29

1377 Kata
“Abang ayo kita bahas ini.” Pagi-pagi sekali Alara Senja sudah heboh. Mulutnya dengan lancar merecoki Gema yang sedang fokus dengan tumpukan dokumen di mejanya. “Apa?” Toh Lara masih fokus dengan ponselnya saat Gema melirik lewat ekor matanya. Sesekali ada tawa kecil menghias sudut bibirnya. Dan Gema di buat gemas ingin melumat bibir mungil itu. “Abang pacar aku bukan?” Pertanyaan konyol di pagi hari yang cerah. “Bukan,” jawab Gema asal. Kecepatannya melebihi lesakan meteor yang jatuh menghantam bumi. “k*****t!” Umpat Lara terang-terangan. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan tatapan mata yang bengis menghujam wajah Gema. “Aku serius.” “Abang suami—” “Calon, ih.” “Alah kelamaan, Ra. Kita loh sudah bubu bareng dan—” “ETA MULUT GUSTI!” Teriakan Lara menggema di seluruh ruangan Gema yang bersyukurnya itu kedap suara. “Abang minta jatah.” “Ogah!” “Dosa kamu nolak maunya su—” “Calon …” Bangke, sambung Lara dalam hati. “Aku mau bahas ini.” Tunjuknya tepat di wajah Gema. “Gimana menurut abang.” “Enggak tuh.” Apa-apaan itu?! Alara mau bengek estetik di sini. “Abang mana pernah bosan sama kamu, Ra. Marah ya marah saja. Nggak perlu ada alasan bosan atau apa pun itu.” Umur makin tua bukannya makin paham malah makin riweh. Begitu isi batin suci Lara meraung-raung. “Abang terlalu objektif.” “Senyata itu abang, Ra. Nggak mau ribet.” Endasmu itu! Baiklah. Alara Senja sudah darah tinggi pagi-pagi sekali. “Abang aslinya ribet.” Tapi nggak sadar diri saja. “Aku tuh takut.” OWKEY! Nampaknya harus Gema pending dulu kerjaannya yang niatnya mau ngebut. Karena calon istrinya sedang mengeluh dan Gema enggan membuat sang pujaan makin meraung-raung jilid II. Berabe yang ada. “Sini, Ra.” Pinta Gema. Lara diam mengerjapkan matanya. “Duduk sini.” Di atas paha Gema. Dan tidak tahu mengapa perasaan Gema ingin memanjakan Lara makin kuat saja kemauannya. “Takut kenapa?” Setelah berhasil membawa tubuh Lara duduk anteng di pangkuannya. “Harus banget gini bang?” Kepala Lara menoleh di mana letak pintu masuk berada. Dengan bola mata was-was dan gumulan perasaan yang berkecamuk. “It’s oke. Ini aman. So, why?” “Nggak tahu. Tiba-tiba takut saja kalau abang bakal lakuin hal semacam bosan dan hengkang dari aku.” “Kenapa ada pikiran kayak gini, Ra? Kamu terkontaminasi gelombang laut mana yang lagi pasang?” “Sembarangan!” Lara menyahut nyalak. “Namanya takut mana bisa diketahui bang.” “Cari tahu dong, Sayang.” Dahlah meninggal saja Lara. Kalau Gema sudah menyuarakan panggilan sayangnya yang super lembut … Lara lemah. “Gini deh bang. Misal kita berantem nih—” “Bagus malahan, Yang. Hubungan kalau sering berantem hasilnya makin hangat.” Gema pernah baca kata-kata itu soalnya. “Abang motong sekali lagi, aku cipok sampai sesak napas.” Ancam Lara. “Berani?” Gema menantang. Lara menciut di tempatnya. “Serius lah bang, serius. Jadi aku mikir dong. Gimana kalau ternyata ada sesuatu yang nggak sesuai sama keinginan abang. Dan kita jadi berantem sesuka hati. Ujungnya abang marah.” Sejenak Gema terdiam. Tidak tahu ke mana arah obrolan yang Lara bangun. Semua padu padan kalimatnya rancu dan salah jawaban akan membuat Lara kian meledak. “Abang … jujur nggak ngerti maksud kamu apa, Ra.” Benar saja Lara langsung mendecakkan lidahnya kesal. “Abang bisa ngasih jawaban ngarang nih kalau semuanya nggak harus kayak gitu. Tapi abang juga tahu kamu nggak bakal puas dengan jawaban model gitu.” “Cakep. Yang aku maksud di sini semacam sikap abang yang hilang kesabaran. Yang awalnya tahu aku kayak gini, abang selalu ngalah, lama-lama abang hilang sabar dan bertindak kasar.” “Kamu nggak percaya sama abang?” “No! Nggak gitu. Aduh gimana, ya?” Lara panik. Dan Gema suka ekspresi semacam itu. “Prabu pintar banget ngasih kamu dampak buruk kayak gini, Ra.” Celetukan Gema menyoal masa lalu Alara berhasil. “Padahal nggak semuanya bakal bersikap kayak Prabu.” Lara tidak tahu ingin memberi jawaban yang bagaimana. Di kala ucapan Gema mengandung kebenaran tak terbantahkan … di detik itu juga Lara merasa di jatuhkan berkali-kali. Merasa bahwa di waktu itu dirinya setidak pantas itu untuk seorang Prabu. Merasa sangat kotor dan rusak hanya karena Prabu lebih memercayai orang lain ketimbang dirinya. Barulah di saat itu, Lara merasa sangat tidak bernilai apa-apa. Setelah Prabu tinggalkan. Setelah Prabu mencampakan dirinya begitu saja. Lara bahkan tidak tahu lagi caranya menghargai diri sendiri pasca kehancuran yang melanda. “Ingat, Ra.” Suara Gema tegas. “Kamu cuma butuh kesabaran buat ngerti kalau nggak semua hubungan yang kamu jalin wajib berhasil. Bukan Abang mengungkit masa kelam kamu. Kadang pun kamu perlu di hantam kayak gini buat jangan kepengaruh lagi. Beberapa orang nggak dimaksudkan buat jadi milik kamu. Barangkali Prabu di datangkan di kehidupan kamu buat kamu belajar mencintai dan menghargai diri sendiri. Jadi, yang perlu kamu ambil ya pelajaran di balik itu semua. Jangan kamu jadikan ajang meratapi nasib.” Masalahnya … Prabu datang di waktu yang sangat tepat. Di mana hati Lara penuh dengan kekecewaan akan fakta lain di dalam keluarganya. Dan penawaran hati untuk luka di dirinya di bawa oleh Prabu dalam bentuk cinta. Siapa yang tidak gila di sini mendadak di puja oleh lelaki sesempurna Prabu? Kedatangan Prabu sangat cepat memikat hati Lara dengan tepat. Debaran pertama yang seumur hidup bisa Lara ingat ketika berjabat tangan. Dan itu semua … Lara percaya bahwa keduanya bisa Bersama. Tapi sayangnya … bagi Prabu, Alara Senja bukanlah tempat untuk Prabu bermuara. “Karena di titik terbaik dan terhebatku sekali pun … Aku selalu ngerasa nggak pantes buat Prabu—” “Dan sekarang kamu ngerasa nggak cocok buat abang?” Kepala Lara mengangguk. “Primitif banget kamu, Ra. Kapan kamu mau belajar?” “Apa?” “Buat lebih cinta sama diri sendiri.” “Sudah kok.” Kepala Gema menggeleng. Wajahnya mengejek habis-habisan jawaban Lara. “Sama sekali belum. Kalau sudah—” “Buktinya aku mau nikah sama Abang.” “Dua tahun ini ke mana saja, Ra?” “Hah?” ‘Alara, Alara.’ Bukan maksud Gema ingin lancang. Menyelidiki segala aktivitas Lara dua tahun belakangan. Yang dilakukan calon istrinya pun cukup unik alih-alih menganggap tindakannya mandiri. Pergi dari rumah dan hidup sendiri dengan jarak yang cukup dekat dari rumahnya. Lara memilih menghindar—lebih tepatnya. Karena bagaimana pun, Gema tahu perangai Alara Senja yang enggan membicarakan tentang apa yang dirasakannya. Jadi wajar segala sesuatunya Lara pendam sendiri. “Jangan nangis sendirian, Ra,” kata Gema serius. “Kamu punya Abang yang bisa kamu ajak berkeluh kesah.” “Nah makanya aku ngajakin Abang bahas ini.” “Dan jawaban Abang enggak. Abang nggak punya toleransi untuk manja atau marahmu. Anggap saja itu bonus.” “Wae?” Gema kesal kalau Lara sudah mulai kekorea-koreanan. Tinggal bilang ‘kenapa’ saja lidahnya mesti melipir dulu pakai bahasa alien. “Abang cinta kamu nggak cuma cinta doang. Tapi ada sisi baik dan buruknya kamu yang harus abang cintai juga. Ada negatif dan positif di tiap-tiap perilaku kamu. Abang sudah siap dengan segala risikonya. Jadi … nggak ada alasan buat abang bertindak kasar apa lagi ngerasa bosan sama kamu.” Sekarang, Lara tahu bahwa mempertahankan Bahtiar Gema adalah pilihannya yang paling tepat. Lelaki ini meski Lara bersikap kurang ajar tidak mengambil pusing hal yang demikian. Gema mampu membuat Lara nyaman dengan cara-cara yang berbeda. Gema mampu membuat Lara merasa dilindungi dan diinginkan di waktu yang bersamaan. Bersama Gema … tidak Lara rasakan sebuah bumbungan harapan yang begitu tinggi. Bersama Gema … setiap embusan napasnya jadi berarti. Bersama Gema … Lara temukan arti lain dari takut kehilangan tanpa meninggalkan risau berlebih. Dan Bersama Gema … Lara pahami arti dari cinta dan mencinta yang sesungguhnya. “Abang nggak akan lepas kendali kalau itu yang kamu maksud, Ra. Abang nggak bakal bertindak pakai amarah senyebelin apa pun kamu nantinya. Abang nggak akan hilang sabar cuma ngadepin kamu. Kamu yang Abang pilih artinya ada banyak risiko yang harus Abang tanggung. It’s oke, Ra. We’ll be alright.” Betapa menenangkan lantunan kalimat yang Gema luncurkan. Dan Alara Senja tak punya pilihan selain mengangguk mantap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN