30

1308 Kata
Alara Senja tidak pernah membayangkan kalau hari ini adalah harinya. Akan tiba waktunya meskipun sedetik saja pernah Lara bayangkan. Tapi … tidak menyangka jika hari ini. Di mana seluruh keluarga besar Bahtiar Gema berkumpul dan menyambut kedatangan dirinya. Mulai dari tante dan Om yang di perkenalkan sebagai adik dari mama dan Papa Gema. Diikuti oleh para krucil yang langsung menggerumuti Lara. Namun, di antara itu semua. Lebih tidak menyangka jika Gema akan meninggalkan dirinya dengan dalih klien menelepon dadakan. “Abang ngerjain aku, 'kan?” Lara misuh-misuh di dalam kamar Gema. Tatapan matanya menyiratkan kekesalan yang membumbung. Dan seolah mangsanya, Gema siap hendak di terkam. “Enggak loh, Yang, Ini murni dadakan. Dan abang nggak bisa nolaknya. Ini klien penting—” “Jadi aku nggak penting?!” Lara cukup sadar diri untuk itu. Makanya hengkang dari sana dan kembali bergabung dengan para krucil. Tidak peduli pada tatapan Gema yang memelas saat ke luar dari rumah tersebut. Alara asik dengan para saudara yang sedikit menghilangkan kecanggungannya. “Pasti nyebelin.” Celetuk salah satu anak. Bocah perempuan yang Alara ingat namanya Flo. Bibirnya tersenyum dan menampilkan bagian gigi depannya yang ompong. “Om suka sibuk sendiri.” “Sibuk banget.” Sahutan dari bocah di sampingnya menarik netra Lara untuk memperhatikan dan tersenyum dengan lembut. Bocah-bocah ini terlihat sangat dekat dengan Gema. “Kadang Om suka lupa kalau punya janji sama kita.” “Aku suka masakan Om. Tapi Om suka lupa. Jadinya aku marah.” Namanya Haru—jika Lara tidak salah ingat. Mereka berjumlah banyak jadi cukup membingungkan untuk di hafalkan satu per satu. “Mungkin itu juga yang bikin mantan istrinya meninggalkan Gema.” Vokal lain dari belakang tubuh Lara menimpali. Lara menolehkan kepalanya dan mendongak sejenak. Matanya mengerjap merasa penasaran jika itu bersangkutan dengan masa lalu pernikahan Gema. “Nggak perlu kepo soal kehidupannya yang lalu. Itu nggak lebih baik dari yang sekarang.” Tiba-tiba tangannya terulur. “Jasmine.” Mengajak Lara untuk berkenalan. Ah, iya. Tadi tidak sempat bersua dengan gadis muda ini. Kisaran umurnya akan Lara tebak 20 tahunan—mungkin. “Lara.” “I know. Kamu pilihan Om yang paling kuat dan tangguh.” “Kenapa?” Alis Lara bertaut. Ketika menjawab terlalu cepat seperti itu, ada rasa sesal yang tertinggal di ujung tenggorokannya. “Maaf.” Jasmine tertawa sembari mengibaskan tangannya. Lucu dengan kekonyolan Lara. “Itu wajar. Sebenarnya banyak yang penasaran dengan kehidupan om. Tapi keluarga tidak berani speak up secara langsung. Di samping menghargai privasi masing-masing, itu adalah bagian kisah lama.” Benar. Cerita lama memang lebih baik di tutup saja. Buka baru sudah di persiapkan. Tidak ada alasan untuk membukanya kembali kecuali mengenangnya sebagai pelajaran. “Beberapa orang punya rahasia. Tidak mudah mengatakannya. Tapi lambat laun akan meluncur dengan sendirinya. Mantan istri Om terlalu mendewakan karir. Sehingga menomor duakan keluarga. Bukan itu saja. Dia terlalu enerjik untuk seorang istri ketika melayani suami.” Tunggu? Ini kenapa terdengar sangat tidak asing, ya? Sepertinya Alara salah mengenai tebakan umur untuk Jasmine. Soalnya … ya karena kenapa bisa sepaham itu tentang ‘hubungan suami istri’. Meski bukan hal yang tabu lagi, tetap saja, 'kan? “Aku tebak Om belum cerita ke Tante,” ucap Jasmine jenaka. Sorot matanya terlihat lucu dan Lara terbuai untuk segera tersenyum. “Sudah kuduga. Om nggak mau bikin perbandingan yang nyakitin.” “Maksudnya?” Alara tidak mengerti jujur saja. “Om serius soal move on.” Oh begitu. “Dia nggak mau ada yang lainnya dan membuka luka lama. Om tipe orang yang kalau sudah selesai maka nggak perlu ada kisah yang harus di bahas.” Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Dan Lara ingin lebih bijak menanggapi hal tersebut. Jika tiba waktunya nanti Gema membuka lembar demi lembar halaman buku usangnya, Lara ingin menjadi pendengar yang pertama kali menemaninya. Mendengarkan lantunan suaranya kala bercerita. Menatapi wajah seriusnya yang berkali-kali lipat ketampanannya. Dan merentangkan kedua tangannya untuk usainya kisah dengan bisikan; kamu hebat, aku bangga padamu. Dan sebagai penutup hidangan yang tak pernah dianggap menarik ini … akan Lara kuatkan hatinya bahwa rasa sakit yang di dera Gema mungkin akan setimpal seperti dirinya yang dikhianati Prabu dan adiknya. “Aku merasa sangat kurang ajar.” Helaan napas Lara menderu di rungu Jasmine. “Aku bukan seseorang yang sempurna tapi berani melangkah sejauh ini—” “Seseorang butuh perubahan. Pernah dengar?” Potong Jasmine. Serius. Lara penasaran dengan apa yang ada di kepala Jasmine. “Untuk melangkahkan kaki yang lebih lebar kamu butuh sebuah perubahan. Tidak cuma penopang biar kedua kakimu kokoh ketika di terjang badai. Tapi kamu butuh yang Namanya tantangan dan kejujuran bahkan mungkin rahasia di balik rahasia. “Memangnya manusia mana yang di lahirkan dengan sangat sempurna? Sesempurna apa pun manusia, masih ada yang lebih dari kata sempurna. Sebaik apa pun kehidupan manusia, jika masih mata manusia lain yang memandang. Buruk pun nampak indah. Busuk pun tercium wangi. Ucapan demi ucapan yang mengandung pahitnya empedu akan seenak wine yang harganya ratusan juta.” Tepat sekali. Jawaban Jasmine mengenai sasaran di mana Lara pernah sangat putus asa. Sebelum bertemu Bahtiar Gema. Sempat Alara salahkan kehadirannya. Pikirannya begitu dangkal bahwa mungkin kematian bisa mengakhiri segalanya. Masa lalu, kesedihan, dan rasa sakit. Sedang sebenarnya, terlahir dalam keadaan yang seperti ini bukanlah keinginannya. Lara merasakan hampa saat tahu keluarganya berantakan pun sama halnya dengan dirinya. Dalam diri Lara telah tumbuh sebuah banteng ego yang sukar baginya memahami orang-orang di sekitarnya. Bahkan lebih parahnya, Lara tidak bisa menjalin hubungan dengan siapa pun karena merasa minder. “Aku pernah penasaran pada seseorang.” Jasmine menggiring Lara untuk duduk di gazebo samping rumah. Semilir angin sore begitu bersahabat walau mendung menghiasi langit. “Pada awalnya untuk seterusnya aku terjebak dalam rasa yang aku bangun sendiri. Menyesal?” Alis Lara menukik. Jasmine tipe perempuan yang ceplas-ceplos—maaf jika penilaian itu terlalu cepat Lara sematkan. Tapi melihat dan mendengar gelagatnya … Lara rasa ini bukan jalinan hubungan yang buruk. “Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya begitu menatap matanya. Ada sesuatu di kedalamannya yang sulit aku salami. Tapi anehnya aku terus jatuh cinta. Aku jatuh. Jatuh lagi. Jatuh kembali. Begitu seterusnya dan selalu terulang sampai dia datang dan menyatakan cinta padaku.” Bangganya wanita adalah ketika bisa dicintai. Dan bahagianya wanita adalah kala cintanya bersambut tak sia-sia. Semua itu memiliki arti yang tak bisa di jabarkan dengan rangkaian kata. “Cara menjelaskannya saja aku kesusahan. Saat dia menunggu jawabanku. Kata ‘ya’ dan ‘tidak’ menjadi begitu lama prosesnya. Mulutku kebas. Lebay, ya?” Gelengan kepala Lara mendukung jika gagasan tersebut tidaklah salah. “Tante harus belajar. Untuk om dan hubungan kalian. Jangan sampai stuck di tempat. Kalian harus berjuang sama-sama. Jangan hanya salah satunya. Hubungan nggak akan berjalan kalau nggak ada kerja sama.” “Kamu lebih mengerti banyak mengenai hubungan daripada aku.” “Kita perlu berbagi. Tante harus keluar dari zona nyaman atau bakal gitu-gitu terus. Oh, ya …” Jasmine menjeda. “Gimana pandangan Tante tentang sebuah hubungan?” Hubungan, ya? Rasanya sangat kaku bagi Lara untuk memberikan jawaban sedang di atas telah tertulis kesulitan dirinya akan menjalin sebuah hubungan. “Saling menghargai … mungkin.” Ragu-ragu. “Mendapatkan apa yang kita mau kayaknya gampang. Tapi sulit untuk menjaganya. Soalnya nggak semua orang mengerti dan mau memahami. Sebelum benar-benar kehilangan, sebelum benar-benar terlepas.” Sama halnya dengan perkataan Jasmine. Menjaga apa yang kita miliki sama halnya mempertaruhkan nyawa. Kehilangan … meninggalkan luka yang tak sebentar. Bekasnya terus tertinggal meski dunia terus berputar dan kehidupan senantiasa berjalan. Tapi kondisi seseorang tidak secepatnya bisa pulih membaik. Di antara mereka menjalani seluruh hidupnya dengan perasaan tanpa membaik. Satu hari berlalu. Dua hari berlalu. Dan bergulir menjadi satu tahun. Dia akan tetap hidup. Katanya seperti itu hidup manusia. Yang hidup akan terus merasakan kehidupan yang begitu. “Waktu terus menggerus. Kita bakal ketinggalan jauh kalau diam di tempat.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN