Pada akhirnya Alara tertidur dengan sendirinya.
Dalam pelukan Gema, Lara menyamankan posisi terpejamnya. Semuanya terasa lebih ringan setelah diungkapkan secara perlahan. Gema tidak memaksa. Itu murni keinginan Alara yang berpikir bahwa sudah waktunya untuk membenahi.
Setidaknya Gema akan berterima kasih kepada semesta. Yang telah menunjukkan jalan sampai sejauh ini. Sehingga dari sekian banyak masalah yang menyambangi hidupnya, Gema kian dewasa.
Bersama Alara, Gema benarkan segala rasa yang membakar jiwanya.
Hidup … adalah skenario Tuhan. Kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah tahu bagaimana jalan ceritanya. Dari awal hingga akhir. Dan saat rencana Tuhan tidak sesuai dengan rencana kita … bukan artinya Tuhan tidak menyayangi kita. Tapi, sisi inilah yang harus kita gunakan untuk bisa berimprovisasi.
Mungkin dengan rencana yang tidak sesuai, akan hadir sebuah hikmah di baliknya.
Mungkin dengan rencana yang melenceng dari jalurnya, akan datang cerita lain yang lebih menarik.
Gema memaknainya seperti itu saja. Saat pernikahannya tidak berhasil dan bertahan hanya beberapa bulan saja. Menyesal bukan langkah untuk meratapi nasib. Karena pernah berdoa semoga di pertemukan dengan pasangan yang baik dan ketika di pisahkan dengan sang mantan istri … artinya dia bukan pilihan Tuhan untuk menemani perjalanan hidupnya.
Lagi pula Gema bukan tipe orang yang suka mempermudah alasan kepergian. Anggap saja yang hilang tak usah diharapkan untuk pulang dan yang pergi tak perlu di cari lagi. Apa lagi memaksa seseorang untuk bertahan dengannya. Tidak. Gema bukan yang seperti itu.
“Mikirin apa?”
Mata Gema mengerjap. Kaget dengan suara Alara yang mengalun di rungunya.
“Kamu bobok apa merem doang, sih, Ra? Bentar banget.” Misuh Gema.
Lara terkekeh. “Memang gitu aku bang.”
“Jangan di biasain. Sakit entar kepala kamu.”
“Abang mikirin apa?” tanya Lara sekali lagi. “Serius banget sampai alisnya kayak ulat bulu, ngelungker.”
Bengek, Hyung.
Punya hubungan dengan seseorang yang lebih muda usianya nyatanya cukup menguras tenaga. Perut Gema bergetar dan kepalanya terdongak. Tawanya syahdu sehingga Lara mendengus.
Bagaimana Gema jelaskan, ya?
Kadang, Alara itu punya cara tersendiri untuk mengungkapkan keinginannya. Meski lewat kode-kode yang ambigu … tetap saja itu meresahkan. Terakhir kali mengenai kerlingan mata yang Lara tunjukkan, Gema harus menahan segala sesuatunya seorang diri.
Yang kata Alara, “Bisa-bisanya Abang gagal paham!”
Coba sekarang pikirkan!
Siapa yang tidak gagal paham jika mata yang sudah bermain. Sedang yang di maksud Alara adalah es krim dari kafe kenamaan.
Lantas, hubungannya dengan kerlingan mata … bukankah sudah sangat jauh melencengnya?
“Aku mau egois, Ra.” Embusan napas Gema terhela.
“Maksudnya?” Berganti alis Alara Senja yang bertautan.
“Buat kamu … Aku mau egois.” Gema larikan tangannya guna merangkum wajah cantik Alara Senja. “Tapi aku juga takut.” Tawanya. “Gimana kalau besok aku bersikap egois cuma saking terobsesinya sama kamu …” Mulut Alara komat-kamit beristigfar. “Jadi hari terakhir aku buat ngelihat kamu.”
“Amit-amit, bang, amit-amit! Mulut nggak ada akhlaknya sama sekali.”
“Ini seumpama saja loh, Sayang.”
“Jangan ngada-ngada. Lagian abang ini kalau mikir suka yang nggak pasti.”
“Cinta sama kamu tuh pasti, Ra.”
“Ngegombal muluk kerjaannya.”
“Serius, Ra.” Gema peluk Lara. Punggungnya Gema tepuki dan embusan napasnya memburu. “Bakal jadi akhir yang buruk kalau sempat di catat sama Malaikat.”
“Itu tahu! Masih juga bertingkah.”
“Kan abang lagi nyoba mengungkapkan, Ra.”
“Lainnya kenapa. Ini ujug-ujug mengangkat topik sejenis mau meninggal saja!”
Bukan tanpa alasan Bahtiar Gema berkata demikian. Ini hanya selintas namun sebelum tersampaikan niatannya, sudah Gema pikirkan dengan sangat matang.
Gema ingin egois untuk melindungi dirinya sendiri dan mereka para orang-orang terkasih yang Gema sayangi.
Gema ingin egois untuk bisa membalas rasa sakitnya akan diabaikan di masa lalunya yang hingga hari ini masih menjadi misteri dalam ceritanya.
Gema ingin egois hanya untuk puas dalam memiliki Alara Senja. Supaya orang-orang tidak lagi mencuri apa yang telah menjadi miliknya.
Gema ingin egois karena ada satu titik kelelahannya di mana hatinya tak di jaga oleh orang-orang terdekatnya.
Namun … Gema rasai ketakutan; bagaimana jika esok adalah hari terakhirnya?
Mungkinkah senyum dan tawa yang saat ini menggantung di wajah Alara Senja akan tetap bertahan?
Mungkinkah jika dirinya menghilang, kesedihan akan melingkupi Alara Senja sebagaimana kehilangannya dulu akan cintanya?
“Jangan mikir yang aneh-aneh bang. Abang sudah pernah nikah. Masa ngadepin ketegangan menuju hari H saja nggak bisa. Cemen!” Ejek Lara yang ndusel-ndusel di d**a Gema. “Aku baca ini Bang di quote of the day buat para cowok khususnya.
“Abang … ketika cinta sama cewek—jangan marah atau kesinggung loh, ya! Ini buat para cowok. Jadi Abang pun masuk.” Iyakan saja. Kepala Gema mengangguk. “Jangan cuma cinta karena paras cantiknya doang, bang!”
Pas bagian ‘cantiknya doang, bang!’ itu kayak Alara nuduh Gema demennya pilih-pilih cewek. Padahal sebelum bertemu dan menjalin hubungan dengan Alara … cantik menjadi kualifikasinya. Cuma buat happy-happy doang
“Cintai juga kepribadiannya, sifatnya, akhlaknya. Soalnya cuma itu alasan nantinya kenapa Abang mertahanin dia di hubungan yang Abang bina.”
“Njih Ndoro,” jawab Gema patuh.
“Serius aku nih, Bang.”
Begitulah wahai para kaum lelaki. Sekiranya di harapkan maklum untuk sifat alamiah perempuan yang tidak bisa di kalahkan apa lagi di salahkan.
***
Perlakuan manusia yang kadang tak sadar diri yaitu mencampakan seseorang atau memutuskan hubungan tanpa ada rasa kesal, mengakhiri hubungan tanpa memberi satu alasan dan memohon kembali karena sekarang sudah menyesal.
Manusia sejenis itu tidak pernah patut untuk hidup apa lagi di kasihani.
Pikiran Prabu baru saja terbuka bahwa ada sesal yang bercokol di dadanya. Prabu telah mengambil langkah yang salah dalam memutuskan sebuah pilihan. Sudah menyakiti dan meninggalkan Alara Senja yang jelas-jelas terbaik untuknya.
Kini … melihat seperti apa bahagia yang sedang di bangun oleh Lara, mendadak Prabu iri.
Ada angan terselubung dalam benaknya.
Andai dan jika bisa waktu bisa di putar ulang. Ingin Prabu berdiri di samping Lara. Bukan malah Bahtiar Gema yang membuat perempuan masa lalunya tertawa lepas. Bukan Bahtiar Gema yang mewujudkan segala impian Alara dalam meraih kehidupannya.
Andai dan jika bisa semuanya kembali pada tempatnya masing-masing. Takkan Prabu biarkan pengganggu kecil seperti Mosa merusak momen bahagia. Akan Prabu singkirkan dengan kedua tangannya jika memang di haruskan.
Dulu … pernah Lara katakan jika support dan dukungan yang paling efektif dalam menjalin sebuah hubungan ialah orang tua masing-masing.
Sudah paling benar kalimat itu. Yang sayangnya Prabu hancurkan semuanya sampai ke titik terendah di pijakan kakinya.
Sekarang tinggal sesal yang tak bisa kembali ke masa lampau.
“Nggak perlulah kamu berharap lagi,” ucap Mosa. Menyeduh teh dalam cangkirnya. Ekspresi wajah Mosa kentara tak suka akan apa yang Prabu lakukan. “Kamu mau nangis bahkan sampai gegulingan di lantai ini pun, nggak akan ada yang peduli. Lara sekali pun. Kamu bukan lagi prioritasnya. Sadar!”
“Terus?”
Mosa terkekeh. “Bodoh! Bisa-bisanya menjilat ludah sendiri. Hidup kamu drama banget buat mengharapkan cinta Lara lagi. Aturan kamu sadar kalau sampai kapan pun nggak akan bakal kamu dapetin kebahagiaan yang sama di sosok yang berbeda. Denganku jelas nggak punya efek apa-apa. Kamu cuma aku jadiin bahan kepuasan doang.”
Sudah biasa. Prabu tidak akan kaget apa lagi sakit. Hatinya sudah kebal terlebih dengan pendengarannya. Apa pun yang Mosa katakan, Prabu anggap semuanya benar.
“Tiap orang punya peluknya masing-masing. Punya nyaman pundaknya sendiri-sendiri. Sebab itu, satu yang hilang nggak bisa digantikan dengan seribu yang datang,” lanjut Mosa. Sebelum mengakhiri percakapan dengan Prabu. Terlebih dulu ingatannya menerawang di kelamnya malam. “Coba kamu mau sedikit saja merasai untuk mau bersandar ke aku. Seenggaknya bantu aku buat berusaha mengenali jejakmu yang baru. Bukan malah berkabung dengan cintamu yang lalu.”
Di antara ketiganya: Alara, Mosa, dan Prabu siapa kiranya yang patut untuk di salahkan?
Sedang kebisuan Prabu sejak Mosa mengungkapkan keinginannya … saat itu juga Prabu tersadar. Bahwa meratapi kegagalan cintanya bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Karena hingga hari ini masih ada sisa-sisa cinta yang tertinggal dan sesal yang menggenang.