22

1270 Kata
Weekend kali ini berbeda. Banyak nasihat yang khususnya untuk Alara Senja kantongi. Ceritanya nanti saja, ya. Tanggung. Jangan mikir yang iya iya woi. Ini nggak kayak yang di pikirkan para penghuni j*****m Jadi, Bahtiar Gema tetap berkutat dengan segudang pekerjaannya. Yang belum usai dan Lara menjadi terkena imbasnya. Cemburu sekali rasanya sampai ingin mencabik-cabik wajah Gema yang anteng maksimal di sofanya. Tapi Lara memilih acuh. Jadinya gegoleran secara estetik dengan paha Gema sebagai bantalan. Protesan? Jangan tanya. Gema itu bucin makanya pasrah saja melihat kelakuan Lara yang males-malesan seperti sekarang ini. Malahan Gema menunjukkan kasih sayangnya sebagai cowok ke ceweknya dengan bersikap lembut. Tangan kanannya menggulir tablet guna memeriksa setiap data. Sedang tangan kirinya mengusapi kepala Lara. “Kok berhenti!?” Begitu kiranya jika tangan Gema tak lagi terasa di kepala Lara. “Abang egois banget leboh cinta ke dokumen ketimbang aku.” Lara akan misuh-misuh yang memang dasar hatinya sungguh lemah. Sekali kecupan diiringi ucapan Gema, “sini, Sayang, sini. Abang minta maaf.” Maka bubar jalan sudah seluruh amarahnya. Edan sekali, kan? Oke, baik kepada topik di mana Lara serius dengan drama beken yang lagi booming berjudul PENTHOUSE. Asli drama itu damagenya nggak kira-kira banget. Karena baru sampai di episode delapan, maka belum bisa Lara simpulkan semua isinya. Namun sedikitnya Lara paham jika isi dari drama itu adalah pertempuran dalam hidup. Rumit. Itu yang pertama ingin Lara katakan di sini. Mulai dari kehidupan rumah tangga yang di kulik. Bahwa apa yang terlihat sempurna, nyatanya tak sepenuhnya demikian. Lalu ada dendam masa lalu yang belum tuntas sampai ke akar. Membawa pada kisah baru di kehidupan yang sepantasnya jangan di angkat ke permukaan. Selalu seperti biasa. Drama ini tidak melulu fokus akan kehidupan rumah tangga. Sebagai bumbu, kehidupan anak-anak dari para tokoh utama pun tampil. Mencari jati diri di usia yang puber lewat penekanan-penekanan yang orangtuanya lakukan. Maklum, orangtuanya berkuasa. Orangtua dari orangtua adalah seseorang yang berpengaruh. Wajar jika cucu-cucunya harus menjadi penerus yang lebih kondang dari orangtuanya. Anak-anak itu bagi Alara hanyalah beruntung karena mendapatkan privileges dari orangtuanya. Sehingga mudah bagi mereka untuk menindas siapa pun yang menurutnya mengganggu. Anak-anak semacam itu, tak lebih hanyalah mereka yang membutuhkan kucuran kasih sayang dari orangtuanya alih-alih mendapat fasilitas hidup yang lengkap. Drama ini pun menggambarkan kehidupan yang berbeda antara si kaya dan si miskin. Mereka orang-orang kaya yang memang sudah mewarisi kekayaan tersebut bahkan sebelum lahir. Menggunakan koneksinya untuk merenggut kehidupan orang lain. Dan kasus bullying yang tak pernah ada ujungnya pun marak masih terjadi. Tidak hanya di dalam negeri saja. Faktanya, di luar negeri jauh lebih mengerikan. Agaknya Alara Senja bergidik ngeri akan hal itu. Wah, pokoknya drama ini akan Lara beri rating tertinggi alih-alih menikmati ketegangan yang di sajikan. Sisanya akan Lara tuangkan nanti. Sekarang lanjut nonton dulu. Tapi elusan tangan Gema di tangannya seperti sihir. Sehingga semakin lama semakin membuat kedua matanya memberat. Aduh … “Lah bobok?” Gema menggumam. Menyetop tombol agar drama yang Lara tonton berhenti. “Kok bisa tempel molor gini. Belum ada lima menit protes, lima detiknya langsung nyenyak.” Istilahnya, ngantuknya kayak bayi, capeknya persis lansia. Alara Senja si penyandang kasus tersebut. “Love you.” Bisik Gema lembut. Mengecup bawah mata Lara pelan dan kembali fokus dengan dokumennya setelah membenarkan letak tidur Lara. Tiba di guliran terakhir file di tabletnya. Jari Gema kaku dadakan. Nama mantan istri dan abang iparnya tertera dengan jelas di sana. Pasangan itu akan segera bercerai. Untuk kedua kalinya pula. Dan Gema sudah memberi masukan untuk mantan istrinya mempertimbangkan. Terlebih ada anak di antara mereka. Itu juga kenapa dulu Gema mengambil perpisahan. Meski sakit dan di pandang buruk. Tapi sebuah pengkhianatan tak bisa di biarkan begitu saja. Kehilangan mungkin bukan suatu jalan yang baik. Selain menyisakan luka, sisanya hanyalah sesal yang tak berujung. Namun Gema menepis itu semua. Sempat ingin goyah. Dan Alara Senja menyeretnya untuk tetap bertahan dalam kewarasan. “Kamu itu sesuatu sekali, Ra.” Gema hanya ingin Lara tahu bahwa kehadirannya yang tak terduga membawa dampak baik bagi kehidupannya. Gema bisa lebih menghargai arti dari kehadiran dirinya serta betapa bermaknanya ia untuk keluarga maupun orang lain. “Kamu bisa mengalihkan kegelisahanku yang nggak ada ujungnya. ‘Aku selesai’. Itu yang Gema gaungkan dalam hatinya. Sudah Gema terapkan agar tidak goyah lagi. Bukan artinya Gema lupa pada mantan istri atau pun perjalanan masa lalunya. Semua itu tercipta untuk membawa dirinya berada di sini, di puncak ini. Tidak ada yang hilang dari diri Gema. Jika di izinkan untuk jujur—saat ini—masih ada sisa cinta untuk mantan istrinya. Gema hanya sedang berusaha sadar untuk setelahnya menepi. Membuang semua rasa yang ada dan selesai sampai di sini. Gema juga tidak menyerah. Terutama untuk kehidupannya yang lebih baik dari hari ke hari. Yang Gema lakukan memang sudah sepatutnya dilakukan. Tidak mungkin kakinya terus berjalan di saat apa yang bukan menjadi takdirnya pun telah di hentikan. Nilainya impas. Untuk Lara, Gema takkan membiarkan perempuan ini pergi. Bagaimana pun dan seperti apa pun masalahnya nanti, Lara harus Gema genggam. “Aku coba paham soal ketakutanmu, Ra.” Tahu. Gema sangat tahu. Ada ketakutan di mata Lara saat bertemu mantan istrinya. Sekali lagi; wajar. Siapa pun orangnya akan khawatir saat kisah masa lalunya di ketuk kembali. Dan Lara paling tahu bahwa berakhirnya dirinya dengan sang mantan istri bukan keinginan Gema. Fakta itu pastilah memberi hantaman untuk Lara. Semuanya terasa jelas dan nyata sekarang. Lantas ini sudah jalan paling benar di mana ada Alara Senja yang mencintai dirinya dengan tulus meski sering kali meredup dari pancaran matanya yang bening. Ada Alara Senja yang meluaskan hatinya layaknya samudera untuk menunggunya dengan setia dan berhasil secara perlahan untuk merebut hati Gema. “Abang kok nggak bangunin aku?” Protes Lara. Melek-melek kesal sendiri. “Kamu kayaknya ngantuk banget, Ra. Abang juga sudah selesai ini.” “Gimana?” “Apanya?” Alara terlalu ambigu. Membuat Gema kebingungan. Berdecak sebelum menjawab, Lara cubiti lengan Gema dengan gemas. “Sidangnya Abang.” “Oh.” Begitu saja yang Gema letakkan tabletnya. “Jadwal yang kamu bikin sudah pas. Kecuali nanti semisal abang ada temu klien dadakan, Firman bisa handle. Kamu mulai sekarang mesti ngikutin abang, Ra.” Posesif sekali bapak duda ini, Bund. Urusan kerjaan saja Lara di suruh ikut. “Aslinya nggak enak ikutin abang tuh.” Lara mengeluh dan jujur sepenuhnya. Sebelum melanjutkan ke jawaban berikutnya, Lara lirik gema yang memancarkan mata penuh keingintahuan. “Abang suka nyebelin. Nawarin ma uke mekdi nggak tiba di depan kafenya lewat doang.” “Kan kamu bilangnya enggak mau.” “Abang tahu nggak sih rasanya di tinggal pas sayang-sayange.” Asli Lara playing victim. “Tuh yang aku rasain. Sudah ngarep banget mau jilatin es krimnya mekdi, tahunya nggak berhenti.” Bumi gonjang ganjing. Gitu lah cara Gema mengibaratkan perempuan. Di turuti salah, nggak di turuti makin salah. Di tanya apa jawabnya terserah. Giliran nggak di kabulkan misuh-misuh. Memang unik sekali ya perempuan ini. “Sekarang masih pengen?” Gema bertanya dengan napas yang di embuskan perlahan. Gerumulan dongkol menguasai dadanya namun Alara Senja bisa menghalau itu semua. “Nggak!” “Oke. Abang pesan lewat online buat kamu.” Jari Gema bergerak lincah menekan aplikasi hijau. “Mau yang mana? Sama ada yang lain nggak? Abang pengen chicken wings, deh.” “Abang punya kuping nggak, sih?” “Kan kata kamu enggak artinya iya.” “Nggak gitu juga.” “Jadi abang pesenin. Nggak lama datang.” “Abang kok bodat banget sih? Aigoo! u*****n Alara Senja kian nggak berakhlak. “Kamu kalau gabut gitu lah sukanya.” Dahlah. Lara mau nangis sampai meninggal. Gema nggak ngotak kali kalau bikin tindakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN