Diam bukan artinya tidak mendengar apa-apa. Diam bukan artinya tidak tahu apa-apa.
Mosa tahu dan membuat dendamnya berkali lipat lebih menyebalkan. Rasanya … mengesalkan ketika Alara Senja mendapatkan apa yang lebih dari dirinya.
Pikir Mosa, merebut Prabu dari tangan Lara adalah sebuah keputusan yang paling tepat. Nyatanya tidak demikian kala Lara membawa lelaki yang jauh lebih baik dari Prabu. Ingin sekali Arini hancurkan Alara Senja sekali lagi. Namun …
“Itu nggak kecepetan ya, Nak Gema?” tanya Jayanti gugup. Tangannya mulai meremas satu sama lain sebagai tanda kegelisahannya.
Nampaknya tidak semudah dulu memengaruhi Prabu. Lelaki bernama Bahtiar Gema ini amatlah berbeda. Mata Mosa menatapnya lembut. Menelisik penuh nilai. Mencari-cari di mana letak perbedaan yang tak bias di sandingkan dengan Prabu. Dan, ah dapat, yakni kharisma.
Benar. Lelaki ini penuh dengan karakter tak terduga yang tersimpan di dalam dirinya. Sebagai perempuan berpengalaman, Mosa tahu itu. Dan pantas jika Alara mau dengan khidmat diikat secepat ini.
“Enggak bu.” Gema sudah mantap dengan tanggal yang telah dirinya tentukan. “Ibu dan bapak serta keluarga nggak perlu mempersiapkan apa-apa. Semuanya sudah terkendali dengan baik.”
Keluarga Bahtiar Gema tidak terbilang sedikit. Semua personil dari keluarga mamanya dan keluarga papanya punya formasi andil dalam menyiapkan pernikahan keduanya. Dan seperti yang sudah menjadi dugaan, semua orang antusias menyambutnya.
Padahal mereka belum pernah sekali pun berjumpa dengan Alara Senja, namun antusiasismenya lebih tinggi dari pesta politik yang di gelar.
Sedang senyum Gema mengembang. Lain halnya dengan hati Mosa yang makin semrawut. Telinganya kepanasan maksimal dan otaknya butuh susunan rencana paling matang untuk bisa sekali lagi menghancurkan Alara Senja. Padahal kakaknya sendiri. Namun Mosa mencoba lupa untuk menerima fakta tersebut.
Entah apa yang merasuki hati dan pikirannya. Sehingga berpikiran demikian bisa membuatnya bahagia. Bukankah Alara Senja sudah mau memberikan apa yang dirinya miliki untuk Mosa? Bukankah Alara Senja dengan ikhlas berbagi apa yang menjadi miliknya kepada orang lain?
Itu tidaklah cukup. Sampai kapan pun takkan tercapai kata sepakat untuk puas bagi Mosa.
‘Serakah memang hanya di miliki oleh makhluk bernama manusia.’
Sangat tepat sekali untuk menggambarkan apa yang terjadi saat ini. Tatapan Mosa bahkan sangat tajam sehingga Lara membalas sama kejamnya. Ada kilatan dendam yang terpancar bahwa setiap orang punya cara tersendiri untuk menangani kehidupannya. Tak jauh berbeda dari Lara. Yang menurut Mosa sepele, nyatanya tak sesimpel itu bagi Lara.
Prabu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup Lara. Yang jika di ukur cara mendapatkannya, tak bisa dianggap ringan.
Alara selalu punya kata untuk menggambarkan suasana hatinya sewaktu dulu bersama Prabu.
Misalnya mengenai hari esok yang menurutnya ajaib jika bias datang.
Awalnya, Lara maknai itu dengan santai. Karena yang Namanya sebuah hubungan, tracknya tak bias bahagia terus. Ada kalanya sedih, lalu bahagia, kemudian sedih lagi. Dan yang namanya pasangan, selalu punya pasang surut menyoal pertengkaran.
Tapi tidak pernah Lara jadikan patokan bahwa kesedihannya akan berlarut-larut. Sedih hari ini, akan datang hari esok yang lebih baik. Bertengkar menit ini, akan berdamai di menit baru dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
Napas Lara mendadak kembang kempis. Dengan satu tangan meremas lengan Gema kuat-kuat dan respons lelaki itu yang mengembangkan senyumnya. Gema tahu, Lara tertekan.
Namun Gema juga bersyukur akan datangnya hari ini. Ini keajaiban, katakanlah itu alay, sadar atau tidak sadar, sampai hari esok tidak datang.
“Ini dadakan banget,” ucap Rini. “Mbak bikin kita semua jantungan.” Semua kepala yang ada di situ mengangguk. “Sebisa aku bakal bantu persiapan—”
“Enggak perlu.” Potong Gema cepat. Yang memberikan tatapan heran tidak hanya Arini, namun juga Jayanti. “Semuanya terkendali.”
Tidak ada yang benar-benar tulus. Gema tahu itu. Jayanti pun sama saja. Sedang Gema berusaha memiliki Lara untuk dirinya sendiri. Artinya, ada banyak risiko yang harus Gema ambil.
Mereka—Gema pandangi satu per satu—harus di buat sadar untuk sebuah kehilangan. Agar tahu bahwa mereka bodoh menyia-nyiakan sesuatu yang berharga seperti Alara Senja. Mereka tidak boleh memanipulasi kehidupan Alara untuk selanjutnya.
“Konfusius mengatakan bahwasannya hati seseorang lebih rumit daripada alam …” Prabu menjeda. Ya. Lelaki masa lalu Lara memang duduk di sana. Sejak tadi juga memandang Lara dengan tatapan penyesalan. “Dan melihat hati seseorang lebih sulit daripada menembus langit. Aku salah dalam memilih wanita yang bergelar bangsawan baik di dalam maupun di luar.
“Itu hanya sebuah perkataan. Jangan terlalu di pikirkan. Memang sebaiknya tidak gegabah dalam mengambil keputusan.”
Sayangnya yang mendengar penuturan Prabu—terutama Lara—merasa jika lelaki itu sedang menampar dirinya sendiri yang sedang di rundung galau maksimal.
“Terima kasih nasihatnya,” jawaban Gema pun bias terbilang bijak alih-alih meluapkan kata-kata pedasnya. “Wajar jika dalam hidup kita membuat kesalahan. Terkadang harus kita lalui dengan kesalahan. Seperti mengizinkan orang lain mengendalikan kehidupan kita. Yang kelihatannya ‘oh ini hidupku’ faktanya tidak demikian. Bahkan mimpi kita saja bukan menjadi milik kita. Atau kita gagal dalam segala hal.
“Saya pernah ada di posisi yang demikian. Dulu saat bersama dengan mantan istri saya. Itulah pada akhirnya saya memutuskan bercerai. Hari ketika semua mimpinya menjadi kenyataan, itulah akhir di mana saya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidup saya.”
Diam. Tak ada yang menyahut. Untuk Alara, hatinya menghangat. Karena bahagia dan senang menyatu. Memiliki dan di miliki Bahtiar Gema sampai ke jenjang yang seperti ini, menurutnya itu suatu kondisi yang harus dirinya syukuri.
Entah sampai mana kesiapan Gema dalam proses mencintainya, asal bersama dan niat untuk terus bersama menjadi pilihan, semuanya bias di usahakan. Jika awalnya Lara harus meragu lebih dulu, sekarang telah tersingkir secara perlahan.
“Bahagia yang baik …” Gema masih bersuara dengan lesung pipi yang terlukis tampan di wajahnya. “Saya tempatkan Lara di urutan pertama.” Semoga bukan bualan semata. “Saya merasa beruntung di pertemukan dengan Lara dan Lara mengubah diri saya untuk menjadi seseorang yang lebih berharga.”
Gema menoleh dengan mata mengerjap sekali. Tahu apa yang sedang di pikirkan Lara dalam otaknya. Seorang overthinking memiliki tingkat kesulitan dalam percaya terhadap omongan seseorang.
“Namun Lara menghempaskan segala kerumitan akan sebuah kekhawatiran karena saya dicintai dengan baik tanpa berpikir bahwa sedang berjuang sendirian. Jadi ibu dan bapak harus tahu, saya … bersama Lara, kebahagiaan-kebahagiaan itu lahir dengan begitu mudah dan sederhana. Bahagia tanpa cantuman syarat-apa-apa selain hanya tersenyum dan tertawa saat Lara mengajak saya menertawakan hal-hal yang sederhana pula.”
Terdengar helaan napas penuh kelegaan dari semua kepala yang berkumpul di sana. Hanya Prabu dan Mosa yang memancarkan makna berbeda lewat kelereng matanya.
Jika Mosa merasa di rendahkan dan kalah telak oleh Lara. Maka Prabu diam-diam bersyukur untuk kebahagiaan yang ditemukan oleh Lara. Pasalnya, sesal meninggalkan Lara terus bergumul di dadanya. Gejolak sakit tiada henti menggerogoti relung jiwanya.
Dan mengenai kalimat yang Prabu katakan, itu memang benar adanya. Prabu menyesal percaya pada ucapan Mosa yang tidak menghasilkan arti apa-apa bagi kehidupannya saat ini.
Ah benar sekali. Dalam hidup ini, kita akan menemukan seseorang yang singgah lalu pergi. Anggaplah Alara Senja juga begitu.
Alara Senja hanya menjadi alasan untuk Prabu jatuh cinta.
Alara Senja hanya menjadi alasan untuk Prabu bahagia.
Alara Senja hanya menjadi alasan untuk Prabu ceria.
Walau selebihnya kedatangan Lara hanya membawa alasan untuk Prabu mengenang dan terluka. Itu satu waktu yang Prabu tandai sebagai kesedihannya yang paling mendalam.
Mari beri selamat untuk hatinya yang mulai tenang dan bertepuk tangan untuk sebuah keikhlasan yang baru saja Prabu lepaskan.
Dari kehadiran Lara, Prabu bisa menjadi pribadi yang lebih baik meski bodoh mengambil keputusan dalam menjatuhkan pilihan. Prabu yang hebat. Prabu yang mau memaafkan kesalahan Mosa di masa lalu—secara perlahan—karena semua membutuhkan proses yang tidak sedikit.
Diam-diam, Alara Senja menjadi bagian melegakan untuk kehidupannya di esok yang akan datang.