Harus Bisa Menemukannya

920 Kata
Saat Valeria masih menangisi nasibnya, ponselnya berdering dengan nyaring secara tiba-tiba. Valeria segera menghapus air matanya saat melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Itu ibunya. Valeria menarik nafasnya panjang, mencoba menyembunyikan perasaannya yang tengah kacau. Ibunya tidak boleh tahu jika hidupnya tidak baik-baik saja sekarang. "Ya Nyonya Sarah? Kenapa Nyonya Sarah ini terus menelepon–" "Val, ini Bi Rini." Candaan Valeria seketika tergantung di udara saat mendengar jawaban di sebrang sana. Ia mengangkat alisnya dengan bingung karena perawat ibunya yang menjawab panggilan darinya. "Bi Rini, mana Ibu?" "Ibumu... Ibumu kritis Val, dia terkena serangan lagi sejak semalam." "Apa?" Tanpa berpikir panjang Valeria segera menyetop sebuah taksi lalu masuk ke dalamnya. Hanya dalam beberapa menit, taksi sampai di depan rumah sakit, Valeria segera berlari ke arah kamar tempat ibunya dirawat, di sana sudah terlihat Bi Rini yang mondar-mandir di depan ruangan ibunya dengan raut wajah cemas. "Kenapa Bibi tidak memberitahu saya jika Ibu dapat serangan lagi?" Tanya Valeria dengan nafas terengah-engah. Kepalanya yang terasa ingin pecah karena kejadian di kantor, kini semakin berantakan atas apa yang menimpa ibunya. Emosi yang tidak dapat lagi dikontrol membuat Valeria menyalahkan siapapun. "Kenapa jadi saya yang disalahkan? Saya sudah menghubungi kamu berkali-kali semalam, kamu sendiri yang tidak mau mengangkatnya. Memangnya kamu kemana?" balas Bi Rini tidak terima. Valeria tersentak, ia segera mengambil ponsel yang berada di sakunya lalu mulai melihat histori panggilannya. Benar, kontak ibunya menelepon berkali-kali ke dalam ponselnya semalam. Hampir puluhan kali. Valeria meremas rambutnya dengan kuat, jadi disaat ibunya tengah berjuang berjuang meregang nyawa, ia malah bersenang-senang dengan obat perangsang? "Arghhh!!" Valeria terduduk di lantai dengan rasa sesal yang teramat dalam. Hatinya terasa sangat sakit mendapati kenyataan ini, bagaimana bisa sebagai anak ia tidak bisa menjaga ibunya sendiri? Tangis Valeria pecah seketika, jika terjadi sesuatu pada ibunya, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga ibunya dengan benar. **** Mahessa Putra Abraham berjalan menuju ruangan kantornya, ia mengangkat alisnya saat melihat keributan yang begitu kentara saat ia sampai di sana. Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kakinya sebagai Presdir baru di kantor ini setelah ayahnya merekrutnya, namun baru saja ia diangkat sepertinya sudah muncul masalah berat yang harus ia tangani. "Pak Mahessa?" Robert Green yang pertama menyadari keberadaannya segera menghampirinya lalu menunduk dengan sopan. "Jelaskan di ruangan saya ada apa ini sebenarnya." ucap Mahessa dengan tegas. "Baik Pak," Setelah berkata seperti itu, Mahessa segera bergerak menuju ruangannya diikuti oleh Robert dari belakang. "Jadi ada apa? Kenapa semua karyawan terlihat heboh hari ini?" Tanya Mahessa cepat tanpa berbasa-basi lagi. "Itu Pak soal kepala divisi baru yang hendak saya kenalkan pada Bapak semalam," Mahessa terlihat mengerutkan keningnya. Ah benar, semalam ia datang ke Bar malam tempat pesta penyambutan kepala divisi baru di kantor mereka, namun kepala divisi itu tidak juga muncul setelah ia menunggu hampir setengah jam lamanya. Mahessa yang merasa kesal akhirnya memilih untuk pergi, namun di tengah perjalanannya menuju pintu keluar, ia malah bertemu dengan seorang wanita penghibur. Teringat dengan wanita itu kembali, senyum Mahessa merekah tanpa sadar. Sial, setelah pertemuan mereka semalam, rupanya ia terus teringat dengan sentuhan yang mereka lakukan semalam. Kulitnya yang sehalus sutera juga suara desahannya yang begitu merdu di telinga membuat Mahessa merasa kecanduan. Sayang sekali ia lupa menanyakan nama wanita penghibur itu. Ia harus meminta Erik, sekertarisnya mencari keberadaan wanita itu nanti. "Anda mendengarkan saya, Pak?" Mahessa segera mengusir bayangan wanita itu dengan cepat lalu kembali memfokuskan dirinya. Ini saat bekerja Mahessa singkirkan otak kotormu itu, batinnya merutuki dirinya sendiri. "Ini ada rumor buruk tentangnya yang sudah menyebar ke seluruh area kantor. Saya minta maaf karena ini harus terjadi ketika Bapak baru saja menjabat, tapi saya sudah mengatasinya dan meminta karyawan itu untuk keluar dari sini." "Bisa saya lihat rumornya apa?" Robert Green segera mengambil gadget miliknya lalu menunjukkan buletin kantor mereka. Mata Mahessa membulat sempurna saat melihat gambaran di dalam foto tersebut. Bukankah ini... Bukankah ini dirinya dan juga wanita penghibur itu? Meski dari belakang, ia sungguh yakin foto itu memanglah dirinya bersama wanita penghibur itu. "Maksudmu wanita ini adalah kepala divisi baru itu?" Tanyanya dengan raut wajah terperangah. "Iya Pak, namanya Valeria Puteri Yanuar, tapi saya sudah mengeluarkannya dari sini. Ia sudah mencoreng nama baik kantor kita dengan bermesraan bersama pria disaat kita sedang memiliki acara. Bapak tidak perlu repot-repot untuk menangani masalah sepele ini lagi." Mahessa semakin terkejut mendengarnya, jadi wanita yang semalam bersamanya bukanlah wanita penghibur? Pantas saja pakaiannya tidak mencerminkan sebagai wanita yang hendak menjajakan dirinya, namun kenapa sikapnya seperti wanita yang sengaja menggoda para kaum Adam? "Sial!" Mahessa menggerutu, jika wanita semalam bukanlah wanita penghibur ia sudah merusak masa depan seorang wanita. Mengingat betapa sempitnya ia memasukinya, sepertinya itu pertama kalinya bagi dirinya bercinta. "Maaf Pak? Apa ada yang salah?" Alih-alih menjawab pertanyaan Robert, Mahessa terlihat bangkit, "Sekarang dimana dia? Wanita itu, dimana dia berada?" "Dia sudah keluar area kantor, jadi saya tidak tahu–" "Cari alamatnya dan cari apapun segala hal tentangnya." potong Mahessa cepat. "Untuk apa Pak?" tanya Robert Green dengan bingung. "Tentu saja untuk menemuinya. Cari informasi apapun yang bisa kamu dapatkan lalu segera laporkan kepada saya." Meski masih merasa bingung, kata-kata Mahessa yang begitu tegas membuat Robert Green hanya bisa menunduk patuh, "Baik Pak," Mahessa memijat kepalanya yang terasa berputar mendapati seluruh kejadian mengejutkan ini. Padahal semalam ia hanya ingin bersenang-senang sebelum bergelut dengan tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang pemimpin baru di perusahaan ayahnya, namun siapa sangka itu malah menjadi petaka baru baginya. Mahessa meremas potret wanita itu dengan kuat. Ia harus bisa menemukan wanita itu dengan cepat bagaimanapun caranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN