21

1314 Kata
Ah, pagi-pagi sekali di hari minggu, Lara kedatangan tamu. Yang tak lain adalah kakak dari si calon suami. Datang dengan senyum menawan yang mana cantiknya paripurna di umur yang mendekati kepala empat. Aih, Lara cemburu sekali alih-alih untuk insecure. “Kalau Mbak nggak ke sini, nggak bakalan ada niatan si duda itu bawa kamu balik ke rumah.” Lara tersenyum. Menerima sekantong oleh-oleh yang di bawa wanita—seingat Lara bernama Ama. “Mbak nggak bawa banyak. Cuma bisa masakin itu doang. Tadi sebelum ke sini, anak-anak minta di antar renang ke rumah om-nya. Jadi mbak buru-buru banget.” Oke, first impression yang ingin Alara Senja sematkan adalah: baik dan ramah. Bahkan mbak Ama tipikal yang suka membangun obrolan kalau Lara boleh mengatakan demikian. Itu terlihat dari caranya yang nggak bosan mencari topik padahal Lara menanggapi dengan senyuman doang. “Mbak mau minum apa?” tawar Lara. Bukan untuk basa basi. Tapi memang demikian aturannya. “Kebetulan aku baru selesai masak. Mbak mau gabung sarapan juga.” “Kebetulan kalau gitu. Mbak ada bawa udang di dalam sini. Tapi belum di masak. Kamu barangkali mau ngolahnya.” “Kalau gitu, aku bikini udang tepung saus manis mau mbak? Yang paling kilat itu.” “Sok atuh. Hayuk mbak bantu.” “Eh, ngapain Mbak? Mbak duduk saja. Aku buatin jus buah, ya.” “Kamu nganggap mbak tamu?” Alis mbak Ama menukik tajam tanda ketidaksukaannya. Oit! Orangnya langsung menunjukkannya tanpa peduli si lawan bicaranya terintimidasi atau tidak. Dan Lara merasa salah. Sehingga sikapnya canggung. Ludahnya kelat untuk di telan. “Jangan dilarang, Ra. Dia mah sukanya seenak jidat.” Bapak Negaranya datang-datang langsung jadi kompor. Meleduk sebentar lagi estetik kayaknya. “Berengsek!” Umpatan mbak Ama nggak pakai saringan. Mulutnya lebh lucknut dari Gema. “Mbak loh nggak sopan. Tuh lihat muka si Lara jadi serba salah.” Dahlah ngacir saja. Tungkai Lara langsung ke dapur meninggalkan Kakak beradik yang sedang berdebat secara live. “Kamu pikir ini bagus!? Ada berita mau nikah tapi calon nggak kamu bawa ke rumah.” Mbak Ama meledak-ledak. “Untung mama ngomong. Kalau enggak bisa habis kamu mbak babat.” “Yeu mbak saja yang nggak sabaran. Aku sama Lara ada rencana mau pulang. Tapi tunggu dulu sampai semua masalah kerjaan selesai. Lara juga masih bolak-balik ke kampus ngurusin sidang skripsinya. Lucu kalau mesti di tinggalin gitu saja.” “Halah alasan kamu mah. Ngomong saja mau main-main doang. Ya, kan!? Awas kamu berani main-main. Kugorok habis itu urat!” Penjelasan Bahtiar Gema tidak memiliki arti apa-apa. Di mata kakaknya, Gema mungkin hanyalah seorang adik kecil yang inginnya selalu di lindungi. Namun tidak demikian aslinya. Ama punya rasa sakit yang lebih mendalam perihal rumah tangga. Makanya tindakannya yang bar-bar jelas memiliki dasar yang kuat. “Enggak mbak, enggak. Aku nggak main-main. Lara itu beda nggak sama kayak yang dulu.” “Oh, ya.” Langkah Ama yang hendak menyusul Lara ke dapur pun terhenti. “Mbak dengar dia datang ke kantor kamu? Ngapain? Ma, mbak sudah sering bilang. Jangan punya urusan sama dia lagi. Ini nggak baik buat keluarga kita terlebih buat hatinya Lara.” Sejenak Gema terdiam. Mulutnya rapat total dengan segala isi yang menggerumuti otaknya bak semut. Ucapan demi ucapan yang di sampaikan mantan istrinya—jika boleh Gema jujur—hendak goyah. Tapi jejak Lara dalam hatinya lebih mendominasi. Dan tersadar bahwa pemiliknya hanyalah Alara Senja seutuhnya. “Mbak tahu.” Ama paling memahami sosok Bahtiar Gema. Dari A sampai Z. Dari lelaki itu bangun tidur sampai hendak terpejam kembali. Menelisik lebih dalam, Ama tamparkan kata-kata yang demikian, “pada akhirnya kita harus berdamai. Mbak tahu kamu sedang mencoba mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan cukup menjadi masa lalu. Pada banyak hal, kamu sedikit keluar dari jalur rencana yang sudah tersusun. Pilihan kamu mungkin nggak sesuai harapan tapi nggak apa-apa. Kenyataan-kenyataan yang tiba-tiba berubah kemudian. Kita harus menerima kalau semua yang hadir nyatanya tidak selalu yang kita pinta.” Kepala Gema terangguk pelan. Tidak sampai hati menyampaikan apa yang sudah di konsultasikan mantan istrinya. Ada perceraian yang hendak di lalui wanita masa lalunya itu. Dan Gema di harapkan mau menjadi pengacaranya. Masalahnya … tidak semudah kelihatannya. Di sini, ada dua orang yang harus Gema pikirkan kewarasannya. Mbak Ama mungkin akan baik-baik saja atau malah bertepuk tangan dengan keras. Melihat hancurnya mantan istri Gema yang dulu berselingkuh dengan mantan suami mbak Ama. Dan keduanya sama-sama memutuskan untuk berhenti. Entah karena apa. “Mbak …” Lagi. Langkah Ama terhenti begitu hampir sampai di pintu dapur. “Bilang ke Lara buat bikinin aku kopi.” “Dasar!” Tidak. Belum waktunya. Akan Gema carikan suasana dan obrolan yang tepat untuk menyampaikan ini. “Lara itu beda. Mbak nggak perlu kuatir soal itu.” Di dapur, mendengar itu hati Lara menghangat. “Dia mungkin sedikit posesif dan cemburuan. Tapi aku suka.” “Kamu bakal nyesal kalau Lara nggak bersikap kayak gitu. Cewek zaman sekarang nggak mau fokus ke satu cowok doang. Mereka punya ban serep. Jadi pas kamu bosan, mereka punya pilihan. Sekelilingnya bisa menjadi cowok yang di harapkan sesuai kriteria.” Kata mbak Ama. “Kejam.” Gema bergidik ngeri dan hengkang dari sana. Pergi ke teras samping. Memberi makan ikan-ikan peliharaannya sebelum menoleh dengan senyum menawan. “Pagi, Sayang.” Ampun Bang Jago. Lara mau muntah di tempat. Bisa-bisanya Gema bersikap begitu. Romantis kagak, alay iya. “Kamu ini, Ra …” misuhnya dengan dengusan. “Aku datang mau ngasih kopi buat Abang. Jadi nggak usah ningkah.” “Ra, bisa nggak?” Gema seduh kopinya. Setelah mencecap rasanya yang menyatu dengan indera perasanya. “Jangan nolak yang Abang ucapin. Kamu ngelukain harga diri Abang.” “Berapa harganya Bang?” “Apa?” Dahi Gema berkerut-kerut. “Harga diri Abang berapa?” Astagfirullah Ukhti. Muncungnya nggak punya akhlak. “Ra …” Lara tidak jadi pergi. Tangan Gema memegangnya dengan dagu menyuruhnya untuk kembali duduk. “Abang punya sesuatu.” Dan belum genap tiga kali mata Lara mengerjap, sebuah barang dingin menempel di telapak tangannya. Yang Lara pandangi itu dengan saksama. Bingung dan tidak tahu ap aarti dari pemberian Gema saat ini. “Abang … semakin Abang coba, semakin sulit buat abang tepis. Ketimbang sakit hatinya datang di belakang dan ujungnya di borong, baik Abang bilang sekarang.” Jeda. Gema tatapi kelamnya manik Alara Senja. Jempolnya bergerak mengusap pipi Lara yang berisi namun tetap menggemaskan. Mario Bros, begitu Gema memanggilnya. “Abang punya janji buat nggak kecewain kamu. Nggak cuma abang bilang ke kamu, tapi juga di depan mama papa kamu, di depan mama abang dan mbak Ama. Jadi abang nggak punya alasan buat bikin kamu sakit hati. Ini punya abang.” Adalah sebuah gelang rantai yang di dalamnya tertera nama Bahtiar Gema. Pasti berharga banget, begitu batin Lara. “Kalau kamu tanya kenapa kok gelang, Abang juga nggak tahu. Tapi yang jelas, sama kayak kamu: sekalinya kamu masuk, nggak Abang kasih izin buat ke luar. Maaf, Ra. Kamu sudah nyatu sama darah yang ngalir di tubuh Abang.” Agak berlebihan. Lara ingin bengek rasanya. Gema bawa telapak tangan Lara untuk merasai detakan jantungnya yang menggila. “Cuma kamu, Ra. Sampai kapan pun cuma kamu. Kamu pakai, ya?” Gerakan Gema terbilang pelan. Tapi cukup meresahkan untuk jiwa Lara yang gusar maksimal. Sekarang, besi dingin itu melingkar di tangan kanan Lara dan terlihat pas serta eksotis. “Sudah abang duga kalau ini bakal pas banget sama kamu. Makasih sudah bertahan sejauh ini sama abang, Ra. Makasih sudah datang di hidup abang. Kalau bukan kamu, nggak tahu mesti kayak apa abang jadinya.” “Abang tahu?” tanya Lara yang sejak tadi hanya terdiam. Bingung dengan suasana yang tercipta. Apa mungkin Gema mengetahui seberapa besar kegusaran hatinya akna kehadiran mantan istrinya di kantor? Atau … “Apa? Abang lapar. Kamu masakin yang abang minta semalam, 'kan?” Dasar babi! Tahunya makan sama kawin doang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN