“Tadi keren, 'kan abang ngomongnya?”
Adalah Bahtiar Gema yang dengan bangga menepuk-nepuk dadanya.
“Kiceup si Prabu mantan kamu itu. g****k, sih jadi orang.”
Kepala Lara hanya menggeleng tidak peduli. Biarkan sebahagia Gema saja. Orang seperti Gema jika sedang dalam kondisi mood yang baik kok di senggol, ngebacok nanti. Kan nggak etis calon pengantin saling ngebunuh.
“Tapi abang serius, Ra. Nggak ada bohong atau rekayasa.”
Masih di pekarangan kediaman orang tua Alara Senja. Mobil Gema belum bergerak untuk beranjak hengkang dari sana. Memang sengaja hendak berbincang deeply dengan calon istrinya.
“Apa pun yang ada di diri kamu abang suka. Kamu yang arogan dan suka mengumpat, abang suka. Kamu yang egois soal pilihan dalam membatasi diri, abang suka. Kamu yang kasar dengan berbagai tindakan konyol, pun abang tetap suka. Bahkan kamu yang nggak konsisten dengan hubungan ini, abang tetap suka.
“Kamu yang penuh dengan kekurangan… maaf. Nggak seharusnya abang bertindak jauh malam itu buat nyentuh kamu. Padahal itu luka trauma kamu. Kamu—”
“Harusnya abang jangan suka sama aku. Kenapa, sih, bang isi kontraknya abang langgar?”
Kepala Gema menoleh dan melongo dalam satu kali kedipan mata. Ekspresi wajah Lara ketika mengucapkan kata-kata tersebut datar tanpa aura maupun senyuman apa lagi amarah. Benar-benar datar.
“Nggak bias, Ra. Abang tetap suka sama kamu.” Tegas Gema dalam menjawab. “Halangi saja. Pakai semua koneksi kamu untuk mengukuhkan perjanjian di atas hitam putih kita. Abang jamin itu nggak ada artinya.
“Mau sekekurangan apa pun kamu, Ra. Abang tetap suka sama kamu. Dan itu nggak tergugat sama sekali. Kamu mesti sadar kalua cinta dan logika nggak bias di sandingkan untuk bisa sejalan. Kamu perlu menyiapkan alibi untuk mendebatnya.”
“Kenapa nggak bias?”
Oh … nampaknya Alara Senja sedang menantang seorang duda berusia 33 tahun yang pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga.
Tentunya asam manisnya kehidupan lebih terasa milik Bahtiar Gema timbang seorang Alara Senja yang mengeraskan hatinya.
“Hubungan kita apa, Ra?” Ditanya demikian, kedua mata Lara memutar malas. Alih-alih menjawab, justru dengkusan yang di perdengarkan. “Kita sudah ada hubungan dan surat perjanjian aku anggap hangus. Fokus kita saat ini bukan soal menjaga hubungan namun juga menghargai perihal terjalinnya hubungan ini.”
Diam. Lara tampak berpikir meski keruwetan terus menggenjot otaknya. Tapi apa yang Gema katakan tak sepenuhnya salah.
“Kamu butuh beberapa hal untuk di perjuangkan. Tidak hanya tentang pilihan. Kayak bayi yang belajar melangkah walaupun sang ibu ada di sisinya. Tapi kalau nggak ada niat dari si bayi buat jalan, apa bisa? Untuk belajar ngomong pun bayi punya effort, Ra. Bahkan buat megang tangan ibunya saja, si Ibu nggak bisa ngasih pengukuhkan karena itu perjuangan sang bayi sendiri.
“Atau Ibu-ibu yang mau lahiran. Dokter juga berusaha cuma sekadar membantu. Ayahnya juga memberi dukungan. Tetapi proses melahirkan serta rasa sakitnya adalah perjuangan sang ibu seorang diri. Dan kayak kamu yang sedang berjalan sendiri mencoba mencintai diri sendiri. Jangan lupain itu, Ra.”
Tangan Gema merangkum pipi Lara yang sang empunya memejamkan matanya. Dengan nyaman dan terasa pas untuk Gema pandangi. Ah, begini saja sudah sangat benar. Lara sangat tepat untuk Gema miliki seorang diri.
Akan Gema berikan waktu bagi Lara menikmati sisa-sisa waktunya. Sebelum hari yang telah Gema tentukan menyambangi. Baiknya memang harus memulihkan segala guncangan ini.
“Kalau aku mati besok …” Bukan topik yang Gema sukai. Begitu saja dadanya berdegup dengan kencangnya. “Cuma mau lakuin apa yang belum pernah aku lakuin.” Netra kecokelatan yang terkontaminasi dengan sinar mentari sore memancarkan sejuta kekalutan di dalamnya.
“Bukan hal yang istimewa sih, Bang. Tapi kayak patut banget saja buat dilakuin. Aku barusan mikir. Semoga bukan cuma setan doang yang mampir. Raqib dan Atit mau nyatet di notesnya.” Bengek sekali omongan Alara ini. Hal seserius ini saja bias dijadikan lelucon.
“Aku nggak keberatan ngejalanin hidup aku yang sekarang nikah dan jadi istri abang. Aku pikir itu bukan pilihan yang buruk.” Gema terkekeh. Mengecup pipi Lara sekejap dan bergumam ‘terima kasih’.
“Aku masih boleh kerja, 'kan?” Ini semacam meminta izinkah atau sekadar syarat pernikahan? “Kalau iya, aku jadi ngebayangin yang namanya nyusun masakan buat menu makan siang. Jadi, begitu selesai kerjaan kita, lunch bareng nggak boleh terlewatkan.”
“Setuju,” seru Gema semangat.
“Sorenya … pulang-pulang ngeluh ke Abang sebelum mandi dan siapin makan malam. Aku bakal curhat sampai kemeja Abang basah perihal sikap bos di kantor.”
“Abang dong.” Tunjuk Gema menggunakan jarinya sendiri. “Oh, jadi kamu mau main semacam kita ini suami istri nggak cuma suami istri doang gitu? Tapi abang pun harus bisa kayak teman dan sahabat?”
Lara mengangguk dengan mantap. “Ide aku bagus, kan?” Bagus endasmu! Begitu batin suci Gema yang misuh-misuh. “Setiap harinya bakal aku jadiin kalau itu hari terakhir aku di bumi.”
Merinding disko Gema di buatnya. Perumpamaan Lara terlalu sadis untuk napas yang masih terembus. Mana tahu Lara ada niatan untuk bunuh diri. Kemungkinan sekecil itu harus Gema pikirkan. Karena kehilangan orang yang kita sayang bukan suatu hal yang mudah.
“Kadang Abang bingung sama cara pikir kamu, Ra. Kamu … ada kalanya terlalu dewasa namun ekstrem dan terlalu kalem untuk sesuatu yang bahkan nggak bisa Abang tebak. Kayak barusan contohnya.”
Napas Gema terhela secara perlahan. Kedua tangannya memegang setir kemudi untuk membawanya ke luar dari pekarangan setelah kaca tengahnya menangkap sosok Arini di ambang pintu.
“Tuhan selalu adil kalau kamu lupa, Ra. Tuhan singkirkan seseorang yang nggak ada artinya buat kamu karena tahu dia cuma bakal nyakitin kamu. Paham nggak konsep pengkhianatan itu kayak gimana?”
Tidak ada jawaban dari Lara yang Gema simpulkan bahwa perempuannya belum mengetahui jalannya.
“Dia yang mendengarkan percakapan yang nggak kamu dengar dan melihat perbuatan yang nggak kamu lihat. Memang nyakitin buat kamu tapi lambat laun kamu bisa menekan perasaan itu sendiri.”
***
“Ingin bahagia dan meraih kebahagiaan ada tiga hal yang harus di capai.”
Bukan Bahtiar Gema dan Alara Senja. Melainkan Prabu kepada sang istri yang tampak tegang di pagar balkon apartemen keduanya.
Malam kelam menjadi tema untuk saling mencurahkan. Tanpa bertanya pun, Prabu tahu apa yang sedang di susun Mosa.
Sungguh … Prabu menyesal jika boleh di katakan begitu.
Menikahi perempuan yang dirinya pikir lebih baik dari seorang Alara Senja. Nyatanya Mosa tidak demikian baiknya.
Atau memang tiap-tiap manusia punya sisi baik dan buruknya masing-masing?
Yang baiknya hanya nampak di masa pra pacaran dan terungkap di status pernikahan.
“Bersabar ketika mendapat cobaan. Bersyukur ketika mendapat kenikmatan. Dan bertaubat ketika melakukan kesalahan.”
Tahu tidak jika sifat dan sikap Alara dengan Mosa sangat bertolak belakang?
Alara … jauh lebih kalem dan tenang dalam menghadapi apa pun. Bahkan masih membekas diingatan Prabu. Alara nyaris tak memiliki riak emosional di wajahnya. Rautnya selalu teduh dan sejuk. Enak untuk di pandang. Tatapan matanya juga sayu layaknya lembayung sore yang mengajak ke peraduan. Tutur katanya halus. Tidak menjatuhkan apa lagi menghakimi.
Lain halnya dengan Mosa yang selalu mengedepankan emosi. Perempuan itu akan meledak-ledak jika harga dirinya di senggol. Terlepas dari benar tidaknya, Mosa tak punya sesuatu yang bisa membawanya pada perubahan.
“Jadi menurut kamu, aku ini banyak dosa?”
Sulit menjelaskan perkataan semacam itu kepada Mosa. Emosinya selalu di kedepankan tanpa mau mencerna isi dan maksudnya.
“Aku cuma ngasih tahu kala itu termasuk beberapa hal dalam mencapai kebahagiaan.”
“Tahu apa kamu soal kayak gitu? Aku lebih dari bahagia.”
Bohong!
Karena jika benar bahagia … tidak mungkin ada rencana lain yang hendak di laksanakan.
“Kamu cukup ngasih aku duwit yang banyak. Kayak gitu definisi bahagia menurut aku.”
Materi menjadi nomor satu di sini.
Lalu … pantas jika selama ini hati Prabu terlalu kosong nyaris kering.