Beberapa orang memiliki prinsipnya masing-masing. Soal cinta, jika ternyata orang yang saat ini berdiri di sampingnya ternyata bukanlah pilihan yang Tuhan cantumkan, takkan ada sesal yang di rasai. Namun bersamaan dengan itu, belum tentu orang lain punya cara pikir yang sama. Jika gagal, mereka akan menyebutnya dengan trauma dan butuh waktu cukup lama untuk sembuh. Ada juga yang bahagia telah menyediakan cinta sebaik dan setulus ini.
Intinya, semuanya tergantung dari mana ingin kita melihat sisinya. Ada yang ketika sudah mencintai tidak mengharapkan balasan apa pun. Ada yang banyak menuntut. Ada yang ingin memiliki seutuhnya. Dan semua kembali pada diri manusianya. Ingin seperti apa caranya dalam mencintai.
Marini—Mama Gema—sangat girang saat berkunjung ke kantor putra bungsunya. Tidak tahu hal apa yang membuat wanita cantik di usia senja itu ke mari. Namun dampak kegirangannya adalah melihat Alara Senja yang masih bertahan di bawah naungan Bahtiar Gema padahal sudah tahu sekaku apa putranya itu.
“Enggak juga Tante.” Lara terus menyanggah asumsi Marini yang mengolok. Sedang wajah Gema di tempatnya sudah masam maksimal. “Cuma kadang-kadang doang.”
Begitu lah perempuan jika sudah bergosip. Mengurangi bahan obrolannya, jangan harap. Kalau di lebihkan, baru betul.
“Tante capek nyuruh dia nikah. Rasanya seperti ingin berubah menjadi Ironman. Coba kamu yang bujuk dia.”
Istilahnya begini: ke luar kandang macan, masuk kandang ular.
Pleaselah. Sekali-kali Tuhan baik dan berpihak ke Alara kenapa?
Semalam obrolan dengan Gema saja belum usai dan sekarang di mintai tolong perihal rayu-merayu. Mana bisa Lara. Bengek.
“Nanti Lara saja yang aku nikahin ma. Biar mama nggak pusing lagi.”
Edan euy edan. Jawaban Gema cukup membuat Marini melototkan matanya. Ekspresi wajahnya tidak sesuram tadi.
“Kamu mau, Ra?”
Lara diam. Bibirnya tersenyum kikuk. Marini memegang tangannya penuh harap.
“Mau ya, Ra.” Sekali lagi Marini meminta.
“Ini mama lagi ngelamarin Lara buat aku? Kenapa nggak ke rumahnya langsung. Masih punya orang tua loh, Ma.”
Gema ketika berkata demikian, matanya fokus di layar laptop dan jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.
MENYEBALKAN SEKALI MANUSIA SATU ITU.
“Alamat rumah kamu mana?”
“Sudah aku kirim ke HP mama. Mama sama kakak belanja gih. Aku rayu Lara buat nerima lamaran Mama.”
***
“Abang sengaja, kan?! Iya, kan?! Ngaku deh! Dasar!”
Pulang-pulang di todong pertanyaan demikian. Jantung Gema senam. Sedang Lara cuek bebek.
“Abang sudah ngelamar lebih dulu, lupa?” Balasan Gema benar-benar menggemaskan.
Kedua tangan Lara mengepal hendak bejek-bejek Gema.
“Abang nggak bisa sesavage itu.”
“Kenapa? Toh kita sudah lupain soal perjanjian itu dan kamu setuju buat abang nikahin.”
Tidak sepenuhnya salah. Yang salah adalah tidak tepatnya waktu dan Gema yang bertindak gegabah. Pokoknya Lara butuh waktu banyak buat ngambil tindakan selanjutnya.
“Ra …” Gema panggil dengan lembut. Menghadapi Lara yang seperti ini bukan keahlian Gema sejujurnya. Namun jika di ranjang, Gema rajanya. “Abang pernah nikah. Kegagalan abang membawa pengalaman yang nggak bisa dianggap isapan jempol semata. Abang ingin memulai, sama kamu. Abang mau mengawali, bareng kamu. Tapi Ra, kalau terlalu lama dan semakin kita tunda, kamu nggak merasa cuma abang jadikan pelampiasan? Kamu nggak merasa sakit hati?”
Ada diam dan ragu di manik Lara. Sebelum kemudian menjawab dengan lantang. “Enggak! Memang dari awal hubungan yang kita jalin buat sekadar senang-senang. Abang yang terlalu ngambil ini kedalaman. Abang bawa-bawa perasaan yang sudah melanggar perjanjian dari awal. Jadi, ini salah abang, bukan aku. Aku tahunya kita saling menguntungkan.”
Sedalam itu sakit kamu, Ra. Sekejam itu keluarga kamu berbuat.
“Abang janji—enggak.” Gema gelengkan kepalanya. “Kita akan jauh lebih baik buat bareng ketimbang sendiri-sendiri. Kamu nolak, kamu ngelak sekarang juga percuma. Keluarga abang sudah bergegas ketemu orangtua kamu.”
Semenggemaskan itu coy! Tapi kok hati Lara bisa sedongkol ini, ya? Diam pun jadi kayak yang percuma. Mendengar apa yang Gema katakan meski salah namun justru membuat hatinya semakin menginginkannya. Dan semakin Lara tepis, semakin mencekik hingga ingin mati rasanya.
Halah, kok ribet banget ini hati. Maunya nggak bisa di tebak, inginnya di lambungkan, tapi takut sakit hati. k*****t!
“Coba abang pahami dulu konsepnya.” Karena manusia harus mengenali dirinya sendiri untuk menghindari kesalahan yang sama dua kali. “Abang nggak perlu keburu buat ngambil semuanya. Aku tahu, aku ini cuma anak bau kencur yang baru jebrol kemarin sore. Pengalaman asam dan manisnya kehidupan lebih banyak Abang enyam. Tapi karena abang juga pernah gagal, nggak serta merta bikin abang yakin kalau apa yang abang tindak lanjuti sekarang disebut kebenaran.”
Uwah … nggak nyangka pikiran Alara bisa sewaras itu. Ya tumben sekali.
Menyadari apa yang Lara ucapkan ada benarnya, Gema meresapi. Begitu pergi menuju dapur, pikiran Gema melayang. Bahwasannya ketika kita mencoba mengejar apa yang menjadi harapan dengan cara menerangkan cahaya. Yang mana semakin kuat cahayanya semakin gelap bayangannya.
Mungkinkah perasaan Bahtiar Gema juga demikian?
Tidak. Sudah Gema raba dan jawabannya bukan itu. Ada perasaan lain yang tak bisa Gema jabarkan kenapa hatinya begitu terpaut dan amat menginginkan Alara Senja. Sudah Gema pelajari seluk beluk hatinya samai di mana keputusan ini harus segera di ambil.
“Abang sudah mikir.” Begitu Lara letakkan kopinya di atas meja. “Apa yang kamu bilang salah semua.”
Menganga mulut Lara di buatnya. Gema sesuatu sekali.
“Ra … Abang ini serius.” Gema gemas di buatnya. “Aduh, Ra. Kita ini kenapa ribet banget sih perkara mau nikah doang. Kamu juga labil banget deh. Padahal tinggal bilang ‘ya’. Susahnya di mana coba?”
Lah bengek. Kok yang misuh-misuh malah Gema. Aturan Lara dong karena di buat bimbang. Suruh siapa ketemu mantan istri pakai acara peluk-pelukan pula. Lara, 'kan cemburu.
“Nggak tahu lagi abang sama cara pikir kamu, Ra. Terserah.”
Kata keramat pun meluncur. Jantung Lara berdebar-debar di buatnya. Pasalnya, jika sudah ‘terserah’ yang meluncur, maka memiliki banyak arti di dalamnya. Terlebih Gema beranjak dari sana tanpa menyentuh cangkir kopinya. Bahaya, kan?
Sedang Alara Senja sangat tahu mengenai dirinya sendiri yang tidaklah sempurna apa lagi sama baiknya seperti masa lalu Gema. Tidak cantik terlebih menarik. Tetapi, untuk sebuah perasaan, bukan berarti tidak Lara cintai Gema dengan sebuah ketulusan.
Alara hanya baru belajar. Untuk memahami Gema dan berusaha mengenalinya dengan baik. Dan mestinya Lara selalu memegang teguh prinsipnya bahwa masa lalu Gema tetaplah milih lelaki itu. Sama halnya dengan Gema yang mau menerima seberapa buruknya Lara di masa yang lalu. Katakanlah saling bekerja sama untuk sebuah hasil yang lebih baik.
Sayangnya tidak. Lara terkesan egois dengan mencemburui apa yang Gema lakukan padahal belum mendengar kebenarannya. Ini seperti fungsi mata dan telinga tidak ada artinya apa-apa. Gema punya mulut untuk bisa menjelaskan dan Lara memiliki telinga untuk mendengarkan. Matanya yang berfungsi untuk melihat tidak semestinya bertindak gegabah dengan mengambil kesimpulan mentahnya.
Duh, Alara jadi merasa bersalah karena mengubah Gema. Padahal Gema tidak ada niatan untuk mengubah Alara menjadi seperti yang lelaki itu selerakan.
“Satu lagi, Ra …” Alara sudah siap dengan kalimat lanjutan Gema. “Kalau aku ngasih tahu ke mama soal kamu, artinya kamu istimewa. Tapi ibu aku tanya soal kamu dan tentang kamu, itu artinya kamu lebih dari istimewa. Dan aku baru saja lakuin itu.”
Dahlah. Lara nangis gogoakan saja di pojokan. Kata-kata Gema nggak cuma nampol hatinya. Tetapi juga pertahanannya. Itu mematikan.
Sejak dulu yang Lara cari tidak muluk-muluk. Cukup yang baik dan mau menjadi teman bercerita. Gema bahkan lebih dari masuk ke kategori yang di kualifikasikan. Dasar Alaranya saja yang nggak bisa bersyukur. Maruk banget. Maunya minta yang lebih.
“Kamu nggak perlu hebat. Tetap jadi kamu yang apa adanya kayak gini. Kamu juga nggak perlu ngasih tuntutan buat lebih baik lagi. Apa adanya kamu, aku terima. Gimana pun keadaan kamu, aku tetap milih kamu. Ini tentang pilihan, Ra. Bukan lagi perjanjian. Kamu lupain itu kalau masih kamu jadikan patokan.
“Prinsip menjalin hubungan harus ada kata saling: saling cinta dan saling percaya. Itu bisa bikin kita bahagia. Coba saja.”