini padanya?
Namun tangis dan jeritan emosionalnya sama sekali tidak didengar, tubuh Valeria ditarik menjauh dari area kantor lalu dilempar ke jalanan. Valeria tergugu di tempat, bagaimana bisa semuanya jadi seperti ini?