23

1352 Kata
“Rencananya mau langsung hamil apa mau pacaran dulu?” Alara Senja cengengesan. Di tanya begitu oleh sang calon Ibu mertua rasanya, ugh, sesuatu sekali ceunah. Masalahnya ini masih di lingkungan kantor. Dan kabar hubungan Lara bersama Gema sejauh ini tidak terendus oleh publik. “Terserah Abangnya nanti tan—” “Mama. Kan sudah dibilang dari kemarin. Manggilnya Mama. Kamu jangan mau di paksa-paksa Gema semisal ada nunda, ya. Mama tuh pengen nimang cucu dari dia.” “Oke Ma.” Sejak tahu Gema bertindak gesit melamar Alara Senja, sejak hari itu juga Marini getol menyambangi kantor. Alasannya berbagai macam. Mulai dari membawakan makan siang yang aslinya berkedok untuk mengobrol dengan Lara. Seperti saat ini. “Gema tuh suka bikin keputusan yang kadang-kadang di satu pihak nggak bisa nerimanya.” Marini mulai bercerita. “Sudah umur mah tua tapi kelakuan kayak bocah.” “Jatuhin saja terus Ma,” sahut Gema. “Mama pikir kamu ke luar kantor loh.” Eksistensinya sudah jelas terlihat sejak Marini menapaki lantai marmer kantornya. Tapi memang Gema dianggap musuh bebuyutan, makanya yang menjadi fokus Marini langsung ke Alara. “Dari tadi aku di sini.” Gema tidak terima dianggap patung semata. “Oh, ya? Kok kamu nggak negur mama? Kamu lagi belajar jadi anak durhaka apa gimana ini?” Pasalnya berlapis. Kalau harus di tuliskan pasti seharian nggak sampai. Mau di debatkan juga percuma. Bahtiar Gema tetap dianggap salah. “Mama cuek saja. Ya—” “Kamu mana bisa kayak gitu. Mama cuek bukan berarti lupa punya anak sejenis kamu!” Sejenis, ya? Lara mau bengek di tempatnya. Kata ‘sejenis’ ini kayak menjorok pada apa gitu yang dalam otaknya melayang-layang hal lucu. “Ketawa kamu, Ra?” Lara pun kena imbasnya. “Saya potong gaji kamu.” Ancamannya basi, Bund! Mau sekeras apa pun Gema mengatakan demikian, nyatanya tiba di tanggal gajian, rekening Lara selalu menampilkan notifikasi dengan nominal yang melebihi seharusnya. Maka Lara mencibir dengan lidah memelet penuh ejekan. “Yang ada kamu mama coret dari daftar Kartu Keluarga.” “Kayak Mama bisa saja.” Omo! Marini kesal sekarang. Putra bungsunya sungguh cetar membuat jantungnya meletup-letup. “Pergi sana.” “Kok Mama ngusir?” Gema tidak terima. “Ini masalah perempuan. Kamu kalau mau gabung mesti pakai rok dulu.” “Harus?” “Iya. Sana keluar.” Tunggu. Kenapa Gema harus patuh? Tubuhnya yang sudah berdiri mendadak terduduk kembali. Dagunya di usap dengan jari lewat manik matanya yang tajam, Gema menelisik. “Ini masih kantor aku Mama.” “Mau balik nama jadi punya mama?” Ancam Marini. “Keluar gih. Kamu ngerepotin banget.” Oke. Sudah biasa. Marini terlalu bahagia memperlakukan Gema demikian sehingga tidak menimbulkan sesak sakit di rongga dadanya. “Kejam! Orang tua macam apa yang ngusir anaknya sendiri dari kantor.” “Tuh lihat Lara, lihat. Dia suka banget menggerutu. Cowok tapi cerewet nggak ketulungan. Kan nyebelin banget.” Bahtiar Gema tahu bahwa Marini sedang mengintimidasinya. Selalu seperti itu sikapnya jika sudah menyukai seseorang. Tidak hanya bersama Alara Senja. Gema yakin, mamanya sudah bertindak sejauh mungkin untuk para keponakannya berprotes ria kala dirinya pulang nanti. “Jangan bikin bayi kamu mirip dia.” Pembahasan tentang bayi memancarkan semu-semu merah jambu di kedua pipi Lara. Itu konten v****r tapi ada nada seksi yang secara bersamaan tak bisa di tolak. Astaga, Lara kepanasan. Berhubungan badan bersama Gema beberapa kali saja tak serta merta menghasilkan. Karena Lara mencegahnya dengan sangat tepat. “Tapi kalau Gema sudah bucin sama kamu bakal sulit ya, Ra.” Marini berucap seraya melirikkan matanya ke arah Gema yang sedang bersiap-siap. “Heran mama sama dia tuh.” “Kenapa Ma?” tanya Lara penasaran. “Dia gampang banget jatuh ke pelukan kamu.” Lara ingin mengumpat. Tapi kok nggak sopan. “Anak-anak temen mama nggak ada yang bisa bikin nyantol ke dia. Tapi kamu hebat asli.” Ini karena Lara sudah bertindak melampaui batas. Pagar yang tak semestinya di panjat, Lara terobos dengan penuh ketidaksopanan. “Mama kepo banget sumpah.” “Kenapa nggak mama tanya?” Saran Lara yang sedikit banyaknya juga merasakan keantusiasisme sang calon Ibu mertua. “Nanti deh. Oh, ya. Kata Ama, makan siang nanti kamu bisa ketemu dia. Ada pembahasan soal gaun pengantin.” “Ma, tanggalnya belum aku tentuin loh.” Gema yang menjawab. “Aku harus ketemu orang tua Lara buat mastiin dan Lara yang harus aku ajak diskusi.” “Mama cuma nyampein pesan. Bye!” Tobat Gusti! *** Pulang ke rumah bukan gagasan yang paling Lara sukai. Di samping sudah tidak adanya kenyamanan di dalamnya. Lara merasa sudah mati rasa dengan apa yang menjadi kata ‘rumah’. Di hadapannya, hanya ada ejekan yang melayang-layang di matanya. Lara benci dan Gema tahu namun membawanya kembali. Katanya, ada izin yang masih harus di urus. “Abang sudah tahu padahal.” “Kamu nggak pernah cerita.” “Lewat duwit Abang juga sudah nyari cerita lengkapnya.” “Ra …” Jeda Gema sembari meregup kedua bahu Lara. Senyumnya terlukis tipis. “Damai ya.” Alis Lara menukik tak suka. “Ini sudah lama, 'kan? Kamu harus rela buat nggak jadi pilihan. Memang kamu suka jadi opsi kedua?” “Karena itu! Justru itu aku benci banget. Aku paling emosional di bagian itu. Abang ngerti nggak sih?” “Abang tahu. Abang paham. Ini nggak semudah yang kayak abang bayangin. Tapi mau sampai kapan coba? Makin kamu menghindar, makin senang mereka. Melihat kamu yang kalah dengan pergi dari rumah saja mereka sudah puas, Ra.” Memang tidak sepenuhnya salah. Namun apakah Gema tahu sesakit apa yang Lara pendam untuk menanggulangi semuanya? Adiknya—mata Lara terpejam. Nama itu terasa asing untuk meresap di dalam otaknya. Dan pori-pori kulitnya di sekujur tubuh meremang. Arini mengambil apa pun yang Lara miliki. Meminta apa pun yang sudah menjadi bagian Lara. Yang awalnya Lara pikir bukan masalah. Lama-kelamaan menimbulkan masalah. Sendiri itu tidak enak. Dan Lara sudah pernah ada di kondisi yang demikian. Tidak ada yang peduli atau sekadar mau menggenggam jemarinya. Tidak ada yang mau menemaninya atau bahkan mendengarkan segala keluh kesahnya. Di mata keluarganya—sudah Lara katakan—dirinya dianggap mampu dan cukup bisa menghadapi semuanya dengan dewasa. Tapi Lara tetaplah manusia biasa yang rapuh. Lara tetap membutuhkan uluran tangan dan sandaran. “Kamu punya abang, Ra.” Masih saja jadi perdebatan. Gema bingung dengan cara pikir Lara yang kaku dan kolot. Menyalahkan juga bukan pilihan yang tepat. Perempuan ini di penuhi luka dan kesakitan. Jadi wajar. “Kamu harus bersandar ke abang.” Posesif dan apa pun nama sebutannya. Gema tipe lelaki yang ‘kalau sudah ada aku nggak usah ada dia. Kalau sudah ada dia, nggak usah ada aku’. Egois? Gema perlu melindungi apa yang sudah menjadi miliknya. Sudah Gema tandai dan Gema masukkan dalam relung hatinya. Jangan di kira Gema bertindak sejauh ini tanpa persiapan. Pengalaman pahit yang menghantam hidupnya maksudnya perceraian kian membuatnya berpikir matang kala membuat keputusan. Maka dari itu, bukan perkara aneh kala Gema menyimpan tujuan dengan menjauhkan Lara dari keluarganya. “Abang cuma mikirin diri sendiri.” Lara mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak berdasar. Namun Gema tahu betul artinya. Perempuan ini hanya sedang kalut dan takut kehilangan dirinya. “Ra … lihat Abang.” Gema memaksa. “Kamu masih mikir abang bakal kepincut sama orang lain atau Adik kamu gitu?” “Tahu dari mana?” “Abang tahu semuanya tentang kamu. Sadar nggak, Ra? Kamu baru ngelukain harga diri Abang. Asli, hati Abang tercabik-cabik.” Kok jadi gemoy gini bahasannya? “Orang kadang nggak berubah cepat bang.” “Berarti hati Abang jangan sampai berubah. Nggak akan, Ra.” “Apa jaminannya?” “Kamu susah banget nerima lamaran Abang. Jadi gimana mau ngasih jaminan.” “Kayak jual beli tanah dan utang-piutang sih Bang pakai jaminan segala.” Lagi ngelawak mereka. Memang pasangan semprul. Semenegangkan ini di bikin candaan. “Mosa bukan apa-apa buat Abang, Ra. Bukan sesuatu yang penting di mana Abang harus ninggalin kamu. Abang jamin itu.” Ada kalanya Gema berkata menyakitkan. Untuk kebaikannya dalam menjaga Lara tanpa sadar ada telinga dan hati yang tersakiti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN