27

1474 Kata
Proses jatuh cinta. Alara Senja jika di tanyai mengenai itu, akan dengan mudah menyuarakan jawabnya; mudah bahkan tak perlu menggunakan alasan. Karena memang demikian adanya. Seorang perempuan, akan dengan mudah kagum pada sosok lelaki yang berkepribadian hangat. Mengapa? Kebanyakan dari mereka akan menjawab bahwa lelaki yang menjadi pendampingnya harus sedikitnya sesuai seperti ayah mereka. Atau sosok lelaki itu memiliki kemiripan dengan kakaknya. Jelasnya, bukan hanya wajah yang menjadi pilihan meski dewasa ini sering terjadi cekcok bahwa kualitas wajah lebih menentukan. Tapi sifat dan cara lelaki itu dalam menangani sifat alamiah perempuan lah manja dan gemar merengek yang dijadikan patokan. Namun di antara itu semua. Kesulitannya hanya satu; cara mempertahankan untuk tetap cinta alih-alih melewatkan perasaan itu begitu saja. Itu yang membutuhkan alasan. Meski begitu, jangan lupakan ini; untuk mencari lelaki yang bangga bisa memilik dirimu. Lelaki yang matang dalam bersikap, dan yang terpenting adalah lelaki yang tidak lari mencari wanita lain ketika masalah sedang menghampiri hubungan kalian. Jauh lebih sulit dari teorinya meski memang begitu adanya. Alara hanya belajar dari didikan keluarganya. Yang begitu keras memberinya tekanan dan tuntutan. Yang diam-diam menyimpan luka dan sejuta kekecewaan. Untuk Alara … pada akhirnya menyerah dan hengkang dari sana. “Abang nggak kayak gitu, Ra.” Gema selalu hadir bagaikan jailangkung. Dan sekarang mengintip aktivitas Alara Senja yang terbilang privasi. Malu lah kalau zaman semaju ini masih membutuhkan buku diary untuk catatan. Perlahan tubuh Lara bangkit dari tengkurapnya. Mengikuti tatapan mata sang calon suami yang menaruh minat pada bukunya. Dasar! Dari mana asalnya Alara bisa mungut cowok macam Gema ini?! “Yakin?” “Ragu?” Sudah biasa tanya di balas dengan pertanyaan lain. Lara takkan heran untuk itu. “Kenapa?” “Aih.” Desah Gema gemas sendiri. “Memastikan.” “Buat?” Yang aturan itu menjadi pertanyaan bagi Gema kepada Lara. “Cuma takut saja kalau sewaktu-waktu kamu berpikiran negatif.” “Tentang?” Percakapan keduanya terkesan pendek tapi nggak tahu kenapa bisa sedeeply ini. Heran. “Ra …” Panggil Gema setelah terdiam cukup lama. Netra matanya menatapi wajah Lara yang akhir-akhir ini sedikit berisi. “Abang pernah hancur.” Tahu. Lara sangat tahu itu. Diam-diam mengorek informasi mengenai Bahtiar Gema bersama mantan istrinya dulu. “Jadi, pernah Abang temui perihal sesuatu yang rasanya berat sekali. Tapi sebisa mungkin untuk dilewati. Dan itu bisa. Pernah juga yang telah hancur dan abang pikir nggak ada lagi jalan atau cara untuk bisa merekat—karena sekalinya retak, maka serekat apa pun lemnya, takkan berhasil. Yang sudah retak, ya sudah. Tapi meski begitu, yang abang rasain pada akhirnya baik-baik saja. “Ternyata kuncinya satu, Ra; bertahan dan terus melaluinya. Bisa jadi yang buruk cuma ada di pikiran doang. Jadi … apa kabar pikiran kamu?” Gema belai kepala Lara penuh sayang. Jari-jari besarnya bergerilya dan mulai menelusup di sela-sela rambutnya yang halus. Wangi shampo yang khas merebak di penciuman Gema. Ah … Alara Senja sungguh mood booster-nya yang paling keren sejagat raya. “Abang mungkin bukan cowok baik-baik, Ra. Wajar kamu ragu. Nggak apa-apa, itu normal. Ini pertama kalinya buat kamu. Sebisa mungkin abang lakuin yang sepatutnya dilakuin cowok waktu ngedeketin cewek. Abang minta kamu baik-baik dari keluarga kamu dan memastikan kalau kamu baik-baik saja. Dan sebisa abang memperlakukanmu dengan baik pula.” Bolehkah Lara tersanjung? Ada kalanya omongan Gema melambungkan hatinya. Namun sewajarnya Lara memberi respons. Ada kalanya ingin memercayai apa yang Gema ucapkan. Namun perlahan membiarkan waktu yang menjawab. “Aku bukan ragu sama abang. Kita sudah sejauh ini dan aku nggak punya jalan buat putar balik.” “Cakep.” “Tapi Abang kebawa perasaannya sudah nggak bisa di ukur pakai meteran. Sayang banget sama aku, ya Bang?” Gema angguki dengan mantap. Tidak ada sangkalan di dalamnya sehingga Lara langsung diam dengan wajah syok. “Kalau pun patah, abang nggak akan takut, Ra. Kali ini … pilihan yang Abang pilih nggak salah.” “Wae?” “Kebiasaan pakai bahasa planet!” Gema sejenak mengambil jeda. Dan mengecup pipi Lara untuk sebentar berkata, “rasa kecewa mengajarkan kita bahwa kehidupan itu dinamis; mudah berubah dan berpindah. “Itu terjawab dari seberapa sayangnya abang ke kamu dari yang bukan apa-apa menjadi apa yang abang mau; kamu milik Abang. Simpel, Ra. Karena Abang butuh perubahan dan kamu harus bisa pindah dari gumpalan masa lalu. Jadi nggak susah untuk kita memulai. “Berantem memang perlu sesekali kita lakuin. Biar kita awet dan dari sana bisa kita cari cara penyelesaiannya. Umur Abang yang 33 tahun ini bukan jaminan kedewasaan, Ra. Barangkali kamu yang lebih bijak dalam bersikap dan pandai mengambil keputusan. “Intinya, kita sama-sama belajar dan memahami satu sama lain. Karena kamu perempuan yang patut untuk di lindungi, sekuat apa pun kamu dalam bertahan.” Sejuk sekali rasanya. Benih-benih kebimbangan menyingkir dari sudut hati Alara Senja. Perlahan tergantikan dengan senyum kemantapan untuk memulai segalanya dari nol. Menutup buku lama dan mulai menorehkan tinta di buku baru. Babak awal mungkin akan segera di buka. Bab-bab baru akan mulai beterbaran. Penjelasan demi penjelasan akan segera terangkum rumit dalam untaian kata. Namun apa pun itu, satu harapan Lara; bahwa Gema akan terus bertahan bersamanya. “Untuk mengawali …” Lara akan serius dengan memulai segalanya. “Apa yang Abang lihat nggak selamanya seperti itu.” “Tahu.” “Dari mana?” “Kepo.” “Serius, nih.” Gema tidak tahu secara detail. Namun untuk kronologi dan rentetan permasalahan yang menimpa keluarga Alara, Gema mengetahui. “Canda, Sayang. Cerita gih. Abang sudah pesenin pisang cokelat kesukaan kamu.” “Bohong.” “Dosa loh sama calon suami kayak gitu.” “Kayak gitu gimana?” “Nuduh Abang, 'kan?” “Alah. Alibi Abang doang itu buat membela diri.” Makin receh saja ya, Hyung. Hubungan keduanya jadi banyak debatnya sementang si penulis dari jurusan politik. “Bapak kamu pernah nikah sebelum sama ibu kamu. Ada kakak sulung kamu lain ibu meski di akta kelahiran kamu anak pertama.” Diam. Langkah Gema sudah sangat jauh hanya karena Lara mengatakan ‘alibi’. Padahal tidak seharusnya sikapnya seperti ini. “Ra, jangan minder.” Pertama-tama Gema tenangkan Lara dengan kalimat ini. Karena sungguh, tidak ada kriteria bagi Gema dalam memilih calon pendamping hidupnya. “Abang nggak mempermasalahkan itu. Apa pun kamu dan dari mana kamu berasal. Penting di sini, kamu sama Abang. Ada untuk melengkapi hari-hari abang. Ada untuk mengisi kekosongan hati Abang.” Sekali lagi … bolehkah Lara melambung? Angannya sangat tinggi sehingga tidak ada kata selain menaruh semua harapan di genggaman Gema. Sebab ada kata ‘sewajarnya’ dalam mencintai dan berbahagia. Karena katanya; esok masih dalam tanya entah di keadaan yang sama atau malah sebaliknya. “Bukan aku nggak mau berbagi sama Abang.” “It’s oke, Ra. Abang paham apa yang kamu rasain.” “Nggak semuanya bisa aku ungkapin. Aku butuh banyak waktu. Takutnya, begitu Abang tahu yang sebenarnya, nggak cuma ngejauhin aku. Tapi juga ngelupain kalau aku pernah datang di kehidupan Abang.” Gema benar-benar tertawa dengan puas. Alara Senja dengan sikapnya yang lunak sungguh lucu dan terlihat konyol. Itu hiburan gratis bagi Gema yang lelah seharian bergelut dengan dokumen. “Luka-luka kamu nggak bisa diabaikan begitu saja. Mau sekeras apa pun kamu berusaha. Mereka, para luka itu akan terus beriringan sama kamu, sama hati kamu dan menyakiti kamu. Ibaratnya itu paket komplit. Sebahagia apa pun kamu saat ini, ingat, Ra … ada hati lain yang tersakiti. Ada yang menangis di atas bahagianya kamu. Ada yang sedang menyusun rencana demi rencana. Bahkan mungkin mencari celah dari kelemahan kamu.” Yang ini murni kekhawatiran Gema semata. Setelah pertemuannya dengan Mosa, tidak tahu mengapa, Gema merasakan ada keganjalan di diri saudara perempuan sang calon istri. “Aku nggak pernah tahu awalnya.” Mulai Lara. Perasaan paling buruk yang selalu dirinya lalui adalah kesepian di tengah keramaian. Dan membuka kisah ini, setitik kekosongan langsung menyerbu relungnya. “Abang dengerin.” “Kita bertemu. Nggak sekali atau dua kali. Bahkan intens di tiap acara. Aku nggak curiga di awalnya sampai ke sekian kalinya aku mulai mikir ‘ini agak aneh’. Mama sama papa selalu nyantumin namanya di daftar undangan. Dia cantik dan manis. Anggun dan kalem. Aku coba dekat sama dia dan kita punya pemikiran yang sama. Aku pikir—kadang—aku butuh sosok yang lebih dewasa untuk ngasih aku bimbingan. Aku pikir aku satu-satunya sulung di keluarga. Tapi …” Tenggorokan Lara tercekat. Beruntungnya tubuhnya sudah berpindah tempat bersandar di d**a bidang Gema. “Kita pelan-pelan saja, Ra. Kamu nggak perlu memaksakan diri kayak gini.” “Aku nemuin kenyamanan dan kesamaan. Dan selama itu, dia betah buat nahan semuanya. Padahal dia nggak diakui secara langsung tapi masih mau merentangkan tangan ngasih maaf. Aku kalah—” “Kamu kuat. Nggak tahu bukan artinya nggak melihat. Ra … nggak semuanya bisa kamu genggam dalam satu tangan. Kamu butuh tangan lain untuk sama-sama mencapai.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN