26

1518 Kata
Lara tatapi tangannya dan ada keinginan untuk Gema menggenggamnya. Akhir-akhir ini, Alara Senja sedang suka-sukanya dengan lagu itu. Di kamar mandi sekali pun, akan Lara bawa ponselnya. Sedang badannya ada di bawah guyuran shower yang menyejukkan kulitnya. Membuka pori-porinya. Lara ingin Gema menjadi suaminya. Omongan Lara beda ya antara bibir dan hati. Teringat momen di mana Bahtiar Gema meminta dirinya untuk menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anaknya di masa depan kelak. Uh … boleh tidak Alara melayang? Karena bagi Lara Gema adalah Ironmannya. Aih Lara jijik sama diri sendiri sampai berdecih. Jadi keingat Odading Mang Oleh yang rasanya seperti kamu akan menjadi Ironman. Astaga … cinta semenggetarkan ini jika boleh dikatakan demikian. Dan Lara mencintai Gema 3000 kali lebih besar dari yang terlihat. Bagian ini jangan sampai Gema mendengarnya. Lelaki itu akan sangat-sangat dan sangat percaya diri jika sampai Lara ungkapkan sebesar apa kecintaannya. Yang diam-diam Lara sangkal bahwa dirinya tertular virus b***k cinta. Lara akan mengambil kesempatan. Gema dengan segala kenarsisannya. Telah lebih dulu sampai di garis start bahkan sebelum Lara melangkah lebih dulu. Lara hanya meminta waktu tiga bulan untu dijadikan sebuah kenangan untuk selebihnya memilih kehidupan yang baru Bersama orang-orang yang baru. Tapi Gema tidak memberinya izin untuk melangkah pergi. Lelaki itu egois dan sedikit posesif. Dan tidak tahu mengapa … Lara suka dengan cara Gema mencintainya. Eh? Berlebihan tidak, ya? Karena Lara ingin menjadi sesuatu untuk Gema. Hadirnya Gema, membawa dampak dahsyat untuk kehidupan Alara Senja. Sadar atau tidak, lelaki itu telah mengambil banyak waktu untuk Lara membuat setidaknya 35% dari kebekuan hatinya. Gema mengetuk secara perlahan bagian terdalamnya. Memberinya bisikan-bisikan bahwa ‘kamu berhak bahagia selepas dari masa sakitmu di masa lampau’. Perempuan mana yang tidak bahagia dengan aksi tersebut? Lara melihatnya berdiri di sana … Gila! Di kamar mandi yang berisi Lara seorang diri saja, bisa-bisanya wajah Gema terlukis di setiap keramik kamar mandi. Lantainya pun terasa ada mata bening Gema yang sedang menatapnya dengan penuh binar cinta. Yang membawa sebuket bunga dan kotak cincin. Napas Lara kembang kempis. Karena Lara tahu Gema ingin meminta. Begini, ya, rasanya menjilat ludah sendiri? Well … baiklah. Lara akan mengalah kali ini. Akan Lara akui bahwa rasa sakit di masa lalunya tidaklah buruk. Karena nyatanya, patah hati terberatnya telah memberinya sensasi dengan fakta kalau kita memang masih hidup. Kecuali jika Lara telah mengubah sepenuh hatinya menjadi batu atau kerikil. Yang tidak punya perasaan apa-apa. “Mandi nggak ngajak-ngajak.” “Ngagetin!” Kebiasaan Bahtiar Gema memang begitu. “Kamu ngelamunnya keasikan.” Keenakan mana lagi yang bisa Lara lakukan jika Gema sudah berucap demikian. Mendebat lelaki ini takkan ada hasilnya. Semakin di jawab, semakin berujung pada perdebatan. “Abang ada jadwal apa, Ra?” Senin biasanya menjadi hari padat Gema. Tidak heran jika di minggu pagi ini bertanya terlebih dulu. “Abang kayak yang malas gitu.” Langsung saja. Tubuh Lara berbalik dengan tatapan bengis. Gema merinding seketika. Mulutnya baru saja mengeluarkan racun yang tiada tanding. “Kepala keluarga kok malas!” Hardik Lara. Tidak pedas. Malah terkesan halus dan seksi. Edan! Otak Gema ketinggalan di teras neraka. “Di kira ngebina rumah tangga itu enak kali, ya. Bikin pesta gede, habis itu bereproduksi sebanyak-banyaknya.” Melubernya ke mana-mana, Bund. Begitulah kira-kira jika the power of emak-emak sudah bersuara. “Masa pacaran enak Bang. Kita pihak cewek minta lipstik dan jajaran skincare bisa di penuhi. Ibaratnya abang nggak punya duwit, bakal di usahain biar ada. Kenapa? Karena nggak mau kita ngambek dan bubaran atau dianggap cowok kere.” Buset! Mulut Lara nggak pakai rem. Gas pol. “Pusingnya pas sudah nikah bang. Belum saja abang rasain beras habis, gas habis, token listrik habis eh gajian masih lama.” Di singgung begitu, Gema deg-deg-an. Meski tidak kekurangan secara financial, namun perkataan Lara cukup jadi tamparan. Bukan artinya Gema menikahi Lara untuk sekadar senang-senang semata. Sedang malas yang Gema rasakan murni lelah. “Dah yuk mandinya. Kamu masuk angin entar. Abang jelasin sambal ngeringin rambut kamu.” Tidak tahu saja semaut apa bibir Gema dalam merayu dan melumat. Tiada duanya. *** “Ra …” Panggil Gema setelah cepat-cepat berpakaian. Duduk di tepi ranjang dengan Lara di bawahnya. Delosor di karpet berbulu kamar keduanya. Tangan Gema meraih sisir guna merapikan rambut panjang Lara yang semrawut. “Percaya nggak kalau jodoh nggak datang dengan sendirinya?” Tak ada jawaban. Gema lanjutkan, “Jodoh sudah ada yang ngatur, Ra. Tapi kita nggak bisa diam doang. Kamu mau memangnya jodohnya dalam mimpi?” “Abang belibet.” Gema senyumi. Tidak akan tersinggung apa lagi marah. Tapi senang saat Lara menjawab pol-pol-an gasnya. “Gini Sayang …” Lemah, Hyung, lemah. “Menyakiti dan disakiti. Mengecewakan dan dikecewakan. Akan selalu jadi bagian dari kehidupan kita yang nggak terhindarkan. Tapi itu semua juga bagian dari proses pentingnya pendewasaan diri. Dari situ, kamu kita khususnya bisa belajar bagaimana mengatur ekspektasi, mengendalikan emosi, dan meningkatkan empati. “Kadang kita terlalu tinggi dalam menggantungkan harapan yang pada akhirnya nggak sesuai sama ekspektasi. Tapi berpikir negatif sesekali juga tidak ada salahnya. Agar apa yang tidak kita harapkan menjadi sebuah ketergantungan.” Gema jeda sejenak. Jari-jari tangannya beralih fungsi guna menyisir rambut lembut Lara seusai di rapikan. “Abang nikahin kamu bukan untuk di ajak susah, Ra. Soal materi, masih kamu ragukan? Terus sampai kapan mau belajar percaya ke abang?” Ah … Lara baru sadar kalau Gema sedang terbawa suasana. Omongannya beberapa menit yang lalu pun sebenarnya tak sepenuhnya tersadar. Hanya candaan. Namun kalau orang yang di ajak bercanda sedang sensi ... sulit. “Nggak gitu maksud aku bang.” Alara putar balik tubuhnya. Tersenyum manis. “Itu fakta yang kejadiannya lagi viral juga. Tapi cuma perumpamaan saja ke Abang. Gimana, ya, jelasinnya. Intinya, kalau nggak percaya sama Abang, aku nggak ada di titik ini.” “Titik apa?” Alis Gema mengerut bingung. “Nggak di sini sama abang.” Decak Alara kesal. Susah baginya untuk mengungkapkan apa yang di rasakannya. Malu-malu meong? Bukan gitu. Tapi memang sulit buat ngomongnya. “Biar abang bisa memperbaiki diri juga, Ra.” “Nggak perlu. Apa adanya abang aku sudah paling suka. Sejak ketemu abang, aku belajar menghargai dari sebuah pertemuan. Dan belajar ikhlas dari perpisahan.” “Artinya?” Gusti, begitu saja Gema tidak mengerti. “Aku nggak mau kehilangan lagi. Puas?!” “Nah gitu dong. Kamu ngomong saja susah. Mesti pakai urat dulu. Bisa-bisanya kamu, Ra, bisa-bisanya.” Bengek. Mau pingsan estetik. Gema nggak ada duanya soal perdebatan. Apa yang ingin di dengarnya harus sampai dapat. Belum puas dengan jawabannya, akan terus di ubernya. Karma Lara di masa lalu apa, sih? Kok sampai-sampai ketemu cowok modelan Bahtiar Gema. “Ayo makan, Ra. Abang lapar.” “Malas.” Mood Lara terjun bebas. “Gegoleran lebih enak.” “Abang yang masak deh.” “Bisa?” “Delivery.” “Nggak nanya.” Sok-sok’an sekali mau masak. Tahunya delivery. Begitu juga kucing tetangga bisa. “Ah kamu nggak asik.” “Cari yang asik sana.” “HEH!” Mata Gema melotot. “Kamu receh ih kalau bercanda.” “Dih manja. Jijik tahu Bang. Nggak pantas sama muka yang sudah bangkotan.” “Tapi ganteng, 'kan?” Gema nyengir. Menoel-noel pipi Lara yang orangnya anteng maksimal nge-drakor. “Kamu saja sampai suka sama Abang.” Tidak ada respons. Mata Lara fokus maksimal yang sesekali bergumam mengumpat. “Abang kalau sudah punya istri secantik ini—aku maksudnya—” Percaya saja dulu, ekhm. “Masih mau selingkuh nggak?” “Tergantung.” “Mati dong.” “Sembarangan!” Lah, katanya tergantung! “Maksud abang tuh tergantung di situasi yang kayak gimana. Kalau kamu selingkuh, abang balas selingkuh. Tapi amit-amit, Ra. Cukup sekali abang gagal. Selebihnya enggak mau ada kata cerai atau pisah.” “Wae?” tanya Alara. Artinya kenapa. Gema sampai memutar bola matanya bila Lara sudah mulai dengan bahasa dramanya. Bagus sih memang. Mempelajari lebih dari satu bahasa itu bagus apalagi sudah mulai di terapkan dalam dunia belajar juga. Tapi ya itu, Gema heran. “Mulai deh Korea-korea kamu nongol.” Gema melirik kesal. “Pernikahan nggak selucu itu buat di jadikan ajang perselingkuhan, Ra. Ini rumit. Nggak semudah kayak pacaran. Yang kamu lihat di masa pacaran kelihatan manisnya tapi saat di atap yang sama, berbagi ranjang yang sama, dan 24 jam bersama. Baik buruknya akan nampak saat di pernikahan. Jadi nggak heran banyak yang merasa salah pilih. “Yang sebenarnya … bukan soal pilihannya. Namun kita yang nggak pandai bersyukur. Nggak semuanya bisa di raih dalam satu kali genggam. Nggak semuanya bisa di nilai dengan baiknya di awal. Sesekali berpikiran buruk adalah jalan terbaik agar tidak terjebak di suatu hubungan yang membosankan.” “Abang pernah bosan sama aku?” Diamnya Alara menyimpan sejuta tanya yang tidak di duga-duga. “Kenapa?” “Penasaran.” “Kalau iya kenapa. Kalau enggak mau di apain.” “Entah. Aku cuma pengen tahu saja.” Gema pegang pipi Lara. Jempolnya merasai kulit halus milik Lara yang menyatu dengan telapak tangannya. “Enggak.” Kecupnya di kedua kelopak mata Lara. “Enggak pernah sama sekali.” Lumatnya di bibir tipis Lara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN