31

1304 Kata
Jasmine jadi masuk ke kisah ini. Yang bagi Alara Senja, perempuan itu baik dan sesuai dengan karakternya yang enerjik. Mengenal Jasmine dalam waktu yang singkat, Lara tahu akan sangat membutuhkan saran lebih banyak ketika berbagi nanti. Tidak menyangka saja jika Lara bisa di terima seterbuka ini di keluarga Gema. Karena yang selalu Lara takutkan adalah penolakan. Makanya, tak ada alasan baginya untuk membuka diri terhadap orang-orang baru mau pun dunia di luar sana. Dan hari ini … Jasmine baru saja memberinya pencerahan. Bahwa tidak ada salahnya mencoba. Keluar dari zona nyaman untuk kebaikannya dan perkembangannya. Kalau boleh jujur. Sudah dua tahun lebih Lara mengonsumsi anti depresan. Itu rekomendasi atas hasil konsultasi dengan psikiaternya. Dan hanya dokter ini yang tidak menyerah atas sikap Lara yang enggan membuka diri. Katanya: ‘Saya tahu atas apa yang kamu alami. Kamu diam dan menurut kamu itu sudah lebih dari cukup. Saya tidak menyalahkan atau pun menghakimi. Kamu hanya tidak tahu caranya bereaksi dan hendak berekspresi seperti apa.’ Beruntungnya … Lara sangat tenang mendapat jawaban seperti itu. Dokternya—Juna—memberi dukungan penuh atas pilihan Lara dan tetap menunggu. Walau lama, Juna sama sekali tidak mengeluh apa lagi melontarkan kata-kata penghakiman. “Mereka yang nggak bersosialisai seringnya dianggap anti sosial. Sebenarnya tidak begitu,” ucap Jasmine. Mereka berdua masih duduk di gazebo samping dengan secangkir kopi dan camilan. “Hanya saja, nggak suka dengan drama dan orang-orang palsu. Kalau aku, langsung skip. Aku nggak suka hal yang bertele-tele ngebuang-buang waktu.” Lara tersenyum. Mungkin bagi yang mendengar omongan Jasmine tentang hal itu, akan memberinya penilaian bahwa Jasmine idealis dan kaku. Tidak salah toh orang bebas menilai kita karena untuk itulah alasan kita hadir di dunia. “Kamu bakal gimana?” “Aku?” beo Lara dengan kepala menatap ke depan lurus-lurus. “Cuek. Aku nggak suka sesuatu yang mudah di buat ribet. Semboyanku, aku pergi meninggalkan sebuah tempat dengan dua tujuan: nggak betah dan memang sudah sepatutnya aku tinggalin. Atau sesuatu itu memang sudah nggak benar.” “Simpel.” Respons Jasmine. “Manusia suka lupa diri. Mulut mereka suka nggak sadar melontarkan kalimat yang ninggalin bekas luka.” Karena Jasmine pernah merasakan namun terpaksa di pendam. “Tapi orang juga nggak pernah mau tahu tentang pilihan kita. Bagi mereka, kita meninggalkan seseorang karena sudah menemukan orang yang baru. Padahal nggak gitu. Kita pergi karena memang itu yang terbaik. Kita menjauh karena itu bentuk kebahagiaan yang akan kita dapat atas sebuah pilihan.” “Hidup adalah pilihan.” “Benar.” Yang paling sakit dari memeluk kehilangan ialah bukan kamu atau aku yang melepaskan. Tetapi saat kita harus menerima bahwa dialah si pemilik nama yang selalu menggema di langit doa. Yang menorehkan luka tanpa berpikir panjang akibatnya. “Jadi?” Jasmine menoleh. Cukup terkejut dengan tanya yang Lara ajukan. “Gimana kisahmu?” “Aku?” Kali ini Jasmine yang membeo bak kerbau di cucuk. “Nothing. Everything is gonna be alright.” “Yang selalu berkata demikian aslinya nggak sama artinya.” Bukan bermaksud kepo. Pernah nggak, sih, kalian menemukan orang yang satu frekuensi meski cuma sekejap berjumpa? “Aku suka merasa harus balas budi.” “Kenapa?” “Kamu baru saja membuka pikiranku. Dan nggak adil kalau cuma aku yang di tebak tapi kamunya enggak.” Jasmine tertawa. Lara menimpali. “Ini pasti alasan kenapa om tiba-tiba mau nikah. Setelah cerai, om paling anti dengan yang namanya pernikahan. Tapi sama tante, om mau membuka lembaran baru. Dan serius, kisahku nggak sehebat kalian berdua buat di ceritakan.” Sepertinya membiasakan diri bukan sesuatu yang mudah. Menjadi kamu yang tanpanya. Yang tidak lagi merindukannya. Mulai belajar melupakannya dan yang lebih menyakitkan adalah saat kamu harus berhenti memastikan keadaannya baik-baik saja. Padahal sebelumnya, kamu yang paling tahu segala tentangnya. Tampaknya begitu yang sedang Jasmine lakukan. “Ah, aku baru ingat.” Mata Jasmine berbinar-binar. “Aku pernah naif kalau rajutan cinta om Gema dan mantan istrinya adalah yang paling indah. Sampai aku lupa apa itu cinta begitu tahu keduanya berpisah. Dari situ aku ngerti, jadi dewasa nggak sesederhana yang kita bayangin. Mereka punya beban pikiran yang masing-masingnya harus di pikul karena sudah berumah tangga. Dan sama halnya dengan cinta, pernikahan tidak selurus kelihatannya.” Saling terbuka menjadi kuncinya. Menaruh percaya dan menggenggam asa untuk sama-sama meraih tangga yang sama di puncak teratas. Tidak ada pikiran yang sama antara satu manusia dengan manusia yang lainnya. Beberapa dari mereka terkadang lebih suka memikul bebannya sendiri ketimbang membaginya. Karena menurutnya, pasangan tidak harus di keluhkan dengan masalah-masalah yang ada. Alara berada di kondisi di mana jika dirinya bisa mengerjakannya sendiri, maka belum saatnya meminta bantuan. Tabu baginya setelah terbiasa sendiri dan mandiri harus bergantung pada orang lain. Meskipun itu pasangannya. Dan lagi pula, Lara bangkit serta tumbuh sampai orang-orang di sekitarnya menganggap bahwa dirinya penting. “Kamu jangan mengejar lagi. Tapi belajar menghargai dirimu sendiri. Jangan turun sebelum orang-orang menilai bahwa kamu lebih berharga dari apa yang mereka pikirkan. Aku nggak tahu masalah apa yang kamu miliki. Tapi itu saja nasihatku. Maaf.” “Makasih tante. Tante sepeduli ini sama aku padahal baru ketemu sekali. Aku merasa kalau kali ini pilihan om nggak salah.” “Sebenarnya …” Lara menggigit bibir bawahnya. Menimang apakah perlu untuk di sampaikan atau malah menjadi hal konyol di mata Jasmine. “Aku yang memulai.” “Maksudnya?” Duh, gimana ya? Lara malu untuk mengatakan. “Aku yang memulai. Aku yang minta om kamu buat mau sama aku.” Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Jasmine masih loading. 10%. 25%. 67%. Dan … 100% “OWH …” Teriak Jasmine. Membekap mulutnya sebentar lalu terkikik di tempatnya. “Aku pikir om Gema mati rasa sama cewek.” “Itu pujian, ya?” Lara menggaruk pelipisnya. “Hinaan lebih tepatnya. Aku suka mengolok-olok om semisal dia nggak nerima kencan dari cewek-cewek yang di sodorin sama Oma.” “Kamu kejam.” “Nggak! Ini aku jujur.” “Tetap juga kamu kejam.” “Cie yang belain calon suaminya.” HELL! APA-APAAN ITU?! Kenapa Jasmine semenyebalkan ini dalam mode mengejek dirinya? “Menikah,” sambung Jasmine. Napas Lara masih terengah-engah. “Menikahlah karena kamu mau sama dia. Bukan karena kamu mau merubah dia.” “Legend banget tuh kata-kata.” “Iya, kan, makanya aku bilang juga apa. Orang pada waktunya bakal berubah dengan sendirinya. Tanpa di paksa apa lagi di sodorkan syarat. Jadi, kamu nggak harus berubah pun dengan dia yang nggak perlu merubah. Namanya hubungan, sudah pasti menerima. Dan yang namanya menerima, bukan cuma perkara kelebihannya. Karena semuanya punya letak kekurangan juga.” Maka untuk itu, Alara membisikkan kata-kata untuk dirinya sendiri. Untuknya yang seorang wanita, jika benar dia orangnya, Bahtiar Gema. Patut jika cara Gema memandangnya berbeda dari pria lain yang memandangnya. Pantas jika Gema merawatnya dengan begitu sabar seolah-olah sedang merawat dirinya sendiri. Untuknya, Bahtiar Gema. Paling tahu caranya memahami perasaan dan segala tatanan rasa yang Alara rasakan. Dari rasa sakit yang pernah di alami pada masanya. Dan begitu menjaga agar Lara tidak Kembali mengulangi sakitnya atau pun Gema yang membuat kesalahan. Untuknya, Bahtiar Gema. Berdiri di garda paling depan untuk memberinya perlindungan. Mencintai Lara bersama hari-hari terburuknya bahkan buruknya di kelamnya malam. Dan Gema mengerti dengan satu kali genggaman. Berkata bahwa melepaskan dirinya bukanlah pikirannya. Tak pernah sekali pun terpikir untuk menjauh. Karena menurutnya, unik dan berharga. “Kalau gitu jangan nangis lagi.” Sebenarnya di antara Jasmine dan Lara sedang saling memberi kekuatan lewat kalimat-kalimat yang tak saling menyindir. Jasmine dengan caranya dan Lara dengan caranya pula. “Ibaratnya: mampu mengakhiri perasaanku dengan bersih adalah bagian dari cinta. Mungkin lebih sulit daripada terus mencintainya. Karena ada juga kalimat yang menyerukan: yang rela terluka itu artinya cinta.” Jadi, mari berhenti tanpa harus memaksa hati untuk terus bertahan. Sebelum muak menyapa dan gerogotan sakit makin meluap. Berhenti adalah solusinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN